
* Yang minta hari ini up harus kasih vot yang banyak loh 😂😂😂😂
kan jatahnya author libur tapi untuk kalian up 😄😄
Jangan bosan untuk membaca karya author yang receh ini dan ajak teman kalian juga membacanya 😚😚😚😚
Semua memandang kearah sumber suara, termasuk Mawar, Mawar meneteskan airmatanya namun dengan segera ia menghapus airmata itu. Hasan berjalan kearah Mawar dan berhenti tepat dihadapan Alin ibu Syam, "Siapa yang Anda suruh pergi, Nyonya?" Hasan memasukan tangannya kedalam saku celananya.
"Tuan Hasan." panggil Gio, Hasan menoleh kearah Gio sekilas lalu berbalik lagi kearah Alin, "Apa ini cara kalian memperlakukan tamu?" ucap Hasan sambil melihat satu-persatu wajah-wajah yang sudah menghina Mawar.
Alin terdiam karena Alin sangat tahu siapa orang yang berada didepannya kini, "Maaf Tuan, tapi kami tidak merasa mengundangnya." lirih Alin.
"Sebelum kalian menghujat dan mempermalukannya, seharusnya kalian tanya terlebih dahulu." sergah Hasan.
"Wanita miskin sepertinya memang pantas untuk dipermalukan! karena sudah datang kesini tanpa tahu malu, padahal kita tidak mengundangnya!" ucap Hany sinis dan tidak tahu bila Hasan adalah pemilik HJ.GRUP.
Laila dan Gio mendelik kearah Hany, Hany tidak peduli dengan pandangan kedua orangtuanya.
Hasan langsung memandang Hany dengan tatapan tajam, "Apa Kamu menghargai seseorang itu hanya karena harta? dan perlu Kamu ketahui, kekayaannya jauh lebih banyak darimu!" Hasan menunjuk Hany.
Laila dan Gio tertawa kecil, "Dia Nadine anak dari Lois tukang judi yang selalu kalah, Tuan. Mana mungkin lebih kaya dari kami." sergah Gio.
Hasan tersenyum simpul, "Apa Anda tahu dengan Tuan Arman Putra Wijaksana?" Laila dan Gio saling pandang, "Dia adalah anaknya yang hilang sejak bayi, dan 5tahun lalu kami berhasil menemukannya." semua orang melongo dengan pernyataan Hasan.
"Tidak mungkin, Tuan." lirih Alin yang tidak percaya dengan ucapan Hasan.
"Nadine, apa benar begitu?" timpal Syam.
"Jangan memanggilnya Nadine lagi, dia Mawar Putri Wijaksana anak dari Arman Putra Wijaksana." tegas Hasan.
Semua orang terdiam termasuk Hany yang sejak awal menghina Mawar.
"Kak Mawar?" Panggil Melati yang baru datang bersama suaminya, Melati dan Zaki terkejut karena melihat Mawar menjadi pusat perhatian.
"Ada apa, Kak?" tanya Melati memadang kakaknya.
Mawar tersenyum, "Kakak tidak apa-apa." jawab Mawar berbohong.
"Kalian dengar! masih ada yang mau menghinanya? Allah itu bisa membolak-balikkan keadaan dalam sekejap mata, lebih baik diam daripada kalian berbicara tapi bicara kalian menyakiti orang!" tegas Hasan.
Hasan berbalik dan menatap Mawar, "Maaf, harusnya Aku tak meninggalkanmu tadi." Mawar tersenyum dan menggelengkan kepalanya mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja padahal sebenarnya sakit yang terasa dalam hatinya.
"Ada apa, San?" tanya Zaki.
"Mereka menghina Mawar dan ingin mengusirnya saat Aku sedang mengambil minuman." ucapan Hasan membuat wajah Zaki memerah karena menahan amarah, Melati pun merasakan apa yang Zaki rasakan.
Melati maju kedepan, "Dia Kakakku! anak Arman Putra Wijaksana, siapapun yang menghinanya berarti menghina keluargaku." tegas Melati membuat semua orang terdiam tidak bisa berkata-kata lagi.
