Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Ayo Kita Lakukan Lagi



Edisi Full Hasan dan Mawar yang lain besok 😄😄😄😄


Mawar mengerjapkan matanya sambil meringis karena merasa perih pada daerah kewanitaannya, Mawar menyentuh perutnya karena merasa ada sesuatu yang berat yang melingkar diperutnya, Mawar menoleh kesamping karena ternyata benda berat itu adalah tangan Hasan yang sedang memeluk perutnya, "Aku lupa kalau Aku sekarang sudah menjadi istri lelaki tampan ini." guman Mawar, senyuman diwajahnya mereka melihat wajah Hasan yang sedang tertidur pulas.


Mawar tersenyum malu membayangkan pengalaman pertamanya dengan seorang lelaki yang kini menjadi suaminya.


Mawar mengangkat tangan Hasan karena dirinya ingin kekamar mandi untuk membersihkan badannya, "Mau kemana, hem." bukannya tangan Hasan lepas namun malah semakin mengeratkan pelukannya hingga wajah Mawar kini berada didada bidang Hasan yang sedang tidak memakai pakaian.


Wajah Mawar langsung bersemu merah, Mawar dapat merasakan harumnya tubuh Hasan kini, "Mengapa harum sekali." Mawar tersenyum kecil dibalik dada Hasan.


"Aku ingin kekamar mandi." lirih Mawar.


"Tidak usah." Hasan menggerakkan kakinya agar melingkar dikaki Mawar.


Mawar mendongakan kepalanya, "Nanti kalau Aku mengompol disini bagaimana?" Hasan langsung membuka matanya lalu memandang Mawar.


"Mau Aku temani?" tawar Hasan, Mawar mengangkat alisnya.


"Tidak usah, lepaskan Aku." Mawar berusaha melepaskan tangan Hasan yang melingkar diperutnya.


Hasan mengendurkan pelukannya lalu beranjak dari kasur dan memakai pakaiannya yang dia ambil dari lemari, Mawar menutup matanya karena Hasan berjalan tanpa menggunakan pakaian, nafas Mawar naik-turun karena ulah Hasan, selesai memakai pakaian Hasan tersenyum usil melihat istrinya yang malu-malu melihatnya.


"Kenapa menutupi wajahmu begini?" Hasan membuka tangan Mawar, Mawar masih memejamkan matanya.


"Pakai bajumu." Hasan tertawa, Mawar membuka matanya dan melihat Hasan sudah memakai pakaian.


"Ih!" Mawar memukul lengan Hasan kesal.


Hasan membelai pipi Mawar, "Ayo katanya mau kekamar mandi, kenapa masih tiduran. Apa mau mengulangi kejadian semalam." Hasan mengedipkan satu matanya sambil tersenyum menggoda istrinya.


Wajah Mawar seketika merah seperti tomat, "Ih..." Hasan kembali tertawa.


Mawar duduk sambil meringis karena rasa perih yang kembali dia rasakan saat dirinya bergerak, Hasan memperhatikan wajah istrinya dan merasa bersalah, "Apa masih sakit?" Mawar menganggukan kepalanya.


"Maafkan Aku Sayang, biar Aku gendong." tawar Hasan namun Mawar menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu, Aku bisa sendiri Sayang." Mawar tidak mau Hasan khawatir.


Hasan tidak mendengarkan perkataan Mawar, Hasan lebih percaya dengan raut wajah Mawar yang terlihat menahan sakit, dengan gagahnya Hasan menggendong istrinya kekamar mandi walaupun Mawar sempat menolak dan meronta namun pada kenyataannya hati seorang istri akan merasa bahagia saat itu, begitu juga yang Mawar rasakan.


^


Diruang makan 3orang sedang bercengkrama, mereka bercerita, tertawa hingga membuat para pelayan yang berada didapur sangat senang mendengarnya karena mansion itu tidak sepi seperti biasanya.


Grissam menoleh jam tangannya dan jam menunjukkan pukul 09.00 pagi, "Kayaknya pengantin baru sangat menikmati malam pertamanya, sampai-sampai mereka belum turun untuk sarapan." mendengar ucapan Grissam, Ellois dan Rumi saling pandang lalu tertawa.


"Kita pun pernah merasakannya, biarkan saja kalau lapar nanti juga turun, biar pewaris Grissam berikutnya cepat jadi." celoteh Ellois.


"Aku juga tidak sabar rasanya menggendong bayi lagi." sambung Rumi, tangannya mengambil potongan buah apel yang sudah dipersiapkan oleh pelayan.


"Apalagi Aku." wajah Ellois berubah pias mengingat dirinya tidak pernah menggendong Hasan sejak bayi.


Rumi menggenggam tangan Ellois karena Rumi tahu apa yang sedang Ellois rasakan, sama-sama merasakan kehilangan namun Ellois juga merasakan penyesalan.


"Assalamualaikum, Eyang, Mamah." suara Hasan dan Mawar membuyarkan kesedihan Rumi dan Ellois.


"Wa'alaikumsalam, anak dan menantu Mamah." Rumi langsung berdiri dan menghampiri Hasan dan Mawar.


"Tumben kesiangan, biasanya bangun paling pagi." ledek Grissam, Hasan tersenyum simpul dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sedangkan Mawar menunduk malu.


"Sudah ayo duduk." perintah Ellois yang diangguki oleh Hasan dan Mawar.


