I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 43. Apa aku berbuat salah?



Selamat membaca, jangan lupa like, vote and rate 5. Semoga suka.


"Kemana dia" gumam Rion.


Melihat sekilas jam yang melingkar di tangannya. Sudah jam 8 malam, namun Zaza belum juga menampakkan batang hidungnya.


Rion berlari ke dalam rumah menuju kamar Zaza. Pintu tidak terkunci, kamar itu juga kosong.


"Apa dia pergi?" gumam Rion.


"Tuan, ada yang bisa saya bantu." tanya Tati. Rion yang masih berdiri di pintu kamar Zaza menoleh kebelakang.


"Kau tau Dimana Zaza?"


"Zaza? dari tadi siang saya tidak melihatnya Tuan. Tadi sekitar jam 10 pagi Nyonya memanggilnya, setelah itu saya belum melihatnya sampai sekarang."


Rion mengurut urut kening nya yang terasa pusing.


"Tapi Tuan."


"Tapi apa." bentak Rion.


"Saya sempat melihat Nyonya menamparnya." lirih Tati.


Mata Rion terbelalak mendengar pernyataan Tati. Giginya gemerutuk menahan marah.


"Di mana dia menemuinya?"


"Taman belakang Tuan."


Rion kembali memutar langkahnya menuju pintu keluar. Berputar putar di taman mencari keberadaan Zaza.


Malam yang semakin dingin dengan gerimis yang mulai turun menyadarkan Zaza dari tidurnya.


"Aaaa, kenapa aku ada disini?" ucap Zaza, kaget melihat hanya ada kegelapan di sekitarnya.


Setelah diam beberapa menit, Zaza ingat apa yang dia lakukan di sana. Saat Mira dan Tati meninggalkannya, ia masuk lebih dalam ke belakang taman, duduk di bawah pohon dan menangis sejadi jadinya.


Entah berapa jam dia menangis, sampai tidak menyadari dirinya telah terlelap.


Bukannya pergi, Zaza kembali menyandarkan kepalanya di batang pohon. Meski dingin malam menusuk sampai ke tulang sumsumnya, dia lebih memilih duduk di sana dari pada harus masuk dan melihat wajah orang yang menertawakan kematian keluarganya. Zaza curiga pembunuh nya bukan cuma Rion, tapi ada orang lain. Kecurigaan nya mengarah pada Leo.


"Aku harus menyelidikinya." gumam Zaza.


Suara langkah kaki terdengar jelas di telinganya. Perlahan Zaza berdiri.


Senyuman tersungging di salah satu sudut bibirnya, saat melihat siapa yang mondar mandir di depannya.


Zaza berdiri di tempat yang gelap, membuat Rion tidak bisa melihatnya, sementara Zaza sendiri bisa dengan jelas melihat setiap ekspresi di wajah Rion.


Sesekali pria itu mengacak rambutnya dan mengusap kasar wajahnya yang basah.


"Lihatlah pembunuh itu, dia benar benar mencintaimu. Dia menghindar karena mencurigai mu, lalu kenapa kau diam saja? Harusnya kau bisa memanfaatkan dia untuk membasmi orang orang yang mencoba menyakitimu, bersikap bodoh lah seperti yang mereka pikirkan. Agar kau juga tau, siapa saja yang menghabisi keluargamu, jadikan Rion senjata untuk menghabisi mereka!" batin Zaza pada dirinya sendiri.


"Hon." panggil Zaza.


Rion menatap ke arah suara yang memanggilnya. Tidak peduli dengan kegelapan, secepat mungkin Rion berlari menghampiri Zaza. Tersirat kekecewaan di wajahnya saat bersitatap dengan mata sendu milik gadis itu.


"Hon."


"Kenapa kamu di sini? apa kamu benar benar ingin menyiksaku? Kamu ingin Membalasku dengan cara seperti ini??"


"Apa maksudmu?"


Rion diam menatap kesal manik hitam Zaza.


"Hon, dingin. Bawa aku dari sini." ucap Zaza sembari memeluk erat tubuh Rion.


Tidak ada reaksi, Rion masih mematung sembari mengatur nafasnya.


"Nyonya menamparku, aku tidak berani masuk jika tidak ada kamu di sana. Kenapa kamu lama sekali? aku kedinginan."


Zaza merasakan badan Rion berguncang.


Air yang menetes di kepalanya terasa hangat, tidak seperti tetesan gerimis sebelumnya. Tapi tangan Rion tetap tidak membalas pelukannya.


"Apa kau menangis baji*gan. Ternyata ******** sepertimu punya air mata juga, apa yang kau tangisi?" batin Zaza.


"Ayo kita pergi."


"Kamu menangis?"


"Tidak" ucap Rion.


Rion berjongkok membelakangi Zaza, tepukan di pundaknya sendiri sebagai kode agar Zaza naik ke punggung nya.


"Aku masih bisa jalan sendiri?" ucap Zaza.


Rion menggeleng dan menyuruh Zaza naik ke punggung nya.


"Apa aku berat."


"Tidak."


"Aku tidak tau kenapa Nyonya menamparku. Hon, apa aku berbuat salah, kenapa kamu juga mendiami ku?"


Tidak ada jawaban dari Rion. Pria itu hanya diam dan terus berjalan.


Tapi siapa yang tau isi hatinya. Hatinya yang mendidih karena kemarahan.


Rion mengabaikan Zaza, agar gadis itu tidak terlalu patah saat mengetahui laki laki yang ia cintai adalah pembunuh keluarga nya. Meski begitu, Rion tidak terima jika ada orang lain yang menyakiti Zaza. Tidak terkecuali Mira sekalipun.


