
Sampai dirumah, Zaki dan Melati langsung masuk kedalam karena pintu tidak tertutup, terdengar suara isakan tangis seorang perempuan dan seorang lelaki yang berusaha untuk menenangkan sang wanita, mereka adalah Ayu dan Putra
"Ya Allah, Mamah." Melati menghampiri Ayu yang sedang menangis dan duduk disampingnya.
"Mah.." Zaki menggantikan Putra yang saat itu duduk disamping ibunya.
"Ada apa, Mah?" Melati memeluk mertuanya untuk menenangkan isak tangisnya.
"Papah...belum pulang dari kemarin, Zak. Mamah takut terjadi apa-apa sama Papah."
"Dikantor tidak ada, Kak. dan teman-temannya juga tidak ada yang tahu kemana Papah pergi, Putra sudah mencoba menghubungi nomer Papah berkali-kali tapi tetap tidak Akfit dari kemarin, Kak." Putra menjelaskan, terlihat Putra juga merasakan kesedihan terlihat dari wajahnya.
"Mamah tenang dulu ya? Zaki akan berusaha untuk mencari Papah." Zaki menggenggam tangan sang ibu.
"Mas...lebih baik Kamu dan Putra cari Papah sama-sama, biar Melati yang menemani Mamah dirumah." usul Melati.
Zaki mengangguk, "Iya Dek, terimakasih ya Sayang sudah mau membantu keluarga Mas." Melati tersenyum lalu menganggukan kepalanya.
"Mah...kita pergi dulu ya, doakan kita ya, Mah." Zaki dan Putra menyalimi tangan ibunya sebelum pergi.
"Hati-hati ya Nak." pesan Ayu sebelum anak-anaknya pergi.
"Makasih ya Mel, sudah mau temani Mamah." Ayu bersyukur Melati bisa menjadi menantunya.
"Itu sudah tugas Melati, Mah." Melati tersenyum.
^
Zaki mengendarai mobilnya entah kemana, Zaki dan Putra berusaha mengingat-ingat tempat-tempat yang sering dikunjungi papahnya, dari mulai restoran, butiq, mall, cafe dan lainnya, tapi hasilnya tidak ada petunjuk sama sekali kemana papahnya pergi.
Zaki dan Putra berhenti disebuah cafe, Zaki dan Putra merasa sangat lelah karena sudah setengah hari mereka mencari keberadaan orangtuanya.
"Kita istirahat dulu Put, Kakak capek sekali." ucapan Zaki diiyakan oleh Putra.
Mereka duduk dan memesan makanan dan minuman untuk mengisi kekosongan perutnya yang sudah sangat lapar sekali.
"Habis ini kita lanjut kemana ya, Put? ucap Zaki bingung.
Putra diam berpikir, cukup lama Putra berpikir mencoba mengingat-ingat orang-orang yang sering orangtuanya kunjungi, "Coba kerumah Hasan, Kak!" seru Putra membuat Zaki sedikit terkejut.
"Kau ini! bikin kaget Kakak saja." Zaki memegangi dada yang terasa kaget.
Putra terkekeh, "Kakak melamun sih."
"Kakak tidak melamun tapi berpikir!" seru Zaki.
"Kalau begitu, habis ini kita kerumah Hasan." Putra mengiyakan.
Setelah mereka makan dan minum, mereka langsung beranjak dari cafe lalu menuju kerumah Hasan.
Jarak dari cafe kerumah Hasan tidak memakan waktu lama karena jalanan yang mereka lalui tidak ramai seperti biasanya, pantas saja karena hari sudah cukup malam saat itu.
Sampai dirumah Hasan, Zaki dan Putra turun dari mobil, Zaki memencet bel yang ada disamping pintu.
Putra melihat sekeliling rumah Hasan dengan begitu kagum karena rumah Hasan saat ini bak istana yang cukup besar, "Kak, rumah Hasan kaya istana ya? kenapa dari dulu gak tinggal disini?" tanya Putra.
"Mereka punya cara untuk mendidik Hasan, Put." jawab Zaki yang sebenarnya juga merasa kagum dengan rumah Hasan itu saat pertama kali sampai tadi.
"Salut Putra sama Om dan Tante, Kak. bisa hidup sederhana padahal punya segalanya seperti ini." puji Putra, lalu pintu terbuka dan tampaklah ketua pelayan dari rumah tersebut.
"Maaf, Kalian cari siapa?" tanya ketua pelayan dengan ramah.
"Kami sepupunya Hasan, ingin bertemu dengan Hasan sebentar, ada kepentingan." jawab Zaki dengan ramah pula.
Pelayan itu membungkukkan setengah badannya, "Kalau begitu tunggu sebentar, Tuan." ketua pelayan itu mempersilahkan Zaki dan Putra untuk duduk diruang tamu lalu dia pergi kekamar Hasan.
Ketua pelayan mengetuk pintu kamar Hasan, "Ada apa Paman?" Hasan memanggil ketua pelayang dengan sebutan paman karena umurnya seperti Panji.
"Ada yang mencarimu Tuan Muda, katanya sepupu Tuan Muda." ketua pelayan membungkukkan setengah badannya.
