
π· Selamat membacaπ·
Karena tidak punya pilihan, Idan menyampaikan perintah bosnya pada Zaza. Gadis itu pun tidak keberatan.
Setelah mengurus surat pengunduran dirinya dari restoran. Siang itu mereka langsung menuju rumah Rion.
Memasuki rumah yang sangat besar, dengan taman yang cukup luas. Membuat mata siapa saja yang melihatnya terkagum-kagum.
Seorang pelayan sudah menunggu didepan pintu menyambut kedatangan mereka.
"Silahkankan ikuti saya Tuan. Tuan Rion ada ditaman." ucap pelayan sambil berjalan mengarah ke taman yang ada di samping bangunan tersebut. Begitu melihat Tuannya, pelayan itu undur diri.
Idan dan Zaza menghampiri Rion yang duduk membelakangi mereka.
"Selamat siang Tuan." sapa Idan.
Rion yang mendengar sapaan asisten nya berbalik menghadap keduanya.
Bughh... tiba-tiba Zaza jatuh. Zaza kaget bukan main melihat wajah yang tidak asing baginya.
Orang yang selama ini dia cari, baji*gan keji yang tidak punya hati itu sekarang berdiri di depan matanya.
Kakinya lemas, tulangnya tidak bisa menahan berat tubuhnya. Zaza Mencoba menguasai dirinya sendiri. Dia mencoba berdiri dan menundukkan kepalanya. Idan yang berada disampingnya turut membantu nya.
"Ada apa dengannya?" tanya Rion.
"Tuan dia hanya tersandung kakinya sendiri." jawab idan.
"Angkat kepalamu." perintah Rion.
Idan yang melihat Zaza diam saja, sengaja menyenggolkan lengannya ke lengan Zaza.
Dengan perlahan Zaza mengangkat kepalanya. Menatap sang majikan dengan pandangan tak terbaca. Tapi malah membuat
Rion salah menafsirkan pandangan Zaza padanya, yang mana mengira wanita itu sedang mengagumi ketampanan nya. Seperti yang biasa dilakukan wanita lain diluar sana.
"Idan kau boleh pergi." tunjuk Rion. Tanpa berani menjawab dengan segara Idan meninggalkan keduanya.
"Perkenalkan dirimu!"
"Nama saya Ryza permata Tuan, umur 19 tahun.
Saya keponakannya paman Idan."
"Keponakan?"
"Ya Tuan."
"Hmmm, dia sudah memberi tahu semua tugasmu?"
"Sudah Tuan."
"Kau tinggal dirumah ini jadi pelayan untuk mengurus semua kebutuhan mamaku. Jadi bersifat lah seperti pelayan, jangan mencoba mencari-cari perhatianku dan ingat jangan sampai kerjamu mengecewakan.
"Baik Tuan."
"Kau mulai bekerja hari ini, sekarang masuklah temui pelayan yang tadi, dia akan mengajarimu."
"Baik Tuan." Jawab Zaza.
dengan cepat Zaza meninggal kan pria itu.
*********
Β
Siang itu setelah makan siang dengan Ibunya. Rion masih menyempatkan diri untuk kekantor. Menanda tangani semua berkas yang sudah menumpuk di mejanya.
Β
Selain itu dia ingin tau banyak soal keponakan Idan yang sekarang bekerja dirumahnya.
"Leo, apa kau tau Idan punya keponakan?"
"Tidak Tuan." jawab Leo.
"Cari tau tentang keluarga Idan, aku merasa ada yang aneh dengannya."
"Baik Tuan."
***********
Walaupun baru beberapa hari bekerja dirumah Rion. Zaza sudah sangat paham dengan semua tugasnya. Mira juga sangat senang, akhirnya bisa mendapatkan pelayan yang bisa dia jadikan teman.
Seperti malam ini, Zaza membawanya makan ditaman. Sambil menyuapi nya, Zaza mengajaknya berbicara.
"Boleh, tapi sebelum itu tanyakan dokter Andi, apa kita boleh melakukannya."
"Aku akan menanyakannya." jawab Zaza penuh semangat.
"Kau sangat semangat."
"Hehehehe. bukankah kita harus Semangat jika ingin mencapai sesuatu Nyonya?"
"Ya kau benar, tapi apa yang ingin kau capai?"