Alin menunduk dan menelan ludahnya dengan sangat sulit, dirinya tidak menyangka bila orang yang selama ini dia hina ternyata anak Arman yang hilang dan itu sukses membuat dirinya sangat malu sekali.
Hany memicingkan matanya kearah Mawar, setelah mengetahui siapa Mawar, bukan menjadikannya sadar namun justru semakin membencinya karena itu berarti Mawar jauh lebih baik darinya.
Syam...memandang Mawar dengan penuh haru, rasa rindunya selama bertahun-tahun terobati dengan melihatnya, walaupun dalam keadaan yang salah, Syam maju kedepan dan menghampiri Mawar, "Nad..." panggil Syam yang sudah didekat Mawar.
Hasan melirik Syam dengan tajam, Hasan langsung menutupi badan Mawar dengan tubuhnya sehingga yang berada didepan Syam saat ini adalah Hasan, "Dia Mawar." tegas Hasan.
"Maaf Tuan, Aku ingin berbicara dengannya." pinta Syam.
"Tidak perlu, lebih baik Kamu kembali kepada istrimu, karena tidak baik mempelai pria berbicara dengan wanita lain selain istrinya." ucap Hasan sambil melipatkan kedua tangannya diatas perut.
"Aku hanya ingin meminta maaf, Tuan." iba Syam.
"Mawar sudah memaafkanmu, pergilah!" kepala Hasan mengisyaratkan agar Syam pergi.
Syam menatap Hasan dengan tatapan memohon agar diijinkan berbicara langsung dengan Mawar sedangkan Hasan menatap Syam dengan tatapan membunuh, membuat Syam pasrah dan kembali kepada istrinya.
"Ayo Kak! lebih baik kita pergi!" Melati menggandeng tangan kakaknya dan melangkah pergi.
Gio berjalan kearah Mawar, "Maafkan anak Om, nikmatilah pestanya terlebih dahulu." pinta Gio.
Mawar menatap orangtua yang berada didepannya kini, Gio menatap Mawar dengan tatapan memohon, "Maafkan Om, selama ini Om sudah salah menilaimu." ucap Gio merasa bersalah.
"Mawar sudah memaafkan Om, selamat atas pernikahan anak Om dan semoga mereka bahagia selalu." doa Mawar, Gio menundukkan kepalanya karena malu.
"Tolong jangan pergi, tetaplah disini sampai acara selesai." pinta Gio, Laila menyusul suaminya dan berdiri disamping suaminya.
"Iya Nad, maaf maksud tante Mawar, tetap disini ya, maafkan Om dan Tante." mohon Laila.
Mawar memandang wajah Hasan, Melati dan Zaki bergantian, "Terserah Kakak." ucap Melati sambil tersenyum.
Mawar kembali menatap orangtua Hany, "Baiklah Om, Tante." jawaban Mawar membuat Gio dan Laika merasa senang, mereka pun mempersilahkan Mawar dan yang lain untuk menikamati hidangan yang ada dan menikmati acara pernikahan anaknya.
Sedangkan Hasan dan Mawar berdiri menghadap panggung sambil menikmati minumannya, "San." Hasan menoleh kearah Mawar, "Makasih." ucap Mawar sambil tersenyum, Hasan tepukau dengan senyuman Mawar hingga membuat Hasan tak ingin berpaling memandangnya.
"Aku yang seharusnya meminta maaf karena sudah meninggalkanmu sendiri, harusnya Aku mengajakmu tadi." tutur Hasan, matanya tidak beralih dari menatap Mawar.
Mawar hanya tersenyum simpul, "Kenapa tadi Kau tidak membela diri saat mereka menghinamu?" Mawar mendongak kearah Hasan.
"Bagaimana Aku mau membela diri, mereka berbicara tanpa henti." sergah Mawar.
Hasan mendekatkan wajahnya kearah Mawar, "Bilang saja Kau menungguku." bisik Hasan, wajah Mawar langsung merah seperti kepiting rebus.
