
"Kita pulang ke Indonesia Jef!" perintah Hasan tiba-tiba.
Jefry terperanjat mendengar perintah tuan mudanya tiba-tiba "Pulang Tuan Muda?" tanya Jefry memastikan.
Hasan menatap Jefry dan menganggukan kepalanya "Mimpi itu terasa nyata Jef." ucap Hasan.
"Lalu bagaimana dengan belajar Tuan Muda disini? besok Tuan Muda harus memulainya bukan?" tanya Jefry.
Hasan memandang Jefry tanpa menjawab pertanyaan Jefry "Baik Tuan Muda, aku akan menyiapkan semuanya," ucap Jefry seakan mengerti arti tatapan Hasan.
Jefry menundukkan kepalanya dan berpamitan kepada Hasan, Hasan menganggukan kepalanya dan membiarkan Jefry pergi.
Hasan membaringkan badannya dikasur "Semoga keputusanku ini benar Ya Allah." gumam Hasan.
Pagi harinya Hasan turun kebawah untuk berbicara dengan kakek dan neneknya "Eyang..." Panggil Hasan ketika melihat kakaek dan neneknya duduk dimeja makan.
"Hai cucu Eyang..."Ellois mencium pipi cucunya.
"Sarapan lah," Ellois semangat mengajak Hasan.
Hasan tersenyum lalu duduk bersama mereka "Makasih Eyang." ucap Hasan membuat Grissam dan Ellois tersenyum.
"Makan lah yang banyak, hari ini pertama kamu masuk kuliah kan?" ucap Grissam semangat. Hasan hanya tersenyum menanggapi perkataan kakeknya.
Setelah makan Hasan berbicara kepada Ellois dan Grissam "Eyang...ada yang ingin Hasan katakan," Ellois dan Grissam saling pandang.
"Sepertinya serius?" tanya Ellois penasaran.
Hasan mengangguk dan tersenyum "Hasan akan kembali ke Indonesia," Ellois dan Grissam terperanjat dengan perkataan Hasan.
"Kenapa?" tanya Ellois tidak ingin Hasan pergi.
"Hasan semalam bermimpi buruk tentang Paman Arman Eyang, Hasan memutuskan untuk kembali," tutur Hasan.
"Mungkin itu hanya bunga tidur cucuku," ucap Grissam yang mendengar alasan Hasan.
Hasan menggelengkan kepalanya "Itu seperti nyata Eyang," ujar Hasan.
Ellois langsung bersedih "Kamu akan meninggalkan Eyang?" ucap Ellois serak.
Hasan menoleh kearah neneknya dan tersenyum "Maafkan Hasan Eyang..." ucapan Hasan membuat airmata Ellois mengalir.
Hasan menundukkan kepalanya sejenak lalu mendongak kembali "Eyang..." Hasan menghapus airmata neneknya dengan ibu jarinya.
"Eyang tidak mau kamu pergi," ucap Ellois sambil menangis.
"Kalau Eyang mau ikutlah dengan Hasan," ujar Hasan.
Ellois memandang Grissam, Grissam menoleh kearah cucunya "Bagaimana dengan kuliahmu San?" tanya Grissam.
Hasan menatap kakeknya "Semalaman Hasan sudah memikirkannya Eyang, kalau Hasan akan kuliah di Indonesia," ucap Hasan membuat kakek dan neneknya kecewa.
"Apa kau yakin San?" tanya Grissam dengan wajah kecewa.
Hasan tersenyum lalu menganggukan kepalanya, Ellois dan Grissam menghembuskan nafasnya kecewa.
"Jangan bersedih Eyang, setahun sekali Hasan akan kesini," hibur Hasan.
Wajah Ellois dan Grissam tidak berubah dengan kekecewaan, namun Ellois dan Grissam pasrah dengan keputusan cucunya.
"Baiklah...kapan kamu akan berangkat?" tanya Grissam.
"Sebentar lagi Eyang," jawab Hasan.
"Permisi Tuan...Nyonya..." salam Jefry yang sudah berada didekat meja makan.
"Tuan Muda...semua sudah siap." tutur Jefry.
"Tunggu sebentar." Hasan memandang Ellois dan Grissam sambil tersenyum.
"Hasan akan pergi Eyang...jaga diri baik-baik," pesan Hasan.
Ellois tak dan Grissam tak kuasa menahan airmatanya, Hasan langsung memeluk kakek dan neneknya "Jangan bersedih Eyang..." ucap Hasan.
"Bagaimana kami tidak sedih bila cucu satu-satunya Eyang akan pergi meninggalkan Eyang," ucap Ellois sedih.
Hasan tersenyum memberikan kekuatan kepada kakel dan neneknya "Kita bisa berjauhan, tapi kita akan selalu dekat disini Eyang," Hasan menyentuh hatinya sambil tersenyum.
Ellois dan Grissam tersenyum "Baiklah...kami tidak berhak memaksamu, pergilah dan jaga diri baik-baik." ucap Grissam, Hasan memeluk kakek dan neneknya sebelum pergi.
^
Melati termenung didepan cermin melihat pantulan dirinya yang kini sudah memakai gaun pengantin, wajahnya mendung tidak seperti pengantin-pengantin lain yang mana bahagia bila menanti hari pernikahannya.
"Mel..." panggil Rumi ketika masuk kedalam kamar anaknya.
"Maafkan Mamah dan Papah," ucap Rumi sedih karena melihat wajah anaknya yang tidak bersemangat.
"Jika ini membuat Papah tenang, Melati akan baik-baik saja Mah." tutur Melati berbohong.
