I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
pengenalan tokoh



Sebelumnya saya mohon maaf jika tulisannya banyak typo. Karna ini karya pertama dan saya jg baru belajar.


Cerita ini terjadi di Dunia Halu dan negara Halu ya readers.


Tolong komen dan kasih saran agar saya bisa memperbaikinya.


Jika ada cerita yg mungkin saja mirip dengan ini. Saya minta maaf, tapi ini murni dari pikiran saya. Bukan plagiat dan mohon jangan di plagiat.


Ok.. cekidot 😆😆*****************


Ryza permata, gadis 19 tahun,biasa dipanggil Zaza. Cantik, pendiam dan pekerja keras.


Anak sulung dari buk Lia dan pak Hardi. Hanya orang biasa. Mempunyai satu adik laki-laki


Abrion anugraha. 30 tahun, biasa dipanggil Rion. Masih lajang.


Pemilik perusahaan AGH group.


Kejam, sombong.


"Bu,, kita harus bicara pada Paman,agar dia membujuk bosnya untuk tidak mengambil tanah disini."


Bu Lia yang mendengar perkataan putrinya langsung menghentikan kegiatannya.


Huuhhhhhff,,,,membuang nafas yang seakan dapat melegakan dadanya yang terasa sesak.


"Za, kamu tau sendiri seperti apa Pamanmu, dia sangat takut pada bosnya."


"Tapi Bu, tidak ada salahnya kan kita mencoba lagi."


"Selesaikan sarapanmu, berangkat lah jangan sampai kau terlambat."


"Tapi Bu."


mendengar pintu terbuka membuat Zaza menghentikan pembicaraan.


"Za, kamu belum berangkat?"


"Belum yah, ini lagi sarapan. Ayah dari mana?"


"Tadi mau antar Didi sekolah, tapi nggak jadi."


"Loh, kenapa Yah?"


"Dia ikut pak Diman, biar bisa bareng Rafi juga."


(Rafi anak dari pak Diman tetangga Riza)


"Oooooo gitu."


Selesai menghabiskan sarapannya, dia pun berpamitan.


"Bu, yah, Zaza berangkat ya. Assalamua Alaikum."


"Walaikum salam" ucap Pak Hardi dan Bu Lia."


Ryza bekerja menjadi pelayan disebuah


restoran. Penghasilannya tidak besar tapi cukup untuk memenuhi hidupnya dan membantu orang tuanya.


Orang tua Ryza tidak pernah mau membebankan tanggung jawabnya pada putri semata wayangnya. Dengan melihat Ryza yang mandiri saja, sudah sangat membanggakan buat mereka.


Merasa bersalah karena tidak bisa menyekolahkan anaknya kejenjang yang lebih tinggi. Itulah yang membuat mereka tidak ingin membebani Ryza.


"Mas gimana? apa tanggapan Idan."


(Idan paman Ryza yg bekerja di AGH group, menjadi salah satu asisten pemilik perusahaan tsb."


"Dia tetap ingin mengambil tanah ini bu, bosnya tidak akan terima jika tidak berhasil membuat tanah disini menjadi miliknya. Itu yg Idan katakan."


"Jadi apa yang harus kita lakukan mas? apa semua warga disini sudah setuju."


"Banyak yang sudah setuju Bu, mas juga nggak tau harus gimana lagi.


Tapi dengar dengar dia akan memberi ganti rugi yang besar."


"Bukan soal ganti ruginya mas, mas tau sendiri tanah ini peninggalan almarhum orang tua mas. Mereka sendiri yang bilang kita tidak boleh menjualnya."


"Bisa kah kita sarapan dulu Bu? nanti mas akan coba lagi menemui Idan."


Bu Lia menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Mengingat anak-anaknya yang sudah berangkat dari tadi.


AGH GROUP


Di sebuah ruangan di gedung yg menjulang tinggi.


Pranggg,,,,,,barang- barang berserakan di lantai.


"Hanya membujuk satu orang saja kau tidak bisa. Hehh, apa yang kau kerjakan?


Kau mau makan gaji buta? aku menggajimu untuk bekerja jika kau lupa."


Rion membentak asistennya, Leo.


ya, Leo dan Idan adalah asisten Rion. Biasanya mereka selalu berbagi tugas.


"Maaf tuan, aku akan mendapatkan nya malam ini."


"Tapi tuan, sepertinya mereka menginginkan lebih banyak dari yang kita tawarkan."


"Berikan saja! apa susahnya? kau pikir aku tidak mampu?.


Berikan 3 milyar, itu sudah cukup untuk mereka."


"Baik tuan, saya permisi."


"Orang susah tapi pintar mencari kesempatan."


Leo yang keluar dari ruangan bosnya bertemu dengan Idan didepan pintu. Dia melewati nya begitu saja. Banyak yang dia pikirkan, salah satunya mencari cara bagaimana untuk mendapatkan tanah itu.


