
Selamat membaca dan semoga suka.
Di like ya di baca.
Vote
Rate 5.
Mira mengumpat dalam hati, ketika melihat dua pria yang akan bekerja di rumahnya. Dia tau tujuan Rion melakukan itu
"Tidak ada yang bisa kalian kerjakan di sini, pelayan juga sudah cukup banyak. Jadi pergilah, cari pekerjaan di tempat lain saja!"
"Maaf Nyonya, tuan Rion yang menyuruh kami ke sini. Sebisa mungkin kami tidak akan mengganggu aktivitas Nyonya. Jika perlu anggap saja kami tidak ada."
"Anggap tidak ada? dengan badan kalian yang sebesar ini bagaimana bisa aku tidak mengganggap kalian ada,Jika kalian jadi batu baru bisa dianggap tidak ada, dasar gila."
"Idan, bawa mereka pergi dari sini! katakan pada Rion, aku tidak membutuhkan pelayan baru." sambung Mira.
"Maaf Nyonya, tuan Rion tidak akan mengubah keputusan nya."
"Kau sama saja dengannya, tidak berguna." ucap Mira. "Lihatlah wajahmu yang babak belur itu, Rion pasti memperlakukan mu seperti hewan bukan? jika kau mau, aku punya tawaran menarik untukmu."
"Maaf, saya tidak akan mengkhianati tuan Rion."
"Munafik." seru Mira dengan giginya yang ia rapatkan.
"Ambilkan ponselku!"
"Baik Nyonya," jawab Tati yang setia berada di belakangnya.
Mira menghubungi Rion.
"Rion, aku tau kau tidak berada di luar kota, jadi pulanglah sebentar ke rumah. Ada ya-------."
Tut,,,tut,,tut. Sambungan terputus.
"Kurang ajar, aku menyesal tidak membuang anak sialan itu waktu kecil."
"Nyonya, sebaiknya anda kembali ke kamar. Ruangan ini akan di renovasi sesuai perintah tuan Rion."
"Apa? tidak, tidak ada renovasi renovasi. Aku tidak mengijinkan kalian menyentuh satu barang pun. Idan, aku bilang bawa mereka pergi sebelum aku membunuhmu."
Idan menaikkan salah satu sudut bibirnya.
"Sekarang kau tidak berarti apa-apa dibanding Zaza, Gadis itu akan mengambil alih semua yang kau punya nenek tua. Itu artinya semua itu juga akan menjadi milikku." batin Idan. ( bayangin ekspresi Idan kayak yang ada di s*nerton s*nrton).
"Kenapa kau diam saja, apa telinga mu sudah tidak berfungsi lagi?"
"Aku hanya mendengarkan perintah Tuan Rion, bukan anda Nyonya. jadi segeralah tinggalkan ruangan ini." ucap Idan menekankan setiap kata dalam kalimatnya.
Rion hanya menyuruh mereka memasang CCTV di setiap ruangan, yang selama ini tidak terjangkau oleh CCTV yang lama, semua sudut harus terlihat jelas sesuai permintaan Rion.
Mau tidak mau Mira meninggalkan ruang tamunya.
"Aku akan membalas mu Idan, lihat saja!"
"Balas dendam? dengan kondisi lumpuh?"
batin Idan.
"Kita ke belakang!" seru Mira.
" Baik Nyonya."
"Kau harus cari cara agar aku bisa keluar dari sini."
"Bukankah ini rumah Nyonya? Nyonya bisa melakukan apa saja di rumah ini, termasuk keluar masuk."
"*****, jika aku bisa melakukan nya, aku tidak akan menanyakannya padamu. Dulu dia tidak mengijinkan ku keluar karena ingin melindungi ku. Sekarang dia mengurungku disini karena ingin melindungi ja*angnya."
"Nyonya, aku tau caranya."
"Katakan!"
"Bukankah Nyonya sudah bisa berjalan? Nyonya bisa menyamar jadi seseorang, lalu keluar dari sini." bisik Tati.
Mira tampak memikirkan ide Tati, raut wajahnya tiba tiba berubah menjadi sumringah.
"Kau mau ikut denganku?"
"Tapi Nyonya---."
"Uang??"
Tati mengangguk kan kepalanya.
"Jangan pikirkan soal uang, aku punya banyak simpanan."
"Baiklah Nyonya, aku akan ikut kemanapun anda pergi."
