I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
Eps 59. Giliran Mira



Selamat membaca para readers, semoga suka.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya!


********


"Anda bisa ikut kami ke kantor polisi dan berikan keterangan anda di sana!'


"Hum, tapi sebelum itu, aku mau tanya sesuatu."


"Silahkan!"


"Apa ada hukuman untuk orang yang membunuh tikus?"


"Tikus?"


"Ya."


Rion menunjuk pada belakang pintu nya.


"Lihat di sana!"


Semua mata langsung mengikuti arah jari Rion. Dan benar saja, di belakang pintu tersebut terdapat seekor tikus besar dengan perut yang sudah berlobang.


"Apa sekarang tikus termasuk hewan langka?" tanya Rion.


"Kami akan tetap memeriksa seluruh tempat ini. Untuk memastikan tidak ada kejahatan yang coba kalian tutupi dari kami."


Rion merentangkan tangan kirinya


"Silahkan."


Semua meninggalkan kamar yang Rion tempati, kecuali Idan.


"Tuan." bisik Idan.


"Aku sedang membantumu Idan.


Jika dalam lima menit mereka tidak pergi, maka terpaksa aku mengorbankanmu."


"Mak-----."


"Maksudnya, kaulah yang harus mengantikan Zaza." lanjut Rion.


Idan menegang mendengar ancaman Rion.


"Tidak, ini tidak bisa terjadi." batin Idan.


Secepat kilat ia berbalik dan menyusul para petugas yang sudah berada di kamar Zaza.


"Manyebalkan." gumam Rion. Belum pernah sekalipun ia takut berhadapan dengan petugas keamanan, tapi kali dia benar benar takut.


Takut jika mereka menemukan Zaza, yang masih trauma dengan pembunuhan yang ia lakukan.


Rion yang tidak sabar terus menatap jarum jam yang melekat di tangannya, 6,5,4,3,2,1. Kreeeett,,,, Pintu kamar terbuka.


"Tuan, mereka sudah pergi." ucap Idan.


Huuuuuuuuuffftt,, Nafas panjang keluar dari mulut Rion. Pertanda ia lega dengan kabar yang Idan sampaikan.


"Kau sangat lambat." ucap Rion sembari bangkit dari ranjangnya


"Maaf tuan."


*****


Zaza berdiri di depan cermin yang ada di kamar mandi Eva. Memandangi wajahnya dengan ekspresi yang begitu tenang. Tidak ada rasa takut, ataupun trauma seperti yang Rion pikirkan.


Yang ada hanya senyuman manis tapi sinis.


"Halo Ryza, apakah itu kau?" ucap Zaza pada bayangannya sendiri. Ia terkekeh sendiri mengingat dirinya yang berhasil menembus kepala pria itu.


Sedikitpun Zaza tidak takut, karena dia sangat yakin, Rion akan melakukan apapun untuk menyelamatkannya.


Tok, tok, tok. "Sayang."


"Sayang, kamu sedang apa?"


"Seyeng, kamu sedang apa? Cuihhhhh." beo Zaza dengan sangat pelan. Kemudian ia meludah, karena merasa jijik dengan panggilan tersebut.


"Sayang, kamu lagi ngapain? ayo keluar! mereka sudah pergi."


"Iya, sebentaaaaar."


Zaza menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan.


"Di mulai." ucapnya.


Perlahan ia memutar kenop pintu, dan membukanya sedikit demi sedikit.


"Mereka sudah pergi, jangan takut!" Seru Rion sembari menyentuh tangan Zaza untuk menyalurkan sedikit ketenangan.


"Mereka sudah pergi?"


"Hummm. Ayo ke dokter, kita harus mengobati lukamu?"


"Tidak usah, Bibi sudah mengobatinya." Jawab Zaza.


Rion merapikan rambut Zaza yang menutupi perban kecil di dahinya dan menyentuhnya dengan lembut.


"sakit?"


"Tidak." Jawab Zaza sambil menunduk.


"kamu masih takut?"


Zaza mengangguk pelan.


"Takut karena sudah membunuh ******** itu?"


"Humm."


"Mulai sekarang jangan takut lagi untuk menghabisi orang orang yang mencoba menyakitimu! apa yang kamu lakukan tadi, itu sudah benar, sayang. Bahkan seharusnya dia mati sebelum ujung jarinya menyentuhmu." ucap Rion.


"Tapi bagaimana jika aku tertangkap? aku akan di---------."


