I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
Eps 51. Penyesalan yang dalam



Selamat membaca para readers. Jangan lupa Like, vote and rate 5 ya. Biar author semangat .🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗.


Air mata Zaza tidak berhenti mengalir. Bedak yang ia poleskan di wajahnya luntur seketika.


"Selamat pagi sayang." sapa Rion sembari menghampiri Zaza.


Senyumnya yang lebar tiba tiba pudar, ketika Zaza menatap ke arahnya.


"Sayang, kamu menangis? apa yang terjadi?"


Huuuuurrrpp,,,Zaza menarik ingusnya yang hampir saja menetes.


"Ada apa? katakan padaku!"


"Bawang Hon" jawab Zaza singkat, sambil Mengangkat tangannya yang masih memegang bawang merah ke depan wajah Rion.


"Kau membuatku khawatir, letakkan! biar aku yang mengirisnya."


Rion menghapus air mata Zaza beserta ingusnya. "Ingin masak apa?"


"Nasi goreng."


"Duduklah! biar aku yang memasaknya."


"Tapi aku ingin belajar."


"Perhatikan saja dulu, besok baru kamu yang buat." ucap Rion. "Ingin nasi goreng ayam? telor? atauuuu---."


"Nasi goreng rasa buatan ibu." Jawab Zaza.


Rion terdiam, hatinya seperti sedang di iris mendengarnya. tangannya yang sedang mengambil alih pekerjaan Zaza pun ikut berhenti.


"Hon, Kamu bisa membuatnya?"


(Diam)


"Hon."


"Ah iya, ada apa?"


"Malah melamun, Aku ing--------."


"Sayang, aku bisa membuat nasi goreng sejuta rasa. Kamu ingin mencobanya?"


"Benarkah? Baiklah, buatkan itu saja."


Rion mulai beraksi layaknya seorang chef.


Dalam Hitungan menit ia menyelesaikan semuanya.


"Selamat menikmati Nyonya Ryza Anugraha."


"Heheh,,, selamat menikmati juga Tuan Rion. Boleh aku memakannya sekarang?"


"Tentu sayang."


Zaza menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.


"Bagaimana?" tanya Rion.


"Ini enak Hon. Ayo makan!"


Rion menelan makanan nya dengan susah payah, mengingat ucapan kekasihnya sukses membuat kerongkongan nya terasa mengecil.


"Sayang, hari ini aku akan ke hotel RIZSTAR menemui seseorang. Jangan membukakan pintu untuk siapapun, jika terjadi apa-apa cepat hubungi aku."


"Tapi ponselku ada padamu."


"Nanti aku berikan, tapi jangan coba coba membalas pesan atau mengangkat telpon, kecuali itu dariku."


"Iya. Hon, kenapa harus di hotel? siapa yang akan kamu temui?"


"Idan. Aku ingin menemuinya, untuk sementara aku akan menyuruh nya mengelola hotel milikmu, sebelum situasi aman."


"Namanya Hotel RIZSTAR?"


"Sesuai dengan nama pemiliknya."


"Terimakasih Hon, kamu membuatku terharu." ucap Zaza dengan wajah manjanya.


"Hmmm, sayang Kamu bahagia?"


"Sangat bahagia."


"Kalau begitu, menikah lah dengan ku. Aku janji akan selalu membahagiakanmu."


"Aku percaya padamu Hon, tapi biarkan seperti ini dulu. Aku masih ingin menikmati masa masa pacaran."


Huuuuuuffff, suara nafas Rion yang terdengar putus asa.


"Hon."


"Aku mengerti sayang, ayo habiskan makannya!"


🌷🌷🌷🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


🌷


🌷🌷🌷🌷


Menjelang siang, Rion meninggalkan apartemen untuk menemui Idan.


Hotel RIZSTAR, lantai lima yang masih dalam tahap finishing. Di salah satu kamar di lantai itu juga Rion dan Idan berada.


"Kau kerumah? apa yang kau lakukan disana?" tanya Rion.


"Nyonya menyuruhku kesana tuan, saya pikir sedang terjadi sesuatu disana."


"Jadi apa yang kalian bicarakan?"


"Nyonya menyuruh saya untuk mencari keberadaan Zaza tuan."


"Dan kau akan melakukannya?"


"Tidak tuan, saya hanya akan melaksanakannya jika anda yang menyuruh saya Tuan."


"Dasar penjilat, serakah. Manusia menjijikkan, kau membunuh saudaramu sendiri, dimana otakmu hah? kau membuatnya menangis, kau baji*an. Mati kau."


Buggh,,bughhh,,bughhh.


Rion memukul wajah Idan tanpa ampun


Apalagi dengan ucapan Zaza pagi ini.


(nasi goreng rasa buatan ibu). Membuat hatinya ter iris.


Bagaimana ia harus mengobati luka separah itu? tidak ada lagi yang bisa ia perbuat, nasi sudah menjadi bubur.


