
Selamat membaca and semoga suka.
Tinggalkan Jejak ya! plisssss.
Semoga kali ini, setiap yang baca ninggalin like nya.
Yang gambar jempol loh Saudara saudari 🤗
******
Rion menatap keramaian malam dari balkon kamarnya. Sejak Leo pulang dari apartemennya, Rion belum menemui Zaza sekalipun.
Dia sedang mencari jalan keluar untuk menyelesaikan masalahnya. Salah satunya masalah tambang ilegal miliknya.
Idan dan juga Leo tidak bisa menanganinya. Karena para pekerja dan yang terlibat di dalamnya, meminta agar Rion sendiri yang menemui mereka.
Dalam keadaan seperti ini, Rion tidak mungkin meninggalkan Zaza begitu saja, atau menitipkannya pada seseorang. Kepercayaannya telah hilang pada semua anak buahnya, kecuali Leo.
Rion juga tidak mungkin membawa Zaza ke sana. Mengingat orang orang di sana sangat berbahaya.
Lamunan Rion buyar seketika, ketika mendengar suara Zaza yang memanggilnya.
"Hon."
Rion menoleh kebelakang sembari tersenyum. Kedua tangannya ia rentangkan ke arah Zaza.
"Kemarilah."
"Kamu lagi ngapain." ucap Zaza, menerima pelukan dari Rion.
"Aku sedang merindukanmu." Jawab Rion.
"Bohong, rindu tapi kok nggak datang?"
"Aku hanya tidak mau mengganggu tidurmu."
"Oooo." ucap Zaza.
Rion mengelus elus rambut Zaza dengan lembut.
"Sayang."
"Humm."
"Apa kamu ingin punya apartemen sendiri?" tanya Rion.
Zaza mengangkat wajahnya, agar bisa bertatapan. "Kamu ingin membelikanku apartemen?"
"Aku sudah membelinya."
"Kapan?"
"Sudah lama."
"Tapi, apa aku akan tinggal di sana sendirian?"
"Tidak sayang, aku akan menyuruh pelayan yang ada di rumah untuk melayanimu."
"Kikan?" tanya Zaza antusias.
"Kamu menyukainya?"
"Ya, dia sangat baik padaku. Aku menyukainya. Tapi kenapa tiba tiba ingin memberiku apartemen?"
Zaza menatap serta menaik turunkan kedua alis matanya di depan wajah Rion.
Rion memperhatikan bola mata Zaza yang terus bergerak, memindai pandangannya di wajah Rion, terlihat sangat lucu.
Cup,,,
"Hon." pekik Zaza, memukul pelan dada Rion, yang tiba tiba mendaratkan ciuman di bibirnya.
Rion tertawa terbahak sembari menggoyang goyangkan badan Zaza yang ada di pelukannya.
"Hon, hentikan! pinggang ku sakit." seru Zaza dengan suaranya yang melengking.
Rion berhenti sembari menghentikan tawanya. Diakhiri dengan hembusan nafas berat, terdengar seolah sedang menahan sesuatu di hatinya.
"Ada apa?"
"Hm?" tanya Rion.
"Kamu ingin mengatakan sesuatu kan? katakan saja, jangan di tahan!" jawab Zaza.
Yang mana langsung merubah raut wajah Rion menjadi sendu.
"Aku tidak bisa meninggalkanmu." ucap Rion.
"Aku tau itu."
"Kamu tau?
"Ya. bukankah kamu sudah sering mengatakannya?"
"Humm, sayang!"
"Ya?"
"Besok aku akan pergi keluar kota."
"Oh ya? berapa lama?"
"Mungkin seminggu. Kamu tidak apa apa kan?"
"Aku tidak apa apa Hon, pergi saja! aku akan tinggal bersama Pam------."
"Tidak, kamu tidak boleh tinggal bersama Idan. Di sana tidak aman. Mama juga belum tertangkap, dia bisa saja mengajak Idan kerja sama untuk mencelakaimu."
"Paman tidak akan melakukannya Hon."
"Benarkah? tapi Paman hanya punya satu saudara Hon, dan itu ibuku. Ibu meninggal karena kebakaran, bukan karena paman membunuhnya." terang Zaza, dia melihat reaksi Rion yang sedikit gugup mendengar ucapannya.
"Mak, maksudku semua orang bisa saja khilaf, sayang. Apalagi jika dihadapkan dengan uang.
Mama membawa semua emas dan berlian milikny, aku rasa dia sudah menjualnya dan mendapatkan banyak uang. Dia bisa menggunakan itu untuk menyuruh orang mencelakaimu."
