I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 16. rasa



🌷 *S**elamat membaca 🌷*


Memakai kaos polos warna putih dan celana jeans pendek dengan rambut kuncir kuda. Membuat Zaza terlihat santai tapi sangat cantik. Umurnya yang masih remaja terlihat jelas dimata siapapun yang melihatnya saat dia berpakaian seperti itu.


Gadis itu menunggu ditaman. Yang dia tau Leo akan menjemput mereka pagi ini. Tepatnya jam berapa dia tidak tau.


"Sudah siap?" ucap Rion yang tiba-tiba muncul dibelakang Zaza.


"Sudah, jam berapa Leo akan datang."


"Dia sedang dalam perjalanan."


"Ooo,, Rion, kenapa kau mengajakku ke sana? kenapa bukan kekasihmu saja yang kau ajak. Apa benar kau tidak punya kekasih."


"Kita tidak sedekat itu, jangan memanggil ku hanya dengan nama dirumah ini. Kau pelayan dan aku majikanmu, Ingat itu."


"Baiklah, kalau begitu aku akan manggilmu sayang."


"maka kau akan ku --------"


"Jangan bilang kau ingin membunuhku. Kau tau, jika aku mati kau juga akan kehilangan jodohmu."


"Kau---." geram Rion.


"Iya, aku. Aku jodohmu." balas Zaza


"Jangan menghayal terlalu tinggi, akan sangat sakit jika kau jatuh."


"Lihat, kau peduli padaku. Kau takut aku jatuh kan? Aku sudah bilang, kau itu sebenarnya menyukaiku, tapi kau malu mengatakannya. Lihat saja saat aku pergi nanti kau akan gila karena merindukanku "


Rion tidak menjawab ocehan Zaza. Gadis itu selalu berhasil merusak mood nya. Melihat leo sudah datang, Rion bergegas menuju mobil. Zaza tidak tinggal diam, dia berlari menyusul Rion dan mendahului nya.


"Hei ayo, jangan berjalan terlalu lambat, akan sangat menyebalkan jika harus menunggumu." ucap Zaza.


Terbiasa dengan tingkah Zaza, sekarang meladeni gadis itu bicara sudah mulai jadi kebiasaan bagi Rion. Walaupun hanya Jawaban singkat. Sulit baginya diam jika mendengar segala ocehan yang keluar dari mulut Zaza.


Begitu Zaza sampai di dimobil,


dia membuka pintu mobil untuk Rion.


"Silahkan tuan Rion yang terhormat." ucap zaza mempersilahkan dengan tangan dan badannya yang setengah membungkuk.


"Dasar gila."


"Yah, aku gila karenamu Tuan."


Leo yang menyaksikan keduanya terdiam mematung. Memikirkan apa yang akan terjadi padanya hari ini. Apalagi diperjalanan nanti, mereka bertiga akan ada dalam satu mobil. Pasti perjalanan kali ini akan terasa lebih lama.


Bughhhhh,,, sebuah sepatu mendarat di kepalanya, Leo tersentak.


"Sampai kapan kau akan berdiri disana?"


Suara bas Rion terdengar menakutkan bagi leo. Dia segera memungut sepatu dan menyerahkan nya kembali pada bosnya.


"Maaf tuan." Leo masuk dan duduk di kursi kemudi .


"Siapa yang menyuruhmu duduk disini?" ucap Rion melihat Zaza yang juga duduk dikursi belakang tepat disampingnya.


"Apa aku harus duduk dipangkuan mu?" balas Zaza.


Tidak ingin melihat drama lebih panjang lagi. Tanpa aba-aba Leo melajukan mobilnya.


Zaza yang belum sempat mengenakan sabuk pengaman nya tersungkur sehingga kepalanya mengenai kursi depan mobil."


Seketika tawa Rion pecah, suaranya memenuhi seisi mobil. Sambil memegangi perutnya, dia menunjuk nunjuk ke arah Zaza.


Zaza membuka mulutnya, matanya terbelalak melihat Rion yang tertawa. Bukan hanya dia, Leo yang melihat dari sipion pun ikut terpaku. pasalnya sembilan tahun dia bekerja pada Rion, baru kali ini ia melihat bosnya tertawa lepas.


Menyadari dirinya sedang diperhatikan Rion menghentikan tawanya dan memasang kembali wajah datar tanpa ekspresi.


"Perhatikan jalanmu." ucap Rion menendang kursi Leo.


"Baik tuan."


"Kau tertawa?" tanya Zaza.


"Tidak."


"Aku melihatnya."


"Aku bilang tidak."


