
Selamat membaca 🌷 selamat membaca
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
"Kau melihatnya kan, bagaimana jala*g itu menggoda Rion."
"Iya Nyonya."
"Aku bahkan tidak percaya kau bisa melakukan apa-apa, Bantu aku ketempat tidur dan cepatlah pergi dari sini, aku muak melihatmu." ucap Mira.
"Dasar nenek tua, sudah lumpuh masih saja merasa hebat." batin Tati.
begitu selesai dengan tugasnya, ia segera keluar meninggalkan Mira.
Pagi ini, Rion menemui Mira dikamarnya. Berbagai macam cara ia lakukan untuk membujuk Mira, namun Mira tetap tidak menggubris nya.
Rion memutuskan untuk berangkat kerja.
Ia merasa kemarahan Mira bukan semata-mata karena tingkahnya di meja makan, tapi karena sesuatu yang lain.
Ketika Rion menyebut nama Zaza, Mira malah semakin menunjukkan ketidak sukaannya.
Dari situ Rion bisa mengetahui bahwa Mira tidak menyukai kekasihnya itu.
Leo menunggu dan membukakan pintu mobil untuk Rion.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Baik Tuan."
"Bagus, Kau bisa mengurus pengiriman itu besok."
"Tuan, ada sedikit masalah. Beberapa hari ini, ada beberapa petugas keamanan yang berpatroli di sana."
"Patroli? Hahahaha,, berikan yang mereka minta!"
"Sepertinya mereka ini tidak bisa di sogok tuan, Mereka baru saja menghentikan penyelundupan senjata milik tuan Jacob."
"Jacob?"
"Iya Tuan."
Rion tampak berpikir, apa seseorang melaporkan kegiatan mereka? Pengiriman yang Rion maksud adalah penyelundupan minyak yang akan dikirim keluar negri. Itu ia dapatkan dari tambang minyak ilegal miliknya.
pengiriman pengiriman yang ia lakukan selama ini selalu aman, dan tak pernah ada kendala karena ia juga bekerja sama dengan oknum aparat yang tidak jujur.
"Kalau begitu, hentikan saja untuk sementara. Apa menurutmu ada orang yang melaporkan kita?"
"Ya Tuan, sepertinya ini ulah Verdi."
"Cih, Bajing*n itu."
Begitu sampai dikantor, Rion mengambil ponselnya dan menghubungi Zaza lewat panggilan video. Karena sibuk membujuk Mira ia tidak sempat menemui Zaza. Idan yang sedang membacakan jadwalnya malah disuruh keluar, begitu juga dengan Leo.
"Keluarlah, dan kembali setelah 10 menit."
"Baik tuan." ucap keduanya.
Zaza yang Rion hubungi sedari tadi, belum juga mengangkat panggilannya. Ia mencoba mengirim beberapa pesan, tapi hasilnya sama, Zaza tidak menjawabnya.
Hal itu membuat Rion tidak tenang.
Ia mengalihkan panggilannya ke telpon rumah.
Seseorang mengangkatnya, yang ia yakini adalah pelayan.
"Halo."
"Ya, dimana Zaza?" tanya Rion.
"Ini dengan siapa?"
"Jangan banyak tanya, dimana Zaza?"
"Oh, dia baru saja keluar, Tadi ada laki laki yang menunggunya di depan gerbang. Apa ada yang mau disampaikan, nanti sa-----." Tut,,tut,,,tut, panggilan terputus begitu saja.
Rion keluar dari ruangan nya. Idan dan Leo yang melihatnya langsung bergerak menghampiri Rion.
"Berikan kunci mobilnya." pinta Rion.
"Tuan, anda tidak bisa pergi sekarang. Ada yang ingin bertemu dengan Anda, ini mengenai pengiriman." ucap Idan.
"Apa kau tidak bisa mengatasinya?"
"Maaf tuan, mereka ingin bertemu langsung dengan anda."
"Sial*n. Jam berapa?"
"Jam 10 Tuan, dan Tuan Jacob ing---."
"Tolak, Suruh dia menemuiku besok." ucap Rion.
"Baik Tuan."
