Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Masih ada Aku dan Jefry.



Hasan keluar dari ruangan Nadine dan hatinya selalu berdoa kepada Allah agar Nadine bisa diselamatkan, hati Hasan tak henti-hentinya bertasbih menyebut nama Allah agar hatinya menjadi tenang.


Jefry mengusap pundak Hasan untuk memberikan kekuatan, "Allah pasti dengarkan doa Tuan Muda." ucap Jefry yakin.


Pintu ruangan Nadine terbuka dan keluarlah Dokter Nisa, Hasan dan Jefry segera berdiri dan menghampiri Dokter Nisa, "Bagaimana Dokter?" tanya Hasan wajahnya terlihat khawatir.


Dokter Nisa tersenyum menanggapi pertanyaan Hasan, "Alhamdulillah ini sebuah keajaiban Tuan, Detak jantung Nona Nadine berfungsi kembali dan kami juga bersyukur dia bisa melewati masa kritisnya, kita tinggal tunggu Nona sadar ya Tuan, terimakasih sudah membantu kami dengan doa, saya permisi dulu." setelah menjelaskan Dokter Nisa pun pergi meninggalkan ruangan Nadine diikuti oleh susternya.


"Alhamdulillah Ya Allah." Hasan mengusapkan kedua tangannya diwajahnya setelah mengucapkan syukurnya, Jefry pun melakukan hal yang sama dengan Hasan.


Hasan masuk kedalam ruangan Nadine dengan perasaan bahagia menyelimuti hatinya karena doanya dikabulkan oleh Allah, Hasan tak henti-hentinya mengucap syukur dalam hatinya kepada Allah yang telah mendengarkan doa-doanya.


Hasan duduk disisi ranjang dan Jefry setia berdiri dibelakang Hasan, Hasan tersenyum memandang wajah Nadine yang masih menutup matanya, "Sadarlah, aku tahu kamu wanita yang kuat." ucap Hasan.


"Bangunlah, aku akan membawamu kemanapun kamu mau, yang akan membuat hatimu bahagia aku akan lakukan itu." janji Hasan kepada Nadine.


Jefry tertegun mendengar setiap perkataan yang keluar dari bibir tuan mudanya, bagaiman dia bisa selalu berfikir kebahagiaan orang lain bila dirinya saja sejak kecil sudah hidup menderita? Jefry jadi teringat dengan kedua orangtua Hasan yang begitu pedulu dengan orang lain dan rasa itu diturunkan oleh anak satu-satunya, "Aku tambah bangga kepadamu Tuan Besar, lihatlah anakmu ini dia sepertimu dan Nyonya." batin Jefry teringat mendiang kedua orangtua Hasan yang sudah menolongnya hingga menjadikan Jefry seperti sekarang.


"Nadine..." Hasan beranjak dari duduknya saat melihat tanda-tanda Nadine akan sadar, Jefry juga melihatnya.


Perlahan Nadine membuka matanya, "Tuan..." ucap lirih Nadine.


Hasan tersenyum senang melihat Nadine bisa sadar, "Aku disini." saut Hasan di dekat dengan kepala Nadine.


Perlahan Nadine melihat Hasan yang berada disisi kanannya, Hasan tersenyum ketika Nadine menoleh kearahnya, "Terimakasih sudah mau bertahan." Hasan menatap Nadine terharu.


Nadine menatap Hasan cukup lama membuat Hasan bertanya-tanya dan bingung, "Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Hasan duduk kembali kini hatinya tenang karena melihat Nadine sadar.


"Apa Tuan baik-baik saja." tanya Nadine masih dengan suara lirihnya.


"Kamu yang terluka kenapa bertanya keadaanku." Hasan memangku dagunya dengan tangannya disisi ranjang sambil menatap Nadine.


"Aku hanya bertanya." Nadine membuang mukanya karena malu dilihat oleh Hasan, Jefry tersenyum melihat tingkah Nadine yang terlihat malu-malu.


"Nadine..." perlahan Nadine melihat Hasan, "Terimakasih." ucap Hasan saat melihat Nadine menoleh kearahnya.


"Untuk apa?" tanya Nadine berpura-pura tidak tahu.


Hasan tersenyum simpul, "Untuk kebaikanmu yang sudah menggantikan posisiku yang seharusnya aku yang berbaring disini." Hasan menatap Nadine dengan serius.


"Aku akan membahagiakanmu, aku akan menuruti semua permintaanmu, aku janji." ucap Hasan serius membuat Nadine sedikit terkesiap atas perkataan Hasan.


"Aku melakukannya ikhlas Tuan dan tidak mengharapkan balasan apapun." ucap Nadine yakin.


"Tuan yang sudah banyak membantu dan menolongku, apa yang aku lakukan tidak ada apa-apanya jika dibanding pertolongan Tuan padaku." Nadine menatap langit-langit ruangan itu.


