
🌷 *s**elamat membaca,🌷*
Rion menarik tangan Zaza keluar dari tempat itu.
Doorrrr, doorrrr, tembakan mengenai lengan Zaza,
"Aaaaaaaaaaa." Zaza teriak tidak dapat menahan rasa sakit akibat tembakan itu. Rion
melihat beberapa bodyguard membidik ke arah mereka.
"Tangkap gadis itu." ucap salah seorang dari mereka.
Rion menarik kembali tangan Zaza. Berlari sejauh mungkin, beruntung Leo dan anak buahnya datang menolong. Sehingga dapat menghalangi para bodyguard yang mengejar keduanya.
Saling menodongkan senjata satu sama lain. dan hampir saling tembak.
Suara verdi menghentikan mereka.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Verdi dengan luka dibahunya yang masih mengeluarkan darah segar.
"Tuan, mereka membawa gadis itu kabur." ucap Gio asisten Verdi, yang bersamaan dengan jawaban Leo.
"Mereka menyerang bos kami." sahut Leo.
"Siapa yang menyuruh kalian untuk menyerang, aku bilang bawa Ryza, kenapa kalian malah menyerang orang lain?"
"Tuan tadi mengatakan untuk membawa gadis itu."
Memang benar Verdi mengatakannya, saat dia diselamatkan anak buahnya. Tapi bukan seperti itu maksudnya.
"Aku belum selesai bicara tapi kau langsung pergi. Dan sekarang kau menyerangnya, aku bilang bawa gadis itu agar kau menyelamatkan nya bod*h." ucap Verdi sembari melayangkan tendanganny diperut Gio.
"Dan gadis yang kau suruh untuk diselamatkan, tertembak oleh senjata mereka." ucap Leo.
Verdi kehilangan kata-kata, matanya merah.
Doorrrr, satu tembakan dia Lesatkan hampir menembus kepala Gio.
"Itu akan tepat dikepalamu jika terjadi apa-apa dengan Ryza. Cari dia dan pastikan dia baik baik saja." ucap Verdi.
Setelah permisi, Gio dan anak buahnya langsung bergegas meninggalkan Verdi dan anak buah Rion.
"Saya minta maaf atas kesalah pahaman ini. Tolong sampaikan pada tuan Rion, saya ingin bertemu dengannya untuk meminta maaf secara langsung."
"Baik, saya akan menyampaikannya, kalau begitu kami juga permisi" sahut Leo.
Sama seperti sebelumnya, Zaza kembali memasuki hutan, melewati rawa dan pohon pohon besar. Bedanya kali ini dia digendong dipunggung Rion. Mereka hanya bisa mengandalkan cahaya bulan sebagai penerangan.
"Berhenti dulu, aku sudah tidak sanggup lagi" ucap Zaza.
Wajahnya pucat pasi, tidak ada lagi tanda kehidupan diwajahnya. Dia bukan lah orang yang bisa menahan sakit. Dan ini pertama kali dalam hidupnya mengalami luka separah ini.
"Bertahan sebentar lagi, aku yakin kau kuat. Kita harus menemukan seseorang yang bisa menolong kita." ucap Rion.
Dia tidak bisa menghubungi siapapun, sekarang Rion menyesali perbuatannya yang sudah menghancurkan ponsel miliknya.
"hahh." ucap Zaza sinis.
Rion seolah tidak merasakan lelah, dia terus berlari. Saat merasakan kepala Zaza yang bertumpu dipundaknya. Rion berhenti dan menurunkan Zaza.
"Hei,,,hei,, bangun, za bangunlah, kau harus bertahan, ayo bangun!"
Rion terus menepuk nepuk pipi Zaza. badannya tidak bergerak, gadis itu tidak sadarkan diri.
Rion makin panik, dia mengangkat tubuh Zaza dikedua tangannya. Kembali berlari hingga sampai dihamparan pasir. Dari jauh dia melihat cahaya. cahaya itu seolah berjalan.
"Seperti nya itu nelayan." ucap Rion
Rion meletakkan Zaza dipasir sembari melambaikan tangannya.
"Huuuuuuuuuuuiii,. huuuuuuuuuuuiii , huuuuuuuuuuuiii." ucapnya berulang ulang. Dia tidak tau apakah nelayan itu melihatnya atau tidak. Dia juga tidak tau harus memberikan tanda apa agar nelayan itu melihatnya. Pandangan nya tertuju pada Zaza, dia tidak bisa lagi menyembunyikan kekhawatirannya. Tangannya ikut gemetar. Tiba tiba sebuah ide muncul dibenaknya.
"Bertahanlah, kita akan pergi dari sini." ucap Rion mencium puncak kepala Zaza dengan sangat lembut.
Ia melepaskan jam tangannya, mencoba memantulkan cahaya bulan ke arah si nelayan.
"Huuuuuuuuuuuiii huuuuuuuuuuuiii huuuuuuuuuuuiii."
Dan benar saja idenya berhasil. Cahaya lampu itu mendekat kearahnya.
Beberapa menit menunggu, hingga nelayan itu mengikat sampannya disebuah kayu.
"Ada apa anak muda?"
"Pak tolong kami, gadis ini butuh pertolongan. Tolong bawa kami dari sini."