"Hanya saat aku membutuhkan mu. Jika tidak, jangan coba coba mengikuti ku!"
"Baik Nyonya."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Rion melamun setelah memutuskan panggilan dari Ibunya.
"Dari siapa?" tanya Zaza.
"Bukan siapa-siapa, ayo lakukan lagi!" suruh Rion.
"Aku sudah capek."
"Mau minum?" tanya Rion.
Zaza menggeleng. "Hon."
"Hum?"
"Itu nyonya Mira bukan?"
"Iya. Dia menyuruh ku pulang."
"Kamu akan pulang?"
"Tidak."
"Pulang lah sebentar, mungkin saja Nyonya sedang merindukanmu."
Rion membuang napas nya kasar. "Aku malas bertengkar dengannya."
"Jangan bertengkar, cukup dengarkan saja apa yang ingin dia bicarakan."
"Baiklah, kamu mau ikut?"
"Tidak. Tapi jika kamu mengijinkan, aku ingin menemui temanku yang kemarin kita temui.
"Tidak boleh. Jangan pergi kemanapun tanpaku!"
"Kemanapun?"
"Ya, kemanapun."
"Aku harap kamu tidak melarang ku bertemu dengan paman. karena bagaimanapun juga dia satu satunya keluarga yang aku punya."
"Dan aku?"
"Kamu hanya kekasih, yang kapan saja bisa meninggalkan ku."
"Aku tidak akan melakukannya. Dan, sayang kamu harus tau, keluarga juga tidak selalu saling menyayangi. Banyak keluarga yang mau menghancurkan keluarganya sendiri. Jadi jangan------."
"Mempercayai siapapun?"
"Humm. Aku sudah mengatakannya bukan?"
"iya. jadi jam berapa kamu akan pergi menemui Nyonya Mira?"
"Setelah mandi. Ingat jangan membuka pintu untuk siapapun!"
"Yayaya, pergilah, jangan pulang terlalu lama. Di sini sepi, aku tidak menyukainya."
"Bilang saja kamu merindukanku dan tidak bisa jauh jauh dariku, iya kannn??" Ledek Rion.
"Yah, anggap saja begitu." ucap Zaza.
"Kalau begitu ayo kita menikah. Aku janji akan selalu di sampingmu." jawab Rion meletakkan keduaa tangannya di atas pundak Zaza.
Zaza menatap Rion dalam dalam. Sudah berapa kali ia menolak untuk menikah secepatnya, tapi Rion seolah tidak ingat penolakan itu.
"Hon."
Rion menggeleng tidak ingin mendengarkan kata kata Zaza." Ayo menikah. Aku tidak bisa menunggu setahun lagi, itu terlalu lama sayang. Aku akan membawamu tinggal di luar negri. Setelah semua aman, kita kembali kesini, bagaimana?"
"Kenapa harus ke luar negri, aku tidak ingin tinggal di sana. Kamu bilang akan selalu melindungi ku, jadi tidak ada yang perlu di takuti bukan? Ataauuuuu---."
"Atau apa?"
"Apa kamu sedang menghindari sesuatu?" tanya Zaza, yang mana membuat Rion bungkam seketika.
Hening.
Hening.
Hening.
" Hon."
"iya, aku menghindari sesuatu. Aku takut Mama akan terus berusaha menyakitimu. Jika kita di luar negri dan pulang membawa anak, aku rasa hatinya akan luluh untuk menerima kita."
"Tapi kita tidak harus sembunyi di luar negri, dan menurutku, lebih baik kita menghadapinya saja, jangan melarikan diri seperti pengecut."
"Kamu tidak tau seberapa takutnya aku kehilanganmu."
"Nanti kita bahas lagi, sekarang mandilah! Nyonya pasti sudah menunggu mu."
"Hum, aku mandi dulu." ucap Rion tidak bersemangat.
Zaza memperhatikan Rion sampai hilang dari pandangan nya.
"Seandainya kau bukan pembunuh keluarga ku, aku pasti sangat bahagia bisa mendapatkan kasih sayang sebesar ini."gumam Zaza.
"Aku harus cepat cepat membalasnya, jangan sampai aku terjebak di perangkap yang kupasang sendiri untuk menjeratnya." lanjutnya.
Zaza masuk ke kamarnya, mencari cari nomor ponsel yang sempat ia salin di kertas. Nomor Idan dan Verdi ada disana.
Siapa yang akan dia hubungi????
Like vote and rate 5