I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
Eps 58. Mati satu



Selamat membaca dan semoga suka.


para readers, jangan lupa tinggalkan jejak ya.


****


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Zaza. Sekilas ia merasa pernah melihat wajah itu.


"Tidak penting siapa aku, kau mau berjalan sendiri atau aku yang akan menyeretmu." tanya pria itu, selangkah demi selangkah ia semakin mendekat.


Zaza menarik sedikit tubuhnya sembari memperhatikan wajah pria itu.


Degggg,,,, hati Zaza tiba tiba bergemuruh mengingat wajah yang ada di hadapannya.


"Dia?? bukan kah dia yang berjaga di belakang rumah ku malam itu? cih,,,, ternyata ******** ini salah satu dari mereka." batin Zaza. Perasaan takutnya hilang begitu saja dan yang ada hanya kemarahan.


"Jangan menendekat!" ucap Zaza.


Pria itu pun berhenti, ia tersenyum melihat wajah Zaza "Kau takut?"


"Cuiihh,, aku tidak takut dengan mu. Kau hanya punya badan besar, tapi tidak dengan otak. Hanya karena uang kau mau membunuh orang? Dasar tidak punya harga diri."


Puuufffffffff, pria itu tertawa dengan bibir tertutup.


"Bagaimana denganmu? kau tidur dengan orang yang membunuh ayahmu, dan kau tinggal di rumah orang yang membunuh ibumu. Bukan kah kau juga tidak punya harga diri, kau bahkan lebih kotor dariku? Mira memberiku banyak uang, jadi tidak mungkin aku menolaknya."


"Mira? jadi Mira yang menyuruhnya?"


Pria itu mengeluarkan sebuah pistol dari punggungnya dan mengarahkannya pada Zaza. "ikut dan diam!"


"Cihhh,,,, Zaza membalas dengan senyuman meremehkan, seiring dengan


tangannya yang berhenti bergerak. Benda yang ia cari cari sudah ada dalam genggaman nya. Gigi Zaza mengeluarkan suara gemerutuk karena menahan kemarahan yang amat sangat dalam.


"Majulah! tembak aku jika kau berani!" tantang Zaza.


Satu langkah, dua langkah, tiga langkah,


Doooorrrrrr,,,,


Satu peluru berhasil menembus kepala pria itu.


Brughh,, Badan besar itu tumbang seketika.


Pria yang berniat mengancam agar Zaza mau ikut dengannya, ternyata kalah cepat dengan Zaza yang benar benar ingin menghabisinya.


"Mati satu." gumam Zaza.


Zaza menyimpan kembali pistolnya dan bergerak cepat mengambil pistol yang ada di tangan pria itu.


Suara langkah kaki yang mendekat membuat Zaza kalang kabut.


Duggg,, dugggh, Zaza memukul dahinya ke sisi ranjang hingga mengeluarkan darah. Dia takut jika harus berhadapan dengan polisi dan tidak punya bukti, bahwa ia membunuh orang hanya untuk melindungi dirinya.


Rumah Idan yang berdekatan dengan rumah tetangga, memungkinkan adanya tetangga yang akan mendengar suara itu.


********


"Dasar Bodoh" ucap Rion pada Idan yang bersujud meminta ampun padanya.


"Saya tidak melakukannya Tuan, bukan saya ya----"


"Hubungi polisi sekarang juga."


"Tuan, bu-----."


"Siapa yang mengatakan kau pelakunya?"


"Ya, Tuan?"


"Kekacauan sedang terjadi di rumahmu. jadi laporkan pada polisi. Mereka bisa membantu kita menyelidiki siapa pelakunya."


"Tapi jika Leo yang menemukannya lebih dulu aku akan menghabisinya, Aku ingin cepat cepat menghabisi bina*ang yang sudah berani mengganggu ketenangan Zaza ku."


"Baik Tuan."


Idan bangkit dan langsung berjalan ke arah pintu.


"Hei, kau mau kemana?"


"Ponsel saya ada di kamar tuan, saya -----."


Doooorrrrrr,,,,


Suara tembakan mengagetkan keduanya.


Rion yang dalam posisi duduk tiba tiba berdiri, seiring dengan suara tembakan itu.


Rion berlari menerobos Idan yang berdiri di depan pintu.


Sepertinya seisi rumah sudah mendengarnya. Melihat Eva yang juga ikut keluar dari kamar.


Brukkkk,,, pintu yang sudah tidak bisa rapat itu terbuka lebar dan menghantam tembok.


Rion masuk dan melihat anak buahnya yang sedang mengangkat mayat seseorang.


