I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 34. Dia pembunuhnya.



*S**elamat membaca 🌷 selamat membaca 🌷 Selamat membaca 🌷 selamat membaca*


Rencana makan siang Rion dan Zaza terpaksa batal. karena Rion mendadak ada meeting.


Sudah dua jam Zaza menunggu, tapi Rion belum selesai juga.


Bosan memainkan ponselnya, Zaza kembali mondar mandir didalam ruangan Rion.


Ingin rasanya ia keluar dan jalan jalan, tapi Rion sudah berpesan agar ia tetar menunggunya didalam.


Zaza yang mondar mandir tiba tiba berhenti saat pintu terbuka.


"Paman, dimana Rion?"


"Tuan Rion masih meeting, duduklah. Paman bawa makanan untukmu!"


"Ah iya, terimakasih Paman." ucap Zaza menerima makanan dari Idan. Keduanya duduk berhadapan.


"Paman sudah makan?"


"Sudah."


"hmm."


Idan memperhatikan Zaza yang sedang makan.


"Za, boleh Paman tanya sesuatu?"


"Tanya apa Paman."


"Kamu mencintai Tuan Rion?"


Zaza menghentikan makannya dan menatap Idan. Haruskah ia jujur dengan Rencananya? atau dia harus tetap berpura-pura?"


"Paman ingin memberitahumu sesuatu." lanjut Idan.


"Tentang?"


"Ada CCTV disini. Saat paman mengatakannya tetap lah kelihatan santai!" ucap Idan setengah berbisik. tapi wajahnya senyum saat mengatakannya.Tidak kelihatan jika mereka sedang membicarakan hal penting.


"Iya Paman." ucap Zaza, dia tetap menyuapkan makanannya.


"Ini tentang orang tuamu." ucap Idan. Mendengar kata-kata itu membuat Zaza menegang, dadanya sesak. Matanya menyiratkan pertanyaan. Ia memaksakan senyum di bibirnya dan menunggu Idan menyelesaikan pembicaraannya.


"Mereka dibunuh, itu bukan kebakaran biasa. Tapi mereka dibakar."


Zaza menunduk.


"Bagaimana Paman tau jika itu pembunuhan?"


tanya Zaza, masih dalam keadaan menunduk. Dia tidak akan bisa berpura pura santai saat membahas itu, apalagi setelah selama ini dia memendamnya sendiri. Beberapa menit ia mencoba mengatur nafasnya dan memaksakan kembali wajah santainya.


Dia harus tau semuanya.


Zaza mengangkat wajahnya dan menunggu Idan melanjutkan ceritanya.


"Paman menyelidikinya jadi Paman tau siapa pelakunya."


"Lanjutkan Paman, ceritakan semuanya!"


ucap Zaza.


Idan melirik jam ditangannya lalu menatap Zaza.


"Rion yang membunuhnya. Dia membunuh semua keluargamu, Paman harap kamu menyimpan rahasia ini. Jangan sampai semua rencana Paman gagal."


"Dia yang membunuhnya? Rion? Kenapa dia membunuh keluarga ku Paman? apa salah kami padanya?" tanya Zaza pura pura tidak tau.


"Paman belum tau pasti penyebabnya, Tapi paman punya rencana."


"Rencana?"


"Ya, Paman sedang menyusun rencana untuk membalas itu semua, dan Paman butuh bantuan mu."


"Katakan Paman, apa yang bisa kubantu? katakan." ucap Zaza dengan air mata yang mulai menetes dipipinya.


"Tetaplah bersamanya, ambil alih semua kekayaannya, terrmasuk perusahaan ini. Setelah itu, kita bisa melemparnya ke jalanan. Bila perlu kita bakar sesuai dengan apa yang dilakukannya pada keluarga mu. Ingat, jangan sampai kau luluh padanya. Buang perasaan mu jauh jauh darinya. Dia membakar keluarga mu saat mereka masih bernafas, jangan lupakan itu." ucap Idan.


Zaza tidak tahan lagi mendengarnya, ia berlari ke kamar mandi menumpahkan semua air matanya. Memikirkan kesakitan yang ditahankan oleh keluarganya, membuat kepalanya pusing.


Sesaat terpikir oleh nya untuk menanyakan kembali bagaimana Ibunya meninggal. Apakah Idan akan bercerita sesuai yang ia lihat atau tidak. Jika sama, mungkin ada saksi mata yang melihat penembakan itu.


Setelah mencuci wajahnya, Zaza keluar dari kamar mandi.


Idan masih menunggunya dengan tenang disana.


"Paman, bagaimana dengan Ibu?"


"Maksudnya?"


"Bagaimana Ibu------"


"Sayang." panggil Rion yang tiba-tiba masuk.


Idan langsung berdiri dan menjauh dari Zaza.


"Sayang, maaf aku lama. Tadi ada sedikit masalah." lanjut Rion, ia merapikan rambut Zaza, dan mengecup keningnya.


"Tidak apa-apa Hon, ada Paman yang menemaniku."


"Hmmm, jangan terlalu dekat dengannya." ucap Rion. Zaza hanya tersenyum namun menghindari tatapan mata Rion.


"Sudah makan?"


"Sudah, tadi Paman bawakan."


Rion mengangkat wajah Zaza. Hidungnya yang merah dan matanya yang terlihat sembab membuat Rion mengernyitkan dahinya.


Zaza mencoba melepas tangan Rion, tapi tidak berhasil.