"Jika bukan kau yang di sana, mungkin aku tidak akan membunuhnya. Apa benar kau memberikan uang itu pada mereka, atau kau yang mengambil uang itu?"


"Aku sudah menyerahkan uang itu Tuan, aku tidak berbohong." jawab Idan lemah, ia rela menahan semua itu untuk satu tujuan yang tidak pasti. Rion tidak akan menghabisinya begitu saja, karena ada Zaza yang membelanya. Inilah yang ada di pikiran Idan.


Braaaakkk,,, Rion melemparkan sebuah kursi ke tubuh Idan.


"Zaza akan semakin menderita jika ia tau, kau membunuh ibunya. Apa kau tega melihatnya menderita?"


"Tidak Tuan."


"Lalu kenapa kau membawanya kerumah sebagai pelayan? kau tau dengan jelas wanita seperti apa yang akan ia rawat. Dia tidak pernah memperlakukan pelayannya dengan baik, tapi kau masih mengantarkan Zaza ke sana. Apa kau tidak menyesal dengan apa yang sudah kau perbuat bre*gsek? Dan sekarang kau akan menyerahkan lagi Zaza padanya?"


"Tidak Tuan, aku tidak akan melakukannya."


"Jika bukan karena Zaza, aku sudah membunuhmu Idan." ucap Rion.


Dengan melihat wajah Idan saja,membuat emosinya melonjak.


"Hotel ini milik Zaza, untuk sementara kelola ini dengan benar, tidak perlu ke kantor lagi."


"Baik Tuan. Apa,,, Apa Zaza bersama anda Tuan, apa dia baik baik saja?"


"Iya, kenapa? Simpan ke pura pura an mu itu. Aku tidak perlu memperingatkan apapun lagi padamu bukan?"


"Iya Tuan. Tapi aku hanya ingin menemuinya, Aku janji akan memperlakukannya dengan baik."


"Tidak sekarang." ucap Rion. Ia tidak bisa terus terusan menolak mempertemukan keduanya, karena Zaza pun memintanya.


Walaupun ia dia tidak percaya pada Idan. Tapi Jika Zaza terus memaksa, apa yang bisa ia lakukan selain menyetujuinya.


***


****


**


****


Rion pulang membawa berbagai makanan. Menebak nebak sesuatu yang di sukai oleh Zaza.


Kamar kosong, dapur kosong, ruang tamu, ruang keluarga semuanya kosong. "Kemana dia." gumam Rion.


Brukkkk,,,,,,bunyi yang lumayan keras berasal dari ruangan Gym.


"Zaza." pekik Rion berlari ke ruangan tersebut.


"Sayang."


"Hon, kamu sudah pulang?" tanya Zaza.


"Aku mendengar sesu-------------."


Zaza langsung menunjuk pada Trademill yang masih aktif.


"Aku terjatuh ketika menggunakannya." ucap Zaza


"Apa ada yang luka?"


"Tidak."


Rion membuang nafas lega,


"Aku akan mengajarimu cara menggunakannya, tapi tidak sekarang."


"Kapan?"


"Besok pagi."


"Kamu tidak bekerja?"


"Tidak, ayo." ajak Rion sembari merangkul pundak Zaza.


"Hon, apa ini?"


"Makanan, aku tidak tau apa yang kamu sukai, jadi aku membeli semuanya."


"Sebanyak ini?"


"Kita bisa menyimpannya sayang, sebagian itu hanya Snacks."


Zaza membongkar tiga kantong besar yang semuanya berisi makanan.


"Aku menyukai semuanya."


"Semuanya??"


"Ya, kenapa?"


"Tidak apa-apa, jangan memakan semuanya sekaligus. Itu tidak sehat. Nah,,, hari ini makan ini dulu." ucap Rion, memberikan satu bungkus Snack untuk Zaza.


"Hanya ini? bagaimana dengan ini,,ini,,ini."


Menyimpan beberapa Snack di tangannya.


"Tidak boleh."


"Untuk apa membeli sebanyak ini, jika tidak boleh di makan?" Ucap Zaza cemberut.


"Untuk di liatin sayang."


"Tidak lucu."


"Hahahaha,,,baiklah. Makan apapun yang kamu mau. Tapi sebelum itu ayo kita mandi."


"Mandi bersama?"


"Kamu mau mandi bersama? dengan senang hati sayang, Ayo."


"Tidak, tidak. Kita mandi sendiri sendiri saja, siapa juga yang minta mandi bersama." ucap Zaza, ia berlari ke kamarnya setelah meletakkan Snack yang sempat ia ambil.


Rion membereskan Snack yang berserakan, sebab di bongkar oleh Zaza. Kemudian masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Semoga suka. Jangan lupa like, vote, and rate 5. Kalau mau beri saran juga boleh.


🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