Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Aku Mencintaimu



Sony mendongak lalu berdiri, "Gina." panggil Sony.


Airmata Gina mengalir deras melihat kondisi kakaknya yang kini terlihat sangat memprihatinkan terlihat dari wajahnya yang terlihat tidak bersemangat dan pakaian yang tidak terlihat rapi, kemana Kak Sony yang terlihat tampan dan banyak digemari wanita-wanita? mana Kak Sony yang selalu rapi dalam berpakaian? Gina menggelangkan kepalanya melihat keadaan kakaknya kini.


"Maafkan Kakak, Kakak sudah menyusahkanmu dan memperalatmu untuk balas dendam kakak."


"Kakak tahu jika Putra adalah sepupu Hasan dan Kakak sengaja berpura-pura menculikmu agar Putra mau menyelamatkanmu dan mau membantu Kakak untuk membalas dendam kepada Hasan." jelas Sony lalu menunduk sedih.


Putra dan Gina terkejut dengan pengakuan Sony dan itu berarti penculikan itu adalah sandiwara dan rencana yang sudah Sony rencanakan.


"Berarti apa yang Kakak bilang kalau Kakak bukan Kakakku itu tidak benarkan?" tanya Gina meyakinkan firasarnya bahwa kakaknya saat itu hanya berbohong.


Sony mengangguk dan Gina semakin sedih, "Kenapa Kakak lakukan itu?" Gina menghampiri kakaknya lalu menggenggam tangan kakaknya yang kini sedang menggenggam jeruji besi.


"Maafkan Kakak, itu semua agar Putra percaya bila Kakak sedang menculikmu." Gina menggelengkan kepalanya.


"Jangan lakukan itu lagi Kak, Gina sayang sama Kakak cuman Kakak yang Gina punya sekarang." Gina menangis dan Sony membelai kepala Gina dibalik jeruji besi.


"Maafkan Kakak."


****


Hasan masuk kedalam kamarnya dan mendapati istrinya sedang memasukkan pakaian-pakaian kedalam koper.


"Kamu mandilah, biar Aku lanjutkan." perintah Hasan.


"Tidak perlu." acuh Mawar.


Mendengar penolakan Mawar, Hasan langsung pergi kekamar mandi dan itu sukses membuat Mawar semakin terluka melihatnya, Hasan yang biasanya selalu lemah lembut dengannya bahkan perhatiannya yang selalu membuat hati Mawar berdesir kini tidak dia rasakan lagi dan itu karena kesalahan yang tidak dia mengerti.


Kepiluan hati Mawar hanya bisa Mawar pendam dalam hati dan mungkin airmatanya kini sudah habis hingga tidak mengalir atau mungkin Mawar yang berpura-pura untuk kuat hingga menahan airmata itu agar tidak jatuh.


Didalam kamar mandi Hasan tersenyum saat air shower membasahi tubuhnya, hatinya sebenarnya sangat kasihan melihat wajah istrinya yang sungguh terlihat memelas dimata Hasan tetapi demi rencananya Hasan menahan tangannya untuk memeluk menahan perhatiannya untuk menenangkannya menahan semua yang Hasan rasakan demi rencana yang sudah dia bangun.


"Maafkan Aku Cinta, Aku janji hanya hari ini dan besok semua akan baik-baik saja." batin Hasan.


Selesai mandi Hasan berganti pakaian, pakaian yang dipakai Hasan saat ini cukup santai hanya memakai kaos berwarna hitam dan celana jens namun sungguh terlihat sangat menawan bagi siapapun yang melihatnya kini termasuk Mawae yang kini sedang duduk disisi ranjang dan melihat suaminya yang sedang berpakaian dan itu berhasil membuat Mawar menganggumi suaminya didalam hati.


"Mandilah, karena kita akan berangkat 1jam lagi." perintah Hasan.


"Aku tidak mau jika Kamu masih belum mau berkata apa salahku hingga Kamu acuhkan Aku seperti ini." tolak Mawar.


"Jangan membantah perintahku!" tegas Hasan dan menatap istrinya dengan tatapan mengancam.


Tatapan Hasan berhasil membuat Mawar terluka hingga dirinya berlari kearah kamar mandi dan menangis didalam kamar mandi cukup lama hingga Hasan mengetuk kamar mandi dan menyuruh Mawar agar cepat keluar, sebenarnya apa kesalahan Mawar? apa yang sedang Hasan rencanakan? tidak tahukah dia jika perubahan sikapnya membuat hati seorang wanita hancur berkeping-keping?


Setelah berdandan sedikit kini Mawar dan Hasan sudah bersiap untuk pergi, Hasan mendahului Mawar, didalam hati Mawar masih bertanya-tanya dan menerka-nerka kesalahan apa yang sudah dia lakukan hingga sikap Hasan berubah seperti ini, dan jawabannya? sungguh Mawar tidak tahu dan tidak menemukan jawabannya karena sebelum sikap Hasan berubah semua masih seperti biasa dan tidak ada kesalahan yang Mawar buat.


"Kita pergi dulu Eyang, Mah." Hasan menyalimi eyang Grissam dan Ellois juga Rumi.


"Kalian hati-hati ya dan segera bawa kabar baik saat pulang nanti." celoteh Rumi.


Mawar yang melihat suaminya bisa ramah dan tersenyum kepada orang lain semakin membuat hatinya teriris karena sikap itulah yang Mawar rindukan dari sang suami hari ini, hari ini sungguh terasa hari yang sangat panjang bagi Mawar karena sikap sang suami.


"Hati-hati ya sayang." pesan Ellois kepada Mawar yang tadi berpamitan.