"Kau selalu tidak mengakui apa yang kau lakukan. Kau harus jadi pria yang bertanggung jawab. Aku tidak akan mau menikah denganmu jika kau seperti itu."


"Siapa yang ingin menikah denganmu?"


"Aku mau tidur, bangunkan aku jika sudah sampai?"


"Kau menyuruhku?" bentak Rion.


menatap wajah tenang Zaza, rasa kesal dihati Rion berangsur hilang digantikan dengan perasaan lain yang menyelimuti hatinya.


***************


"Gendong saja gadis itu, jangan membangunkan nya. Aku tidak ingin mendengar mulutnya yang berisik."


"Baik Tuan."


Leo mengangkat tubuh Zaza. Mendudukkan nya di salah satu kursi empuk yang ada didalam jet pribadi Rion.


Pulau X.


Jet pribadi Rion mendarat di bandara pribadi milik keluarga Baron. Beberapa orang terlihat berbaris menyambut tamu yang datang menghadiri pesta pernikahan anak mereka.


para pebisnis handal dan beberapa pejabat akan turut hadir.


"Bangunkan dia." tunjuk Rion


Zaza yang merasa tubuhnya berguncang langsung terbangun.


"Ada apa? kita sudah sampai?"


tanya Zaza. Suara serak khas bangun tidur itu kedengaran sangat malas. Beberapa menit dia mengumpulkan kesadaran nya.


"lni bukan di mobil?" gumam Zaza.


"Aku ada dimana? rumah siapa ini, kenapa membawaku kesini. Kalian bilang kita mau ke pesta, kenapa tidak ada orang lain?" ucap Zaza mondar mandir seperti mencari sesuatu. Rion dan Leo hanya diam memperhatikan tingkah bodoh gadis itu.


"Aku memang ingin membunuh mu, tapi tidak sekarang." gumam Rion.


"Dimana pintunya, aku bilang tunjukkan dimana pintunya!"


"Diam dan kita akan keluar dari sini. Tapi sebelum itu kau harus dengarkan aku."


"Ya, katakan."


"Sekarang kita sudah berada di pulau X, ingat kau harus mengikutiku. Jangan menjawab pertanyaan apapun yang dilontarkan padamu biar aku yang menjawabnya."


"Kapan kita kesini? Dann--------."


melihat sorot mata Rion, Zaza tidak melanjutkan pertanyaannya. Dia mulai melembut kan suaranya.


"Baiklah, sekarang tunjukkan dimana pintunya, aku mau keluar."


Leo membukakan pintu, angin segar langsung menerpa wajah Zaza. Meski dengan rambut berantakan dia tetap terlihat cantik.


"Wahhhhh,, aku benar benar ada di pesawat? kenapa tidak membangunkanku tadi, menyebalkan. Aku jadi tidak bisa merasakan seperti apa rasanya naik pesawat."


"Bersihkan wajahmu, liurmu sangat menjijikkan."


"Biarkan saja, semua bayi juga mengeluarkan liurnya saat tidur. Mereka tetap kelihatan menggemaskan."


"Itu bayi dan kau????"


"Beby mu."


Zaza memasang wajah sok imut dan puppy eyes didepan Rion.


"Leo, ayo." ajak Rion memilih mengabaikan gadis itu.


Rion yang sampai lebih cepat dari tamu lainnya.Sehingga mendapatkan sambutan langsung dari Baron.


"Selamat datang tuan Rion, terimakasih sudah datang. Kedatangan anda suatu kehormatan bagi kami. Anda yang seorang pebisnis besar mau menyempatkan waktunya untuk hadir disini, sekali lagi terima kasih." ucap Baron.


Sambutan dengan basa basi yang panjang bagi Rion.


"Terimakasih sudah mengundangku." balas Rion, membalas uluran tangan Baron.


Baron melirik penuh selidik ke arah Zaza. Tidak sempat menanyakannya, Rion langsung menarik tangan Zaza.


"kami sangat lelah, bisakah kami istirahat dulu." lanjut Rion.


Dengan senyum lebar Baron memerintahkan kan pelayan untuk mengantarkan Rion kesebuah rumah terpisah dari villa. Tidak terlalu besar tapi dipenuhi fasilitas fasilitas mewah didalamnya.


"Wahhhhh, ini benar benar luar biasa." ucap Zaza penuh kekaguman.


"Kau menyukainya, ingin tinggal disini?" tanya


Rion.


"Apa boleh?"


"Aku bisa membantu mu tinggal disini. Tenang saja, keinginan mu akan tercapai." gumam Rion dengan sangat pelan.


*D**i-like ya!, yang penting ada jejak. jangan buly


mending kasih saran*.