
AKHHHHHHHH teriak Panji dan anak buahnya, mereka tersungkur jatuh kejalanan setelah dipukul dengan kayu, "Hey Tuan! sini lawan kami!" teriak salah seorang lelaki.
Grissam dan Jefry menoleh kearah sumber suara, mereka terkejut ketika melihat banyak lelaki berbaju koko dan sarung yang sedang memegang sebelah kayu, namun seketika Jefry tersenyum setelah melihat sekeliling tempat itu, Grissam menatap Jefry bingung, "Mereka anak pesantren Darur Qur'an Tuan." Grissam terdiam dan tambah bingung.
"Nanti Saya jelaskan Tuan." kata Jefry lalu berusaha bangkit walau sebenarnya badannya dalam keadaan sakit disekujur tubuhnya, Grissam ikut berusaha bangun walau sedikit kesusahan.
"Cih! sial! darimana datangnya mereka semua!" umpat Pandu saat bangun.
"Kita pergi saja Tuan, mereka sangat banyak, kita pasti kalah." usul anak buah Pandu.
Pandu menggerakkan tangannya memberi tanda kepada anak buahnya agar segera pergi, saat mobil Pandu dan anak buahnya pergi para lelaki pesantren langsung meletakan kayu yang mereka bawa menjadi satu tumpukan setelah itu mereka menghampiri Hasan, Grissam dan juga Jefry, "Ayo Tuan, kita ke pesantren obati luka Tuan semua." ucap lelaki yang membantu memapah Grissam.
"Kita lewat belakang agar tidak kejauhan!" teriak seorang lelaki yang memapah Jefry.
Jefry melirik Hasan yang sedang dibawa oleh beberapa santri karena Hasan tidak sadarkan diri saat itu, "Terimakasih." ucap Jefry kepada lelaki yang membantu memapahnya.
"Terimakasih kepada Allah Tuan, kita hanya perantara untuk membantu kalian." Jefry tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Siapa namamu?"
"Leo Tuan."
"Kenapa kalian bisa melihat kami?" tanya Jefry.
"Tadi Saya sedang membuang sampah dibelakang pesantren Tuan, dan Saya mendengar teriakan seorang yang sedang kesakitan, Saya mencari-cari sumber suara dan Saya melihat kalian, Saya langsung memberi tahu Pak Kyai dan Pak Kyai langsung mengumpulkan pemuda-pemuda untuk membantu kalian." Jefry tersenyum terharu mendengar penjelasan pemuda pesantren bernama Leo itu.
Hasan dibaringkan dikasur perawatan yang ada di pesantren, pesantren itu memang memiliki ruang perawatan jika ada yang sakit agar mereka dapat beristirahat dengan tenang sehingga penyembuhannya tidak membutuhkan waktu lama.
Seorang lelaki paru baya dia adalah salah seorang Kyai di pesantren Darur Qur'an, dia berpakaian rapi menggunakan koko dan sarung membawa seorang dokter laki-laki yang menjadi dokter dipesantren itu.
Grissam dan Jefry ikut dibaringkan dikasur sebelah Hasan, sang dokter dengan teliti memeriksa keadaan Hasan yang masih belum sadarkan diri.
"Bagaimana? Apa perlu kita bawa kerumah sakit?" tanya Pak Kyai.
"Tidak perlu Pak Kyai, luja ditangannya sudah saya obati, hanya perlu istirahat beberapa hari saja, Insya Allah akan membaik." tutur dokter yang bernama Ibrahim.
Sang Kyai menganggukan kepalanya, setelah memeriksa dan mengobati Hasan, dokter itu berganti memeriksa Grissam dan Jefry.
"Ini resep obat untuk mereka Pak Kyai, apa perlu Saya bawakan kemari?" sang dokter menawarkan bantuan.
"Tidak usah, biar Leo saja nanti yang mengambilnya." dokter Ibrahim pun mengangguk lalu berpamitan kepada sang Kyai dan yang lain.
