
Salah satu anak buah menyalakan lampu gedung hingga diruang itu terlihat sangat terang yang sedari tadi hanya ada sedikit cahaya, Hasan terkejut karena anak buah Sony muncul dengan jumlah yang tidak sedikit dan yang lebih membuat Hasan terkejut ada seseorang yang sangat dia kenali dibarisan pertama, "Paman Pandu?" gumam Hasan.
"Hay keponakan Paman, apa kabarmu? Paman harap setelah ini Kamu tidak baik-baik saja." Pandu tersenyum sinis sambil melipatkan kedua tangannya diatas perut.
Hasan tersenyum simpul, "Kamu ingkar dengan janjimu Sony? jangan salahkan Aku jika Aku pun melakukan hal yang sama!" Hasan melirik Sony yang sekarang berdiri disamping Pandu.
Suara helikopter yang terasa sangat dekat membuat mereka terkejut, dengan kompak anak buah Sony mengeluarkan pistol yang mereka bekali oleh Sony.
Hasan tersenyum simpul, "Jika dari salah satu diantara kalian ada yang berani mengeluarkan peluru, Aku pastikan saudara kalian akan Aku keluarkan dari HJ.GRUP atau perusahaan lain!" tegas Hasan.
Anak buah Sony saling pandang dan seketika langsung menurunkan pistolnya, "Hey! apa yang kalian takutkan! dia hanya menggertaknya saja!" marah Sony.
"Jangan takut ancamannya!" timpal Pandu.
Anak buah Sony dan Pandu seketika mengangkat pistolnya kembali dan mengarahkannya kearah Hasan.
****
Belum sampai digedung tua, Putra mendengar ponselnya berbunyi, Putra mengambil ponselnya lalu membuka pesan masuk yang ternyata dari kakaknya, tiba-tiba Putra memberhentikan mobilnya karena terkejut melihat pesan yang dikirim kakaknya, "Datang kegedung tua, kita bantu Hasan untuk melawan Sony dan anak buahnya! sekarang!" pesan Zaki kepada Putra.
Putra mengumpat kesal karena Sony ingin menjebaknya, "Bedebah memang itu orang! berani sekali! awas kau!" Putra langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai digedung tua.
*****
Grissam dan Jefry berada didalam helipkopter milik Grissam yang letaknya lumayan jauh dari gedung tua, mereka melihat keadaan Hasan dari alat yang mereka pasang sebelum Sony dan anak buahnya datang.
"Benarkan dugaanku! dia tidak sendiri!" geram Grissam.
"Ada Pandu, Tuan!" Jefry membesarkan gambar orang yang dia yakini adalah Pandu.
"Benar! kita bersiap! mereka sudah mengelurkan senjata, Jef! beritahu Zaki dan anak buahnya agar segera masuk!" Jefry langsung menjalankan perintah Grissam.
Pilot pun segera menjalankan helikopternya sesuai perintah Grisaam, Jefry menghubungi Zaki yang berada didarat dan jaraknya lebih dekat dari gedung tua, "Masuk Tuan, anak buah Sony sudah berada didalam!" perintah Jefry.
Baik Jef!"
Zaki dan anak buah Grissam langsung berjalan kearah gedung tua, mereka membawa pistol masing-masing yang sudah Grissam bekali untuk mereka.
****
Dimansion Hasan, Rumi dan Ellois sedang ketakutan karena melihat para penjaga sedang berkelahi dengan anak buah Sony, "Tante ini bagaimana?" gumam Rumi ketakutan.
"Tenang, Tante akan mencoba menghubungi anak buah Tante lagi." Ellois menghubungi anak buahnya agar segera datang ke mansion.
"Datang ke mansion sekarang! cepat!" perintah Ellois yang langsung dijawab siap oleh anak buahnya.
"Tenang Rumi, anak buahku akan segera datang, mereka pasti ingin menculik Mawar." gumam Ellois yang diiyakan oleh Rumi.
"Apa Mawar disana baik-baik saja Tante?"
"Semoga saja Rumi, Sony pasti tidak tahu kalau Mawar berada dirumah Zaki." tebak Ellois.
Dengan jumlah yang lumayan banyak dari penjaga mansion, satu persatu penjaga mansion itu tumbanh dan tidak mampu melawan lagi, anak buah Sony tersenyum sinis, "Kalian urus mereka, Aku akan masuk kedalam untuk mencari wanita pujaan Tuan kita." mereka dengan serempak menganggukan kepalanya.
Ketua dari anak buah Sony yang bernama Hendry berjalan masuk kemansion, Rumi yang melihatnya semakin ketakutan, Hendry mencoba mendobrak pintu mansion yang masih terkunci itu, "Tante..." Rumi ketakutan sehingga menggenggam tangan Ellois erat.
Para pelayan menghampiri Ellois dan Rumi, "Nyonya cepat sembunyi, biar kami yang hadapi orang itu." tutur ketua pelayan.
Ellois mengangguk, "Ayo kita sembunyi!" Ellois menarik tangan Rumi, mereka berlari keatas dan bersembunyi dikamar Hasan dan Mawar yang kini kosong.
"Dia pasti tahu kamar ini, Tante." Ellois berpikir sejenak dan langsung tersenyum.
"Aku tahu! ayo ikut Aku!" Ellois kembali menarik tangan Rumi.
Dibawab Hendry berhasil membuka pintu mansion itu, "Mawar keluar!" teriak Hendry.
"Hey Tuan! hadapi kami dulu!" teriak salah satu pelayan.
Para pelayan maju kedepan dengan membawa alat masak untuk senjata mereka, "Cih!" umpat Hendry.
"Maaf Tuan, Anda tidak bisa bertemu dengan Nona!" tegas ketua pelayan.
Selesai membuat lumpuh penjaga para anak buah Sony berjalan masuk ke mansion, melihat mereka datang Hendry tersenyum simpul meledek para pelayan mansion, "Urus mereka!" perintah Hendry.
Hendry pun menjelajahi mansion itu untuk mencari Mawar, sedangkan para pelayan pun berkelahi menggunakan alat-alat masak yang mereka bawa.
"Rasakan ini!" teriak salah satu pelayan yang memukul salah satu anak buah Sony dengan panci yang menjadi senjatanya.
"Aduh!" rintih anak buah Sony yang terkena pukulan itu.
Anak buah Ellois sampai di mansion Hasan, mereka melihat penjaga yang sudah tidak berdaya, "Cih! tidak becus tenaga kalian!" teriak ketua anak buah Ellois.
"Kamu dan Kamu, urus mereka. Sisanya ikut Aku!" perintah ketua anak buah Ellois bernama Jhosu.
Jhosu berlari masuk ke mansion, melihat para anak buah Ellois datang para pelayan tersenyum senang, "Tuan habisi mereka!" teriak salah satu pelayan membuat anak buah Sony menoleh kebelakang dan terkejut ketika banyak orang berkemeja hitam yang terlihat gagah-gagah berjalan kearah mereka.
"Sia! mati kita!" gumam lirih anak buah Sony.
*****
Hendry tersenyum ketika masuk kekamar Hasan dan Mawar, "Nona..." Hendry tersenyum senang ketika melihat seperti seseorang yang sedang tertidur diatas ranjang Hasan dan Mawar.
Hendry membuka selimut yang menutupi seseorang itu, "Shit!" umpat Hendry ketika melihat guling ketika selimut itu dibuka.
"Sial!" tangan Hendry menghantam angin.
Hendry hendak keluar dari kamar Hasan dan Mawar namun langkahnya terhenti ketika melihat anak buah Ellois, Jhosu segera melayangkan hantaman kepada Hendry hingga Hendry tersungkur jatuh, dengan kelihaian Jhosu bisa melumpuhkan Hendry dalam waktu singkat.
****
"Hey! apa yang sedang Kamu lakukan!" teriak Sony kepada Putra yang masuk bersama Zaki dan anak buahnya.
Putra melipatkan kedua tangannya diatas perut, "Aku ingin melakukan apa yang harusnya Aku lakukan Sony!" Putra tersenyum simpul meledek Sony.
"Cih! bedebah Kau! Aku tidak akan membiarkan Gina hidup bersamamu jika Kau melawanku!" ancam Sony kepada Putra.
"Oh ya? coba saja!" Putra menggerakkan tangannya mengisyaratkan agar Sony maju melawannya.
Kedatangan Grissam dan Jefry yang sudah sampai digedung tua membuat ketegangan dikubu Sony semakin terasa.
"Mau menyerah? atau mati sia-sia?" ancam Jefry sambil berjalan kebarisan Hasan.
Jefry mengangkat sebuah pistolnya yang langsung diikuti Hasan dan anak buahnya, Sony dan anak buahnya pun mengangkat pistolnya, Jefry tersenyum sinis, "Aku persilahkan kalian untuk mulai menembak!" tantang Jefry, Grissam tersenyum sinis mendengar tantangan Jefry.
"Bedebah!" umpat Sony ketika mencoba menembak namun ternyata tidak ada peluru didalam pistolnya padahal Sony dan anak buahnya sudah mempersiapkannya.
Melihat Sony lengah dan kesal, Hasan berjalan maju menghadap Sony, "Menyerahlah!" tegas Hasan.
BUUUUGGGGHHHH darah Sony mendidih hingga langsung memukul wajah Hasan, "Aku ingin Kau mati!" teriak Sony.
Sony kembali ingin memukul Hasan namun Hasan berhasil menahan tangan Sony dan langsung memutar tangan Sony, "Jangan buat Aku berbuat kasar kepadamu!" lirih Hasan.
"Brengsek! maju!" teriak Sony kepada anak buahnya.
Perkelahian dua kubu pun terjadi, Sony dan Hasan pun tak henti-hentinya saling lawan hingga membuat wajah mereka penuh lebam karena perkelahian yang mereka lakukan.
"DOOORRRRRR!"
*******
#Bersambung dulu ya karena Ay mau isi tenaga dulu 😂😂😂
besok Ay sudah mulai normal kembali, siap buat balesin komen kalian 😄😄😄
#Jangan lupa doain Ay terus ya kakak-kakak seyeng 😚😚😚 doa yang baik-baik loh 😄😄😄😄