
Selamat membaca and semoga suka. terimakasih yang sudah mendukung. Dan untuk silent reader, boleh dong minta like nya!!!.
******
Zaza duduk di bibir ranjangnya sembari
menenggak habis air putih yang Rion bawakan untuknya.
"Sudah?" tanya Rion.
"Humm."
Rion mengambil gelas di tangan Zaza, dan meletakkannya di atas nakas.
"Istirahatlah! aku akan menemui mereka."
"Tunggu!"
"Ada apa sayang?"
"Hon, apa kamu ingat pulau itu?"
"Pulau??"
"Ya, saat itu kamu berjanji akan membawaku kesana, kamu masih ingat?"
"Iya, aku mengingat nya. tapi seperti nya itu tebing sayang."
"Iya, itu."
"Kamu ingin ke sana?"
"Hum, aku ingin kesana. Aku melihat di tv, beberapa orang melakukan foto prewedding di tempat tempat seperti itu."
"Dan kamu juga ingin melakukannya? disana?"
"Humm, aku memaksa."
Rion tersenyum sambil mengacak acak rambut Zaza.
"Kenapa tiba tiba membahas pernikahan? kamu ingin kita mempercepat nya lagi?"
"Aku belum memikirkannya, tapi aku ingin kita melakukan foto prewed disana."
"Baiklah, aku akan menyuruh Leo memeriksa tempat itu. "ucap Rion. "Ada lagi?"
"Tidak."
"Tidurlah! aku akan menginap malam ini."
"Di sini?" tunjuk Zaza pada ranjangnya.
"Tidak sayang, tapi di kamar lain. Ada yang harus ku urus malam ini."Ucap Rion, biasanya dia akan menggoda Zaza, tapi karena hatinya belum tenang, mood bercandanya hilang begitu saja.
"Ooh."
"Aku pergi dulu"
"humm."
**********
Rion menatap satu persatu anak buahnya.
Entah siapa yang harus ia tuduh sebagai pelakunya, mengingat kelimanya adalah orang orang terpercaya.
Kecurigaan nya pada Idan memang ada, tapi memikirkan kembali sikap Idan, tidak mungkin dia menyingkirkan orang yang membawa keuntungan baginya.
"Kalian boleh pergi!" ucap Rion.
"Baik tuan." ucap mereka serempak.
Tinggal lah Idan dan istrinya yang tidak berani beranjak dari hadapan Rion.
"Kalian mau berdiri di sana sampai Pagi?"
"Tid, tidak tuan."
"Pergilah!"
Tanpa menunggu suaminya, Eva langsung berbalik dan pergi.
Sementara Idan masih terdiam di tempatnya.
Dia ingin mengatakan pada Rion bahwa di rumahnya ada CCTV, salah satunya mengarah ke kamar Zaza.
Tapi pikirannya sedang bercabang, satu pertanyaan berputar di kepalanya.
"Bagaimana jika orang itu adalah suruhan Eva. Rion pasti akan memindahkan Zaza dari sini, dan harta yang ku impikan akan hilang begitu saja." batin Idan. Dia tidak bisa mempercayai istrinya yang ceroboh itu.
"Ada apa?"
"Ya tuan?"
"Kenapa kau masih berdiri di sana."
"Ak, hanya ingin menemanimu Tuan."
"Kau mau uang?"
Mendengar pertanyaan Rion, membuat telinga Idan berfungsi dengan baik, kata kata itu sangat jelas masuk ke alat ke pendengarannya itu. Perlahan Idan mengangkat kepalanya menatap Rion. "A,, ap,, apa Tuan?"
Rion terkekeh. "Pintu kamar Zaza rusak. Pasti kau sedang berharap aku memberikanmu uang yang banyak kan?"
"Aku sedang tidak membawa uang, jadi tidak ada gunanya kau berdiri di sana."
"Aku tidak berpikir begitu Tuan."
"Lalu? apa yang ada di otakmu selain uang?"
"Di---------."
Idan menghentikan ucapannya.
"Kalau begitu saya permisi Tuan."
"Jangan coba untuk pergi sebelum kau mengatakannya."
"Maksud Tuan?"
Rion mengambil asbak di atas meja dan memutar mutarnya di depannya wajah Idan.
"Menurutmu apa yang terjadi ini mendarat di kep------."
"Tuan, ada CCTV di sini, kita bisa melihat pelakunya dari sana." ucap Idan dengan cepat. Tangannya menunjuk ke arah salah satu CCTV yang menyoroti pintu kamar Zaza.
"Bodoh, knpa baru bilang sekarang."
"Maafkan saya tuan."
Rion mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu anak buah yang ada di rumah Idan.
Hanya kalimat pendek yang ia ucapkan,
"Jaga pintu kamar Zaza."