Pandangannya menjelajahi seluruh isi kamar dan berhenti pada Zaza yang duduk gemetaran di dinding kamar, dengan pistol di tangannya.


Perlahan Rion mendekati Zaza dan berjongkok di depannya.


"Sayang."


Bruk,, Zaza menghambur ke pelukannya.


Tangisnya pecah seketika.


"Sayang, tenanglah." Rion mengusap usap punggung Zaza.


"Idan!" panggilnya


"Jangan panggil p*lisi. Bawa salah satu dari mereka untuk memastikan situasi diluar aman."


"Baik tuan" Idan berlalu keluar dengan salah satu anak buahnya."


"Kalian bereskan itu!"


"Baik tuan."


Ketiga anak buahnya dengan sigap membereskan mayat rekan mereka. Membersihkan semua lantai yang di banjiri darah.


"Ceritakan padaku apa yang terjadi." ucap Rion dengan lembut."


Zaza menggeleng sambil terisak isak.


"Say--------."


Rion menghentikan ucapannya ketika mendengar sirine mobil polisi yang berhenti di depan rumah Idan.


Saat itu juga tangis Zaza semakin keras.


"Hon, aku takut. Aku tidak mau di penjara, selamatkan aku,bawa aku dari sini." ucap Zaza mengguncang guncang tubuh Rion.


"Sayang, tenang! jangan panik! Aku akan mengurus semuanya, ok? Sekarang tenang! Jangan menangis. Ceritakan padaku apa yang terjadi."


"Dia mencoba membunuhku, dia menarik dan memukul kepalaku, aku hanya melindungi diri Hon, tolong aku."


"Iya, mereka tidak akan mem-----."


"Dia bilang Nyonya Mira menyuruhnya Hon, Nyonya Mira menyuruhnya untuk membunuhku. Jangan biarkan polisi membawaku! aku mohon."


Rion terhenyak mendengar penuturan Zaza.


"Mama?"


"Iya, dia menyuruh nya. Tolong aku Hon,aku takut."


"Tenanglah, Idan sedang bicara dengan mereka. Mereka tidak akan mengkapmu."


Dengan ke lihaian anak buahnya, kamar itu kembali seperti semula. Tidak ada jejak kejahatan di sana. Eva yang juga turut membantu membawakan pengharum ruangan yang beraroma lemon.


Anak buah yang Idan bawa tiba tiba masuk ke kamar Zaza.


"Tuan, mereka memaksa masuk."


"Humm. Tahan mereka selama 5 menit."


"Baik tuan."


**


"Kalian sudah menyembunyikan mayatnya?"


"Sudah tuan."


"kalian semua juga harus sembunyi, jangan sampai mereka melihat kalian."


Sesuai perintah, ketiganya berlalu pergi. Mereka sudah biasa dalam hal bersembunyi dan menyembunyikan, jadi ini adalah hal yang mudah bagi mereka.


"Dan kau." tunjuk Rion pada Eva.


"Bawa dia ke kamarmu!"


"Ba,, baik Tuan."


"Hon, tapi aku takut, ak---."


"Jangan takut! tidak akan ada yang membawamu. Sekarang ikut lah dengannya!"


Zaza mengangguk.


***


Tiga petugas kep*lisian masuk ke dalam rumah Idan.


Setelah menyusuri ruang ruang besar mereka mulai memasuki kamar. Kamar pertama yang mereka buka adalah kamar sebelum kamar Zaza.


Tek,,, lampu diruangan itu menyala terang, menampakkan semua isi yang ada di sana. bukan hanya itu, cahayanya juga membuat seseorang yang tidur dalam balutan selimut merasa terganggu.


"Arrrrggggggg. Matikan lampunya!"


"Tuan?" sapa Idan. Ternyata Rion lah yang tidur di sana.


"Hummmm." ucap Rion sembari menyingkap selimut yang menutupi wajahnya.


Tiga orang p*lisi dan satu orang warga sipil berdiri di ambang pintu.


"Kami dari kepolisian mendapat laporan dari warga, Bahwa di sini telah terjadi pembunuhan. Jadi tolong kerja samanya un-----."


"Cihhh,, pembunuhan apa yang kalian maksud?"


"Saya mendengar sendiri suara tembakan itu berasal dari rumah ini, dann--------."


Orang itu langsung terdiam ketika


Rion mengambil pistol yang ia letakkan di atas nakas.


Kau benar, aku memang melepaskan tembakan dan baru saja membunuh. Jadi Kalian ingin menangkap ku?"


"Anda bisa ikut kami ke kantor polisi dan berikan keterangan anda di sana."


******


Akankah Rion di penjara?


Tinggalkan jejak ya Para readers.


love love untuk kalian semua.