
🌷 Selamat membaca🌷******
Pagi ini Zaza beraktivitas seperti biasa. Setelah membersihkan diri dia menuju kamar majikannya. Membuka jendela yang menghadap Ketaman, membiarkan angin segar masuk kedalam ruangan itu.
Begitu juga sinar matahari yang masuk berhasil membangunkan sang pemilik kamar.
"Selamat pagi Nyonya, waktunya kita mandi."
Sapa Zaza membantu Mira turun dari tempat tidurnya dan mendudukkan nya dikursi roda.
"Hmmmm, hari ini kita latihan lagi kan?"
balas Nyonya Mira.
"Setelah sarapan dan minum obat tentunya Nyonya."
"Ah, aku membenci obat si*lan itu, bisa kah kita melewatkannya saja?"
"Tidak, mari saya bantu Nyonya, kita harus mandi."
Ajak Zaza. Mira tidak bisa menolak lagi. Dia diam saat zaza membawanya kekamar mandi dan membersihkan tubuh nya. Itulah tugas Zaza, mengurus semua kebutuhan majikannya. Setelah memakaikan pakaian dan Merapikan kamar Mira, Zaza membawanya ke meja makan.
Disana sudah ada Rion yang menunggu kedatangan Mira.
"Pagi Ma."
"Pagi." balas Mira.
Kedua nya memulai sarapannya. Mira sudah tidak disuapin oleh Zaza, karna tangan kanannya sudah bisa diangkat walaupun belum total seperti sebelumnya.
"Bagaimana tidurmu?" tanya Mira
"Buruk."
"Sangat jelas kelihatan, Zaza menggodamu lagi?"
Uhuk,,,,Rion tersedak mendengar pertanyaan mamanya dan menatap tajam Zaza yang berdiri dibelakang Mira. Bukannya malu, gadis itu malah menunjukkan senyum malu-malu. Memililin- Milin jari serta menggoyang-goyang-goyangkan badannya.
"Apa gadis bodoh ini menceritakan nya, dasar tidak tau malu." Batin Rion.
Matanya yang melotot bisa menjelaskan saat ini dia sedang mengumpat Zaza.
"Berhenti memelototi nya, dia tidak menceritakan apapun."
"Tapi bagaimana Mama tau?"
"Terakhir kau tidak bisa tidur karena dia menggodamu bukan? dan aku hanya menebaknya tadi, ternyata benar."
"Mama juga tau soal itu?"
"Iya."
Rion segera menyelesaikan sarapannya.Dia tidak tahan jika harus menghadapi dua wanita itu.
"Aku sudah siap, aku berangkat dulu." Ucap Rion buru-buru.
Disana sudah ada Leo menunggu diruang tamu. Melihat bosnya keluar, Leo berlari menuju mobil dan bersiap membukakan pintu. Menyadari wajah kesal sang bos, dia yakin dirinya akan menjadin sasaran kemarahan Rion lagi.
"Kali ini ada apa lagi ya TuhaaaaaaannnðŸ˜ðŸ˜." batin Leo menjerit.
Tinggal selangkah lagi menuju mobil, seorang gadis berlari menghampiri bosnya.
"Tuan, Tuan tunggu." panggil Zaza.
"Apa? kau ingin menggodaku? aku tidak punya waktu melayanimu, dasar gadis gila. Enyah kau dari pandangan ku." ucap Rion mengibaskan tangannya.
"Aku membutuhkan sesuatu, tapi aku tidak bisa meninggalkan nyonya Mira. Bisakah kau membawakannya untukku?" pinta Zaza
Mendengar nama Ibunya disebut, mau tidak mau Rion harus mendengarkan permintaan itu.
"Apa, apa, apaaaa." bentak Rion
Sambil senyum-senyum gadis itu mengatakan:
"Bawakan cinta untukku!"
Setelah mengucapkan permintaan nya seperti biasa, Zaza berlari meninggalkan Rion. Rion tidak tau harus mengatakan apa lagi. Dia cepat-cepat masuk mobil. Raut wajah nya tidak lagi bisa diartikan.
"Cepat." bentak Rion
Leo yang melihatnya, gemetaran. Selama perjalanan dia mencoba menstabilkan jantungnya.
"Cari cara untuk menyingkirkan gadis itu, jangan sampai mama tau kau melakukannya."
"Baik tuan, tapi bagaimana dengan Idan tuan, bukan kah gadis itu keponakannya?"
"Argghhh, aku lupa membaca berkas yang kau berikan, lakukan saja apa yang kuperintahkan."
"Baik Tuan."