Nelayan itu terdiam melihat baju zaza yang penuh darah. Tanpa bertanya lagi, ia langsung membantu Rion mengangkat Zaza kedalam sampan.
*************
Menempuh perjalanan yang sangat jauh bagi Rion, akhirnya mereka sampai dirumah kecil milik nelayan. Rumah dengan dinding papan. Kamar dan ruangan depan berlantai papan, sedangkan dapur masih lantai tanah.
Zaza dibaringkan disebuah kasur tipis.
Bu Ati, istri dari pak Agus( nelayan) mengganti pakaian Zaza dengan meminjamkan pakaiannya dan membersihkan darah yang menempel di badan gadis itu.
"Kita harus kerumah sakit dia kehilangan banyak darah." ucap Rion.
"Disini hanya ada bidan nak, harus ke kota dulu baru ada rumah sakit."
"Baiklah tolong panggilkan bidannya."
Bu Ati yang sudah selesai membersihkan tubuh Zaza. Tengah menghidangkan makanan.
Tidak ada meja makan disana, mereka duduk di lantai setiap kali makan.
"Nak, kamu makan dulu."
"Terimakasih, nanti saja Bu."
Rion tidak terbiasa berbicara dengan sopan.
Sehingga dia mengucapkannya dengan sangat kaku
"Panggil saja Bu Ati, kalau boleh tau apa yang terjadi, kenapa dia bisa tertembak?"
Rion membuang nafasnya pelan,
"Aku juga tidak tau, dia tertembak begitu saja." jawab Rion.
Tidak lama, Pak Agus datang membawa seorang bidan.
Sebelum kerumahnya, pak Agus sudah menceritakan kondisi Zaza. Sehingga bidan itu membawa peralatan yang mungkin saja di perlukan.
bidan itu membersihkan luka Zaza dan dengan alat seadanya dia juga berhasil mengeluarkan peluru dari lengan Zaza.
"Aku sudah mengeluarkan pelurunya, kita hanya menunggunya sadar."
"Dia mengeluarkan banyak darah, bukankah dia harus mendapatkan donor?" tanya Rion
bidan itu menunduk dan mengatakan,
"Maaf saya tidak bisa melakukannya."
"Baiklah, terimakasih telah menolongnya. Aku tidak bisa membayarmu sekarang, tapi nanti aku pasti membayarnya."
"Kalau begitu saya permisi." ucap bidan itu.
"Kalian berasal dari mana."
"Rion, namaku Rion."
"Nak Rion berasal dari mana?"
Bukannya menjawab Rion malah mperhatikan seisi rumah pak Agus.
"Apa disini tidak ada televisi?"
"Tidak ada, tapi di rumah tetangga kita ada" ucap pak Agus.
"Kalau begitu bapak sering seringlah ke rumah tetangga, mungkin bapak akan melihat saya disana"
Sontak pak Agus dan Bu Ati tertawa.
"Sudah sudah, lebih baik kita makan dulu." ajak Bu Ati.
Menjelang dini hari Rion masih membuka matanya. Dia tidak bisa tidur. Pikirannya melayang layang memikirkan Siapa sebenarnya yang mencoba membunuh Verdi dan dirinya. Sebelum para bodyguard itu mengejar mereka, Beberapa tembakan sudah mengarah padanya.
"Dan bodyguard itu, kenapa mereka ingin membunuh Zaza, siapa mereka?" gumam Rion.
Karna dia tidak sempat mengetahui bahwa yang terakhir menyerang mereka itu adalah anak buah verdi. Rion Merubah posisi tidurnya menghadap kearah Zaza. Memperhatikan wajah yang pucat itu membuat hatinya meringis.
"bangunlah, aku ingin mendengar ocehanmu!" ucap Rion menyentuh ujung hidung Zaza. Setelahnya dia menggeser dirinya menjauh dan akhirnya terlelap.
"Nak Rion bangun, bangun!" ucap Bu Ati.
Perlahan Rion membuka matanya,
"Sudah pagi?" dia merasa baru beberapa menit tertidur.
"Ini sudah jam satu siang. Bangun, lihat dia sudah bangun."
Rion dengan cepat melihat ke arah Zaza.
"Hei kamu bangun? kamu sudah bangun?"
ucap Rion dengan sangat senang Melihat Zaza yang sudah membuka matanya.
"Aku tau kau pasti kuat, kau ingin makan sesuatu? katakan!" lanjutnya
Zaza diam, dia menatap benci wajah Rion.
Rion dengan mata berbinar masih terus tersenyum, hatinya terasa lega. Batu yang menghimpit hatinya sudah tidak ada lagi.
Zaza mencoba duduk dibantu oleh Bu Ati.
"Kau,,,,pembunuh, kau pembunuh. Kau bukan manusia, aku membencimu." ucap Zaza.
Air matanya lolos begitu saja. Hampir saja usahanya selama ini sia sia.
Dia masih berpikir bahwa Rion lah dalang dibalik semua ini. Mendengar perkataan itu,
Bu ati dan pak Agus memilih keluar.
mereka tidak yakin dengan apa yang di katakan oleh Zaza. Pasalnya mereka melihat usaha Rion menyelamatkan gadis itu penuh dengan perjuangan.
"Kenapa hidupmu penuh keberuntungan, padahal kau seorang pembunuh." lanjut Zaza
*J**angan pelit kasih like 😘 😘😘😘*