
🌷*S**elamat membaca, jangan lupa abis dibaca tinggalkan jejak🌷*
Sejenak mata Mira berbinar-binar melihat kedatangan pelayannya itu. Menurutnya semangat yang Zaza miliki bisa menular padanya. Tidak seperti pelayan-pelayan sebelumnya yang hanya mengurus kebutuhan nya, tapi tidak pernah mengajaknya berlatih atau sekedar jalan-jalan ditaman.
Wajah yang semula dihiasi senyuman berubah menjadi wajah heran dan penuh tanya.
"Apa yang terjadi padamu." tanya Mira. Belum dijawab oleh Zaza, tiba-tiba Rion muncul dengan penampilan yang sama.
"Kalian abis ngapain?" tanya Mira. Keduanya kompak tidak menjawab.
"Baiklah, Zaza ambilkan aku air minum!" pinta Mira.
Zaza melakukan apa yang disuruh Mira padanya. Dia bergegas ke luar dari kamar itu.
"Rion sekarang katakan, apa yang kalian terjadi pada kalian berdua?"
"Kami tidak melakukan apapun."
"Dengar, apapun yang terjadi diantara kalian, jangan sampai gadis itu pergi dari sini. Aku masih membutuhkannya."
"Aku merasa dia itu punya tujuan datang kesini ma, dia mencoba menggodaku."
"Tujuannya uang, gadis itu ingin sukses seperti mu. Hanya uang yang ada dikepala nya. Jadi dia ingin memanfaatkan kecantikannya untuk menggodamu dan mendapatkan uang mu. Dia itu gadis polos, kau bisa memanfaatkan kepolosannya kan. Bermain saja dengannya seperti kau bermain dengan wanita-wanita malam. Aku juga tidak ingin menjadikan nya bagian dari keluarga kita. Jadi setelah aku sembuh kau bisa membuangnya. Ingat setelah aku sembuh." Jelas Mira menekankan akhir kalimat nya.
Rion Dian tidak menjawab. Apa yang dikatakan mira padanya mungkin ada benarnya, "gadis itulah yang menggodaku, aku hanya menerima." dalam hati Rion.
Tanpa mereka sadari Zaza mendengar semuanya. Gadis itu tidak kedapur. Dia hanya berdiri disamping pintu.
Zaza sama sekali tidak kaget mendengarnya, malah dia dengan santai melangkah ke dapur sembari bergumam "mari bermain peran sayang"
*******
Sudah 2 bulan Zaza menjadi pelayan Mira. Sekarang tangan kanan Mira juga sudah bisa diangkat. Walaupun belum sepenuhnya nya kembali normal.
Diam diam, Rion sering memperhatikan Zaza. Saat Zaza duduk ditaman, Rion menatapnya dari balkon kamarnya.
Hari ini Zaza diberi cuti oleh Mira satu hari. Jadi dia menghabiskan waktu dengan sahabatnya Nisa. Setelah berjalan-jalan ke beberapa tempat, tempat terakhir yang mereka tuju adalah mall.
Saat sedang asik belanja, seorang ibu ibu mendekatinya.
"Zaza, ini kamu kan" sapa sang Ibu.
Zaza melihat siapa yang ada disampingnya .
"Eh ibu, iya ini Zaza. Ibu apa kabar? Pak Diman sama Rafi mana?" tanya Zaza mencium tangan istri pak Diman. Keluarga pak Diman sudah seperti keluarga bagi Zaza. Bertemu dengan tetangga nya membuat perih dihatinya makin terasa ada kerinduan yang sangat dalam.
"Kamu tinggal dimana sekarang."
"Aku ikut Paman Bu."
"Kak Zaza." ucap anak laki laki yang baru saja datang bersama ayahnya.
"Ya ampun Rafi, kamu udah besar kok makin ganteng aja sih." Ucap Zaza mencubit pipi Rafi.
"Ganteng dong, kan cowok."
"Hehe iya."
"Ikut kakak yok."
"Kemana kak?"
"Beli mainan."
Dengan senang hati Rafi mengangguk angguk.
Sebelum membawa Rafi, Zaza tidak lupa memperkenalkan Nisa
pada keluarga pak Diman.
Dan ijin akan membawa Rafi yang langsung di iyakan oleh pak Diman
Zaza dan Nisa membawa Rafi keliling mall. Beberapa mainan mereka masukkan dalam keranjang belanjaannya.
"Ayo kak kita cari lagi, Rafi pengen beli robot."
"Yaahhh, kan Rafi Masin pengen beli robot kak."
"Lain kali aja ya, tunggu kakak gajian baru kita beli mainan lagi gimana?" lanjut Zaza.
"iya udah deh kak, kita cari minum aja."
Jawab Rafi tidak semangat.
Setelah membayar belanjaan nya, mereka bertiga duduk disebuah kafe sambil. menikmati minuman nya.
"Za aku ke toilet dulu ya." ucap Nisa beranjak dari duduknya"
"Ok."
Zaza dan Rafi sibuk bercanda, sesekali Zaza mencubit cubit pipi Rafi karena merasa gemas.
Ditempat yang sama, ternyata ada Idan yang sedang bertemu dengan beberapa pria. Terlihat sedang bersalaman mengakhiri perjumpaan mereka. Satu persatu pria itu pergi dan meninggalkan Idan sendiri.
Zaza melihat Idan dan berniat menghampirinya.
"Fi, ayo kakak kenalkan sama Paman kakak."
"Dimana kak?"
"Itu disana." tunjuk Zaza membawa Rafi ketempat Idan.
"Paman." panggil Zaza
" Eh Zaza, kamu disini?"
"Iya Paman."
"Sama siapa?" ucap Idan menatap sekeliling Zaza.
"Siapa anak ini Za?" lanjutnya setelah menyadari keberadaan Rafi.
"Sama teman, dia lagi ditoilet. Dan ini Rafi, tetangga Zaza dulu Paman. Rafi Salim dulu! ini Paman kakak." suruh Zaza.
tapi Rafi hanya diam. Dia bersembunyi di belakang tubuh Zaza.
"Rafi kenapa?"
"Rafi mau pulang kak." rengek Rafi hampir menangis.
Zaza tidak bisa memaksanya.
"Paman, Zaza duluan ya. Rafi minta pulang"
"Oh iya, tidak apa-apa. Za, kamu baik baik saja kan?" tanya Idan.
"Baik paman, kalau begitu Zaza permisi." ucap Zaza yang dibalas anggukan oleh Idan.
Zaza heran, Rafi yang dia kenal itu pemberani dan bukan seorang yang pemalu.
Rafi tetap diam sampai kedua orang tuanya datang menjemputnya. Sebelum pergi, Rafi menarik tangan Zaza. Zaza menunduk menyamakan tingginya dengan Rafi.
"Kakak, jauh-jauh darinya! Paman itu orang jahat, dia punya senjata."
Bisik Rafi ditelinga Zaza. Zaza mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
"Apa maksudmu?" tanya Zaza.
Rafi tidak menjawab, dia langsung meraih tangan kedua orangtuanya dan langsung ijin pulang pada Zaza.
"Za." Panggil Nisa.
"Lama banget sih. Di toilet ngapain aja?"
"Aku lagi dapet Za. Kita langsung pulang ya, perutku sakit" ucap Nisa.
Nisa mengantar kan Zaza sampai ke gerbang rumah Rion Dan berlalu pergi.
*T**inggalkan jejaaaaaaaak😘😘😘😘*