I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
Eps 50. Kejadian sebenarnya



Selamat membaca, para readers jangan lupa tinggalkan jejak nya ya! like, vote rate 5. Biar author semangat nulisnya.


Semoga suka. Maaf terdapat kekerasan di dalam nya. Jangan di tiru ya!!!!


🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗.


Idan mencoba berkali kali untuk menghubungi Zaza, tapi nomornya sudah tidak aktif lagi.


"Sudah pasti Rion sialan itu mematikannya." seru Idan.


"Tapi bagaimana ia bisa tau kalau kita akan menghubungi Zaza?" tanya Eva.


"Nyonya Mira mengirimkan pesan padanya, aku rasa Rion lah meriksa pesan itu. Dia selalu saja mencurigai semua orang."


"Lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Jangan hanya bertanya padaku, kau juga harus memikirkan caranya."


Eva diam, Idan sangat emosional padanya. Kesalahan sedikit saja, suara Idan langsung meninggi.


"Bagaimana jika kita ke apartemen Rion saja, siapa tau Zaza di sana."


"Aku juga yakin dia ada di sana, tapi kita tidak tau di apartemen yang mana. Rion punya banyak apartemen, villa, hotel. kemana kita akan mencarinya? Lagian Rion akan sangat marah jika kita datang tanpa perintahnya.


Ah si*lan, si*lan, si*lan." umpat Idan mengacak acak rambutnya.


"Kala--------."


"Ah, kenapa aku lupa menanyakan Jacob? dia pasti tau dimana Rion dan Zaza tinggal."


"Jacob? bukankah dia sahabatnya Rion?"


"Ya,,sahabat sekaligus musuh dalam selimut."


"Maksudnya?"


"Jacoblah yang menembak Verdi saat di pulau waktu itu."


"Verdi? apa hubungannya dengan Rion?"


"Rion berencana membunuh Verdi dengan mengambing hitamkan orang lain. Rencananya di akan pulang malam itu juga sebelum penembakan. Tapi dia malah membatalkan nya.


Sementara Jacob, dia sudah bekerja sama dengan pi*ot yang akan membawa Rion pulang, agar meledakkan pesawat saat mengudara. Tapi mengetahui Rion tidak jadi pulang, Jacob malah membuat rencana baru untuk menjebak Rion, dengan cara menembak Verdi." terang Idan.


"Jacob sungguh bodoh, dengan ia menembak Verdi, aku justru kehilangan sasaranku." lanjutnya.


"Siapa yang kamu maksud sasaran?"


"Rion. Aku membayar salah satu pengawal Verdi untuk membunuh Rion. Tapi semua bubar karena Jacob melepaskan tembakannya lebih dulu."


"Ah aku tidak mengerti, ini sungguh rumit." ucap Eva mengurut urut keningnya.


"Apa yang kau mengerti? wanita ceroboh seperti mu sudah pasti tidak mengerti apa apa." Bentak Idan.


"Aku takut jika Zaza tau yang sebenarnya, dia akan menyuruh Rion membalas kita."


"Membalas? Zaza tidak akan percaya padanya, karena aku sudah lebih dulu mengatakan padanya bahwa Rion lah yang membunuh keluarganya."


"Benarkah? apa Zaza tidak mencurigai kita?"


"Seperti nya tidak. Maka dari itu kau harus menjaga sikapmu dengan baik, agar dia tidak mencurigai kita." Ujar Idan.


"Bagaimana jika ada saksi yang melihatmu menembak Lia?"


"Tidak ada orang lain yang melihatku. Di sana hanya ada aku dan Rion, beserta 5 anak buah saja."


"Baguslah. Jika benar seperti itu."


Ya, Idan lah yang melesatkan peluru di dada saudaranya Lia, yang juga ibu Zaza.


*flashback beberapa bulan yang lalu*


Di ruangan Rion.


"Berikan saja! apa susahnya? berikan mereka 3 miliar, itu sudah lebih dari cukup."


"Baik tuan."


"Orang miskin, tapi pintar mencari kesempatan." sungut Rion.


Idan yang saat itu akan masuk, menghentikan langkahnya karena mendengar pembicaraan Leo dan Rion. Saat uang 3 miliar terdengar di telinganya, sebuah ide licik langsung terpikir di benaknya.


Leo yang keluar dengan wajah kusut melewatinya begitu saja.


"Leo, tunggu!" panggil Idan.


tapi Leo tidak mendengar panggilan itu.


Idan mengikuti Leo keruaangannya.


"Leo, apa kau akan ke Pasir putih nanti malam?" tanya Idan.


Pasir putih adalah nama pemukiman Zaza, tempat pembangunan hotel.


"Iya, aku harus mendapatkan tanda tangan seseorang malam ini. Ada apa?"


"Biar aku saja yang kesana, kebetulan aku ingin mengunjungi saudaraku di sana."


"Kau yakin?"


"Ya, aku akan mendapatkannya malam ini."


"Baiklah. Jangan sampai gagal. Aku akan menyiapkan uangnya."


"Ok."


Sore itu, Leo memberikan sebuah tas hitam yang berisikan uang 3 miliar pada Idan.


"Ingat, kau harus berhasil mendapatkan nya!" ucap Leo.


"Tentu saja." jawab Idan.


Sebelum ke Pasir putih, Idan kerumahnya terlebih dahulu. Eva melebarkan matanya saat melihat uang yang ditunjukkan Idan padanya,


"Pa, ini,, ini?"


"Ini uang untuk membayar tanah Hardi yang berada di Pasir putih."


"Ha?? sebanyak ini? Tidak, jangan berikan ini padanya. Pa,, lakukan sesuatu agar uang ini menjadi milik kita!" ucap Eva sembari memeluk tas berisi uang tersebut.


"Itu yang aku pikirkan."


"Berikan sedikit untuk Hardi, dia pasti akan menerimanya."


"Ha? apa dia sudah gila?"


"Aku harus pergi sekarang."


"Kemana?"


"Kerumah Hardi, simpanlah uang itu dengan baik. Aku akan pulang malam ini."


"Baiklah, Hati hati di jalan!"


"Ya."


***


****


***


****


****


Di Pasir putih.


Hardi menatap Idan yang terus saja memaksanya menanda tangani surat jual beli.


Sudah jam 8 malam, Idan tak kunjung pergi dari rumahnya.


"Aku tidak akan menjual tanah ini Idan. Bangun saja hotel itu di tanah lain, jangan di sini. Aku rasa pemukiman ini sangat luas, kau bisa membangunnya tanpa tanah kami."


"Berhentilah menjadi keras kepala, Tuan Rion akan membelinya dengan harga yang mahal. Kalian bisa membeli rumah yang lebih bagus dari ini."


"Aku tidak akan menjualnya, pergilah. Katakan pada Tuanmu, aku menolak uangnya."


"Lima ratus juta sangat banyak, apa kau tidak tergiur Dengan itu?"


"Tidak."


Setelah menolaknya, Hardi masuk ke kamar menemui Istrinya. Didi tidur di samping Ibunya yang masih terbangun.


"Didi tidur?"


"Iya Mas. Idan sudah pulang?"


"Belum, dia masih diruang tamu."


Idan memikirkan cara agar uang itu tetap menjadi miliknya. Sangat sayang jika harus di kembalikan pada Rion.


Suara mobil, mengagetkan Idan. Apalagi melihat Rion yang keluar dari mobil itu.


"Idan, kenapa kau di sini? mana Leo?"


"Leo sedang menyelesaikan pekerjaan lain tuan."


"Jadi bagaimana? mereka sudah menanda tanganinya."


"Belum Tuan."


"Bagaimana dengan uangnya."


"Mereka sudah menerimanya."


"Dasar bodoh, kau memberikan uang, sementara mereka belum menandatangani nya?"


Idan menunduk ketakutan.


Mendengar keributan di rumahnya, Hardi dan istrinya keluar dari kamarnya.


"Ada apa ini?"


Bughhh,, tendangan Rion mendarat di perut Hardi.


Hardi tersungkur dan meringis kesakitan, sementara Lia yang ingin berteriak mendapat pukulan dari Idan sehingga membuatnya pingsan.


"Sebutkan saja, berapa banyak yang kau inginkan? jangan merengek seperti bayi. Aku sudah sangat baik memberimu uang tiga miliar, dan kau masih ingin memerasku? kau pikir uang segitu pantas untuk rumahmu ini, bahkan jika kau menjual anak anakmu, kau tidak akan mendapat uang sebanyak itu. Jangan serakah, kau sudah mengambil uangnya jadi tanda tangani berkas ini!"


"Uang? tiga miliar, apa maksud Tuan?"


Rion diam sejenak, Ia benar benar merasa di permainkan.


Buggh,,,,ia kembali mendarat kan tendangannya, kali ini mengenai kepala Hardi.


Lia tiba tiba terbangun, melihat suaminya di hajar oleh Rion, membuatnya syok. Perlahan lahan Lia memundurkan tubuhnya berusaha mencapai pintu belakang untuk keluar.


Namun malang, Idan melihatnya dan melemparkan sebilah pisau tepat di kakinya.


Tidak menyerah, Lia berdiri menyeret kakinya keluar.


Hardi yang sudah tidak berdaya, terbaring lemah di ruang tamunya.


"Bereskan ini." perintah Rion.


Belakang rumah jadi tujuan Rion, mencari keberadaan Lia.


"Cik,,,cik,,cik, ternyata kau di sini, apalagi yang bisa kau lakukan sekarang? masuklah kedalam, kumpul dengan suami dan anakmu. Kalian harus tetap bersama, setidak nya kau tidak akan merasa kesepian." ucap Rion.


Langkah Lia yang sangat lambat membuat Rion tidak sabar. Rion berbalik dan menarik lengan wanita paruh baya itu.


"Kau benar benar membuang waktuku."


"Seandainya kalian tidak serakah, semua ini tidak akan terjadi, kalian menerima uangnya dan tidak mau menanda tangani surat jual beli, bukan kah kalian sangat licik?"


"Kami tidak men-------."


Doorrrr.. Idan yang berdiri di pintu belakang melesatkan tembakannya tepat di dada Lia.


Rion berdecak kesal dan menyuruh Idan membereskan tubuh tak bernyawa itu.


Sesuai perintah, Idan membereskan semuanya. Meletakkan nya di samping Hardi.


Sebelum pergi, Rion memerintahkan Idan untuk membakar rumah itu.


Tanpa sepengetahuan mereka, Zaza melihat kematian ibunya. Meski ia tidak melihat siapa penembaknya, tapi


Rafi yang saat itu mengejar kucingnya, melihat Idan berdiri di ambang pintu dengan pistol di tangannya.


Author pusing, banyak yang baca tapi sedikit yang like.


Like, vote and rate 5 biar tambah semangat .🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗.