I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 20. maafkan aku



"Kenapa hidupmu penuh keberuntungan, padahal kau seorang pembunuh." lanjut Zaza.


Rion terdiam membatu, dia tidak tau harus menjelaskan apa. Perasaan bersalah muncul dihatinya. Padahal sebelumnya perasaan seperti itu tidak pernah ada dalam dirinya. Dia berpikir, apa sebenarnya yang diketahui Zaza tentang nya, kenapa gadis itu menyebutnya pembunuh.


Matanya menatap Zaza penuh penyesalan, yang malah membuat Zaza semakin jijik.


"Aku memang seorang pembunuh, tapi bukan aku yang melakukan semua ini." ucap Rion


"Aku mendengar semuanya, kau berencana membunuh aku dan Verdi, kau ingin menjualku padanya bukan? Dan, dan


jika aku hidup. Kau ingin menjadikanku tersangka dikasus kematiannya, aku mendengarnya."


Zaza sesegukan mengeluarkan suaranya lebih keras


"Maafkan aku, sekarang dengar penjelasanku."


"Tidak perlu menjelaskan apapun, aku bukan siapa-siapamu. Aku tidak berhak mendengar penjelasan darimu."


"Terserah, harusnya kau bersyukur aku sudah menyelamatkanmu." ucap Rion yang terpancing emosi. Dia keluar meninggalkan Zaza.


Selama ini dia selalu didengarkan. Sekarang dia merasa disudutkan oleh seorang gadis kecil.


Rion memilih duduk dibelakang rumah pak Agus sembari memainkan pasir ditangannya.


"Nak Rion makan dulu, ini sudah siang." ajak pak Agus menghampiri Rion.


"Aku tidak lapar, apa ada kendaraan lain selain sampan disini, aku ingin kembali kepulauan X."


"Disini hanya ada sampan. Kita harus menunggu setiap hari rabu jika ingin menyebrang, akan ada kapal yang singgah dihari itu."


"Bisa antarkan saya ke pulau X. Jetku ada disana. Aku akan membayar berapapun yang kamu minta."


Pak Agus menghela nafasnya kasar.


"Jika ada masalah, harusnya dibicarakan baik baik. Membawanya dalam keadaan sakit seperti itu tidak----------."


"Aku tidak akan membawanya, terserah dia mau kemana. Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa.


"Saya hanya punya sampan, jika mau memakainya pakai saja. Maaf saya tidak bisa mengantarkan anda kesana."


"Berikan kuncinya." ucap Rion


"Kunci??? sampan hanya menggunakan dayung, tidak ada kunci." jawab pak agus menahan tawa.


Rion diam. Membayangkan dirinya mendayung sampan sejauh itu membuatnya


ngeri." Bagaimana aku keluar dari sini, meminjam ponsel juga akan percuma. Aku tidak hafal nomor siapapun, sial." batin Rion.


"Pak, pak,, nak Rion. Gadis ini demam, dia demam tinggi." suara Bu ati dari dalam rumah mengagetkan keduanya. Rion lari tergopoh-gopoh masuk kedalam menghampiri Zaza.


Meletakkan punggung tangannya di dahi dan juga dileher Zaza.


"Bu kompres, ambilkan air, tolong ambilkan air" ucap Rion yang langsung dilaksanakan oleh Bu Ati.


"Jangan menyentuhku breng*ek." ujar Zaza mencoba menepis tangan Rion. Dengan tenaganya yang lemah malah membuat seolah dia sedang menyentuh tangan Rion bukan menepis, bahkan suaranya juga terdengar seperti bisikan.


"Jangan memancingku lagi, kau harus sadar dengan kondisimu. Jika ingin mengataiku maka cepatlah sembuh, setelah itu kau bisa keluarkan semua kata kata kotormu padaku."


Zaza tak membalas, dia memejamkan matanya. "Harusnya aku senang dengan sifatnya yang seperti ini, aku bisa membalasnya." batin Zaza.


Dia merasakan tangan Rion yang menempelkan kain basah di dahinya.


Sebelum kembali terlelap, Zaza merasakan Rion memasukkan sesuatu yang terasa pahit ke mulutnya.


Jika Rion Sekarang sibuk mengurus Zaza. maka lain halnya dengan Leo. Mereka sibuk mencari keberadaan Rion dan zaza. Dibantu oleh anak buah Verdi, mereka berpencar ke segala arah. Tapi mengingat malam itu banyak tamu yang langsung meninggalkan pulau, ada kemungkinan Rion ikut dengan salah satu dari para tamu itu. Leo memikirkan kemungkinan itu dan langsung mengabari Idan agar menghandle perusahaan selama Rion belum ditemukan dan juga menyuruh Idan menurunkan anak buahnya yang lain untuk mencari bosnya di semua pelabuhan atau bandara pribadi. Kabar mengenai hilang nya Rion sampai ditelinga Mira, entah apa maksud Idan menyampaikan kabar itu. Sehingga kesehatan Mira langsung menurun. Sementara Leo sudah membuat kesepakatan dengan Verdi. Agar tidak membiarkan siapapun tau terutama media atas hilangnya Rion.


