
Selama membaca, semoga suka.
Dan semoga semua yang baca, meninggalkan jejak nya.
******
Setelah mengurus semua kebutuhan Zaza selama satu bulan ke depan. Rion berangkat ke bandara, tanpa di antar oleh Zaza.
Rion berangkat bersama Leo. Sementara perusahaan di urus oleh orang kepercayaan Leo. Yang sudah bekerja di perusahaan itu selam 30 tahun dan kejujurannya sudah dia akui oleh Leo.
Sesuai perintah Rion, Idan hanya perlu mengelola Hotel Zaza, selama Zaza belum bisa mengelolanya sendiri. Dan tidak perlu ikut campur urusan perusahaan, kecuali Rion yang memintanya
Zaza tinggal bersama Kikan, di apartemen yang baru di berikan Rion untuknya. Tidak banyak yang mengetahui alamat apartemen itu. Hanya Rion dan Leo. Bahkan Idan pun tidak di beri tau.
Selama perjalanan ke bandara, Rion terus menghubungi Zaza. Sampai Zaza kesal dan tidak mau mengangkatnya.
Tapi apa yang terjadi?
Rion malah menyuruh Leo untuk menghubungi nomor Kikan.
"Za, ini Tuan Rion." bisik Kikan.
"Bilang saja! lagi tidur."
"Aku nggak berani."
Dengan sangat malas Zaza terpaksa menerimanya, karena ia tidak mau membuat Kikan dalam masalah.
"Halo?"
"Sayang, kok telponnya nggak diangkat?" tanya Rion.
"Batrenya lowbat Hon."
"Oo, sekarang lagi ngapain"
"Mau istirahat, tapi nggak jadi jadi, kamunya ganggu terus."
Suara Rion tertawa, terdengar jelas di telinga Zaza. "Aku merindukanmu." ucapnya.
"Kamu sudah mengatakannya berkali kali Hon."
"Oh ya?"
"Hum,, sudah sampai di bandara?" tanya Zaza, mendengar supir mengatakannya pada Rion.
"Huum. Sayang, aku langsung berangkat. Kamu jaga diri baik baik, jangan keluar kemanapun. Jangan memesan apapun, dan jangan membuka pintu untuk siapapun."
"Iya, iya, iya, iya. Ada lagi?"
"Aku merindukanmu."
"Aku juga. Cepatlah kembali, kita akan menikah."
"Sayang, jangan membuatku tidak sabar."
"Hahahhah." Zaza terbahak. "Pergilah! nanti kamu terlambat." ucap Zaza. Dia tau Rion perangkat menggunakan Jet pribadi. Tapi masalah yang menunggunya juga memiliki waktu yang harus di kejar.
"Aku pergi dulu. Ingat apa yang kukatakan!"" ucap Rion.
"Iya. Hati hati di jalan." jawab Zaza.
Setelah mengucapkannya, Zaza memutuskan panggilan dan mengembalikan ponsel Kikan.
****
Hari hari berlalu begitu saja, kini sudah genap Seminggu Rion pergi. Namun tidak sekalipun ia menghubungi Zaza. Sebelumnya, Rion juga sudah bilang padanya, bahwa disana sangat susah untuk mendapatkan sinyal
Zaza juga tidak mau menunda aksinya lagi. Menurutnya ini adalah waktu yang tepat.
Rion tidak ada di sana, jadi Zaza bisa bergerak bebas.
"Kikan, aku ingin keluar sebentar."
"Kemana? bukankah Tuan Rion melarang kita untuk keluar?"
"Aku hanya sebentar, aku ingin menemui paman Idan."
"Tapi Za-----."
"Ada sesuatu yang kamu tidak ketahui Ki, aku akan menceritakan semuanya nanti." ucap Zaza.
Dan Zaza menyadari itu.
Zaza membuang nafasnya panjang.
"Kikan, jika aku mempercayaimu, apa kau bisa menjaga kepercayaan itu?"
"Ya, aku akan menjaganya. katakan padaku! kenapa kau berubah?" tanya Kikan.
Secara kata kata Kikan memang tidak bisa menyebutkan perubahan itu, tapi ia bisa merasakannya.
"Ini diriku yang sebenarnya Ki, aku bukan gadis ceria yang selalu cari perhatian, yang selalu manis, seperti yang kau katakan. Aku berada di sini, hanya untuk balas dendam." ucap Zaza.
Kening Kikan mengernyit, tidak mengerti dengan apa yang barusan dia dengar.
Zaza membawa Kikan duduk di ranjangnya.
"Aku harap kau bisa menyimpan semua rahasia ini."
"Aku akan menyimpannya."
Zaza mulai menceritakan semua kejadian yang menimpa keluarganya. Apa yang ia lihat, dan siapa saja orang yang terlibat. Bahkan niatnya untuk membalas semuanya pun tidak luput dari ceritanya.
Kikan berurai air mata mendengarkan cerita temannya itu. "Udah Za, jangan ceritain lagi! aku tidak sanggup mendengarnya."
"Kau sudah tau semuanya, jika kamu di posisiku. Apa yang akan kau lakukan Ki? apa kau akan diam saja? Ayah, ibu juga adikku, mereka tidak tau apa apa. Tapi mereka di habisi dengan kejam. Didi bahkan sedang tidur saat itu. Tapi ia di bakar hidup hidup. Apa kau bisa membayangkan kesakitan yang dia rasakan Ki?" jelas Zaza.
Kiki menggeleng sambil terisak. "Tapi aku tidak ingin kau membalas dendam Za. Mereka akan mendapat ganjaran dari perbuatannya. Aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu. Ingat Za, orang yang akan kau hadapi adalah orang orang jahat, kau tidak akan bisa menghadapi mereka. Jangan pergi!"
"Tidak usah Khawatir Ki. Aku akan minta bantuan pada seseorang. Dan dia sama kuatnya dengan Rion."
"Kau yakin? bagaimana jika kau tertangkap?"
"Tidak akan. Kau mau membantuku kan?"
Kikan mengangguk. "Aku tidak akan memberitahukan Tuan Rion semua ini."
"Malam ini aku akan kerumah paman, kunci pintu! Hanya kita bertiga yang tau sandi apartemen ini. Kau ,aku, Rion. Jika ada yang datang minta di bukain, sebaiknya jangan di buka. Kau mengertikan?"
"Aku mengerti."
Kedua gadis seumuran itu berpelukan.
Kikan masih terus meneteskan air matanya, sedangkan Zaza, terlihat tegar. Senyumnya tetap tersungging di bibirnya.
"Aku akan menghubungi seseorang."
Ucap Zaza.
Kikan pun langsung mengerti, ia beranjak dari duduknya, dan meninggalkan Zaza sendiri dikamarnya.
***
Verdi membunyikan klakson mobilnya, agar Zaza menoleh padanya. Seperti yang diharapkan, Gadis itu berlari dan langsung menaiki mobilnya.
"Kau benar benar memanggilku disaat butuh." ucap Verdi.
"Lalu? apa kau ingin aku memanggilmu di saat bersama Rion?"
"Cihh, bukan begitu. Aku hanya tidak sabar untuk bisa melihatmu."
"Hanya itu?"
"Humm. Oh iya. Aku sudah menghubungi Idan."
"Oh ya? apa yang dia katakan?"
"Nanti kau akan dengar sendiri." jawab Verdi.
"Dan, aku hanya mengingatkan, kau sudah berjanji akan hidup bersamaku setelah menghabisi Rion. Aku harap kau menepatinya."
"Humm. Aku ingat itu." jawab Zaza.
****
Semoga suka ya. Ini agak buru buru,
biar cepat End.