I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 18. cemburu



🌷 *S**elamat membaca* 🌷


Sepanjang perjalanan menuju ke bandara Rion merasa tidak tenang. Dia tidak bisa mengungkapkan apa yang membuat


pikiran dan hatinya tidak tenang. Dia mencoba mengalihkan pikiran nya dengan memikirkan Leo yang akan berhasil menjalankan aksinya. Sehingga saingannya akan hilang dan dirinyanya akan menjadi pebisnis nomor satu. Tapi tetap saja dia tidak bisa membohongi hatinya sendiri. Yang sebenarnya dia pikirkan adalah Zaza.


"Sedang apa gadis itu, seperti apa dia malam ini? apa yang akan Verdi lakukan padanya, bagaimana jika gadis itu terbunuh, bagaimana jika tertangkap dan mendekam di penjara." batin Rion. Semua pertanyaan itu menari nari di kepalanya, Tiba tiba saja dia merasa kwatir.


"Putar balik." ucap Rion.


Bodyguard yang membawanya menghentikan mobil secara mendadak. Yang mana kepalanya langsung mendapat pukulan dari Rion.


"Maaf Tuan, saya------."


"Putar balik, kita kembali kepenginapan." ulang Rion dengan tegas. Tidak ada pertanyaan lagi, bodyguard nya memutar arah sesuai dengan yang bosnya inginkan.


Begitu tiba, Rion langsung turun dan berlari masuk kedalam. Memutar kenop pintu satu persatu, memeriksa semua ruangan namun dia tidak menemukan gadis itu.


Belum pernah ia menyebut nama Zaza tapi kali ini dia memanggil nya.


"Zaza,,,Zaza." panggil Rion. Semua kamar mandi disana dicek olehnya. Wajahnya panik.


Rion mengusap kasar wajah nya berkali kali.


Sambil merogoh kantongnya mengambil ponsel, ia mencoba menghubungi Leo.


"Gadis itu tidak ada disini kau membawanya?"


"............................"


"Cepat kemari."


Praaankkk,,,,,Rion melemparkan ponselnya ke lantai hingga pecah. Dia tidak mengerti kenapa sekarang dirinya Sangat mengkwatirkan gadis itu.


Berdiri didepan cermin dia berbicara dengan dirinya sendiri.


"Aku hanya tidak ingin rencanaku gagal, ya hanya itu."


Ucapnya setengah hati, dia sudah tidak yakin akan rencananya itu.


"Tuan." sapa Leo yang baru saja masuk.


"Cari gadis itu sampai ketemu dan batalkan rencana untuk menyingkirkan Verdi."


Leo terdiam memastikan apa yang dia dengar.


"Setelah." bentak Rion yang emosi melihat asisten nya diam saja.


"Ingat, jangan melukainya." lanjutnya.


"Baik Tuan."


Leo keluar, dia merasa ada yang aneh dengan sikap bosnya,


"Apa yang terjadi dengannya, sejak kapan dia bisa melepaskan targetnya dan jangan melukainya. Berarti dia kembali hanya karna gadis itu. Seperti nya kepala bos sedang bermasalah." gumam Leo menggeleng geleng kepala mencoba mengusir pikirannya.


Saat keluar Leo berpapasan dengan bodyguard yang mengantarkan Rion ke bandara.


"Hei bukankah kau sudah mengantarkan bos ke bandara, kenapa kalian tidak jadi pulang?"


"Aku juga tidak tau, bos menyuruh ku membawanya kembali kesini."


"Apa terjadi sesuatu padanya, maksudku apa kepalanya terbentur sesuatu?"


Mendengar pertanyaan Leo, bodyguard itu diam seolah mengingat sesuatu.


"Katakan." lanjut Leo.


"Tidak terjadi apa-apa."


"Ah sudahlah." Leo beranjak pergi. Dia harus melaksanakan perintah bosnya.


Sudah hampir tiga jam Rion menunggu. Leo belum juga memberinya informasi.


Sebentar lagi malam, gadis itu belum juga ditemukan. Sementara Rion hanya duduk tanpa rencana apa apa lagi dikepalanya.


"Hei kemari' panggilnya pada bodyguard yang sedang berdiri tidak jauh darinya.


"Hubungi Leo!"


"Baik Tuan."


Beberapa kali mencoba menghubungi Leo tapi panggilan nya ditolak.


"Dia menolak panggilan nya tuan."


"Pergi, seret dia kem---------", kreeeetttt


suara pintu mengalihkan pandangan keduanya. Disana sudah berdiri Leo dan beberapa bodyguard.


Melihat wajah Leo, Rion bisa menebak kabar apa yang dibawa asistennya. Menunggu hingga batas kesabaran nya habis dan sekarang Leo datang tanpa hasil.


Rion berdiri menghampiri Leo. Menarik pistol yang diselipkan di pinggangnya dan menempelkan didahi Leo.


"Kau tidak menemukannya?"


"Tuan, gadis itu pergi bersama Verdi."


Ucap Leo dengan cepat setelah sempat menjeda ucapannya.


