
π·Selamat membaca π·
Selama perjalanan menuju rumah pamannya,
hanya ada keheningan, tidak ada percakapan diantara keduanya. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Zaza yang hanya menatap keluar dari jendela mobil yang dibiarkan terbuka olehnya merasakan angin yang bertiup menyapu wajahnya yang kusut dengan mata sembab yang masih terus meneteskan air mata.
"Za." panggil Idan. Tapi tidak ada sahutan.
sambil memegang bahu Zaza Idan mencoba menyadarkan ponakannya.
"Za, kita sudah sampai." ucap Idan.
Zaza turun dari mobil sambil menatap rumah yang ada didepannya. Dari dalam rumah tampak seorang perempuan yang usianya hampir sama dengan ibunya berjalan menuju kearah mereka. Dia adalah Eva, istri Idan.
"Biii." Zaza menghambur ke pelukan Bibinya, dan tangisnya kembali pecah.
Eva melakukan hal yang sama.dia memeluk ponakan dari suaminya itu dengan erat, sambil mengusap - usap punggung nya.
"Za,,Bibi turut berdukacita. Kamu harus kuat, kamu harus bangkit sayang. Bibi akan menjagamu dengan baik." ucap Eva.
Mendengar ucapan bibinya yang terdengar tulus, membuat Zaza ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga nya malam itu. Dia butuh teman untuk berbagi. Masalah ini terlalu berat untuk ditanggung sendirian olehnya.
Siapa tau dengan dengan menceritakan itu, paman dan bibinya bisa membantu dia Mendapatkan keadilan. Bukan kah orang yang menghabisi keluarga nya harus dhukum?.
Mereka pantas dihukum mati setelah disiksa habis-habisan.
Itulah yang ada dipikiran Zaza saat ini.
"Ayo kita masuk dulu, Bibi sudah menyiapkan sarapan."
Dibalas anggukan oleh Zaza, mereka beranjak masuk kedalam rumah.
"Makan dan setelah itu istirahat lah, bibi akan menunjukkan kamarmu."
"Bi, aku tidak lapar, bisakah aku istirahat lebih dulu?"
Huuhhhhhff. Eva membuang nafasnya kasar.
"Baiklah mari ikut Bibi."
Kamar paling pojok dibagian sisi rumah itu menjadi kamar Zaza. Eva dan Idan mempunyai anak laki-laki yang sekarang melanjutkan pendidikan nya di luar negeri.
Ivan sangat jarang pulang, sehingga 3 kamar dirumah itu masih kosong.
"Ini kamar kamu, kamar bibi ada dilantai dua. Jika perlu apa-apa panggil saja bibi, atau Bi Rosi ( pembantu Eva)."
"Ya Bi."
Sebelum masuk Zaza menggenggam tangan Eva.
"Terimakasih Bi. Apa nanti malam Bibi Sibuk?"
"Tidak, ada pa Za?"
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan paman dan Bibi."
"Hm, baiklah,dan sekarang istirahatlah,
Bibi akan menemani paman mu sarapan."
Begitu Zaza masuk dan menutup pintu kamar, Eva pun beranjak menemui suaminya yang dari tadi sudah menunggu.
"Pa, apa Zaza akan selamanya tinggal disini?"
"Jangan bilang kau keberatan."
"Mama gak keberatan pa, tapi denger- denger Zaza itu bekerja direstoran Z dan itu lumayan jauh dari sini."
"Kita bicarakan nanti saja." balas idan
sambil berdiri dan meraih kunci mobilnya.
"Loh, Papa kan belum sarapan."
"Dikantor saja."
Melihat wajah Suaminya yang seperti banyak menyimpan masalah, membuat Eva tidak lagi menjawab. Dia hanya menyaksikan Idan keluar tanpa mengantarkan kedepan seperti biasanya.
"Rosii, Rosi." panggil Eva
"iya Nyonya."
"Antar kan makanan ke kamar sana." tunjuk Eva, yang langsung di iyakan pembantunya.
