
Putra pulang keapartemennya setelah pergi dari rumah kakaknya untuk melihat keadaan ibunya, saat masuk Putra mencium bau masakan yang begitu enak hingga Putra kembali merasakan lapar kembali padahal sebelumnya dirinya sudah makan bersama ibu dan kakaknya.
"Kamu masak?"
Gina menoleh kebelakang dan tersenyum ketika melihat Putra sudah pulang, "He'em. Ayo kita makan." Putra diam terpaku ketika melihat Gina menyiapkan makanan itu diatas meja makan.
"Memang Kau bisa masak? jangan-jangan ini tidak enak." celoteh Putra sambil mendorong kursinya.
"Begini-begini Aku bisa memasak Tuan, kalau tidak enak silahkan dibuang." Putra terkekeh ketika melihat wajah Gina terlihat masam saat berbicara.
"Aku hanya bercanda, begitu saja marah. Ayo duduk, Kamu juga harus makan." seketika Gina tersenyum dan menuruti perintah Putra untuk duduk.
"Kau habis darimana?" tanya Gina yang merasa Putra pulang telat.
"Rumah kakak, tengok Mamah."
"Mamahmu sakit?"
Putra menggeleng, "Dia ingin melihatku." mendengar jawaban Putra, Gina membulatkan mulutnya dan seketika merindukan kedua orangtuanya yang kini sudah bahagia berada disisi Tuhan.
"Maaf..." ucap Putra saat melihat wajah Gina terlihat sedih dan Putra tahu alasannya, Gina tersenyum membuat hati Putra tiba-tiba berdesir.
*****
"Sudah malam Mah, Ayo istirahat." pinta Zaki kepada ibunya yang masih duduk menonton tivi.
"Baru jam 20.00 Zaki, sebentar lagi ya, filmnya lagi seru nih!" pinta sang ibu.
"Ya sudah kalau begitu Zaki mau istirahat dulu ya Mah, Zaki capek."
"Iya sayang, istirahatlah temani istrimu." tutur Ayu tanpa menoleh kearah anaknya.
Saat Zaki akan naik keatas tiba-tiba salah satu asisten rumah tangganya memanggilnya, "Maaf Tuan."
"Ada apa Bi?"
"Sepertinya ini barang Den Putra yang ketinggalan, Tuan." bibi itu memberikan barang berupa dompet kepada Zaki.
Zaki menerima dompet itu dan melihat isi dompet itu dan ternyata benar milik Putra, "Benar Bi, terimakasih ya. Besok saja Aku kembalikan." tutur Zaki.
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi." sang bibi kembali pergi kedapur.
"Nih anak ceroboh sekali!" gerutu Zaki sambil menaiki tangga.
Zaki masuk kedalam kamarnya dan melihat istrinya sedang duduk bersandar diranjang dan terlihat sedang menjahit sesuatu, "Sedang apa Dek?"
"Mas." Melati melihat kearah suaminya dan kembali menjahit.
"Sedang menjahit cindung untuk anak kita nanti."
"Cindung?"
Melati mengangguk tanpa menoleh kearah suaminya yang sedang memasang wajah bingung.
"Maksud Melati topi Mas." jelas Melati sambil terkekeh ketika selesai menjahit lalu melihat suaminya yang sedang kebingungan.
"Oh topi..." Zaki tersenyum kuda sambil menggaru kepalanya yang tidak gatal.
"Lucu kan?" Melati memperlihatkan hasil karyanya.
Zaki ingin menjawab namun terhenti saat mendengar ponselnya berdering, "Sebentar ya Dek?" ijin Zaki, Melati menganggukan kepalanya.
"Kak apa dompetku ketinggalan disitu?" tanya Putra dibalik telepon dengan suara yang sedikit khawatir.
"Iya, besok saja Kakak kembalikan, Kakak capek tidak bisa mengantarkannya sekarang, kalau Kamu mau ambil saja sendiri kesini." terdengan helaan nafas lega dari balik telepon.
"Aku kira jatuh dimana, tidak apa-apa besok saja Kak." Putra langsung mematikkan teleponnya.
"Hi.. Nih anak!" kesal Zaki.
"Kenapa?" tanya Melati.
"Putra, menyanyakan dompet yang ketinggalan."
"Oh..."
Zaki terlihat kesal saat ponselnya kembali berdering, "Apa lagi Putra!" kesal Zaki saat mengangkat teleponnya.
"Assalamualaikum Kak, ini Hasan." Zaki terkejut lalu melihat layar ponselnya dan benar itu Hasan.
"Wa'alaikumsalam San, Maaf Kakak kira tadi Putra." Zaki terkekeh.
"Ada apa?" tanya Zaki.