"Dua orang laki-laki, Paman?" tanya Hasan memastikan.
"Iya, Tuan Muda"
"Saya akan turun kebawah, Paman. terimakasih dan istirahatlah." ketua pelayan itu menuruti perintah Hasan, dia pun kembali kekamarnya.
Zaki dan Putra langsung berdiri melihat Hasan berjalan kearahnya, "Ada apa, Kak, Put?" tanya Hasan yang tiba-tiba hatinya merasa tidak enak.
"Apa, Papah datang kesini, San?" tanya Zaki.
"Om Panji?" Zaki dan Putra menganggukan kepalanya dengan kompak.
"Tidak, Kak. memang ada apa?" hati Hasan semakin merasa kecemasan.
"Papahku tidak pulang dari kemarin, San." pernyataan Putra membuaf Hasan terkejut.
"Tidak pulang?"
"Kita sudah mencarinya kemana-mana, tapi tidak bisa menemukan Papah." Zaki menunduk sedih.
Hasan langsung mengeluarkan ponselnya didalam saku celananya, "Turun kebawah, Jef." ucap Hasan dan langsung mematikan ponselnya.
Jefry dengan segera bangun dari tempat tidurnya lalu dengan segera pula dia turun kebawah sesuai perintah tuannya.
Jefry terdiam tidak jauh dari ruang tamu karena melihat Zaki dan Putra yang tidak lain anak dari orang yang sedang dia tahan dimarkas.
Jefry menghampiri mereka, "Tuan Muda." Jefry membungkukkan setengah badannya.
Hasan berdiri, "Jef! tolong cari Paman. dia katanya tidak pulang dari kemarin, mereka juga sudah mencarinya tapi tidak ketemu." ucap Hasan sedikit panik.
Jefry memandang Zaki dan Putra bergantian, Jefry tidak tahu harus jawab apa.
"Ada tamu?" suara Grissam tiba-tiba muncul.
"Eyang belum tidur?" tanya Hasan.
"Belum San, mereka siapa?" Grissam menunjuk Zaki dan Putra dengan tatapan mata.
"Mereka sepupu Hasan, Eyang. sedang mencari Om Panji, katanya dari kemarin dia tidak pulang dan mereka sudah mencarinya kemana-mana tapi belum ketemu Om Panji dimana." Hasan menjelaskan kepada Grissam.
Grissam diam dan menoleh kearah Jefry, mendengar nama Panji, Grissam jadi teringat dengan nama pembunuh anak dan menantunya, Jefry mengedipkan matanya mengerti dengan tatapan Grissam.
Grissam mengerti, "San, Eyang minta tolong sebentar untuk mengambilkan ponsel Eyang dikamar ya, biar Eyang suruh orang buat cari orangtua mereka." Hasan mengiyakan dan segera pergi kekamar kakeknya, Grissam sebenarnya mencari alasan agar Hasan pergi dari situ agar Grissam dapat berbicara kepada anak pembunuh itu.
Hati Zaki tiba-tiba merasa tidak enak karena sekilas melihat wajah Grissam yang tidak bersahabat, namun Zaki berusaha untuk tenang.
"Pergilah dan jangan cari orangtua kalian lagi!" perkataan Grissam membuat Zaki dan Putra langsung melihat kearah Grissam.
"Maksud, Tuan?" tanya Zaki semakin merasakan kecemasan didalam hatinya.
Grissam terdiam dan menatap mereka satu-persatu, Grissam yang menjadi ketua mafia dikotanya menjadikan dirinya tidak memandang melas jika berhadapan dengan para musuhnya walaupun Zaki dan Putra tidak bersalah sekalipun.
"Temui ayah kalian besok malam untuk yang terakhir kali." ucap Grissam dengan lirih namun semakin membuat hati Zaki dan Putra merasa kecemasan yang luar biasa, apa katanya tadi? terakhir kali? sungguh Zaki dan Putra merasakan tubuhnya lemas karena ucapan Grissam itu.
"Mak-sud Tu-an apa?" ucap Putra gugup.
"Nanti kalian juga akan tahu, datanglah besok malam jam9, Jefry akan memberikan alamatnya kepada kalian!" seru Grissam tanpa memandang mereka dengan kasih.
"Sekarang pergilah!" usir Grissam.
Zaki dan Putra saling pandang, karena takut dengan Grissam mereka pun pamit dan jeluar dari rumah Hasan dengan perasaan yang masih diliputi penasaran akan kata-kata Grissam tadi.
"Firasat Putra jadi tidak enak, Kak." ujar Putra ketika sudah duduk didalam mobil.
Zaki terdiam, didalam hati Zaki pun merasakan apa yang Putra rasakan, Zaki mencoba mengusir bayangan dan dugaan yang bermacam-macam didalam pikirannya tentang keberadaan dan kondisi papahnya.
#Aing ketiduran jadi lupa up jam 7malam 😧😧😧
*alesan aja lu thor 😠😠😠
#beneran kakak-kakak zeyeng 😣😣
*gak percaya aku thor 😬😬😬
#suer gak bo'ong 😐😐😐
#Jangan marah ya kakak-kakak zeyeng harap maklum 😚😚😚😚