Mawar memalingkan wajahnya dari Hasan karena merasa malu, ha! entah mengapa jika Hasan berbicara rasanya jantungnya seperti sedang lari maraton.
"Siapa Syam?" tanya Hasan tiba-tiba, wajah Mawar langsung berubah pias.
"Suami Hany." jawab Mawar sekenanya.
Hasan menatap Mawar dengan serius, "Aku tahu sekarag suami Hany, yang Aku tanyakan Siapa Syam kepadamu." tanya serius Hasan.
"Mantan?" tebak Hasan karena melihat Mawar diam dan tidak ingin menjawab pertanyaannya.
Mawar melihat Hasan dengan mata yang berkaca-kaca, Hasan mengerti dengan tatapan Mawar, "Kamu masih mencintainya?" tanya Hasan mengalihkan pandangannya kearah panggung pengantin.
"Tidak sama sekali." jawab Mawar dengan cepat.
"Tapi sepertinya dia masih mencintaimu." Mawar kembali melihat kearah Hasan dan mengikuti arah mata Hasan, Mawar langsung memalingkan wajahnya karena melihat Syam yang sedang memperhatikannya.
"Aku tidak peduli." Mawar menaruh minumannya dan ingin pergi dari situ.
Hasan melihat tingkah Mawar, Hasan dapat menebak bila pernah ada luka dihati wanita itu, karena Hasan dulu juga pernah merasakannya.
"Mau kemana?" tanya Hasan.
"Keluar." saat Mawar ingin pergi tiba-tiba Jefry datang lalu berdiri tepat disamping Hasan, Mawar menjadi penasaran hingga tidak melanjutkan langkahnya.
Jefry mendekatkan mulutnya ketelinga Hasan, wajah Hasan terlihat sangat terkejut, Mawar semakin penasaran melihat wajah Hasan.
"Ada apa?" tanya Mawar, Hasan dan Jefry menoleh kearah Mawar.
"Paman Panji kabur." Mawar membelalakan matanya.
"Kok bisa!" ucap Mawar.
"Ada apa?" tanya Putra tiba-tiba.
"Kamu sedang apa disini?" tanya Hasan.
"Mamah menyuruhku untuk menggantikan Mamah, karena Mamah sedang tidak enak badan." jawab Putra.
"Apa Tuan yakin kalau ibu Anda sedang tidak enak badan?" tanya Jefry penuh selidik.
"Kenapa Kau bertanya seperti itu? mau bergelut denganku, ha!" ucap Putra sedikit emosi.
Hasan mengahalang Putra dengan menyentuhkan tangannya kedada Putra, "Paman kabur." Putra lansung menatap Hasan.
"Papah kabur!" teriak Putra,Hasan menatap Putra tajam.
Putra menutup mulutnya, dari kejauhan Zaki dan Melati sedikit mendengar teriakan Putra, mereka langsung berjalan kearah Hasan dan yang lain, "San, ada apa?" tanya Zaki dengan suara lirih agar tidak terdengar para tamu.
"Paman kabur, Kak." Melati dan Zaki saling pandang karena terkejut.
"Kok bisa?" tanya Melati wajahnya terlihat cemas.
"Ada yang membantunya, ada yang memberikan makanan kepada para penjaga, dan setelah mereka makan, mereka langsung tertidur." saut Jefry.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Putra merasa kesal.
"Anak buah Tuan Besar sudah berusaha mencarinya, Tuan Besar juga akan segera kembali ke Indonesia." tutur Jefry.
"Kalian berhati-hatilah, karena Aku yakin Panji akan membalas dendam." pinta Jefry.
"Aku akan menyuruh orang untuk berjaga dirumah kalian masing-masing, jika ada sesuatu yang mencurigakan, cepat beritahu Aku." tegas Jefry.
Semua wajah mereka menjadi cemas, Mawar melihat kearah Hasan, "Aku takut bila Om akan menyakitimu." ucap Mawar.
"Yang terpenting bukan Kamu."
#Kenapa siaang?
*Kan sebenarnya hari ini libur 😂😂😂