Pertemuan dengan seorang klien dari perusahaan 4VIC. Yaitu perusahaan yang merupakan saingan terkuat baginya. Beberapa hari yang lalu datang mengajukan kesepakatan untuk kerja sama dengan AGH group. Tapi hari ini pemilik perusahaan itu tiba-tiba membatalkan kerjasama dengannya. Kontrak yang memang belum ditandatangani. membuat Rion tidak bisa menuntut apa-apa.
Rion yang tidak terima dengan keputusan itu, menyusun rencana untuk menghabisi Verdi, yang menjadi pemilik perusahaan 4VIC.
"Leo, selidiki kegiatan Verdi dari sekarang!, dan kau Idan selidiki berapa banyak bodyguard yang selalu mengawalnya."
perintah Rion.
"Baik Tuan." jawab Leo
"Tuan, Minggu depan anak dari pengusaha Baron menikah. Tuan diundang ke acara itu, begitu juga Verdi." ucap Idan
"Dimana acara itu dilaksanakan?"
"Di villa milik keluarga Baron yang ada di pulau X Tuan."
"Hmmm, bukankah pulau itu terpencil?"
"Iya Tuan."
"Siapkan anak buah kalian untuk dibawa kesana."
"Baik Tuan." jawab mereka berdua serempak.
"Idan kau boleh pergi."
"Baik Tuan, saya permisi."
Begitu Idan meninggalkan ruangan, Leo mendekati bosnya, menunggu perintah selanjutnya.
"Batalkan rencana tadi pagi, Sekarang jemput gadis itu. Bawa dia belanja keperluannya. Jangan biarkan dia mengambil baju yang akan membuatku malu. Aku akan membawanya ke acara pernikahan itu. sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui."
ucap Rion tersenyum licik.
Leo diam, tidak ada jawaban dari mulutnya. Seumur-umur dia belum pernah jalan dengan seorang wanita. Apalagi nanti jika gadis itu mengambil sesuatu yang tidak sesuai keinginan bosnya, dialah yang akan kena imbasnya.
"Apa yang kau tunggu?"
"Tuan, aku tidak tau soal pakaian wanita. Bagaimana nanti jika gadis itu mengambil yang tuan tidak suka?"
"Maka kau akan kehilangan matamu, untuk apa kau memakainya jika tidak bisa membedakan yang bagus dan tidak."
"Permisi Tuan." pamit Leo, dia tidak ingin menanyakan apapun lagi.
***********
Leo membawa Zaza setelah mendapatkan ijin dari Mira.
Wanita itu mengijinkan pelayannya pergi, Karna menurutnya Rion akan mulai bermain dengan Zaza dan membuangnya jika sudah tidak dibutuhkan.
"Kita akan kemana." tanya Zaza
(hening)
Mengingat Leo adalah asisten setia Rion, Zaza sedikit kwatir. Bagaimanapun juga, dia tidak boleh mati. Tidak sebelum dendamnya terbalaskan.
"Hei, bicara lah, kita akan kemana?"
"Kau akan mengetahuinya nanti." jawab Leo.
"Bosmu menyuruhmu untuk membunuhku?.
Cih,,, berapa banyak uang yang kau terima untuk menghabisiku?, lihat saja jika aku sampai mati, aku akan menghantuimu. Hidupmu tidak akan tenang."
"Harusnya kau mengetahui itu, sebelum mencari masalah dengan tuan Rion."
"Ya,,ya,,ya, lakukan saja. Dengan apa kau akan membunuhku? pistol, pisau. Atau kau akan membuang ku kelaut. Ahh aku tau, pasti pistol. Kalian membunuh orang dengan pistol. seperti ini, doorrrr tepat didadanya."
Ucap Zaza memegang dadanya seolah-olah sedang tertembak
"Turunlah!"
"Disini? Kau ingin membunuhku ditempat ramai begini. Ahhhh iya, tidak akan ada yang berani menangkap kalian bukan? Kalau begitu ayo cepat turun, kau harus melaksanakan tugasmu." balas Zaza sembari turun dari mobil.
Walaupun menyadari tempat itu adalah butik, dia berpikir bahwa leo akan melenyapkan nya disana. Toh tidak akan ada yang berani menangkap mereka.
"Ah kasian sekali hidupku yang malang."
batin Zaza.
Leo memukul jidatnya sendiri, terjawab sudah kenapa emosi bosnya selalu meledak-ledak jika membicarakan gadis itu.
"Hanya hari ini, bersabarlah." batin Leo mengusap usap dadanya.
*T**inggalkan jejak ya para readers yang tersayang😘😘😘😘😘😘😘*