Rumi terenyuh mendengar jawaban anaknya "Zaki mencintamu, Mamah yakin dia bisa menjaga dan menyayangimu seperti kami," Rumi membelai pipi anaknya.
Melati tidak menanggapi perkataan Rumi, dalam hati Melati memang menganggumi Zaki namun rasa cintanya lebih dulu bersemayam untuk Hasan.
Rumi mengajak Melati untuk turun dan pergi kerumah sakit karena acara pernikahannya diselenggarakan dirumah sakit tempat Arman dirawat, hanya saksi dan orangtua yang hadir untuk pernikahan itu.
Didalam perjalanan Melati diam membisu didalam hatinya selalu berdoa agar keputusan yang dia ambil sekarang benar adanya dan menjadi keputusan yang terbaik.
"Mencintai seseorang tanpa memiliki, bahagia kah?" batin Melati.
^
Zaki berdiri didepan cermin, Zaki melihat pantulan dirinya sendiri "Apakah ini benar? bahagia kah dia?" Zaki berbicara kepada dirinya sendiri.
"Zaki..."
Zaki menoleh kearah ibunya "Ada apa Mah?" tanya Zaki.
"Sudah siap?" Ayu menghampiri Zaki dan membenarkan dasinya.
Zaki tersenyum dan menganggukan kepalanya "Sudah Mah." jawab Zaki berusaha menutupi masalahnya.
Ayu tersenyum "Kalau begitu ayo kita pergi." ucap Ayu dengan semangat.
Zaki menganggukan kepalanya, Ayu dan Zaki turun kebawah, dibawah Panji dan Putra sudah menunggunya.
"Wah anak Papah tampan sekali," puji Panji.
Zaki tersenyum dan memeluk papahnya "Kamu memang sudah pantas untuk menjadi suami," tutur Panji.
Putra membuang muka melihat papahnya selalu memuji kakaknya, Putra berjalan lebih dulu kemobil, Panji dan Ayu melihat tingkah anaknya "Ayo!" Panji merangkul pundak anaknya.
Mereka masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumah mereka menuju rumah sakit.
Zaki termenung memikirkan apakah keputusan yang saat ini dia ambil tidak salah? Zaki berperang dengan hati dan pikirannya yang tidak sama dalam berprasangka.
Bagi Zaki mencintai Melati adalah kesempurnaan hidupnya dan kini dirinya akan bersanding dengan orang yang dicintainya membuat pikirannya bahagia, namun hati Zaki terkadang bimbang karena Melati tidak memiliki perasaan terhadapnya dan bisakah dia membuat bahagia? hanya waktu yang akan menjawab pertanyaan Zaki.
Sampai dirumah sakit Zaki turun dari mobil, Zaki melihat kekanan dan kekiri lalu Zaki menghembuskan nafasnya dan mengucapakan doa didalam hatinya.
Zaki dan keluarganya masuk kedalam rumah sakit dan berjalan keruangan Arman, sampai diruangan Arman keluarga Zaki mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan.
Mata Zaki tertegun melihat Melati yang menggunakan baju pengantin yang sederhana namun sangat cantik ditubuh Melati.
Mata Melati dan Zaki bertemu, Zaki dapat melihat mata sendu Melati, ingin rasanya Zaki tidak melihat mata itu yang hanya akan membuat Zaki merasa lemah.
"Za-ki..." panggil Arman ketika melihat Zaki datang.
Zaki tersadar dari lamunannya dan menoleh kearah calon mertuanya, Zaki menghampiri calon mertuanya "Zaki disini Paman." ucap Zaki.
Arman tersenyum "Ja-ga a-nak Pa-man." pinta Arman kepada Zaki.
Zaki menganggukan kepalanya "Insya Allah Paman, Zaki akan melakukan yang terbaik untuk menjaga anak Paman," janji Zaki.
Arman menganggukan kepalanya yakin kepada Zaki, karena Zaki sudah datang pak penghulu pun menyuruh agar acara segera dimulai.
Pak penghulu menjabat tangan Zaki untuk melakukan ijab qabul, Zaki menetap Melati dengan yakin, Melati pun menganggukan kepalanya.
Zaki melafazkan ijab qabul dengan lancar dan semua saksi telah menyatakan sah untuk pernikahan Zaki dan Melati.
Melati menyalimi tangan Zaki sambil menangis, Zaki terenyuh melihat Melati menangis karena Zaki tahu ini bukanlah impian pernikahannya "Maafkan aku." bisik Zaki ditelinga Melati.
^
Didepan pintu ruangan Arman dua orang pemuda sedang berdiri mematung melihat pemandangan yang ada didepannya.
Mereka adalah Hasan dan Jefry, Jefry merasa bersalah karena tidak memberitahu Hasan soal kondisi Arman yang sebenarnya.
Hasan menunduk sedih melihat kenyataan orang yang dicintainya kini menjadi milik orang lain, dan kini Hasan tidak berhak mencintainya lagi.
Jefry memandang pilu tuan mudanya "Maafkan aku Tuan Muda." ucap Jefry serak.
Hasan mendongak dan menatap Jefry dengan perasaan hancur "Kita pergi!" seru Hasan.
Putra melihat keluar dan melihat Hasan sedang berdiri didepan ruangan "Hasan!" panggil Putra dengan suara lantang membuat semua orang melihat keluar ruangan.
(besok lagi 😂😂)
*Author siapkan hati dan matanya untuk melihat reaksi kalian 😢😢😢 ahhhhhhh asli author juga sedih aslinya 😢😢😢