"Apa Hasan boleh meminta bantuan Kak?"
"Bantuan? bantuan apa San, kalau Kakak bisa Kakak pasti bantu."
"Ma-sih? untuk apa tanya kamar kosong San?"
"Syukurlah, Aku ingin menitipkan Mawar kerumah Kakak sebentar." mendengar permintaan Hasan Zaki menoleh kearah Melati.
"Titip Mawar? memang ada apa San? Kamu berantem sama Mawar?" mendengar nama kakaknya disebut suaminya, Melati langsung merasa khawatir jika terjadi sesuatu kepada kakaknya.
"Tidak-tidak Kak, Hasan dan Mawar baik-baik saja, nanti Hasan jelaskan ketika sudah sampai sana." tutur Hasan.
"Baiklah." sambungan telepon pun terputus.
"Ada apa dengan Kakak, Mas?" tanya Melati khawatir.
"Mas juga tidak tahu Dek, Hasan bilang mau titip Mawar sebentar disini."
"Aneh? kan disana ada banyak orang Mas?" Melati merasa takut.
"Kita tunggu saja sampai Hasan dan Mawar datang Dek, ayo kita kebawah." Zaki dan Melati langsung turun kebawah untuk menunggu Hasan dan Mawar datang.
*****
Hany kembali kerumah Syam saat sudah pagi dam itu membuat Alin marah, "Darimana Kamu?" tanya Alin dengan wajah merah karena marah.
"Habis bersenang-senang Mamah mertua." Hany begitu enteng menjawab.
PLAKKKKKKKK Hany memegang pipinya karena mendapat sarapan berupa tamparan dari sang mertua, "Apa ini caramu menjadi istri anak Saya!" teriak Alin.
Hany tersenyum sinis, "Lalu anak Anda bagaimana?"
Alin menatap Hany dengan tajam dan ingin kembali menampar menantunya itu namun tangan Syam menahannya, "Jangan Mah." ucap Syam saat menahan tangan ibunya yang ingin menampar istrinya.
"Aku menyesal sudah menikahkan anakku denganmu!" Alin menunjuk Hany sambil memelototkan matanya.
"Alin apa yang Kamu lakukan!" teriak Laila ibu Hany yang tiba-tiba datang.
"Mammy..." Hany berlari menghampiri ibunya dan langsung memeluknya sambil menangis.
"Mereka memperlakukanku dengan tidak baik Mam." Hany mengadu.
"Cih!" kesal Syam sambil membuang mukanya karena muak dengan apa yang Hany lakukan.
"Kamu yang tidak baik untuk menjadi seorang istri! istri macam apa Kamu jam segini baru pulang!" teriak Alin kesal.
"Alin cukup!" teriak Laila.
"Jangan sekali-kali Kamu menghina anak saya!" Laila menunjuk besannya.
"Pada kenyataannya memang seperti itu perilaku anakmu!"
"Sudahlah Mah, jangan marah-marah terus nanti penyakitnya kambuh." tutur Syam.
"Aku begini kan karena Syam tidak memperlakukanku dengan baik Mam." adu Hany dengan suara manja.
"Kamu dengar! berarti salah anakmu!" teriak Laila.
"Apa Kamu bilang, salah anakku? anakmu saja yang murahan!" perkataan Alin membuat darah Laila mendidih.
Laila ingin menampar Alin namun Syam berhasil menghalanginya, "Jangan sentuh Mamah Saya!" tegas Syam.
"Kalau begitu mulai sekarang, Kamu juga tidak bisa menyentuh anak Saya!" tantang Laila.
"Aku tidak pernah menyentuhnya." Syam menghempaskan tangan mertuanya.
"Hany! Ayo kita pulang, mulai sekarang kalian bukan lagi suami istri!" ucap Laila dengan mata yang menatap Syam dengan tajam.
"Aku senang mendengarnya Nyonya." Syam tersenyum.
Hany membulatkan matanya ketika mendengar perkataan ibunya dan Syam yang mengaku tidak pernah menyentuhnya walaupun kebenarannya memang seperti itu.
"Mam, Hany tidak ingin berpisah dengan Syam Mam." rengek Hany.
"Apalagi yang Kamu mau pertahankan Hany dari pernikahan yang seperti ini!" Laila tidak menyangka bila anaknya tidak mau berpisah dengan Syam.
"Tapi Mam..."
"Aku akan mengurus surat perceraian kita." ucap Syam lalu beranjak pergi kekantornya.
"Syam tunggu!" Hany berlari mengejar Syam.
"Auh." rintih Hany sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Hany!"
****
#Maaf ya 😢😢😢 tetep Love Ay kan 😣😣😣