"Jangan khawatir, aku sudah bisa melindungi diriku sendiri. Kamu lihat sendiri bukan?"
"Itu kebetulan sayang."
"Walaupun hanya kebetulan setidaknya aku bisa melindungi diri sendiri. Dan mulai sekarang aku akan melakukannya, jika ada yang mencoba menyerangku. Kamu akan selalu ada untukku kan Hon? kamu tidak akan membiarkan aku tertangkap bukan?"
"Apapun yang kamu lakukan, tidak akan ada yang bisa menangkapmu."
"Jadi?"
"Jadi apa?"
"Jam berapa kamu akan berangkat besok?"
"Kamu ingin aku cepat pergi?"
"Humm, biar kamu juga cepat kembali." ucap Zaza.
Rion terkekeh mendengar ucapan Zaza, ia merasa seolah gadis itu sedang menggodanya.
"Ayo menikah setelah aku pulang." bisik Rion, dia mengatakannya dengan sangat pelan, karena tau, Zaza pasti akan mengingatkannya soal waktu yang sudah mereka tentukan.
Namun siapa sangka, jawaban Zaza justru membuatnya syok dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Ya, ayo kita menikah setelah kamu pulang. Tapi aku ingin kita melakukan pra wedding di pulau kecil itu." ucap Zaza.
"Sa, sayang?"
"Hm?"
"Kamu serius?"
Zaza mengangguk. "Aku serius Hon."
"Waaaaaaaaaaaaaa,,, waaaaaaaaaaaaaa." Rion melepaskan tangannya dari Zaza dan berteriak sekuat kuatnya.
Tangannya ia putar putar di udara sembari berteriak. "Aku akan menikaahhhhhh." ucap Rion
Suara tawanya terdengar sangat bahagia.
Zaza menatap pria ******** di hadapannya dengan senyuman hampa. "Ya, bahagialah sekarang!" Batin Zaza.
Dia bersiap membalaskan dendamnya, meski hatinya mulai menolak. Menurutnya, mengulur ulur waktu hanya akan membuatnya terjebak semakin dalam.
Rion menunduk dengan tawa yang tiba tiba berubah menjadi serak, seolah ia sedang menangis sambil tertawa.
Dan benar saja, saat Rion mengangkat kepalanya, wajahnya telah banjir dengan air mata.
Rion kembali mendekat dan bersimpuh di hadapan Zaza.
Ia meraih kedua tangan kekasihnya itu.
"Sayang, terimakasih karena sudah hadir dalam hidupku, terimakasih karena mau menerima ******** sepertiku. Aku, ak------------."
"Kenapa menangis? apa kamu tidak bahagia?" tanya Zaza. Dia tidak ingin mendengarkan kata kata Rion yang bisa saja membuat hatinya luluh.
"Justru aku sangat bahagia." jawab Rion.
"Apa kamu tidak melihatnya? aku menangis karena bahagia, sayang. Jangan pura pura tidak tau." lanjutnya.
Zaza tertawa kecil.
"Ayo berdiri. Kalau tidak kakimu akan sakit nanti."
"Hummm. Aku rela sakit demi kamu." Jawab Rion, ia kembali berdiri mengikuti ucapan Zaza.
"Baiklah. Kalau begitu lakukan saja sampai pagi! jika kamu sakit aku akan mencari pria lain untuk di nikahi."
"Tidak akan ada yang berani menikahimu, sayang. Karena aku akan mengumumkan pada seluruh dunia, bahwa Ryza permata adalah calon istri Abrion Anugraha." jelas Rion dengan gaya sombongnya.
Zaza hanya menanggapi kata kata Rion dengan senyuman.
"Hon, ayo kita kerumah Idan sebentar. Aku ingin mengambil barang ku yang tertinggal di sana." ucap Zaza.
"Tidak usah mengambilnya. Ayo kita keluar, kita beli sem-------."
"Beli semuanya?"
"Ya, kita beli semuanya."
"Tidak mau, aku mau barang barangku yang ada di rumah Paman."
"Tap------."
"Titik."
"Huuuuuuuuuuuhhhfffff. Baiklah sayang. Ayo kita kesana."
jawab Rion pasrah. Dia memang tidak bisa menang jika berhadapan dengan Zaza.
Jika gadis itu sedang manja, dia akan luluh.
jika sedang marah, dia juga hanya bisa menghela nafas. Zaza benar benar menjadi kelemahan bagi Rion.
****
Semoga yang baca ninggalin jejak semua.
Aamiin.