Restoran yang tadinya sepi mulai terlihat rame. Beberapa pelanggan berdatangan. Dari sore sampai malam memang restoran itu selalu ramai, membuat Ryza yang bekerja sebagai pelayan sering merasa kewalahan.


Tapi itu tidak membuatnya mengeluh. Dia malah bersyukur, masih ada yang menerimanya bekerja. Mengingat sekarng susahnya mencari pekerjaan.


"Za, kamu mau pulang?" Sapa Nisa sahabat Ryza yang bekerja di restoran itu juga.


"Iya Nis, inikan waktunya pulang, emang kamu gak pulang?"


"Pulang Za, cuma inikan lagi rame. Kita bisa bekerja sebentar lagi, siapa tau kita dapat tip,


bos juga gak marah kan."


"Hmmmm,,,🤔🤔. Nisa sepertinya aku harus pulang sekarang, perasaanku tidak enak dari tadi."


"Ya udah deh kita pulang Za, nggak seru juga kalau nggak ada kamu."


Karna perasaannya yang tidak tenang membuat zaza ingin cepat2 pulang. Mereka naik taxi berdua. Biasanya Zaza enggan naik taxi karena menurut nya itu adalah pemborosan.


Tapi malam ini, kendaraan itu paling cepat dia dapatkan.


Rumah Zaza dan Nisa searah, hanya saja rumah Zaza sedikit lebih jauh.


sampai di gang rumah Nisa, taxi itupun berhenti.


"Za, aku duluan ya, mau mampir dulu nggak?"


"Nggak deh Nis, lain kali aja. Aku buru-buru nih"


"Ya udah..sampai jumpa besok, bye."


"Bye."


Makin lama perasaan Zaza makin tidak tenang. Saat taxi berhenti di dekat pemukiman tempat tinggal Zaza. Dia turun dan melihat sekeliling sudah sepi. Sambil berjalan dia melirik jam tangannya. Masih jam 21.00.


Bukankah biasanya jam segini masih rame?. tapi Zaza tidak terlalu memikirkannya. Dia hanya ingin cepat sampai, bertemu dengan keluarganya.


Tempat tinggal Zaza yang berada di pesisir pantai tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa rumah disana, selebihnya warga disana tinggal agak sedikit jauh dari pantai tapi Masih 1 kawasan.


Riza yang berjalan terburu-buru tiba-tiba berhenti. Dari jauh dia melihat orang-orang berpakaian hitam layaknya bodyguard.


"Siapa mereka? apa yang mereka lakukan dirumahku?" batin Zaza.


Dia segera sembunyi, mengendap endap seperti pencuri menuju belakang rumahnya. Bersembunyi dibelakang pohon kelapa dan Dibantu dengan cahaya yang redup membuatnya tidak terlihat.


Orang-orang itu kelihatan berjaga, seperti sedang mengawasi sesuatu. Seseorang datang untuk berjaga dibelakang rumah.


Sayup-sayup terdengar suara orang dari dalam.


"Sebutkan saja berapa banyak yang kau inginkan, jangan merengek seperti bayi


Aku sudah sangat baik memberi mu uang tiga milyar. Dan kau masih ingin memeras ku? apa kau pikir uang segitu pantas untuk tanah dan rumahmu ini? bahkan jika kau menjual anak-anakmu, kau nggak akan mendapatkan uang segitu banyak. Jangan serakah kau sudah mengambil uangnya jadi tanda tangani berkas ini."


"Uang? tiga milyar? apa maksud Tuan?"


Perkataan Abrion membuat Hardi bingung. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh laki-laki itu. Apalagi tentang uang tiga milyar.


"Uang apa yang dia maksud" batin Pak Hardi.


Bukan hanya pak Hardi yang tidak mengerti, Zaza yang diam-diam mendengarnya pun bingung. Saat sedang sibuk mencerna pembicaraan yang dia dengar, tiba2 saja orang yang berjaga di belakang rumah berlari masuk kedalam.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Zaza keluar dari persembunyiannya. Tapi baru berapa langkah, terdengar suara pintu belakang terbuka.


Mau tidak mau dia kembali ketempat semula dia sembunyi. Menundukkan kepalanya sehingga tidak bisa melihat siapa yang keluar dari sana.


Merjalan dengan menyeret kakinya yang terluka parah, Bu Lia mencoba berjalan lebih cepat.


ya dia adalah bu Lia. Entah apa yang terjadi didalam hingga membuat nya seperti itu.


Merasa suara langkah kaki itu tidak menuju persembunyian nya. Zaza memberanikan diri untuk mengintip siapa yang sebenarnya orang itu.


Seketika Zaza membulatkan matanya, mulutnya terbuka lebar..


"Ib**u"


Zaza berlari kecil menghampiri ibunya.


"Bu,, apa yang terjadi? kenapa ibu terluka, siapa mereka Bu?"


*J**angan lupa di like ya dan jangan lupa kasih saran jika banyak kesalahan disini.


Saya akan dengan Senang hati menerima saran kalian.


Jangan di bully ya gaessss*..