
Selamat membaca
"Hon, kamu masih lama?" tanya Zaza, ia masih menunggu Rion yang masih sibuk di meja kerjanya.
"Iya sayang, kamu tiduran dulu gimana? disini ada kamar, kamu bisa nonton didalam."
"Mau pulang." rengek Zaza.
Rion merasa gemas melihat wajah imut kekasihnya itu.
Ia bangkit, dan mendekati Zaza.
"Jangan merengek seperti ini didepan siapapun!" ucap Rion mencubit hidung Zaza.
"kenapa?"
"Tidak boleh, hanya aku yang boleh melihatnya."
"Hon, aku ingin pulang."
"Baiklah. Tapi kamu diantar Idan, Nggak apa-apa? aku masih banyak kerjaan."
"Iya nggak apa-apa, kamu jangan terlalu capek!"
"Hmm, kabari aku jika sudah sampai."
"Iya." ucap Zaza.
Idan masuk saat Rion memanggilnya.
"Antarkan Zaza pulang."
"Baik Tuan."
"Pergilah." suruh Rion pada Idan yang langsung dilaksanakan oleh Idan.
sementara tangan Zaza masih digenggam oleh Rion.
"Hon."
"Ya?"
Zaza menunjuk tangan Rion dengan matanya.
"Oh, hehehe, maaf sayang." ucap Rion sembari melepaskan tangannya.
"Aku pulang, jangan dekat dekat wanita lain!"
"Tidak akan sayang."
Cup,,,,, Zaza mencium pipi Rion, lalu beranjak pergi meninggalkan kantor itu.
Pulang bersama Idan akan memberinya banyak kesempatan. Semua pertanyaan yang belum sempat ia tanyakan tadi, akan ia tanyakan saat dimobil nanti.
Diperjalanan, Idan kembali memperingatkan Zaza untuk tidak larut dengan sikap Rion yang sangat lembut kepadanya. Saat itulah Zaza menanyakan kembali perihal Ibunya.
"Paman, bagaiman dengan ibu?"
"Maksudmu?"
"Apa Ibu juga meninggal karena terbakar?"
"Iya. Dari yang paman selidiki,erwka dibakar saat sedang tidur. Kenapa kau menanyakannya? kau tau sesuatu?"
"Tidak paman."
"Tetap lah berhati hati pada Rion, dia bukan seorang yang gampang dibohongi. Dan Mira, sepertinya kita harus menyingkirkan nya terlebih dahulu. Jika tidak, ia akan menghalangi semua rencana kita. Karena kata katanya Sangat berpengaruh pada Rion"
"Apa yang harus kulakukan Paman?"
"Aku akan memikirkannya." Jawab Idan. ia menghentikan mobilnya disebuah pasar tradisional.
"Paman apa yang kita lakukan disini."
"Turun lah, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Mungkin suatu saat kau akan butuh bantuannya."
"Tapi kenapa disini?"
"disini tidak ada CCTV dan Paman takut, Rion menyuruh seseorang mengikuti kita."
"Baiklah, kemana aku harus pergi?"
"Penjual sayur yang memakai topi biru, ada disebelah kanan paling ujung. Pergilah kesana. Pura pura saja membeli sayuran, atau apa saja yang kamu suka."
"baiklah." ucap Zaza, ia turun dan berjalan menuju tempat yang Idan sebutkan.
Sementara Idan menunggu di mobil.
Zaza terus berjalan memutari pasar itu, bukannya ia tidak tau tempat yang Idan sebut. Tapi kata kata terakhir Ibunya terus terngiang di telinganya.
"jangan percaya pada siapapun." inilah kata kata terakhir Ibunya.
"Bukankah aku tidak boleh mempercayai siapapun" gumam Zaza.
Zaza memutar langkahnya kembali ke mobil Idan.
Idan segera membuka pintu mobil untuk Zaza. Setelah siap dengan sabuk pengamannya, ia bergegas melajukan mobilnya.
"Kau bertemu dengannya?"
"Tidak Paman."
"Kenapa tidak."
"Seseorang mengikutiku, aku takut itu suruhan tuan Rion."
"Benarkah?, untung saja kau cepat menyadarinya."
"Iya."
"Oh, iya. Apa kau mengenal Verdi?"
"Iya, aku mengenalnya saat dipulau."
"Bagaimana hubunganmu dengannya?"
"Kami tidak punya hubungan apapun paman, kami hanya kebetulan bertemu."
"Sepertinya ia menyukaimu. Dia datang ke kantor, meminta agar Rion mengijinkannya bertemu denganmu."
"Mereka itu sama-sama gila."
"Paman harap setelah kita menghancurkan Rion, kau mau menerima Verdi, Paman yakin ia bisa membahagiakanmu."
Zaza tersenyum kecut mendengar kata-kata Idan.
Begitu tiba, Zaza melihat Mira dan Tati sedang berada didepan rumah,mereka menatap ke arah mobil.
Sebelum turun dari mobil, Zaza menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Sebuah senyum ia sunggingkan dibibirnya lalu ia turun.
"Sore Nyonya." sapa Zaza pada Mira, wanita bertopeng itu. Mira pun membalasnya dengan senyuman. Tati juga demikian, ia yang seharusnya masih kesal dengan Zaza, tiba tiba menjadi ramah. Ia tersenyum manis sambil membungkuk kan badannya sekejap, Tentu Zaza tau bahwa Tati juga sedang melakukan apa yang Mira lakukan.
