I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 6. bertemu



🌷 Selamat membaca🌷


Tati dan Nisa dengan semangat mengantarkan makanan yang dipesan oleh Leo. Apalagi saat meletakkannya dimeja, Tati tidak berhenti menebar pesona pada ketiga pria tersebut. Berharap salah satu dari para pria itu tertarik padanya.


"Wah, kalian sangat tampan." ucap Tati dengan tidak tau malunya. Sontak membuat ketiga orang itu menatapnya.


Nisa yang begitu malu melihat tingkah temannya yang memalukan itu, langsung cepat-cepat kabur dari sana.


"Hy wanita, kau ingin bergabung?" ucap Jacob dengan wajah mesumnya.


Tati yang mendapat tawaran itu merasa serba salah. Disatu sisi dia ingin sekali ikut duduk dengan pria-pria tampan itu. Tapi di satu sisi, ini masih jam kerja dia akan dipecat jika tetep nekat melakukannya.


"Hmm, aku tidak bisa. Aku harus kembali bekerja." balasnya dengan begitu berat hati.


"Kalau begitu berikan no ponselmu, kita bisa bertemu setelah kau selesai bekerja, kamu mau?"


"Iya mau, mau."


Dengan semangat Tati menyebutkan no ponselnya. Dan disimpan oleh Jacob.


Setelah memberikan no nya. Dia kembali kedapur menceritakan pada teman-teman nya, bahwa ada pria kaya yang tertarik padanya.


Nisa dan Zaza yang ikut mendengar nya hanya mengedikkan bahu, lalu memulai pekerjaan nya.


Sedangkan dimeja Leo.


"Kau menggoda semua jenis wanita." ucap Rion


"Hei, kau lihat sendiri, dia yang menggodaku. Kan lumayan untuk malam ini aku tidak perlu keluar mencari penghangat, kau ingin ikut? kita bisa gantian." balas Jacob sambil memainkan alisnya ke arah Rion.


"Cih, dasar pria tua."


"Seperti kau."


"Umurku masih 30, dan kau hampir 50."


"Dan aku masih kuat dan terlihat lebih muda dari mu."


"Yah, walaupun baumu sudah tercium kemana-mana."


"Bau?"


"Ya,bau tanah, apa kau tidak sadar?"


"Kau hanya cemburu padaku, katakan saja."


"Ciih." Rion membalasnya dengan decihan.


Keduanya tidak mau kalah jika sudah berdebat tentang apa saja.


Leo yang ada ditengah- tengah mereka merasa pusing melihat nya. Membuatnya ingin minum es untuk mendinginkan kepalanya.


Leo memanggil seorang pelayan dengan melambaikan tangannya.


Zaza yang merasa dipanggil, menghampiri pria itu, beberapa langkah lagi mencapai meja, Zaza tiba-tiba berbalik dan berlari sangat cepat.


Leo yang melihatnya bingung begitu juga dengan Rion. Rion tidak sempat melihat wajah wanita itu, tapi dia menyadari dari cara Zaza berlari menandakan wanita itu sedang ketakutan.


"Ada apa" ucap Jacob dan melihat ke arah pandangan Leo dan Rion.


"Sepertinya wanita yang tadi takut padamu." jawab Rion.


"Maksudmu, yang tadi memberikan no ponsel?"


"Ya." sahut Rion, dia mengira wanita yang berlari tadi adalah Tati.


Tapi tidak dengan Leo. Dia melihat sangat jelas wajah wanita itu.


"Mengapa dia terlihat ketakutan?" batin Leo.


******


Disebuah toilet khusus karyawan. Zaza memegang dadanya, jantungnya serasa berhenti berdetak. Air matanya mengalir deras.


"Pria itu disini. Ayah, ibu. Aku menemukan baji*gan itu. Aku harus membunuhnya." batin Zaza.


Dengan keadaan seperti ini. Zaza tidak bisa berfikir jernih. Rencana yang sudah disusunnya, seketika buyar.


"Aku harus membunuh baji*gan itu, harus ." Hanya kata kata ini yang memenuhi kepalanya.