Mawar mengangguk sambil tersenyum memperlihatkan semua baik-baik saja, Hasan yang melihat wajah istrinya yang sedang memaksakan senyumnya menahan tawanya.


Ellois, Grissam dan Rumi mengantar Hasan dan Mawar sampai pintu depan, "Assalamualaikum." salam Hasan.


"Wa'alaikumsalam." jawab Ellois, Grissam dan Rumi serempak.


Hasan menaiki jet pribadi milik Grissan yang sudah berada dihalaman mansionnya, Mawar yang hatinya sedang bersedih tidak terlalu terkejut dengan keberaadaan jet pribadi itu.


"Sudah siap Tuan Muda." tanya sang pilot.


Ellois, Grissam dan Rumi melambaikan tangannya kepada Hasan dan Mawar, Hasan dan Mawar pun membalas lambaian tangan mereka dari balik kaca.


****


London Combrige


18jam berlalu dan kini mereka sampai disebuah mansion besar, Mawar terlihat takjub dengan mansion itu dan bertanya-tanya mansion siapa? apa milik suaminya? Mawar menerka-nerka sendiri.


Pintu Jet terbuka Hasan dan Mawar turun daru Jet lalu mengucapkan terimakasih kepada sang pilot. Hasan mengambil sesuatu dari saku celananya, "Tutup matamu dulu." Hasan memasangkan penutup mata untuk Mawar.


"Apa ini San?" tanya Mawar sambil meraba-raba penutup matanya.


"Kejutan." bisik Hasan.


Bisikan Hasan berhasil membuat hati Mawar berdesir dan merasakan kembali cinta Hasan yang kemarin tidak dia dapatkan sama sekali dan hari ini? jangan tanyakan lagi bagaimana perasaan Mawar saat ini karena itu sungguh membahagiakan.


Hasan menuntun Mawar untuk berjalan bersamanya, pintu mansion sudah terbuka sebelum Hasan memencet bel mansion itu, seluruh pelayan berbaris dan menundukkan kepalanya kepada Hasan dan Mawar.


Hasan tersenyum dan membalas perbuatan mereka dengan anggukan kepala dan ucapan terimakasih, "Jangan lepaskan genggamanku." lirih Hasan yang berhasil membuat Mawar semakin erat menggenggam tangan suaminya.


"Tunggu sini." perlahan Hasan melepaskan tangan istrinya yang kini sedang ketakutan karena genggamannya dilepaskan oleh Hasan.


Kini Mawar dan Hasan berada dihalaman belakang mansion Grissam yang terdapat banyak bunga-bunga yang sedang bermekaran yang membuat tempat itu bisa dibilang seperti kebun bunga.


"Buka matamu!" teriak Hasan.


Mawar langsung membelalakan matanya lalu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Mawar terkejut ketika melihat pemandangan yang sungguh indah dan romantis menurut Mawar, ditengah-tengah bunga yang sedang bermekaran Mawar melihat lilin yang berlambang hati dan ditengahnya ada nama dirinya dan juga suaminya belum lagi ucapan ulang tahun yang terpasang dibalon udara yang sangat banyak, disisi kanan ada sebuah meja dan kursi yang hanya dua dan diatas mejanya ada bunga-bunga mawar merah yang berdebaran, lilin diatasnya menambah kecantikan meja itu.


Disisi kirinya ada sebuah layar yang kini menampilkan ucapan selamat ulangtahun dari keluarganya, Melati, Mamah, Ayahnya yang dulu sudah merawatnya, Eyang Grissam dan Ellois tak ketinggalan Zaki, Putra dan ibunya.


Mawar terkejut bukan main, dirinya tidak mampu berkata-kata untuk menggambarkan kebahagiaannya yang kini sedang dia rasakan semua seperti mimpi bagi Mawar.


Hasan datang sambil membawa berbagai bunga Mawar yang sudah di rangkai hingga terlihat sangat indah.


"Selamat ulangtahuh Cinta." ucap Hasan ketika sudah sampai didepan Mawar dan memberikan rangkaian bunga Mawar itu kepada istrinya.


Mawar mengambil bunga Mawar itu dan langsung memeluk Hasan, Hasan membalas pelukan istrinya lalu membelai kepala istrinya dengan kasih sayang yang kini sedang menangis dipelukan Hasan.


"Kamu jahat!" Mawar memukul dada Hasan pelan.


Hasan terkekeh, "Maafkan Aku Cinta." Hasan mencium kepala istrinya.


"Apa Kamu suka?" Mawar mengangguk semangat.


"Berarti Kamu harus berterimakasih kepada mereka." Hasan menunjuk Jefry, Lusi dan juga para pelayan yang berdiri dibelakang Jefry dan Lusi.


"Selamat ulangtahun Nona." mereka serempak mengucapkan ulangtahun kepada Mawar.


"Terimakasih." Mawar terharu dengan keadaan ini.


Jefry, Lusi dan para pelayan langsung dari tempat itu dan kini hanya tinggal Hasan dan Mawar.


Hasan memeluk pinggang istrinya lalu mendekatkan wajahnya kewajah istrinya hingga jarak mereka sekarang hanya beberapa senti, Hasan memejamkan matanya lalu mencium bibir istrinya dengan lembut, Mawar terhanyut lalu mengalungkan tangannya keleher Hasan..


"Aku Mencintaimu." bisik Hasan lalu kembali mencium bibir istrinya.


TAMAT 😊😊😊😊


#Hayo mau bikin sesaon 2 gak??? yang mau tunjuk jari 😚😚😚