"Sore Za. kemarilah, aku ingin bicara denganmu" Ajak Mira.
Zaza mendekat.
"Ayok kita Ketaman. Dan kau, ambilkan minuman untuk kami!" Suruh Mira pada Tati.
Zaza mengambil alih kursi roda Mira yang Tati pegangin, dan mendorongnya Ketaman.
Sementara Tati juga melaksanakan apa yang disuruh kan padanya.
"Aku dengar kau akan menikah dengan Rion." ucap Mira.
"Iya Nyonya, apa Rion tidak cerita pada Nyonya?"
"Yah, dia menceritakannya padaku. Aku sangat senang, akhirnya dia terfikir untuk menikah. Kau sangat hebat bisa merubah prinsipnya."
"Aku tidak merubah apa apa Nyonya, dia lah yang merubahku."
"Maksudmu?"
"Dulu aku sangat pemalu, aku bahkan takut jika di dekati laki laki. Tapi saat pertama melihat Rion, semuanya berubah. Aku melihatnya sebagai sosok yang bisa melindungi ku, jadi keberanian itu muncul begitu saja Nyonya. Mungkin ini juga yang disebut kekuatan cinta." terang Zaza.
Kata kata itu mengingatkan Mira pada apa yang diceritakan Tati padanya, Zaza sosok yang pendiam dan penakut. Dan apa yang mereka bicarakan saat itu, didengar oleh Zaza.
"Kekuatan cinta?? Apa baru kali ini kamu jatuh cinta?"
"Iya Nyonya." ucap Zaza, pura pura tersipu malu.
"Bagaimana dengan pemilik restoran yang pernah mendekati mu? aku dengar ia juga kaya dan tampan."
"Benar Nyonya, tapi jantungku tidak berdebar untuknya."
"Hahaha, Kau masih sangat lucu Zaza, persis seperti pertama kali kau datang kemari." ucap Mira.
"Semoga Nyonya tetap menyukaiku seperti dulu."
"Tentu, aku sangat menyukaimu. Tidak ada alasan untuk tidak menyukaimu." ucap Mira sambil terus tertawa.
Tati membawa dua gelas minuman ditangannya, dan meletakkannya dimeja, tepat didepan Zaza.
"Silakan minum dulu Nyonya." ucap Tati.
"Hm, Za, minumlah!" suruh Mira.
"Terimakasih Nyonya. Tapi maaf saya alergi minuman bersoda" ucap Zaza. Walaupun minuman itu pada dasarnya tidak bersoda tapi Tati mencampurkan sedikit minuman soda kedalamnya. Karena ia tau Zaza alergi minuman itu.
"Oh benarkah? sepertinya minuman ini tidak bersoda." ucap Mira menatap pada Tati.
"Hei, apa kau mencampur minumannya?"
"Tidak Nyonya, saya tidak mencampurnya. ini min-----------"
"Aku tidak akan meminum nya, Maafkan aku Nyonya. Aku tau minumannya dicampur, walaupun itu hanya sedikit. Tati tidak menyukaiku dari dulu, mungkin dia sedang mencoba mencelakai ku." terang Zaza, ia berdiri menatap Tati yang sedang menahan emosi terhadapnya.
"Masuk lah Za, aku akan memberinya hukuman." ucap Mira dengan wajah datar.
Zaza melenggang pergi meninggalkan kedua wanita itu.
Saat ia membuka pintu kamarnya, Tiba tiba Kikan nyelonong masuk duluan.
"Kikan, kau membuatku kaget."
"Tutup pintunya." suruh Kikan dengan pelan.
Zaza menutup pintunya dan duduk disampingnya Kikan.
"Ada apa?" tanya Zaza.
"Apa kau meminum minuman yang di bawa Tati?"
"Tidak."
"Oh, syukurlah. Dia mencampurnya dengan minuman lain."
"Kau melihatnya?"
"Hmmm" ucap Kikan mengangguk kan kepalanya.
"Aku alergi minuman soda, dan Tati tau itu."
"Aku benar benar membenci wanita itu. Za, kau harus hati hati padanya, dia dan Nyonya Mira ingin memisahkan mu dengan Tuan Rion. Aku juga mendengar------."
"Mendengar apa?"
"Tidak ada, yang penting kau harus hati hati pada mereka berdua!"
"Katakan apa yang kau dengar Kikan!"
"Aku takut kau akan sedih."
"Tidak akan. Ayo katakan saja!"
"Aku mendengar, Nyonya Mira menyuruh Tati untuk,,untuk-------"
"Membunuhku?"
"Bagaimana kau bisa tau?"
"Haha, Karena aku juga jahat seperti mereka." ucap Zaza.
Kikan diam memperhatikan Zaza yang sedang tertawa.
"Haha, Aku hanya membalas orang yang menyakiti ku Kikan. kita tidak boleh lemah, jika tidak, kita akan ditindas selamanya."
"Isss, kenapa tidak bilang begitu dari tadi, kau membuatku takut saja." Ucap Kikan memukul pundak Zaza.
"Ayo kedapur, aku akan membantumu masak untuk makan malam."
"Apa Tuan Rion tidak akan marah?"
"Dia pasti pulang malam, pekerjaannya masih banyak."
"Baiklah, ayo."
Baru saja mereka berdiri dari duduknya, tiba tiba,
Tok,,,tok,,,tok,, "Sayang, kamu didalam?"
*D**i-like, vote, rate*.