Airmatanya mengalir ketika mengingat betapa malangnya hidupnya, Nadine membayangkan penderitaannya sejak dia masih kecil, lebih sakit lagi ketika saat ini dia sedang berbaring dan hanya ada orang lain yang berada disisinya, "Kenapa Tuan memintaku untuk bertahan? jika hidupku ini sudah tidak ada artinya untuk orang-orang yang kusayangi." ucap Nadine lalu melihat kearah Hasan sambil menangis.


"Bahkan disaat aku membutuhkan kasih sayangnya aku tak pernah mendapatkannya." lanjut Nadine, airmatanya semakin deras mengalir.


Hasan tertegun mendengar keluhan Nadine, "Kamu masih punya aku dan Jefry." Nadine melihat kearah Hasan lalu berpindah melihat Jefry.


"Kalian juga pasti akan meninggalkan ku kelak." ucap Nadine tidak percaya.


"Kami tidak akan meninggalkanmu Nona, Nona sudah menyelamatkan nyawa Tuan Muda dan itu menjadi hutang budi buat saya karena harusnya saya yang melakukan itu bukan Nona." saut Jefry.


Nadine menatap Jefry dengan haru lalu berganti menatap Hasan, Nadine tidak percaya bila akan dipertemukan dengan mereka, lelaki-lelaki yang baik dan tidak mengambil kesempatan dalam hal apapun kepada wanita.


"Wa'alaikumsalam Dokter." Nadine membalas senyum Dokter Nisa.


"Saya periksa dulu ya?" Nadine mengangguk.


Selesai memeriksa Dokter Nisa tersenyum, "Alhamdulillah kondisi Nona semakin membaik, saya ikut senang dengan perubahan ini." ucap Dokter Nisa senang.


"Alhamdulillah." ucap Hasan dan Jefry bersamaan walaupun dengan suara lirih membuat Dokter Nisa tersenyum kearah mereka.


"Makasih Dokter." ucap Hasan.


"Kapan aku akan pulang Dok?" tanya Nadine.


"Tunggu beberapa hari lagi ya Nona dan nunggu jahitan diperut Nona kering." ucap Dokter Nisa.


Pintu terbuka dan masuk lah suster yang kelihatan sangat buru-buru dan berdiri disamping Dokter Nisa, "Dokter, Nonya Rumi masuk kerumah sakit dan sekarang ada di ICU." ucap suster memberitahu Dokter Nisa.


"Rumi? Ya Allah kenapa dia?" Dokter Nisa dan para suster itupun pamit kepada Hasan, Jefry dan Nadine untuk melihat kondisi Rumi.


Hasan terdiam sejenak teringat dengan perkataan suster tadi, "Jef..." Hasan menoleh kebelakang.


Jefry maju selangkah untuk lebih dekat dengan Hasan, "Iya Tuan." Jefry menundukkan kepalanya sedikit.


"Coba kamu lihat, apa itu Bibi? namanya sama dengan Bibi." perintah Hasan, Jefry menganggukan kepalanya.


"Baik Tuan." Jefry berjalan keluar dari ruangan Nadine dan melihat keruangan ICU sesuai perintah Hasan.


"Bibi?" tanya Nadine.


"Aku punya Bibi yang bernama Rumi dan aku takut bila dia yang masuk keruangan ICU seperti apa yang dikatakan suster tadi." jelas Hasan.


Nadine membulatkan mulutnya membuat Hasan terkekeh karena merasa lucu melihat wajah Nadine, Nadine pun tersenyum ketika melihat Hasan terkekeh karena Nadine baru melihat Hasan terlihat senang seperti itu.


^


"Nona..." panggil Jefry ketika melihat Melati berada didepan ruangan ICU.


Zaki dan Melati menoleh kearah sumber suara yang dimiliki Jefry, "Kak Jefry?" Melati dan Zaki berdiri dan meju selangkah untuk mendekati Jefry.


"Kakak disini? siapa yang sakit? Kak Hasan?" Melati memberondong pertanyaan melihat Jefry ada dirumah sakit juga dan takut jika Hasan sedang sakit.


Jefry menggelengkan kepalanya," Bukan Nona, tapi Nona Nadine yang sedang sakit." ucap Jefry.


Melati mengerutkan keningnya," Nadine? memang sakit apa?" tanya Melati.


"Kemarin ada yang mau mencelakakan Tuan Muda dan Nadine lah yang menyelamatkan Tuan Muda." ucap Jefry menjelaskan.


Melati terdiam dengan penjelasan Jefry, hatinya merasa ngilu ketika mendengar wanita lain menjadi pahlawan untuk Hasan.


"Dimana mereka Jef? biar kami menjenguknya?" saut Zaki.


"Mereka ada diruang Mawar Tuan Zaki." Jefry menunjukkan lorong ruangan Mawar.


(besok lagi 😊😊😊)


jangan lupa bahagia ya kakka-kakak 😚😚😚