Rumi kebelakang untuk meminta pelayan menyediakan makanan untuk Hasan dan Mawar, pelayan pun dengan sigap mempersiapkannya, setelah itu Rumi langsung kembali dan berkumpul bersama mereka.


"Eyang punya hadiah untuk kalian." Hasan dan Mawar saling pandang.


"Apa Eyang."


Grissam mengeluarkan 2tiket keluar negeri, "Tempat paling bagus untuk bulan madu cucu Eyang." Hasan mengambil tiket itu dari tangan sang kakek.


"Maldives?" Grissam, Ellois dan Rumi kompak menganggukkan kepalanya sambil tersenyum sedangkan Mawar merasa kaget tidak percaya.


"Kalian bisa pergi kepulau Vadhoo, kalau kalian beruntung kalian akan melihat pemandangan yang sangat indah yang tidak pernah terlupakan nantinya." ucap Ellois dengan semangat.


"Bulan madu dikamar saja Eyang." ceplos Hasan, wajah Mawar seketika merah merona namun hatinya ingin sekali menjewer telinga Hasan karena sudah bicara sekenanya.


"Kalau kalian bulan madu lebih enak San, coba aja." goda Rumi lalu menadang Ellois.


"Ih Mamah, apaan sih!" Mawar malu karena menjadi bahan ledekan eyang dan ibunya.


"Sudah kalian pergi saja, kalian bisa melakukan sebanyak apapun tanpa diganggu nanti." celoteh Ellois yang disambut senyuman manis Hasan.


"Kalau begitu hadiah Eyang, Hasan terima dengan senang hati." Hasan langsung menerima setelah mendengar celotehan eyang putrinya.


"Nah gitu dong, semoga nanti kalau jadi kembar 3anaknya." Mawar membelalakan matanya mendengar doa ibunya.


"Mamah."


"Biar kita semua tidak berebut menggendongnya." jelas Rumi yang langsung diangguki oleh Grissam dan Ellois.


"Melati kan juga sedang hamil Mah." tutur Mawar.


"Iya tapi biar rame, Melati juga Mamah doakan biar bisa kembar juga, kan rame tuh rumah Mamah." ucap Rumu sekenanya.


"Mamah nih." Mawar memajukan bibir bawahnya karena kesal.


"Selesai makan cepat beres-beres keperluan kalian, karena nanti sore kalian sudah harus berangkat." tutur Grissam.


"Siap Eyang." Hasan mengangkat tangannya diatas alisnya memberi hormat kepada Grissam.


"Kenapa suamiku jadi menyebalkan seperti ini?" umpat Mawar dalam hati.


Selesai makan Hasan dan Mawar kembali kekamar dan menjalankan perintah eyangnya untuk menyiapkan segala keperluannya.


"Sayang..." panggil Hasan kepada Mawar.


"Iya." jawab Mawar tanpa menoleh kearah Hasan karena dirinya sedang mengambil pakaian suaminya dan dirinya didalam lemari.


Mawar bingung karena Hasan tidak berbicara setelah memanggilnya, Mawar menoleh kebelakang, "Astagfirullah, ih apaan sih!" Mawar kaget karena Hasan tiba-tiba dibelakangnya dan mengejutkannya.


Hasan tertawa, sedangkan Mawar memajukkan bibir bawahnya karena kesal dengan ulah suaminya, Mawar pergi dari hadapan suaminya dan menaruh pakaian yang dia ambil didalam koper.


Hasan mendekati Mawar dan memeluknya dari belakang, Mawar sedikit terkejut namun hatinya merasa senang, "Manja sekali." gumam Mawar namun masih terdengar ditelinga Hasan.


Hasan tersenyum dan tambah mengeratkan pelukannya, "Ayo kita lakukan lagi." bisik Hasan ditelinga Mawar.


Mendengar bisikan Hasan jantung Mawar menjadi tidak karuan apalagi bisikan itu terdengar sangat merdu hingga Mawar merasakan panas-dingin mendengarnya.


"Ini belum selesai Sayang." ucap Mawar menutupi detak jantungnya yang semakin cepat dia rasakan.


"Selesaikan nanti." bisik Hasan lagi, tangannya kini sudah tidak terkontrol namun Mawar dengan segera menahan tangan Hasan.


"Selesaikan dulu." pinta Mawar.


"Nanti saja." kekeh Hasan, Mawar menghembuskan nafasnya.


"Sayang..." bisik Hasan.


Mawar menggerakkan kepalanya karena mereasa geli, "Geli Sayang." Hasan semakin merasa panas pada tubuhnya karena tidak tahan lagi dengan godaan istrinya.


Saat Hasan semakin gila tiba-tiba ponselnya berdering dan membuatnya berhenti, "Angkat dulu, siapa tahu penting Sayang." dengan kesal Hasan berjalan kearah meja kecil.


"Jefry! awas kalau tidak penting." Mawar terkekeh mendengar umpatan suaminya, Mawar memeluk suaminya dari belakang untuk memberikan ketenangan, Hasan tersenyum dan mengecup bibir istrinya sekilas lalu mengangkat ponselnya.


"Apa!"



#Ada apa hayo 😂😂😂😂


*Rese lu thor ! kebiasaan 😠😠


#Hahahah 🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃


*Gak usah kabur lagi lu thor 😡😡


#Enggak kakak zeyeng, ay disini kok 😄😄😄


#Sudah jangan marah-marah nanti cepet keriput 😂😂😂😂