"Baik tuan."
"Dimana?" tanya Rion pada Idan.
"Mari ikut saya Tuan." Idan langsung berbalik, berjalan ke ruang kerjanya. Pergerakan nya kaku seperti robot, karena takut dengan pukulan tiba tiba dari Rion yang ada di belakangnya.
*****
****
***
****
Seseorang yang memakai jaket hitam, memakai masker dan memakai topi sebagai penutup kepalanya, terlihat sedang memanjat pagar tembok belakang rumah Idan.
Masuk ke rumah dengan membobol salah satu jendela yang ada di belakang, dan tembus ke dapur.
Begitu juga Saat dia keluar, sangat lincah seperti sudah profesional.
Wajahnya sama sekali tidak terlihat di layar CCTV.
Yang bisa di lihat hanya ciri ciri badannya saja, terlihat gemuk dan buncit.
"Ini palsu." ucap Rion, menunjuk tepat di perut si penyusup.
"Maksudnya tuan?"
"Perhatikan dengan benar, dia bahkan tidak kesulitan saat memanjat pagar rumahmu."
Rion mengatakannya dengan mata yang tajam pada Idan.
Idan yang salah mengartikan tatapan itu tiba tiba bersujud di depan Rion.
"Tuan, aku bersumpah, bukan aku yang melakukannya. Tolong percaya padaku. Aku tidak melakukannya Tuan."
"Dasar bodoh."
***
***
***
Zaza yang terbaring sambil memejamkan matanya, nyatanya tidak bisa tidur. pikirannya benar benar kacau.
"Benarkah paman Idan yang dia maksud? tapi itu tidak mungkin, Ibu dan Paman bersaudara, tidak mungkin dia yang membunuh ibuku." batin Zaza.
"Arrrrggggggg." Zaza menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kemana aku harus mencarinya." gumam Zaza. "Jika benar paman yang melakukannya, aku harus bagaimana?"
"Verdi. ya, Verdi. Aku harus meminta bantuannya."
Sebelum membongkar tasnya, Zaza mengintip dari pintu kamarnya yang sudah tidak bisa tertutup rapat. Memastikan bahwa tidak ada Rion di sana, hanya ada pengawal yang duduk sejauh 15 meter dari pintunya.
Zaza membuka lemari dan meraba bagian saku tasnya yang paling kecil, untuk mengambil secarik kertas yang bertuliskan nomor ponsel Verdi.
Ia dengan cepat memasukkan nomor itu ke ponsel nya, dan segera melakukan panggilan. Tidak sampai dua kali, Verdi langsung mengangkat nya.
"Halo Ver, ini aku Za-----."
"Aku tau, bagaimana kabarmu?"
"Bagaimana kau bisa tau, kalau ini aku?"
"Aku yakin kau akan menghubungi ku malam ini?" jawab Verdi dari seberang.
"Tapi---."
"Ya sudahlah, tidak perlu menjawabnya! aku butuh bantuanmu." bisik Zaza.
"Bantuan? Aku sudah mencoba membantu mu, tapi kenapa kau malah bersembunyi?"
"Maksudmu?"
"Aku menyuruh anak buahku untuk mengeluarkan mu dari sana, tapi dia bilang, kau bersembunyi dan tidak mau keluar. Kau tau? dia hampir saja tertangkap.
Zaza memejamkan matanya, karena merasa apa yang dia hadapi ini terlalu rumit baginya . "Situasi seperti apa ini?" lirihnya
"Za,, kau mendengar ku?"
"Ya. Kau tau semuanya?"
"Ya, aku tau dari seseorang, dia melihat sendiri Idan menembak ibumu. Keluarlah dari sana, aku akan mempertemukan mu de------."
"Eheeemmm" Suara seorang pria yang tiba tiba masuk ke kamar Zaza.
Zaza kaget dan menjatuhkan ponselnya.
Ucapan Verdi terpotong begitu saja karena kehadiran pria yang sedang berdiri di belakangnya itu.
"Sialan." ucap Zaza. Melihat pria itu adalah salah satu anak buah Rion, yang tadi berjaga di dekat pintu kamar nya.
"Tapi kenapa dia masuk, apa yang akan dia lakukan" batin Zaza, ia masih dalam posisi duduk di depan lemarinya.
"A,, ada apa?"
"Aku membawakan air putih untukmu."
"Aku tidak haus. Keluarlah!" jawab Zaza yang mulai was was. "Berhenti di sana, jangan mendekat."
Zaza mengangkat kedua tangannya, saat pria itu melangkah ke arahnya.
"Menurut lah, maka aku tidak akan menyakiti mu!"
"Siapa kau sebenarnya?"
*********
Jangan lupa tinggalkan Jejak ya readers. Biar tambah semangat.🤗🤗🤗🤗