Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Kalau Begitu Pecat Jefry!



Mawar menghembuskan nafasnya dengan berat lalu berjalan menghampiri suaminya, Hasan tersenyum kearah istrinya yang mana Mawar memasang wajah datarnya.


Grissam dan Jefry menoleh kearah Mawar yang datang bersama ibunya dan eyangnya, "Aduh kayaknya akan ada perang ini Jef!" lirih Grissam.


"Sepertinya Tuan." balas Jefry.


Mawar berdiri disamping Hasan lalu menaruh makanan yang dia bawa didalam rantang diatas meja kecil, Mawar memasang wajah datarnya, "Maaf Mbak, bisa berikan piring itu kepadaku." Irma memberikan piring itu kepada Mawar, Irma sudah menebaknya jika wanita itu adalah istri Hasan.


Mawar mengambil piring itu lalu berjalan kearah Jefry dan meletakkannya didepan Jefry, Jefry terbengong dengan ulah Mawar sedangkan Grissam menahan tawanya.


"Nona, kenapa diberikan kepada Saya?" tanya Jefry bingung, Mawar langsung melangkah pergi enggan menjawab pertanyaan Jefry.


Mawar kembali berdiri kesamping Hasan, "Mbak, suapin Jefry saja dia masih jomblo." ucap Mawar dengan wajah datar.


"Maaf Mbak, tadi Aku hanya membantu Mas Hasan saja, Saya permisi. Assalamualaikum." Irma beranjak pergi dari ruangan Hasan dengan hati yang sedikit terluka akan kata-kata Mawar yang seperti sedang menyindirnya.


"Wa'alaikumsalam." jawab Rumi saat Irma melewatinya.


Rumi dan Ellois lalu duduk bersama Grissam dan Jefry karena mereka tahu kalau Mawar sedang dalam keadaan hati yang tidak enak karena melihat suaminya sedang disuapi oleh wanita lain.


"Sayang." panggil Hasan saat Mawar sudah duduk disisinya, Mawar hanya diam sambil membuka rantang yang berisi makanan yang dia bawakan untuk suaminya namun apa yang dia lihat justru malah membuat hatinya ngilu.


"Tidak usah memanggilku Sayang." Mawar menyendok makanan dengan sedikit kasar lalu mengangkat sendok itu kearah mulut Hasan, wajah Mawar terlihat sangat kecewa.


Hasan terdiam memperhatikkan istrinya, "Marah?" lirih Hasan.


"Tidak!"


"Tidak tapi jawabnya seperti itu." Mawar menaruh kembali sendok yang berisi makanan itu kedalam rantang kembali lalu menatap suaminya dengan tajam.


"Menurutmu? Aku tidak pantas marah ketika melihat suamiku sedang disuapi dan bersama wanita lain?" Hasan menghembuskan nafasnya lalu membenarkan duduknya agar lebih sejajar dengan istrinya.


"Mas minta maaf, Irma hanya berniat membantu Mas tadi, tadi Mas mencoba makan menggunakan tangan kiri tapi tidak bisa, akhirnya dia bantuin Mas, hanya itu. Demi Allah." jelas Hasan.


"Kalau begitu pecat Jefry!" Jefry yang sedang minum tersedak karena Mawar berkata memecatnya.


"Nona, apa salah Saya?" wajah Jefry langsung pucat seketika.


Mawar melirik kearah Jefry dan menatapnya dengan tajam, "Hey! apa pekerjaanmu? hanya berdiri dibelakang Hasan saja begitu? kenapa tidak Kau saja tadi yang menyuapi tuanmu untuk makan! menyebalkan!" Jefry tersenyum kuda dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Grissam terkekeh melihat wajah Jefry yang baginya sangat lucu dilihatnya.


"Maaf Nona, tadi Aku juga sedang makan, kita kan juga lapar Nona." ucap Jefry.


Hasan tersenyum sambil mengusap pipi istrinya, "Benar kata Jefry Sayang, tadi mereka sedang makan, Mas juga sudah mencoba menunggu mereka tapi Irma melihat Mas sudah sangat kelaparan." Mawar kembali melihat suaminya dan menurunkan tangan suaminya dari pipinya, Hasan melihat tangannya yang diturunkan Mawar.


"Kamu pikir istrimu dirumah makan dengan tenang? Kamu pikir Aku bisa tidur dengan nyenyak? saat suami tidak memberiku kabar? tapi ternyata disini bahagia ya bisa ditemani dengan bidadari cantik." Hasan tersenyum ketika melihat gaya bicara istrinya yang sedang kesal, Hasan mengambil rantang yang ada ditangan Mawar dan menaruhnya dimeja kecil.