"Tidak."


"Jangan berbohong, siapa yang membuatmu menangis.


Ha?. Sayang, katakan siapa yang membuatmu menangis?" Tanya Rion.


Tidak mendapat jawaban dari Zaza, Rion beralih ke Idan.


"Kau membuatnya menangis?"


"Ti,,tidak Tuan."


"Jadi apa yang membuatnya menangis? kau pasti tau bukan? katakan!" ucap Rion mendekati Idan. Saat Rion memegang kerah baju Idan.


Zaza menghentikannya.


"Kamu,,,kamu yang membuatku menangis." jawab Zaza.


"Aku?" tanya Rion. Dia berpikir akan ada lagi pertengkaran antara mereka berdua. Matanya menyoroti Idan, agar Idan keluar.


Idan mengerti dan ia segera meninggalkan ruangan Rion.


"Sayang, apa aku melakukan kesalahan?"


tanya Rion dengan lembut.


"Ya, kenapa kamu Sangat lama? kamu membuatku kelaparan." Zaza cemberut menatap Rion.


"Sayang, aku menyuruh Idan membawakanmu makanan tepat waktu. Apa dia baru mengantarkan nya sekarang? aku harus memberinya pelajaran." ucap Rion, ia beranjak dari duduknya, namun ditahan oleh Zaza.


"Biarkan aku menghajarnya!" lanjutnya.


"Kamu yang harus dihajar." ucap Zaza. Memukul tubuh Rion sekuat tenaganya.


Ia menangis sesegukan.


"Hei, sayang hentikan."


Suara Rion membentak. Ia memegang kedua tangan Zaza.


"Siapa wanita itu? kenapa kamu sangat lama? apa benar kamu meeting, atau kamu sedang berkencan dengannya." tanya Zaza.


Sebelum Rion masuk keruangan meeting, Zaza melihat seorang wanita mengikuti Rion dari belakang, Rion juga terlihat mengobrol dengan wanita itu, yang tidak lain adalah Yola.


Yola sekretaris yang diangkat oleh Idan.


Tapi itu bukanlah alasan yang sebenarnya bagi Zaza.


"Wanita apa sayang? Wanita yang mana?"


"Wanita yang memperlihatkan belahan dadanya padamu."


Rion semakin bingung dengan kata-kata Zaza. Ia mencoba memeluk Zaza, walau gadis itu berontak.


"Sayang, tidak ada wanita lain. Percaya padaku, aku benar-benar meeting tadi. Maaf jika membuatmu menunggu terlalu lama."


Zaza menghentikan gerakannya, tapi tidak Mulutnya.


"Terus wanita yang tadi berbicara denganmu itu siapa? kamu mau mencoba membohongiku?" tanya Zaza. Rion mencoba mengingat ngingat dan,


"Xixixixi, Sayang itu sekretaris Idan." ucap Rion tertawa kecil. Ia tidak ingin Zaza menganggap dirinya sedang mengejek.


"Sekretaris Paman? tapi kenapa ia bersamamu. Kamu juga menatapnya seperti itu? Apa karena ia memperlihatkan bagian tubuhnya padamu?"


"Sayang, jangan mulai lagi. Aku tidak ingin kita terus bertengkar. Sekarang dengarkan aku. Tidak ada wanita lain, dihatiku hanya ada kamu sekarang. Aku tidak akan tertarik dengan wanita yang bertelanjang didepanku, seperti yang kau takutkan. Mengenai sekretaris itu. Aku akan memecatnya."


"Kamu yakin? kamu tidak akan tergiur dengan wanita wanita yang menunjukkan bagian tubuhnya padamu?"


"Yakin sayang, aku sudah cukup dengan apa yang kamu miliki." Ucap Rion.


Ia mulai menciumi telinga, dan mengarah ke leher Zaza. Nafasnya mulai berat, Rion mendorong pelan agar Zaza terbaring disofa. Namun Zaza cepat cepat menghentikan kegiatan Rion.


"Mari melakukannya setelah menikah." ucap Zaza.


Rion membuang kasar nafasnya, ia berhenti dan memeluk Zaza


"Mari kita menikah sekarang."


Zaza melepas pelukan Rion dan menatapnya.


"Kamu ingin menikah hanya untuk melakukan itu?"


"Itu alasan kedua, Pertama aku ingin memilikimu. Aku tidak ingin ada yang merebut mu dariku."


"Tahan lah sebentar lagi. Dan aku bukan barang, tidak ada yang bisa merebut ku darimu."


"Setahun terlalu lama sayang, bisakah kamu menguranginya?"


"Tidak. Jika kamu benar benar menyayangiku, kamu pasti bisa menahannya."


"Baiklah sayang, aku akan berusaha. Mulai sekarang jngan lagi menangisi hal hal yang tidak penting. Sebelum bertindak, sebaiknya tanyakan dulu padaku."


"Hmm, tapi pecat wanita itu. Aku tidak ingin ada wanita lain disampingmu selain aku!"


"Baiklah, Tuan putri pencemburu. Aku akan memecatnya."


Zaza tersenyum memeluk Rion.


"Aku tidak ingin sesuatu menghalangi rencanaku."


"Rencana? rencana apa sayang?"


"Rencana menikah denganmu." ucap Zaza. Rion mengelus rambut Zaza. Hatinya begitu senang melihat kekasihnya itu takut kehilangan dirinya.


*Li**ke like biar semangat , Vote and rate juga ya*!.