
π·Selamat membaca, dan jangan lupa tinggalkan jejak nya, π·
Bunyi perut Zaza menyadarkannya akan sesuatu, ternyata hari ini dia melewatkan makan siang dan makan malamnya. Dan sekarang sudah tengah malam, Namun dia belum mengisi perutnya sama sekali.
Zaza keluar dari kamarnya menuju dapur. Melihat lampu dapur masih menyala dia yakin ada seseorang disana.
Dan apa yang dia pikirkan ternyata benar. Aepertinya Bu Minah sedang membuat kan sesuatu. Zaza memanggil nya Ibu karena mereka sama-sama pelayan dan Bu Minah juga sudah mempunyai anak.
Zaza mendekatinya.
"Ehhhem." Zaza berdehem, agar Bu Minah menyadari keberadaannya.
"Eh Za, kamu belum tidur?" tanya Bu Minah
"Belum bu, aku kelaparan hehe."
"Ya udah, kamu duduk saja disini biar ibu yang buatkan."
"Gak usah Bu, ntar ngerepotin lagi." tolak Zaza.
"Tidak, ini ibu lagi bikin sup untuk tuan Rion. Jadi sekalian, ini juga Ibu masak banyak kok."
"Dia bangun juga?"
"Dia? maksudmu Tuan?"
"Hu um."
"Seperti nya kalian sama sama kelaparan,"
ucap Bu Minah sambil meletakkan semangkuk sup didepan Zaza.
"makanlah" lanjutnya
"Terimakasih Bu." ucap Zaza.
Bu Minah hanya tersenyum mengusap kepala Zaza.
Kemudian mengambil sup untuk diantarkan kemeja makan. Walau sudah tengah malam Rion lebih memilih makan dimeja makan dari pada dikamarnya.
Saat Rion makan, Bu Minah berdiri agak jauh dari meja.
"Pergilah, biar aku yang mengantarkannya kedapur." ucap Rion.
Maksudnya mengantarkan piring kotor bekasnya. Sudah peraturan dirumah itu ketika sedang makan, pelayan harus menunggui nya. Bu Minah pun meninggalkannya dan dia kembali kedapur menemui Zaza.
"Ibu masuk dulu ya, habiskan supnya dan jangan begadang lagi!"
"Baik Bu." jawab Zaza.
Karena kekenyangan Zaza tidak langsung kembali ke kamarnya. Meski matanya sudah mulai mengantuk. Dia duduk di meja makan yang dikhususkan untuk para pelayan. Berniat menunggu hingga makanan yang baru dia makan benar benar sampai diperutnya. Zaza melipat tangannya diatas meja dan menjadikannya bantal.
Sementara Rion yang sudah menyelesaikan makannya memilih memainkan ponselnya.
Hampir satu jam dia duduk disana dan akhirnya memutuskan untuk beranjak kedapur untuk Mengantarkan piring kotornya.
Rion mengernyitkan dahinya melihat Zaza yang sedang tertidur pulas dengan posisi duduk.
"Kenapa gadis ini tidur disini?" batinnya.
Setelah meletakkan piringnya di wastafel, Rion duduk disamping Zaza. Memperhatikan wajah gadis itu. Dibibirnya tersungging senyuman.
"Pantesan mulutmu tidak berhenti mengoceh, ternyata kau punya tahi lalat dibibir." gumam Rion menunjuk letak tahi lalat di bibir Zaza.
Senyuman diwajahnya tiba tiba memudar. Menyadari tingkahnya yang terasa bodoh, dia segera berdiri dan kembali ke kamarnya.
Dia hanya mengikuti pikirannya sendiri , bahwa gadis itu punya niat lain. Dan dia tidak akan membiarkan apapun terjadi. Sehingga niat untuk menyingkirkan gadis itu, bersarang di benaknya.
Walaupun hatinya sudah mulai ragu.
***********
Tidak seperti biasanya, kali ini jam 5.30 pagi Zaza dan majikannya sudah berada ditaman. Sangat sulit membangun kan Mira, tapi saat Zaza mengatakan akan membawanya Ketaman untuk melatih kakinya. Mira langsung semangat. Ini pertama kali dia melatih kakinya. Selama ini hanya diurut urut saja.