"Banyak, salah satunya aku hanya ingin melihat Nyonya sembuh."
"Oh ya, kenapa begitu?"
"Saat ini aku harus menuruti permintaan pamanku nyonya. Untuk merawat dan membantu kesembuhan Nyonya. Yaah, hitung-hitung balas budi karena dia sudah menampungku."
"Dan setelah itu kau akan pergi?"
"Seperti yang aku katakan sebelumnya Nyonya, masih banyak yang ingin kucapai."
"Ya kau benar, kau juga masih sangat muda. Jika sembuh aku juga akan jarang dirumah ini. Kau tidak akan bisa menemuiku" balas Mira sambil tertawa.
Walaupun jawaban Zaza yang mengatakan dia bekerja semata-mata untuk membalas budi pada Idan. Mira dapat menerimanya karena melihat cara kerja Zaza yang terlihat sepenuh hati.
Rion yang menyaksikan keduanya tertawa merasa ada yang berbeda dirumahnya. Seolah mengubah suasana yang biasanya sepi menjadi rame.
Suara tawa seperti ini sangat jarang dia dengar dirumahnya.
"Ternyata perempuan itu bekerja dengan baik." batin Rion. Dia berniat menghampiri Ibunya.
Menyadari ada yang memperhatikan mereka, Zaza meminta izin membawa piring serta gelas yang masih berisi air untuk diantar kebelakang.
Dengan setengah berlari Zaza sengaja menabrakkan dirinya pada tubuh Rion.
"Tu, tuan maafkan saya, saya tidak sengaja." ucap zaza terbata-bata sambil mengelap baju Rion yang terkena tumpahan air.
Dengan kasar Rion menghempaskan tangan Zaza darinya.
"Dimana kau menaruh matamu hah?" bentak Rion dengan suara yang ditekan. Agar tidak didengar oleh Ibunya.
"Maafkan saya Tuan" jawab Zaza menatap mata Rion.
"Kau menatapku?"
"Ya. karna aku menyukai wajah Tuan yang tampan." ujar Zaza dengan polosnya.
Entah apa yang merasuki nya sehingga mengeluarkan kata-kata itu.
Rahang Rion tiba-tiba mengeras. Dia mencengkeram leher Zaza dan menyudutkan nya di dinding.
"Kau menginginkan uangku? jangan tunjukkan sifat jal*ngmu padaku hanya karna Mama menyukaimu."
"Tapi Tuan aku menyukaimu dari awal melihatmu." lanjutnya. Mungkin jika orang yang tidak tau niatan Zaza yang sebenarnya akan merasa wanita itu benar-benar lugu dan polos.
"Hentikan omong kosong mu. Jika ingin mendapatkan uang yang lebih banyak jual dirimu di luaran sana, jangan menawarkan tubuhmu padaku."
Cengkeraman Rion yang terasa makin kuat. Membuat Zaza hampir tidak bisa bernafas. Suaranya serak dan wajah putihnya memerah seketika.
"Uhuk,,uhuk,, lepas ,,uhuk,,kan aku." pinta Zaza
Rion melepaskan tangannya dengan kasar.
"Ketahui dimana posisimu." ujarnya. Niatnya untuk menemui ibunya dia urungkan. moodnya rusak gara-gara gadis kecil yang tidak tau diri.
Tapi Zaza yang tanpa takut justru mengikutinya dari belakang.
"Tuan tunggu."
Rion tidak menjawabnya, dia berhenti kemudian menatap tajam gadis itu dengan dipenuhi emosi.
"Aku bilang menyukaimu, bukan uangmu Tuan. Apa itu salah, bahkan jika tuan tidak menyukaiku, tidak perlu sampai mencekik leherku, ini sakit." lanjutnya sambil memegang lehernya.
Kehabisan kata-kata. Tidak ada satupun kalimat yang keluar dari mulut Rion.
"Lebih baik aku cepat pergi dari sini, sebelum aku gila." batin Rion
Zaza yang melihat Rion pergi, tersenyum lebar. Dan kembali memanggil tuannya.
"Tuan, aku menyukaimu." ucapnya dengan suara yang sedikit meninggi agar Rion bisa mendengarnya.
"Dasar jala*g." ucap Rion tanpa menoleh.
*J**angan lupa tinggalkan jejak yaπππππππ*