
Selamat membaca 🌷 selamat membaca 🌷 Selamat membaca 🌷 selamat membaca 🌷.
Abis baca tinggalkan jejak ya.
Leo mendekat dan mengetuk-ngetuk kaca mobil Verdi.
Tanpa rasa takut, Verdi menurunkan kaca mobilnya.
"Jangan membuat keributan disini, menyingkirlah."
"Serahkan Nona Ryza!" ucap Leo.
"Katakan pada tuanmu, aku akan mengantarkannya sendiri kehadapannya."
Leo tidak menanggapi ucapan Verdi padanya.
"Nona turunlah, saya yang akan membawa anda pulang."
"Nona?" Zaza melihat sekitarnya memastikan tidak ada perempuan lain selain dirinya dimobil itu.
lalu menunjuk dirinya sendiri.
"Saya?"
"Iya, Tuan Rion menyuruh saya untuk menjemput anda."
"Kenapa harus membawa mereka?" tunjuk Zaza pada anak buah Leo yang masih berbaris rapi di belakang Leo.
"Mari ikut kami Nona, Tuan Rion sudah menunggu."
"Biarkan dia pulang denganku, singkirkan mobil kalian."
"Verdi, aku akan pulang dengan mereka."
"Tidak, aku yang akan mengantarkan mu."
"Tap-----."
"Diam."
"Apa sebenarnya yang terjadi diantara kalian, kenapa kalian melibatkanku?"
"Aku bilang singkirkan mobil kalian." bentak Verdi.
Beberapa anak buah Leo mulai mendekat sembari menunggu perintah dari Leo.
Verdi menutup kaca mobilnya dan menguncinya.
"Nona turunlah, jika tidak anda akan menyesalinya." ucap Leo stengah berteriak.
Kaca yang tertutup membuat mereka harus menguatkan suara.
"Aku tidak bisa turun dan kau melihatnya sendiri. Bukakan pintunya jika kau bisa, aku akan keluar dari sini. Kalian selalu mengancam akan membunuhku. Kalian benar benar Baji*gan gila." ucap Zaza tidak kalah tinggi dengan suara Verdi.
"Dan kau, aku tidak punya urusan denganmu. Jadi tolong buka pintunya."
Verdi menatap Zaza yang menunjuk nunjuk dirinya. Matanya menyiratkan rasa ingin tau tentang maksud dari kata kata yang Zaza ucapkan pada Leo.
"Biarkan aku pulang dengan salah satu dari mereka Setelah itu jika kalian ingin saling membunuh, lakukan saja."
Zaza memukul mukul pintu mobil Verdi. Berharap tenaganya mampu untuk membukanya.
"Sialan, buka!" bentak Zaza.
Verdi tetap tidak bergeming. Leo berjalan ke arah Verdi dan menodongkan pistolnya.
"Leo jangan menembak, aku mohon!"
"Verdi bukakan pintunya, cepat."
Zaza bergantian menatap dan berbicara pada kedua pria itu. Usahanya untuk membuat salah satu dari pria itu mengalah hanya sia sia.
Dia makin panik saat Leo mengarahkan pistolnya ke kepala Verdi.
Bagaimana pun juga, menurut nya Verdi tidak pantas mati. Dia tidak ingin lagi menyaksikan orang yang tidak bersalah mati didepannya.
Maka dari itu Zaza mengatupkan kedua tangannya ke arah Verdi.
"Aku mohon, bukakan pintunya." ucap Zaza. Air matanya lolos begitu saja.
"Maaf, aku tidak bisa. Kau begitu membuatku penasaran. Dan satu lagi, maaf untuk ini."
Verdi menempelkan pistolnya di kening Zaza.
Semua anak buah Leo mengepung mobil Verdi serta menodongkan senjatanya masing-masing.
Jalanan sepi, tidak ada yang berani menonton ataupun sekedar lewat.
"Ap, apa yang ka, kau lakukan?"
"Menyingkir atau aku akan membunuhnya."
ucap Verdi.
Leo mundur beberapa langkah. Perintah Rion adalah, membawa Zaza kembali tanpa terluka. Dan urusannya dengan Verdi akan dia selesaikan nanti. Setelah Zaza ada padanya.
Leo dalam posisi sulit, jika dia kembali tanpa gadis itu, bisa bisa kepalanya akan menjadi sasaran Rion. Hukuman Rion tidak pernah main main. Lalu bagaimana ini? Verdi mengancamnya akan membunuh Zaza.
"turunkan senjata kalian." Ucap Leo.
"Baiklah, antarkan Nona Zaza kerumah sakit. Tuan Rion menunggunya."
"Suruh tuanmu pergi dari sana. Aku pemilik rumah sakit itu tidak mengijinkan dia berada disana." ucap Verdi. Sebelumnya, baik Leo maupun Rion tidak tau jika rumah sakit itu adalah milik Verdi. Idan lah yang membawa Mira kesana.
Kemarahan Verdi memuncak saat mengingat perkataan Zaza yang ia lontarkan pada Leo.
"(kalian selalu mengancam untuk membunuhku)." ini terngiang ngiang ditelinga Verdi. Yang mana membuatnya ingin melindungi Zaza.
"Menyingkir! jika tidak------."
Verdi bersiap membidik kepala Zaza.
Zaza tidak bergerak, matanya membulat sempurna. dengan buliran air mata yang terus menetes.
"Ver,,,, Verdi, apa yang kau inginkan?"
"Aku hanya ingin melindungimu."
"Kau membuatku dalam bahaya, bukan melindungiku.Tolong biarkan aku pergi!"