***


****


*****


Setelah melewatkan makan pagi dan siangnya, malam itu Rion makan dengan lahap. Perut kosongnya sudah tidak bisa membedakan makanan. Dia menikmati apapun yang dihidangkan oleh Bu Ati.


"Siapa nama gadis itu?" tanya Bu Ati.


Rion yang sedang menyuapkan makanan ke mulutnya berhenti sejenak. Lalu melanjutkannya kembali. ia tidak langsung menjawab pertanyaan Bu Ati.


"Tidak baik bicara saat sedang makan." Sambung pak Agus yang melihat Rion enggan menjawab pertanyaan istrinya.


"Ryza, namanya Ryza." sahut Rion.


"Ibu membuatkan bubur untuk nak Ryza."


"Aku akan memberikannya." ucap Rion yang langsung mengerti maksud Bu Ati.


**


"Sekarang gadis ini pasti sedang memikirkan makian apa lagi yang harus dia keluar kan." batin Rion. Dari itu dia memilih memainkan sendok ditangannya.


"Bantu aku duduk."


"Ha???"


"Kau tidak mau?." tanya Zaza.


Rion langsung bergerak cepat membantu Zaza bangun dan menyenderkan punggungnya di dinding yang sudah dialasi bantal. Sejenak Rion menyempatkan tangannya meraba dahi Zaza.


"sudah tidak demam." gumam Rion.


"Suap."


"Ya aku tau,, aaaa."


Zaza membuka mulutnya menerima suapan dari tangan Rion.


"Kau sudah makan?"


"Sudah."


"Kau masih marah?"


" Tidak. Jangan banyak bicara, ayo makan lagi."


"Kau ingin meninggalkan ku disini?"


"Tidak."


"Aku mendengarnya."


"Tapi aku masih disini."


"Karena sampannya tidak mempunyai kunci?"


Rion menatap Zaza.


"Hahahaha" keduanya tertawa serempak.


Rion tertawa sembari memandangi wajah Zaza. Jantungnya mulai tidak karuan, debaran nya juga sudah tidak menentu. Ada rasa bahagia dihatinya saat melihat tawa gadis itu.


"Kenapa melihatku seperti itu?"


"Aku minta maaf."


"Maaf? untuk apa?"


"Semua yang kau dengar, aku minta maaf tentang semuanya. Tapi aku bersumpah bukan aku dalang di kejadian itu."


"Lupakan saja, aku sudah tidak ingin membahasnya. Ayo suap lagi, aku ingin cepat sembuh."


"Kau sudah seperti bos Sekarang."


"Bukan seperti bos, tapi seperti seorang istri yang sedang sakit dan kau suaminya." jawab Zaza


"Sepertinya kau sudah sembuh, nah suap sendiri." ucap Rion meletakkan mangkok bubur ke tangan Zaza. Dia menggeser tubuhnya menjauh dan berbaring ditempat semalam ia tidur dengan posisi membelakangi Zaza.


Pak Agus yang tiba-tiba masuk, disusul Bu Ati dibelakangnya ikut berbaring disamping Rion. Tapi tidak dengan Bu Ati, dia masih berdiri mperhatikan Zaza yang sedang menatap Rion. Pandangan itu berbeda dengan pandangan yang dia lihat dari mata pria itu untuk Zaza.


"Nak Ryza, sudah siap makannya?" tanya Bu Ati


"Sudah Bu." jawab Zaza tersenyum lembut.


Bu ati mengambil mangkuk dari tangan Zaza dan menaruhnya di dapur. Setelah nya Bu ati ikut berbaring disamping Zaza.


"Tidurlah, kau harus banyak istirahat."


Zaza mengangguk pelan sembari memegang tangan Bu Ati.


"Terimakasih bu, kalian sudah menolongku dan juga aku minta maaf telah merepotkan keluarga Ibu."


"Ucapkan itu setelah kau sembuh, sekarang berbaring lah."


Zaza berbaring. Bu Ati mengelus kepalanya dan mengatakan sesuatu.


"Jangan penuhi hatimu dengan kebencian, dia akan mendapatkan ganjaran dari apa yang dia perbuat. Kau tidak perlu membalaskannya."


Zaza tidak menjawabnya, dia tau tidak akan ada orang yang mengerti.


Karna dialah yang merasakan semuanya.


Orang hanya bisa menyimpulkan apa yang dilihat. Tanpa tau apa sebabnya.


*J**angan pelit like nya ya😀😀😀*