"Aku rasa kaki Nyonya akan segera sembuh." ucap Zaza.
"Kau yakin?" tanya Mira dengan semangat
Zaza tidak menjawab, dia mencoba membantu Mira berdiri. Beberapa kali Mira hampir jatuh tapi ditahan oleh Zaza.
Tidak ada kata bosan untuk Mira saat berlatih bersama Zaza. Karna pelayannya itu selalu menanamkan harapan padanya.
"Sekali lagi?" tanya Zaza
yang dibalas anggukan dari majikannya.
"Ok ini percobaan terakhir untuk hari ini." lanjut Zaza.
Zaza kembali membantu Mira berdiri.
Beberapa menit setelah berdiri, Zaza perlahan melepaskan tangannya dan membiarkan Mira sendiri. Tak disangka, Mira tetap berdiri dan tidak jatuh. Kakinya mulai kuat menahan berat tubuhnya. Walaupun belum bisa dilangkahkan, tapi ini suatu kemajuan yang sangat besar baginya.
Suara Mira yang keras mengagetkan semua penghuni rumah. Bukan karna marah, tapi dia tertawa keras karena merasa sangat senang. Zaza yang berada dibelakangnya juga tertawa melihat tingkah majikannya. Bukan hanya dia,
para pelayan lainpun ikut tersenyum seolah ikut merasakan kebahagiaan Mira.
"Apa yang terjadi?" ucap Rion kebingungan. dia baru bangun dan masih dengan piama tidurnya.
"Rion, Mama bisa berdiri, Mama bisa berdiri." jawab Mira berulang ulang.
"Benarkah?" tanya Rion mendekati Ibunya, hatinya sangat senang mendengar kabar itu. Beberapa kali dia memeluk Mira sambil tertawa.
"Mama akan sembuh, siapkan uang yang banyak. Mama ingin belanja dan keliling dunia." pinta Mira, hanya kesenangan diri sendiri yang ada dipikirannya.
"Uangku sudah banyak, Mama tidak usah kwatir. Mama tidak akan bisa menghabiskan nya." balas Rion.
Pembicaraan keduanya hanya seputar uang,uang dan uang. Zaza yang masih disana muak dan segera memotong pembicaraan mereka.
"Nyonya, sepertinya Nyonya harus mandi agar lebih segar."
"Ya, kau benar. Bawa aku ke kamar." ajak Mira.
Zaza langsung melakukan apa yang Mira suruhkan. Rengan sangat baik dia menyelesaikan semua tugas nya. Pagi ini pekerjaan nya cepat selesai. Selain tugas wajibnya Zaza tidak harus selalu disamping majikannya. Saat Mira butuh saja, dia akan memanggil Zaza melalui interkom yang ada dikamarnya.
********
Sesuai perintah bosnya, Leo dan Idan menyiapkan semua yang diperlukan untuk menghadiri pesta di pulau X. Beberapa bodyguard terlatih juga mereka siapkan lengkap dengan persenjataan nya. Leo akan ikut mendampingi bosnya.
Sementara Idan standby di perusahaan. Mengingat acara akan dilaksanakan pada malam hari, Rion memutuskan kan berangkat lebih cepat. Agar anak buahnya punya banyak waktu untuk memata matai pergerakan mangsanya.
Zaza tidak begitu yakin dengan niat Rion yang mengajaknya kepesta hanya untuk dijadikan pasangan. Dia merasa akan ada sesuatu yang terjadi disana yang juga akan melibatkan dirinya. Selain itu Leo juga menyampaikan padanya untuk tidak membawa apapun. Karena Rion sudah menyiapkan semua kebutuhan Zaza selama berada di pulau.
Leo bersama para bodyguard yang sudah berangkat terlebih dahulu. Langsung menelusuri pulau itu. Mengingat target mereka bukanlah orang biasa, akan sangat banyak kemungkinan yang terjadi. Dan untuk berjaga-jaga Rion menyuruh anak buahnya untuk menjelajahi pulau X, menandai beberapa titik yang mungkin saja dia butuhkan nantinya.
*Li**ke like like
ππππ*