Rumah mewah yang dikelilingi pagar tembok tinggi dan halaman luas terlihat asri. Di tanami pohon-pohon kecil serta banyak bunga disana. Bisa dikatakan itu adalah taman, membuat orang yang menempati nya terlihat sangat nyaman.
Pemilik rumah itu adalah Abrion. Dia tinggal disana bersama Ibunya (Mira) dan beberapa pelayan.
Beberapa bulan yang lalu Mira mengalami stroke, sehingga membuatnya lumpuh. Kakinya tidak bisa digerakkan, begitu juga dengan tangan kanannya. Tapi tidak dengan tangan kiri, dia masih bisa menggerakkan nya seperti biasa.
Hari-hari dia habiskan duduk di kursi roda, dibantu seorang pelayan yang dikhususkan untuk merawatnya. Harapan untuk sembuh masih ada, yang penting melakukan sesuai arahan dokter.
"Selamat pagi ma." ucap Rion sambil mengecup pipi ibunya.
"Pagi dari mana, ini sudah siang, kamu tidak bekerja?"
"Tidak ma, hari ini aku akan membawa Mama jalan-jalan."
"Kemana." tanya Mira dengan senyum yang mengembang terlihat antusias.
"Ke lokasi pembangunan hotel Rion yang baru ma."
"Iss,,, kirain kemana, mama nggak mau kesana, pasti tempatnya membosankan."
"Mama akan suka jika melihatnya, disana dekat dengan pantai. Mama suka pantai bukan?"
"Benarkah?"
"Hmmm."
"Kalau begitu mama ikut, kita juga harus mengajak Lina."
"Lina? siapa dia?"
"pelayan mama yang baru."
"pelayan baru? Kok aku gak tau mama punya pelayan baru."
"Itu karena kau terlalu sibuk dengan bisnismu." jawab Mira.
ada kesedihan diwajahnya saat mengatakan kata-kata itu.
Rion yang melihatnya langsung bersimpuh sambil memegang tangan ibunya.
"Ma, ini semua untuk mama, apapun yang Rion lakukan semua itu demi mama."
Ucap Rion sambil mengecup punggung tangan wanita itu.
"Mama sudah tua dan tidak menginginkan itu lagi, kamu juga harus memikirkan masa depanmu. Apa kamu sudah menemukan wanita baik baik?"
"Tidak ada wanita baik baik jaman sekarang Ma." Plaakk, Mira memukul pundak anaknya.
"Jangan berkata begitu, itu salahmu karna kamu mencarinya ditempat yang tidak benar. Mulai sekarang jangan menghabiskan malammu ditempat- tempat terkutuk itu lagi."
"Ok, ok, BTW dimana pelayan Mama? apa dia cantik?"
"Huuhhhh" Mira memutar matanya, selalu saja Rion mengalihkan pembicaraan saat membahas kebiasaannya itu.
"Hah hahahaha, Rion bercanda Ma."
"Serius juga tidak apa-apa, dia terlihat cocok untukmu. Dia bisa menata hidupmu dengan baik."
"Oh ya??"
"Hmm."
"Dia akan kesini sebentar lagi, rapikan rambutmu agar dia terpesona melihatmu."
"Aku tetap tampan dalam kondisi apapun Ma."
***
Dibalik sifatnya yang kejam pada orang lain. Rion adalah anak yang sangat menyayangi Ibunya. Wanita itu satu-satunya yang dia miliki. Memiliki kehidupan yang begitu sulit dimasa lalu. Membuatnya melakukan apa saja untuk meraih kesuksesan. Termasuk mencuri, menipu, membunuh.
Dia tidak akan membiarkan wanita yang dia sayangi itu dihina oleh orang lain seperti dulu.
Degitu juga dengan Mira. Tidak peduli dari mana putranya mendapatkan semua itu, dia akan sangat senang hati menerimanya. Menghambur kan uang sesuka hati.
Sampai sampai membuat putranya semakin serakah ingin mendapatkan segalanya.
Dengan kondisi Mira yang seperti ini sedikit merubah sifat tamaknya, ya hanya sedikit. Karena Pada dasar dia adalah wanita kejam.
*M**ohon kritik dan sarannya ya*.
πππππππ