"Sssstttttt,,, jangan takutkan hal hal yang tidak penting seperti itu! biarkan saja itu menjadi urusanku, ok?"


Zaza menjawab ucapan Rion dengan hanya menganggukkan kepalanya.


Sambil terus berpikir Rion membawa Zaza duduk di bibir ranjang milik Idan. Mencari cara untuk mengembalikan senyum kekasihnya itu. karena yang paling penting baginya saat ini adalah, membuat hati Zaza kembali tenang.


Hingga sebuah ide muncul di kepala Rion. Meski terkesan buru buru dan tidak tepat waktu, tapi ia harus mencobanya.


"Sayang, ayo kita berlibur." ajak Rion.


"Berlibur??"


"Iya, berlibur. Sebutkan saja tempat yang ingin kamu kunjungi, aku akan membawamu kesana. Bagaimana?"


"Maaf Hon, tapi aku sedang tidak ingin pergi ke mana mana." jawab Zaza dengan wajah yang masih belum berubah.


Rion menunduk sembari memainkan tangan Zaza. "Apa yang harus kulakukan untuk membuat mu merasa lebih baik?" tanya Rion.


"Aku merasa tidak berguna untukmu."


"Kenapa berpikiran seperti itu? Aku tidak ingin kamu melakukan apapun, kerena aku sudah merasa tenang dengan kedatangan mu. Bayangkan Jika kamu datang terlambat, mungkin mereka sudah membawaku."


"Aku bisa membebaskan mu dengan mudah."


"Tapi itu jika kamu berurusan dengan oknum yang tidak jujur." ucap Zaza.


"Sudah lah, jangan membahasnya lagi!


Sekarang katakan padaku, apa yang kamu inginkan." tanya Rion.


Ia berharap dengan mengikuti keinginan Zaza, kekasihnya itu akan merasa lebih baik dan melupakan kejadian kejadian yang baru saja menimpanya.


Zaza memejamkan matanya sejenak, memikirkan apa yang harus ia minta pada Rion.


"Haruskah aku menyuruhnya melenyapkan Idan?" batin Zaza. "tidak tidak, ini ide yang sangat konyol, lalu apa yang harus ku minta?"


"Sayang."


"Ha??" ucap zaza, ia tersentak ketika suara Rion berhasil membuyarkan lamunannya.


"kamu melamun?"


"Ah, tidak."elaknya.


"Katakan, apa yang harus kulakukan?"


Zaza tertawa kecil. "Kamu tidak perlu melakukan apapun. percayalah! aku sudah merasa lebih baik." ucapnya. "Kamu tau?"


"apa?" tanya Rion.


"Apa yang ku katakan tadi itu benar. Melihatmu selalu membuatku lebih tenang." ulang Zaza.


Rion tersenyun dan membawa kepala Zaza agar bersandar di pundak nya.


"Jangan memaksakan dirimu untuk tersenyum, tunjukkan saja sesuai dengan apa yang kamu rasakan. Dengan begitu aku akan berusaha lebih keras untuk mengembalikan senyum asli mu."


"Sepertinya, kamu tau banyak hal" ucap Zaza.


"Hum, aku bisa menebak hati orang dengan dua kali bertemu. Tapi ada satu orang yang aku tidak bisa menebaknya, padahal orang itu selalui bersamaku."


"Apa itu aku?"


"Bener." ucap Rion. "Aku tidak bisa menebak, seberapa besar cintamu padaku."


"Itu karena cinta tidak bisa di ukur dan tidak bisa di timbang. Jadi semua orang pasti tidak tau seberapa besar dan seberapa beratnya cinta seseorang."


"Hmm, aku selalu kalah jika berbicara denganmu." ucap Rion, sembari menoel hidung Zaza.


Rion sedikit merasa lega melihat Zaza yang mulai banyak bicara.


"Hon."


"Ya."


"Boleh kah aku menemui nyonya Mira?"


"Hum, besok kita menemuinya," jawab Rion. "Aku sudah menyuruh Idan untuk melaporkannya pada pihak yang berwajib."


Zaza begitu terkejut mendengar pernyataan Rion tersebut. sontak ia mengangkat kepalanya dan menatap Rion untuk meminta penjelasan.


"Hon. Nyonya Mir-----."


"Siapapun dia. Dia harus tetap mempertanggung jawabkan perbuatannya."


Zaza yang ingin bersorak riang terpaksa menahan tangan dan suaranya sendiri.


******


Jangan lupa tinggalkan jejak ya para readers.