Hasan lalu menarik tubuh Mawar dengan tangan kirinya, Hasan memeluk istrinya sambil tersenyum, "Mas minta maaf cinta sudah membuatmu salah paham, sudah membuatmu tidak berselera makan, ponsel kita rusak saat kita berkelahi dengan paman Pandu dan Mas juga tidak sadarkan diri setelah itu, untung ada para santri Pak Kyai yang menolong kami, kalau tidak? Mas tidak tahu apa yang akan terjadi, mungkin Kamu akan menjadi janda." Mawar memukul dada Hasan dengan pelan karena ucapan Hasan yang terakhir.


Hasan tersenyum dan tambah mengeratkan pelukannya walaupun dengan tangan satu, Mawar membalas pelukan suaminya, rasa rindunya mengalahkan semua kemarahan yang sempat tercipta dihati Mawar, Mawar menenggelamkan kepalanya didada Hasan sambil menangis.


"Lebih baik kita keluar agar tidak menjadi nyamuk disini." ajak Rumi kepada yang lain.


"benar, Aku ingin bertemu dengan...siapa tadi? Pak..."


"Ah itu, kita harus berterimakasih kepadanya." kata Ellois.


Mereka pun keluar tanpa pamit kepada Hasan dan Mawar yang masih melepas kerinduannya masing-masing, saat melihat keluarga Hasan keluar, Irma buru-buru pergi menjauh dari ruangan Hasan, karena tadi Irma tidak benar-benar pergi, namun berdiri didepan ruangan Hasan, Irma melihat dari jendela kecil yang ada diruangan Hasan hingga membuat Irma melihat kemesraan Hasan dan Mawar yang membuat perasaannya hancur berkeping-keping.


Mawar melepaskan pelukannya, Hasan mengusap airmata istrinya dengan lembut, "Jangan ragukan perasaanku karena itu yang akan membuat hatiku sakit." lirih Hasan.


Mawar menggenggam tangan Hasan yang berada diwajahnya, "Jangan melakukan sesuatu yang akan membuatku ragu." Hasan tersenyum dan menganggukan kepalanya.



"Mah, Mamah tinggal sama Melati dan Mas Zaki ya?" usul Melati saat sedang mempersiapkan kepulangan Ayu.


"Apa Mamah tidak dipenjara lagi?" Mawar menghentikan pekerjaannya yang sedang melipat baju mertuanya yang akan dia bawa pulang.


"Kita akan meminta ijin kepada Kak Hasan dan Eyang, Mah." tutur Melati sambil melirik suaminya dan adik iparnya.


Ayu menangis, "Maafkan Mamah, sudah membuat kalian susah." Zaki langsung memeluk ibunya dan menenangkan ibunya.


"Berjanji untuk tidak mengulangi lagi, Mah. Zaki yakin. Hasan pasti mau memaafkan kesalahan Mamah." tutur Zaki, Melati terharu dengan apa yang dia lihat didepan matanya kini, walau sebenarnya Melati juga sempat marah karena perbuatan mertuanya itu hampir membuat dirinya kehilangan ibunya, namun Melati yakin jika mertuanya itu kini benar-benar menyesal.


"Apa Mamah mau tinggal sama Putra lagi?" tawar Putra.


Ayu menggelengkan kepalanya, "Mamah akan kesepian jika nanti Kamu berangkat kerja." lirih Ayu, Putra sedikit kecewa dengan jawaban ibunya yang tidak mau tinggal bersamanya.


Zaki menepuk pundak adiknya, "Apa Kamu mau tinggal bersama Kakak?" Putra melihat kearah kakaknya.


"Tidak ah! akan banyak peraturan nanti, Putra mau tinggal sendiri saja." tolak Putra.


"Kamu ini! awas jangan hidup terlalu bebas, Kamu harus tahu batasanmu." Putra mengangguk malas mendengar petuah kakaknya.


"Iya, iya! bawel sekali Kau jadi Kakak! sudah buruan pulang, Aku sudah ada janji sama Adi dan Rio." seketika Ayu, Zaki dan Melati tertawa, mereka pun dengan segera mengurus kepulangan Ayu.



Setelah mengantar ibunya pulang, Putra langsung pamit keluar karena sudah memiliki janji bertemu dengan Adi dan Rio yang sekarang juga sama-sama sibuk mengurus perusahaan orangtuanya.


Didalam mobil tiba-tiba Putra memikirkan Gina yang hari itu tidak masuk kantor, "Kemana wanita itu?" Putra bertanya sendiri.


Karena penasaran Putra mengambil ponselnya yang berada disaku jasnya, Putra mencari nama sekretaris sial didalam kontaknya setelah menemukannya Putra memencet tombol panggil, satu kali panggilan Putra tidak ada jawaban dari Gina, Putra kembali lagi menghubunginya.


Tiba-tiba Putra memberhentikkan mobilnya karena mendengar suara Gina yang sedang menangis, "Tolong! tolong Aku!".



#😂😂😂😂😂


*Sue lu thor digantung mulu kaya jemuran 😈😈😈


#Wkwkwkwkkwkw 🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