Zaza mencuci wajahnya untuk menghilangkan bekas air matanya. Dia segera keluar dari toilet itu. Dengan tergesa-gesa Zaza menuju dapur mengambil sebilah pisau dan menyembunyikan nya didalam baju. Saat keluar, Zaza mengernyitkan dahinya. Dengan mata yang memandang kesana kemari mencari pembunuh itu, tapi tetap tidak menemukannya.


"Za ,sedang mencari siapa?" tanya Tati yang melihat Zaza seperti sedang mencari seseorang.


"Oh tidak, aku tidak mencari siapa-siapa." balas Zaza dengan senyum yang dipaksakan. Merasa yang dicarinya sudah pergi, Zaza memutuskan untuk masuk ke dalam.


"Kau tau, nanti malam ada yang mengajakku kencan."


"Oooooo."


"Kok hanya oo??? dia Sangat tampan Za seperti nya dia seorang pengusaha."


Zaza tidak terlalu menanggapi omongan Tati. hatinya belum tenang, dendamnya menggebu-gebu dan menghilangkan akal sehatnya.


Tapi Tati terus saja melanjutkan bicara nya.


"Kamu harusnya lihat tadi pria-pria yang duduk di meja sana Za, mereka sangat tampan."


Mendengar itu Zaza langsung berhenti.


"Mereka mengajak mu berkencan?"


"Tepatnya salah satu dari mereka."


"Dengan yang mana?" balas Zaza.


tiba- tiba Zaza menarik tangan Tati menuju kursi yang tadinya di duduki Rion.


"Apa yang duduk disini, disini atau disini? yang mana, katakan." lanjut nya


Tati menatap wajah Zaza,


"Kenapa kau begitu semangat?"


"Ha?"


"Maksudku, kenapa kau seperti seorang istri yang sedang memergoki suaminya selingkuh?"


"Oh, maaf." ucap Zaza dan melepaskan pegangannya dari tangan Tati.


"Apa salah satu dari mereka memiliki tompel disini?" tunjuk Zaza pada pipi kirinya?.


"Mereka tampan, putih ,tidak ada apa-apa diwajah mereka, emang kenapa?"


"Berarti aku salah liat, aku pikir dia temanku."


"Pasti kau salah lihat, karena kau tidak mungkin bisa berteman dengan laki laki kaya seperti mereka. Ya sudah lah, bicara padamu hanya bikin pusing." kata Tati berlalu meninggalkan Zaza.


Zaza terpaksa berbohong dia takut dicurigai.


Dan sekarang dia harus mencari cara untuk bertemu lagi dengan pria itu.


"Apa aku harus memanfaatkan Tati."


batinnya.


Seharian dia hanya memikirkannya itu. Sampai sebuah senyuman tersungging di bibir.


"Membunuh mu saat kau bahagia mungkin akan lebih menyenangkan."


*******


Hari ini, hari yang begitu menguras tenaga bagi Zaza. Setelah seminggu hanya tiduran, membuat badannya pegal-pegal semua.


Badan pegal belum lagi dirumah bertemu dengan bibinya yang membuat hatinya juga ikut pegal. ( Ada gak hati pegal).


Malam ini dia sudah memutuskan akan mengatakan pada pamannya bahwa dia ingin pindah.


Zaza takut kesabaran nya habis jika terus-menerus Eva menguji nya.


Selesai makan malam Zaza menemui Idan.


"Paman, ada yang ingin kubicarakan."


"Apa itu Za?"


"Aku ingin mencari kos kosan Paman, yang lebih dekat dengan tempat ku bekerja."


Idan tidak menjawab, dia diam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Papa kasih aja, toh dia bukan anak kecil lagi kan." sahut Eva.


"Za, kasih paman waktu untuk berfikir ya, Paman takut kamu kenapa-kenapa jika tinggal sendirian."


Jawab Idan seolah tidak mendengar kata-kata istrinya.


Zaza kembali ke kamarnya. Walaupun pamannya belum memberinya ijin. Dia bersyukur diperhatikan oleh Pamannya seperti sekarang ini. Setidaknya dia tidak benar-benar kehilangan semua kasih sayang.


*J**angan lupa tinggalkan* jejak 😘😘😘