Melihat jam ditangannya yang sudah hampir jam 10, membuat Rion tidak punya waktu lagi untuk kembali menghubungi Zaza. Rion merasa frustasi, ia mengacak acak rambutnya sendiri.
"Berangkat." ucap Rion.
Dia berangkat bersama Leo. sementara Idan stay di kantor.
Pertemuan yang Rion hadiri tidak berjalan lancar. Selain nakhoda yang meminta tambahan, yang menurut Rion adalah pemerasan, Rion juga sempat ingin menghajar satu oknum aparat yang ikut hadir. Karena dia meminta 5% saham pada Rion, itu diluar persenan yang ia dapatkan setiap pengiriman.
Empat jam mereka melakukan pertemuan itu. Mereka semua sampai melewatkan makan siangnya, karena Rion yang memaksa untuk segera diselesaikan. Akhirnya mereka membuat kesepakatan yang tentunya tetap menguntungkan Rion. Setelah semua nya beres, ia langsung bergegas pulang.
"Kau kembali kekantor." ucap Rion.
"Baik tuan." jawab Leo, ia menyerahkan kunci mobil pada Rion.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷. 🌷
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Pagi hari Zaza melihat mobil Rion meninggalkan pekarangan rumah.
"Kenapa ia tidak menemuiku?" gumam Zaza.
Ia merasa kesal karena tidak Rion tidak menemuinya sebelum pergi.
Dari subuh Zaza sudah bangun, Ia membantu Bi Minah menyiapkan sarapan serta membantu Kikan membersihkan kaca jendela.
"Habis tugas kita duduk dibelakang yok." ajak Zaza.
"Tidak bisa, Nyonya akan marah jika tau kalau pelayan duduk di sana."
"Jadi dimana biasanya kamu duduk?"
"Nanti aku tunjukkan." jawab Kikan.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan nya, Kikan membawa Zaza ke samping kiri rumah. Sebuah pohon besar yang berjarak sekitar dua puluh meter dari rumah Rion.
Daun yang rindang dan batang yang besar, membuat udara dibawahnya terasa lebih dingin. Rerumputan di sekitarnya tetap terawat.
Mereka berdua duduk menyandar di batang pohon tersebut.
"Kau sering kesini?"
"Iya. Disini sangat sejuk, aku menyukainya."
"Lain kali jika kesini, ajak aku."
"Tidak mau."
"Jika kau disini, Tuan Rion pasti akan sering kesini."
"hmmm." Zaza mengangguk membenarkan ucapan Kikan.
"Sepertinya Tuan Rion sangat menyayangi mu."
"Yah, sepertinya begitu."
"Dan kau?"
"Maksudmu?"
"Entahlah, kadang aku merasa kau tidak menyukainya, tapiiii-----."
"Tapi apa?"
"Tapi itu kadang."
"hahahaha, semua pasangan itu sama. Apalagi jika sedang bertengkar. Kau juga akan seperti itu nanti."
"Benarkah?" tanya Kikan yang dibalas anggukan oleh Zaza.
Keduanya asik mengobrol, mereka tidak tau apa yang terjadi didalam, terutama Zaza.
Menjelang siang Mereka kembali kedalam. Kikan yang langsung menuju ke dapur, dan Zaza menuju kamarnya.
Zaza tidak terpikir sedikitpun untuk membuka ponselnya, Ia berbaring dan langsung terlelap.
🌷
🌷
Brukk,,,pintu kamar Zaza terbuka lebar. Zaza yang tadinya terlelap, membuka matanya dan langsung terduduk karena mendengar suara pintunya yang di dobrak seseorang.
"Rion?" ucap Zaza. Ingin sekali ia memaki Rion saat ini, tapi melihat rahang Rion yang mengeras, Zaza mengurungkan niatnya.
Rion masih berdiri di depan pintu dan menatap tajam pada Zaza.
Zaza merasa tidak melakukan kesalahan apapun, bahkan jika seandainya Rion sudah mengetahui siapa dia, bukan kah selama ini Zaza belum pernah membuat hal yang merugikan untuk Rion. Itulah yang dipikirkan oleh Zaza.