Sang Kyai menghampiri Jefry yang sudah duduk disisi ranjang Hasan, Jefry bersyukur bantuan datang tepat waktu jika tidak, Jefry akan merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga tuan mudanya, "Jef." Jefry menoleh kearah Pak Kyai, Jefry mengusap airmatanya yang jatuh karena perasaan bersalah kepada Tuan Besarnya yang sudah tenang bersama Allah.
"Pak Kyai." Jefry menyalimi tangan sang Kyai, Grissam terbengong diranjangnya ketika melihat Jefry yang ternyata saling kenal dengan sang Kyai.
"Kenapa?" tanya singkat Pak Kyai namun pertanyaan itu mengandung banyak sekali pertanyaan.
"Tadi kami diserang karena mereka ingin membalas dendam kepada kami Pak Kyai." jelas Jefry.
"Masalahnya?" Jefry terdiam bingung harus menjawab apa sama Pak Kyai karena walau bagaimanapun membunuh seseorang bukanlah hal yang benar, "Ya Allah maafkan Aku." doa Jefry dalam hati.
"Karena kami sudah memenjarakan saudaranya yang sudah berbuat kejahatan Pak Kyai." Jefry sedikit berbohong, Pak Kyai beristghar lalu menghembuskan nafasnya.
Pak Kyai melihat Hasan, Kyai merasa wajah Hasan sangat dia kenali tapi Pak Kyai bingung siapa, "Jef, pemuda ini siapa? sepertinya wajahnya tidak asing, tapi siapa?"
"Dia Tuan Muda Hasan Alfatar putra dari Tuan Besar Jacson dan Nyonya Fatimah, Pak Kyai." jelas Jefry.
"Ya Allah, dia Hasan? putra Jacson?" Jefry tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Pak Kyai tersenyum dan mengucapkan syukur kepada Allah karena sudah mempertemukan dengan keturunan Jacson yang selalu membantu pesantren sampai sekarang.
"Yang lain pasti senang jika tahu kabar ini." Pak Kyai mengusap kepala Hasan tak terasa airmatanya jatuh karena mengingat mendiang Jacson yang menjadi donatur tetap di pesantren itu bahkan dulu dia selalu datang bersama istri dan anaknya yang masih bayi, Pak Kyai tidak menyangka bila bisa bertemu dengan bayi itu saat dewasa.
Grissam meneteskan airmatanya mendengar cerita anaknya dari Pak Kyai, anaknya selalu berbuat baik dan menjadi manfaat untuk banyak orang, Grissam begitu terharu dan membayangkan Jacson ketika hidup, airmatanya semakin deras ketika memori saat melihat kepergian Jacson dari rumah dan negaranya itu.
ยค
"Bagaimana keadaan ibu saya Dok?" tanya Zaki ketika melihat sang dokter keluar.
"Ibu Anda baik-baik saja Tuan, hanya perlu istirahat yang cukup dan makan yang teratur." tutur sang dokter.
Zaki merasa lega lalu masuk kedalam ruang perawatan ibunya setelah sang dokter pergi, "Hallo." saat duduk Zaki mendapat telepon dari adiknya.
Zaki terdiam sejenak, "Kakak dirumah sakit, Mamah sedang sakit." jelas Zaki.
"Mamah Rumi maksudnya?"
"Mamah Ayu, Mamah kita." dibalik telepon Putra kaget mendengar kabar ibunya dirumah sakit.
"Aku akan kesana Kak!" tegas Putra dan langsung mematikkan teleponnya.
Zaki memasukkan ponselnya kembali kesaku celananya, Zaki memandang wajah ibunya yang sedang memejamkan matanya dengan pulas, "Kenapa keluarga kita menjadi seperti ini, Mah? dulu Zaki berpikir jika keluarga kita adalah keluarga yang sempurna tapi pada kenyataannya? semua hanya topeng Papah yang pada akhirnya membut kita sengsara Mah." gumam Zaki, meratapi nasib keluarganya.