Rion membuka pintu mobil, dan mendudukkan Zaza di depan samping kemudi.


"Hon, kita kemana."


"Kita keluar dari rumah ini."


"Kemana, terus baju bajuku gimana? aku harus membawanya bukan. Ini juga basah aku harus mengganti nya."


"Tidak perlu. Di mana ponselmu?"


"Ada di atas meja rias."


"Tunggu disini, aku akan kembali."


"humm."


Rion menutup pintu mobilnya.


🌷🌷


🌷🌷


🌷


🌷🌷


🌷🌷


"Ayo, masuklah." ucap Rion. Zaza pun mengangguk.


"Kita akan tinggal disini?"


"Iya. Ayo, aku akan menunjukan kamarmu."


"Bagaimana dengan Nyonya, apa------."


"Aku akan mengurusnya."


"Hon."


"Ini kamarmu. Mandi lah dulu, aku akan mengambilkan mu pakaian."


"Tap-------."


Kretttt. Pintu kamar ditutup begitu saja oleh Rion, tanpa menunggu kata kata dari Zaza.


Zaza membuang napasnya panjang.


Sikap Rion yang tidak sehangat sebelumnya membuat hatinya sedikit terganggu.


Zaza masuk ke dalam kamar mandi. Ia cepat cepat membersihkan seluruh tubuhnya, karena rasa laparnya sudah tidak bisa ditahan kan lagi.


Selain dengan balutan handuk warna pink di dalamnya Zaza juga membalut tubuhnya dengan selimut, kemudian keluar dari kamar nya mencari keberadaan Rion.


Sudah satu jam Zaza menunggu Rion, namun yang ditunggu tak kunjung datang. Zaza masuk kembali ke kamar dan berdiri di balkon, menatap pemandangan kota yang begitu penuh dengan lampu lampu dan kendaraan yang lalu lalang.


"Ini pakaian mu."


"Aaaaaaa." teriak Zaza keget.


Rion tiba tiba muncul dibelakang nya dengan beberapa paper bag ditangannya.


"Sejak kapan kamu di sini?"


"Baru saja, pakai pakaian mu."


"Hon, aku lapar."


"Di dapur ada makanan."


"Kita makan bersama?"


Gelengan kepala Rion jadi jawaban nya.


"Baiklah, bisa tunggu aku di meja makan? aku ingin membicaran sesuatu denganmu."


Tanpa memjawab Rion berlalu meninggalkan kamar Zaza.


"Arghh, aku kehabisan tenaga untuk memakinya. Tadi dia bersikap manis, dasar bunglon" gumam Zaza,


sembari membongkar semua bawaan Rion.


Mengenakan satu per satu pakaiannya dan kemudian keluar menemui Rion.


Pandangan Rion tidak beralih darinya barang sedetik pun. Memasang wajah datar tanpa ekspresi, sama seperti dulu saat mereka pertama kali bertemu. Jika orang lain yang di tatapnya mungkin akan merasa terintimidasi. Tapi tentu tidak bagi Zaza, di sudah berhasil menaklukkan hati si pemilik mata tajam itu.


"Apa semua ini untukku?" tanya Zaza, yang melihat berbagai macam makanan di atas meja.


"Iya."


"Aku tidak bisa menghabiskan semua ini, bagaimana kalau kita makan bersama."


"Aku sudah makan."


"Baiklah."


Zaza memulai makannya dengan lahap. Tidak sampai sepuluh menit, ia menyelesaikan makannya.


Rion membersihkan isi meja, sementara Zaza duduk santai menunggunya.


"Bicaralah." ucap Rion yang sudah duduk di depannya.


"Hon, apa aku berbuat salah?"


"Tidak."


"Kenapa kamu berubah? kamu mendiami ku tanpa sebab. Apa-------."


"Kamu ingin berbicara bukan? bicaralah, aku akan mendengarkannya."


"Ini aku sedang berbicara."


"Jangan bicara sesuatu yang tidak penting."


"Tidak penting? menurut mu ini tidak penting?"


"Ya, jika tidak ada hal lain yang ingin kamu bicarakan, masuk dan tidurlah!"


"Kamu tidak akan menjawab pertanyaan ku?"


"Tidak."


"Baiklah, sekarang dengarkan aku. Jangan menjawab, karena aku tidak butuh jawaban mu lagi. Nyonya bilang, dari awal kamu hanya ingin mempermainkan aku. Di matamu Aku hanya seorang gadis Jala*g yang menggoda semua pria kaya. Dan sekarang kamu membuktikan ucapannya. Membuat ku semakin mencintai mu, lalu kau membuang ku, begitu bukan?"


"Ya, apa kamu mengalami kerugian dari itu?"


Zaza mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Rion, hatinya seperti dicubit.


"Jadi untuk apa kamu membawaku ke sini? kamu bilang kwatir padaku. Apa itu semua bohong."


"Ya. Aku hanya tidak ingin kondisinya semakin memburuk karena selalu melihatmu. Dia tidak menyukai mu, jadi dengan adanya kamu di sana akan membuat emosinya tidak stabil dan itu berpengaruh pada kesehatan nya."


"Hanya karena itu?"


"Ya."


"Kamu bisa membuang ku di jalanan, kenapa malah mebawaku kesini, membelikan ku pakaian, mem----------."


"Itu untuk gajimu bulan ini." ucap Rion. Setelah mengucapkannya ia beranjak pergi meninggalkan Zaza.


Zaza terdiam, dia tidak menyangka Rion akan menjawab seperti itu. Hatinya yang semula hanya ingin balas dendam tiba tiba tidak bisa di ajak kerjasama.


Matanya mendung siap mengeluarkan hujan.


*L**ike like biar semangat.🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗*