I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 53. mengetahui rahasia Mira



Selamat membaca dan semoga suka. Tinggalkan jejak ya, sebagai penyemangat buat author.


🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗.


"Aku pergi dulu, jangan membukakan pintu untuk siapapun."


"Baiklah, hati hati di jalan." ucap Zaza.


Rion mengusap rambut dan mengecup kening Zaza. Sekilas mereka seperti suami istri yang saling mencintai tapi itu hanya ada dalam khayalan Rion.


Begitu pintu tertutup, Zaza lari ke kamarnya. Mengambil ponsel dan mengetik beberapa digit angka di layarnya.


Belum sempat ponselnya menempel di telinga, tiba tiba seseorang merampasnya begitu saja.


Zaza kaget dan memutar tubuhnya, "Hon."


"Siapa yang kamu hubungi?"


"Ah itu-----."


Rion mengangkat tangannya memberi tanda pada Zaza agar diam.


"Halo?" Suara dari sebrang.


"Halo Za, Paman tau ini kamu. Bicaralah! kamu dimana? apa kamu baik baik saja?"


Rion mengernyikan dahinya, "darimana Idan tau nomor Zaza?" batinnya.


"Halo Za, kamu baik baik saja kan? halo,, halo."


Tut,,,,Rion memutuskan panggilannya dan menatap ke arah Zaza yang menunduk.


"Untung aku tidak sempat berbicara." batin Zaza.


"Kamu ingin bertemu dengan Idan?" tanya Rion dengan suara yang sangat lembut.


Zaza mengangguk "Aku ingin tinggal dengan Paman."


"Tinggal? kamu bilang tidak masalah jika tinggal bersamaku, kenapa sekarang berubah pikiran?"


"Itu jika kita menikah setahun lagi, tidak apa apa tinggal bersama mu. Tapi, tapi-------."


"Tapi apa sayang?" ucap Rion dengan mata berbinar binar. dia berharap Zaza mengatakan sesuatu yang ia tunggu tunggu.


"Aku ingin mempercepat pernikahan kita.


Hmmmm,,, enam bulan lagi, ayo menikah setelah enam bulan." ucap Zaza. "Bodoh, kenapa kau mengatakan seperti itu." batin Zaza, merutuki dirinya sendiri."


"Sayang?"


"Ya?"


"Kamu tidak bercanda kan?"


"Aku serius Hon. Tapi,,,,,."


"Ya?" seru Rion, tidak sabar dengan apa yang akan di katakan kekasihnya itu.


"Sebelum kita menikah, ijinkan aku tinggal dengan Paman. Aku ingin Paman tau dan ikut andil dalam perencanaan pernikahan kita. Lagi pula, setelah menikah aku akan menghabiskan sisa hidupku denganmu bukan? Hanya enam bulan Hon, menurut ku itu bukan waktu yang lama. Kamu juga bisa menemuiku di rumah Paman."


"Huuuuhhhhhhffffff" Rion membuang nafas nya pelan. "Aku tidak menyukai Idan dan istrinya. Bagaimana jika mereka-------, atau begini saja. Aku akan menyuruh Leo mencarikan pelayan untuk mu, bukan sembarang pelayan, tapi yang bisa melindungi dirimu dengan nyawanya."


"Baiklah." ucap Zaza memilih mengalah.


"Kapan kamu akan ke rumah Idan?"


"Nanti malam bagaimana?"


"Besok saja, aku akan mengantarmu besok."


"Humm, baiklah."


"Aku pergi dulu, ponselnya aku bawa."


"Kenapa di bawa?"


"Aku takut kamu menghubungi orang lain lagi."


"Cih,,, aku tidak akan melakukannya." ucap Zaza.


Rion menggeleng sambil tertawa.


Cup,,, "aku pergi dulu."


Kali ini Rion benar benar pergi.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Mira tersenyum sinis melihat kedatangan Rion.


"Selamat datang anakku Rion yang tersayang." ledek Mira. "Kenapa kau tidak membawa jal*ngmu? padahal aku ingin sekali melihat wajah sialnya."


"Katakan apa yang Mama inginkan."


"Mama?? hahahhaha, aku pikir kau sudah melupakan panggilan itu."


"Jika tidak ada ya----."


"Aku akan menjalani pengobatan di luar negri seperti yang kau inginkan."


"Baiklah, aku akan menyuruh Leo meng-----."


"Tidak perlu, aku bisa pergi berdua dengan nya, sebutkan saja alamat nya dimana!" ucap Mira, berdua maksudnya adalah dia dan Tati.


"Kalau begitu, jangan pergi!"


"Kau tidak bisa melarang ku."


"Aku bisa melakukannya MAMA." ucap Rion dengan nada mengolok.


"Kau tidak ingin aku sembuh bukan? selama ini kau hanya pura pura peduli. Kau lebih senang melihatku lumpuh, karena kau takut uangmu akan habis aku kuras, anak tidak tau diri. Ingat aku yang melahirkan mu, aku yang membesarkanmu. Dan sekarang Kau lebih mementingkan wanita sialan itu dari pada ibumu sendiri? kau tidak ingat siapa yang ada di sampingmu ketika kau masih seorang gembel?"


"Ya, tidak mungkin aku melupakannya. Apa aku harus menjelaskan semua yang ku ingat?


"Anak siaalaaaaaaaaaaaaaaaaan."


Rion mengabaikan teriakan Mira, dan berlalu pergi. Setiap ruangan ia periksa, untuk memastikan apakah CCTV yang ia suruhkan sudah terpasang semua.


"Tu,,tuan." panggil seseorang.


Rion menoleh, dan melihat Kikan yang berdiri di pintu dengan satu gelas air di tangannya.


"Ada apa?"


"Apa Za, Non Zaza baik baik saja?"


"Hum."


Kikan melirik sekeliling nya, untuk memastikan tidak ada siapa-siapa.


"Kau ingin mengatakan sesuatu."


Kikan mengangguk sembari mendekat.


"Tuan, ponsel saya di ambil oleh Nyonya. Saya tidak t---------."


"Aku sudah tau itu." ucap Rion.


Melihat Kikan yang semakin gugup, Rion memicingkan matanya. "Ada lagi?"


"I,,iya tuan."


"Katakan!"


Sekali lagi Kikan melirik sekitarnya dan,


"Tuan, Nyonya sudah bisa berjalan." bisik Kikan dengan sangat pelan.


"Apa? katakan dengan jelas." ucap Rion yang memang tidak mendengar suara Kikan.


Kikan memberanikan diri untuk lebih dekat dengan Rion.


"Nyonya sudah sembuh tuan, Nyonya sudah bisa berjalan dengan normal." ucap Kikan.


Sontak Rion terkejut mendengarnya. "Kau tidak berbohong?"


Kikan menggeleng, "Saya melihatnya sendiri Tuan."


"Sejak kapan."


"Saat terakhir kali Tuan kemari, saya melihat Nyonya melompat lompat."


"Siapa saja yang tau soal ini?"


"Tati Tuan.'


"Hum, pergilah!"


"Baik Tuan." ucap Kikan memberikan air minum yang ia bawa.


Rion menerima air minum tersebut dan menenggaknya hingga habis. Karena ia tau, air itu adalah alasan yang dibuat Kikan untuk menemui nya agar tidak di curigai.


Kikan keluar dengan gelas kosong di tangannya.


Tidak bisa di pungkiri bahwa apa yang Rion dengar dari pelayan itu membuat hatinya senang. Tapi di samping itu, kekwatiran nya pada Zaza makin besar. Mira adalah orang yang tidak pernah memikirkan hidup orang lain, dengan mudah ia bisa membayar orang untuk mencelakai siapapun yang tidak di sukai.


Rion menuju lantai dua, menghampiri Idan dan kedua anak buahnya.


"Bagaimana? sudah selesai?"


"Tinggal beberapa ruangan lagi Tuan."


"Biarkan mereka menyelesaikan nya, kau ikut denganku."


"Baik Tuan."


Rion memasuki ruang kerjanya dan di susul oleh idan di belakang.


"Dari mana kau tau nomor ponsel Zaza."


"Dari Nyonya Tuan."


"Dia menyuruhmu melakukan sesuatu?"


"Iya tuan, Nyonya memintaku untuk membawakan Zaza padanya."


"Kau setuju?'


"Tidak Tuan."


"Hum,, besok malam aku akan membawa Zaza kerumahmu, dia akan tinggal di sana. Aku tidak ingin mendengar keluhannya karena perlakuan kalian. Dan satu lagi, aku menempatkan lima anak buah Leo untuk menjaganya, siapkan mereka tempat tinggal di rumahmu."


"Tapi Tuan, Zaza hanya akan di dalam rumah, tidak ada yang akan melukainya disana, aku juga akan menjaganya dari bahaya apapun."


"Lalu siapa yang akan menjaganya darimu? Kau bahaya yang paling mengerikan dan harus di hindari, tapi sayang Zaza tidak mengetahuinya." Ucap Rion.


Idan menunduk, dalam hatinya ia tertawa riang. "Dan kau tidak akan berani memberitahu gadis bodoh itu tentang semua ini bukan? jika kau melakukannya, semua akan terbongkar dan Zaza akan meninggalkan mu."


"Renovasi kamar Zaza, buat sebesar ruangan ini."


Rion menuju salah satu berangkasnya, mengambil satu tumpukan uang.


"Nah, renovasi dan ganti semua fasilitas yang ada di kamar itu!" ucap Rion.


Idan hampir tersedak ludahnya sendiri. melihat uang yang ada di depan matanya. Dengan jumlah yang banyak, pasti akan banyak sisa meski membangun satu rumah lagi.


"Baik Tuan."


"Pulang dan suruh orang mengerjakannya sekarang. Kau harus ke kantor setelah itu, bantu Leo menyelesaikan pekerjaan di sana."


Idan memasukkan semua uang itu ke dalam tasnya. Ia sudah tidak sabar mengeluarkan tawanya yang sedari tadi ia tahan tahan kan.


"Ini baru untuk kamar, besok akan ada lagi, lagi dan lagi. Siap siaplah untuk bangkrut bodoh." Batin Idan.


Tinggalkan jejak ya para readers, biar author lebih semangat lagi menghibur kalian.