"Ikut lah denganku, tidak akan ada yang berani menyakitimu."
"Pergunakan matamu baik baik, mereka sedang mengepungmu. Dan Rion itu kekasihku. Dia tidak akan menyakitiku, saat ini kaulah yang menyakitiku. tolong jangan memperkeruh keadaan."
"Kau menyimpan banyak hal, aku ingin tau itu, maaf jika caraku salah."
"Tuan Rion sudah meninggalkan rumah sakit anda, sekarang serahkan Nona Zaza."
"Tidak sekarang."
Verdi melajukan mobilnya, menabrak beberapa anak buah Leo yang mencoba menghalangi jalannya.
Leo tidak tinggal diam dia melepaskan tembakan tepat di ban mobilnya.
Doorrrr...ban mobil Verdi pecah terkena tembakan Leo. Mobilnya oleng seketika dan Brukkkkkk,, mobil Verdi terbalik.
Verdi dan Zaza terjebak didalamnya.
🌷
🌷
🌷
🌷
Dan segera menyembunyikan keberadaan ibunya.
Dia tidak membiarkan musuh musuhnya mengetahui jika dia masih punya keluarga.
Kesabaran Rion sudah diambang batas. Setelah menghajar anak buah Verdi. Dia melacak keberadaan Zaza.
Lokasinya cukup jauh. Rion mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk menghabisi Verdi secara terang terangan.
Toh selama ini dia juga sudah banyak membunuh baik terang terangan maupun tersembunyi.
Apa yang dia takutkan. hukuman, harga saham? dia bisa menangani itu semua.
Ckiiiiiiiiiitttt. mobil Rion berhenti mendadak.
Sebuah mobil terbalik didepannya Tepat di lokasi yang dia cari, dimobil itu jugalah titik yang menunjukkan keberadaan Zaza.
"Zaza" batin Rion.
Perlahan dia turun dari mobilnya, langkahnya gontai. Seketika Rion terduduk ketika melihat darah dikaca mobil itu.
"Za, sayang,,," panggilnya lirih. Laki laki sekejam Rion bisa jatuh cinta terlalu dalam pada Gadis yang menanam bunga dihatinya. Semakin hari bunga itu makin subur.
Sehingga menjadi kelemahannya. Dia takut bunga itu akan patah dan hatinya akan kembali kosong.
Drrrrrtttt. drrrrrtttt.. panggilan masuk dari Leo.
"Di mana?"
"---------------------"
Rion memutuskan panggilannya.
Kabar dari Leo bahwa Zaza berada dirumah sakit. Sesak yang menghimpit dadanya sedikit melonggar.
Rumah sakit yang ia tuju tidak jauh dari tempatnya. Menempuh perjalanan singkat, Rion tiba dirumah sakit. Disana sudah ada Leo yang menunggunya.
"Dimana ruangannya?"
"Di lantai 3 Tuan."
Keduanya masuk lift menuju lantai Tiga.
"Kau sudah menghabisi nya?"
"Non Zaza melarang kami melakukannya tuan."
"Bughh,,bughh,, bughh,,,Rion menghajar Leo tanpa ampun. Antara marah karena Leo tidak menghabisi Verdi dan cemburu pada Zaza yang masih memikirkan Verdi" Aku sudah berkali-kali bilang padamu, Berhentilah jika tidak mampu." Ucap Rion.
Saat lift terbuka, ia keluar meninggalkan Leo.
Sebelum memasuki ruangan Zaza, Rion merapikan penampilannya yang berantakan.
Klekk,,,,Rion membuka pintu.
Disana sudah ada Idan dan istrinya yang berdiri disamping Zaza.
Zaza yang juga dalam posisi duduk menyambut kedatangan Rion dengan senyuman.
"Keluar." perintah Rion.
Eva yang ingin menjawab ucapan Rion segera ditarik paksa oleh suaminya.
Rion mendekat dan memeriksa tubuh Zaza.
"Rion apa yang kau lakukan?" tanya Zaza menutupi bagian dadanya dengan tangan.
Laki laki itu tetap diam melanjutkan aksinya.
Bajunya disingkap oleh Rion.
Dia berhenti saat menemukan luka di punggung dan siku Zaza.
Bekas jahitan tampak dikedua luka itu.
Rion membuang napas kasar dan menarik Zaza kedalam pelukannya.
Beberapa saat terdiam. Zaza mendengar detak jantung Rion yang bergemuruh.
"Rion."
"sssstttttt."
"Aku minta maaf."
"Hm."
"Kamu marah?"
(Tidak ada jawaban).
"Rion maafkan aku, Aku tidak sengaja menyebut namanya."
beberapa menit Rion hanya diam mengelus elus rambut Zaza.
"Rion."
"Apa sakit?"
"ya?."
"lukamu"
"Oh, iya. Ini sedikit sakit."
"Jangan terluka lagi, jangan sakit."
"iya."
"sayang."
"iya?"
"Kamu tidak perlu menjadi pelayan Mama lagi."
"Kamu memecatku?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku tidak mau kamu capek, jangan melakukan pekerjaan apapun lagi."
"Aku tidak setuju."
"Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu, apapun yang kamu inginkan akan aku berikan."
"Apapun?"
"Apapun."
"Bagaimana jika aku menginginkan nyawamu?"
"Maka ambil saja." ucap Rion.
Zaza tertawa dan tidak bertanya lagi. Ia menyandarkan kepalanya di dada Rion.
Bukan hanya Zaza yang tertawa. Tapi Eva yang menguping sedari tadipun tertawa puas mendengarnya.
Abis dibaca dilike 🌷😘 ok