"Zaki kangen sama Mamah, sama keluarga kita." Zaki menunduk, suara Zaki terasa berat keluar dari kerongkongannya karena ingin menangis.
"Mamah juga pasti merindukanmu, Mas." Zaki menoleh kearah pintu dimana Melati baru masuk kedalam.
"Dek. Kenapa kesini?" Zaki bangkit berdiri dan menghampiri istrinya.
"Apa Aku tidak boleh kesini?" wajah Melati memasang wajah ingin marah.
"Tidak begitu, Mas hanya tidak ingin Adek kecapaian dan terjadi apa-apa sama calon anak Mas." Melati tersenyum mendengar penjelasan suaminya.
"Bagaimana keadaan Mamah?"
"Kata dokter baik-baik saja, hanya perlu istirahat dan makan yang teratur." jawab Zaki sambil menuntun istrinya agar duduk disofa.
ยค
Putra keluar dari ruangannya "Gina! ikut Aku!" Gina tersentak kaget mendengar suara Putra yang tiba-tiba muncul sudah seperti hantu bagi Gina.
"Ini lelaki apa tidak bisa tidak teriak kalau bicara! menyebalkan!" umpat Gina dalam hati.
Gina menata berkas dan membawanya ditangannya, "Siapa yang menyuruhmu membawa berkas-berkas itu." mata Putra melirik berkas yang berada digendongan tangan Gina.
"Memang Bapak mengajakku kemana? mall? atau restoran?" tebak Gina yang mendapat tatapan tajam dari Putra, Gina merasa takut dan langsung meletakkan berkas-berkas itu dimejanya kembali.
"Hi matanya sudah kaya burung hantu! menyeramkan! lagian mau mengajakku kemana coba?" batin Gina.
ยค
Sudah hampir petang namun belum mendapat kabar dari suami atau eyang kakungnya, Mawar berjalan mondar-mandir dikamar sambil memegang ponselnya karena menunggu kabar dari Hasan,Mawar sudah coba menghubungi Hasan namun tidak aktif.
Rumi mengetuk pintu kamar Mawar yang terkunci, "Mawar, ayo kita makan Sayang, dari siang Kamu belum makan loh nanti sakit, nanti kalau Kamu sakit Mamah diamarahi sama suamimu loh." Rumi merasa khawatir dengan Mawar karena tidak mau makan dari siang sejak kejadian pecah gelas saat itu.
"Mawar tidak lapar Mah, Mawar mau nungguin Hasan." jawab Mawar dari dalam kamar, Rumi menghembuskan nafasnya mendengar jawaban anaknya, Rumi pun pergi karena percuma saja jika membujuk Mawar, anak itu tidak mudah dibujuk pikir Rumi.
Mawar duduk disisi ranjang tiba-tiba ponsel Mawar berdering, Mawar langsung melihat layar pada ponselnya, Mawar sedikit kecewa karena yang menelponnya bukan lah Hasan melainkan nomer baru yang entah siapa, Mawar ragu-ragu untuk mengangkatnya, tapi Mawar juga penasaran siapa tahu itu suaminya, pikir Mawar.
Mawar akhirnya menggeser tombol hijau, "Sayang."
โก
#Hoohoho bersambung lagi wkwkwkwkwk
*Rese lu Thor ๐ก๐ก๐ก
#Hahahha tenang kakak-kakak yang cantik dan ganteng, Ay punya solusi ๐๐๐
*Solusi apaan??? ๐ฏ๐ฏ๐ฏ
#Sambil nunggu up nya Hasan Alfatar silahkan mampir dikarya author yang lain, yang dibawah ini ๐๐๐๐๐ siapa tahu bisa membantu meringankan beban rindu kalian kepada Ay๐๐๐๐
*PD sekali kamu thor! yang kita rindukan itu tulisanmu bukan kamunya ๐๐๐๐
Impian kehidupan
Cowok Culun Itu Suamiku