"Tidak Tuan. Sa,, saya juga belum tau, bagaimana gadis itu bisa bersama dengan Verdi, saya akan -------."


"Jadi apa yang kau tau?" ucap Rion mendorong dahi Leo dengan pistolnya.


"Verdi akan membawanya kepesta malam ini tuan, sebaiknya Tuan juga kesana."


Rion menurunkan senjatanya dari Leo.


Ia berpikir sejenak kemudian,


"Siapkan pakaianku." Ucapnya.


*******************


Verdi yang sudah rapi menunggu Zaza diluar kamar. Gadis itu sempat menolak untuk pergi tapi setelah mendapat ancaman kecil dari Verdi, akhirnya dia menyerah.


"Ryza, cepatlah, kita bisa telat jika kau berlama-lama didalam." ucap Verdi dari luar kamar.


Tidak mendapat balasan dia mencoba membuka pintu.


"Kenapa kau lama sekali?"


"Aku sudah siap, ayo." ucap Zaza melewati Verdi. Pria itu melongo menatap Zaza. Bibirnya terbuka dan matanya tidak berkedip sama sekali melihat gadis didepannya sangat cantik.


Sampai dia tersadar Zaza sudah keluar dan menaiki mobil yang sudah disediakan.


"Hei, tunggu aku." ucap Verdi berlari menyusul Zaza. Verdi memberi perintah pada Gio agar tidak perlu ikut. Dia akan menyetir sendiri malam ini.


"Ryza pindahlah kedepan."


"Baiklah."


"Kau sangat cantik malam ini, wanita wanita yang ada di sana akan cemburu melihatmu."


"Dan wanitamu akan mencari cara untuk membunuhku. Harusnya dia yang kau bawa ke pesta itu." ucap Zaza kesal.


"Hei, kau mau keluar dari pulau ini bukan? jangan membahasnya lagi. Lagian dia bukan wanitaku, kami tidak ada hubungan apa-apa."


"Yah, kalian para pria selalu seperti itu."


"Hahahha, aku tidak seperti itu, percayalah. Mungkin ini terlalu cepat. Tapi sepertinya aku sudah jatuh cinta padamu."


"Pestanya sudah dimulai, ayo cepat. Huhh, kau sangat lambat."


"Kau pintar mengalihkan pembicaraan."


Keduanya berjalan memasuki tempat acara. saat acara sudah dimulai. Zaza mengaitkan tangannya ke tangan verdi, kelihatan sangat mesra. Sesekali Verdi tertawa kecil sambil memandang wajah Zaza. Orang tidak akan menyangka kalau sebenarnya Verdi tertawa karena umpatan umpatan yang diberikan oleh Zaza padanya.


Disana sudah ada Rion dengan wajah merah menahan amarah. memperhatikan zaza yang begitu dekat dengan Verdi membuat hatinya panas. Ingin rasanya dia menghabisi laki laki itu sekarang juga.


Zaza melihat Rion bersikap seolah tidak kenal, dia benci pria itu. Pembunuh yang ingin memanfaatkannya. Dia berusaha agar tidak melihat kearah Rion.


Banyaknya tamu yang menghampiri Verdi membuat Zaza bosan.


Orang-orang itu mendekati Verdi dengan maksud tertentu. Biasa lah sambil cari muka, siapa tau mereka bisa mengajukan kerja sama dengan perusahaan 4VIC. Itu harapan kebanyakan dari mereka.


"Aku bosan." bisik Zaza.


"Mau jalan-jalan??"


"Iya, apa aku boleh keluar?"


"Boleh, asal denganku."


"Tidak masalah, ayo." jawab Zaza.


dia melihat Rion berjalan kearah mereka. Karena itu dia ingin cepat cepat keluar dari sana.


"Halo Tuan Verdi, apa kabar." ucap Rion datang menghampiri keduanya.


"Hay Tuan Rion, seperti yang anda lihat aku baik baik saja, bagaimana denganmu."


"Aku juga baik baik saja." balas Rion menatap Zaza.


Verdi yang menyadari arah tatapan Rion langsung memperkenalkan Zaza.


"Ini Ryza, dia terbawa ombak saat berenang, hingga terdampar di pulau ini." ucap Verdi.


"Hahahhah, benarkah dia mengatakan seperti itu?." tanya Rion mengeluarkan tawa sinis.


Pletak, Zaza menyentil telinga Verdi.


"Aku tidak pernah mengatakan seperti itu" ucap Zaza.


Saat ketiganya sedang mengobrol sebuah peluru menembus bahu Verdi.


Doorrrr, doorrrr, doorrrr. Verdi oleng seketika.


para tamu berlarian, bodyguard Verdi berdatangan. Beberapa dari mereka mencoba melindungi dan membopong tubuh bos mereka. Sebagian lagi mencari orang yang mnembak. Zaza menunduk sembari menutup kedua telinganya. Sementara Rion mencoba melindungi Zaza dengan tubuhnya.


Doorrrr doorrrr,,, doorrrr, tambakan itu berulang-ulang.


Rion menarik tangan Zaza berlari meninggalkan tempat itu.


Di-like ya 😢😢😢😢😢😢😢