"Hon." ucap Zaza.
Rion tidak menjawab, ia mencoba meredam emosi nya. Saat dia mendekat, Zaza menunjuk nya,
"Aku tidak melakukan kesalahan apapun, jadi Jangan coba coba menyakitiku!" ucap Zaza. ia meringsut mundur.
Rion terus melangkah dan duduk tepat di depan Zaza.
"Tidak melakukan kesalahan? kalau begitu katakan padaku apa saja yang kamu lakukan hari ini?" tanya Rion. Suaranya memang pelan tapi penuh penekanan. Ia merapikan rambut Zaza dan menyelipkannya di belakang telinga.
"Dari bangun tidur? baiklah. Aku bangun, mandi, membantu Bu Minah mas---."
"Sayang, aku tidak bercanda." ucap Rion. meski giginya menyatu saat berbicara namun ia mengelus pipi Zaza dengan lembut.
Zaza tau, Rion sedang menahan dirinya untuk tidak menyakiti dirinya.
"Katakan apa kesalahanku! jangan sampai kau menyakitiku karena sesuatu yang jelas tidak ku perbuat." ucap Zaza.
Ia memegang tangan Rion dengan kedua tangannya.
Tatapan Rion mulai teduh melihat mata Zaza yang juga menatapnya. Rion membuang nafasnya kasar.
"Siapa laki laki yang menjemputmu tadi pagi?" tanya Rion.
"Di jemput laki laki?,,, aku??"
"Hmmm." jawab Rion mengangguk.
Zaza mengernyitkan dahinya.
Sejenak Zaza terpikir, mungkin seseorang sedang memfitnah nya. Agar tidak menjelaskan terlalu banyak dan belum tentu juga Rion percaya, jadi Zaza meyuruhnya memeriksa CCTV.
"Hon, bukan kah rumahmu ini dipenuhi CCTV."
"Ya."
"Periksa saja CCTV nya. Lihat apakah aku meninggalkan rumah atau tidak."
"Aku ingin mendengar nya darimu."
"Tapi kamu tidak percaya padaku."
"Aku percaya."
"Jika kamu percaya, kenapa tidak bertanya padaku? Walaupun ada orang yang menghasut mu, harusnya tanyakan padaku lebih dulu."
"Ya, tapi Aku tidak bisa menahan emosiku. Aku menghubungi mu berkali kali, tapi kamu tidak mengangkat nya."
"Benarkah?" tanya Zaza, ia segera mengambil ponselnya di atas meja rias. Dan benar saja 62 panggilan tidak terjawab.
Zaza menutup mulutnya dengan tangan, dan menatap Rion.
"Hon."
"Kamu membuatku kwatir, apalagi saat pelay----------." Rion diam tidak melanjutkan kata-katanya.
"Saat apa?" tanya Zaza,
"Tidak ada." ucap Rion.
"Lihat pintunya rusak."
"aku akan menyuruh Leo memperbaiki nya."
"Kapan?"
"Besok."
"Terus malam ini aku akan tidur dengan pintu terbuka?"
"Kamu bisa tidur di kamarku dulu malam ini?"
"Lalu kamu?"
"Di sampingmu, kita bisa tidur berdua" ucap Rion. Menabrakkan dahinya ke dahi Zaza dengan pelan.
"Yang ada kita tidak tidur semalaman." jawab Zaza
"Jika kamu membiarkan ku melakukannya, kita bisa tidur setelah nya."
"Jika tidak?"
"Aku akan gr*pe gr*pe Sampai pagi."
"Dasar mesum."
"Hahahhaha, aku akan menyuruh Leo memanggil tukang sekarang. pindah lah ke kamar lain sebentar, jangan coba coba melirik tukangnya."
"Iss, aku bukan kamu." ucap Zaza.
"Jadi maksudmu aku seperti itu?" tanya Rion, Zaza hanya mengedikkan bahunya, sambil tertawa. Rion mencubit gemas pipi Zaza.
"Pindah sekarang, aku akan ke atas memastikan sesuatu."
"Baiklah."
*Li**ke like like like 😘 ok*