
Setelah melihat rekaman cctv diruang meting kini mereka bertiga sedang berpikir cara untuk orang yang sudah berani mengancam kehidupan Hasan.
"San lebih baik Kamu dan Mawar pergi ke London, biar Eyang hadapi dia disini." tutur Grissam.
"Jefry juga setuju, Tuan Muda harus bersembunyi disana untuk beberapa waktu."
Hasan berpikir sejenak mendengar rencana kakek dan asisten pribadinya, "Tidak, Hasan yang harus hadapi dia." Grissam menatap cucunya dengan tatapan sendu dan bertanya-tanya.
"Yang dia incar itu Hasan Eyang, kemanapun Hasan pergi dia pasti mengikutinya."
"Dan dia tidak akan berhenti ketika apa yang dia tuju belum tercapai." sambung Hasan lagi.
Grissam dan Jefry diam karena apa yang Hasan katakan itu benar adanya, orang itu hanya mengincar Hasan dan itu yang membuat hati Grissam merasa khawatir hingga mengusulkan Hasan untuk pergi kelondon.
"Kalau begitu kita harus susun rencana agar dia bisa kita tangkap dengan mudah." tutur Grissam.
Mereka bertiga kembali berpikir dan mendengarkan Grissam yang sedang menyusun rencana agar mereka dapat menangkap orang itu. Sesekali Hasan dan Jefry menganggukan kepalanya tanda mengerti akan perkataan Grissam.
Grissam menyusun rencana dengan begitu rapi, Hasan dan jefry pun mendengarkannya dengan fokus.
"Sekarang pergilah, bujuk istrimu." Hasan mengangguk dan langsung pergi dari ruang meting.
"Jangan sampai cucuku kenapa-napa Jef! ingat itu! bawakan dia senjata untuk berjaga-jaga." pinta Grissam kepada Jefry saat Hasan sudah pergi.
Jefry menganggukan kepalanya, "Siap Tuan." tegas Jefry.
"Mulai sekarang perintahkan penjaga didepan agar tidak lagi percaya begitu saja jika ada orang yang datang! ini jug kesalahan mereka yang teledor!" Grissam berkata dengan nada kesal karena penjaga mansion anaknya begitu bodoh karena percaya kepada penyusup begitu saja.
*****
Hasan mengetuk pintu kamar eyangnya karena istrinya berada dikamar itu, pintu terbuka dan Mawarlah yang membukanya. Hasan mengajak Mawar kekamar untuk membujuk istrinya.
"Bagaimana? siapa pelakunya?" Mawar langsung memberondong pertanyaan.
"Bukan siapa-siapa hanya orang iseng." jawaban Hasan tidak membuat Mawar tenang, Hasan terkekeh melihat wajah istrinya yang menggemaskan.
"Cinta..." Hasan memegang bahu istrinya.
"Sementara waktu Kamu mau kan tinggal bersama Melati?" Mawar terkejut dengan permintaan Hasan.
"Kenapa?"
"Em...Aku hanya tidak ingin sesuatu terjadi padamu, Aku akan pergi sebentar."
Jawaban Hasan malah semakin membuat Mawar bertanya-tanya, "Pergi kemana? kenapa Aku harus tinggal dirumah Melati? memang disini kenapa?"
Hasan terdiam dan menatap lekat-lekat istrinya, Hasan pun bercerita tentang siapa orang yang sudah membuat ancaman itu, Hasan juga menjelaskan rencananya, Mawar terkejut tidak percaya dan itu membuat Mawar semakin tidak mau bila Hasan pergi.
"Ku mohon Cinta, hanya sebentar."
"Aku tidak mau terjadi sesuatu dengamu, lebih baik kita pergi ke London seperti yang kakek bilang." suara Mawar terdengar serak.
"Dia hanya mengincarku, dan Aku yang harus menghadapinya."
"Anak buah kakek dan Jefry itu banyak, biar mereka saja yang menangkapnya." protes Mawar.
Hasan menghembuskan nafasnya pelan lalu memeluk istrinya, "Dia tidak akan pernah berhenti untuk mengusik kehidupan kita jika Aku diam saja dan lari dari setiap masalah, dan dia pun akan mengikuti kemanapun Aku pergi." mendengar kata-kata suaminya, Mawar tidak kuasa menahan airmatanya.
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu." lirih Mawar.
"Aku tidak sendiri, ada Jefry dan anak buahnya yang berada dibelakangku Cinta, jangan cemaskan apapun."
"Yang Aku cemaskan itu Kamu karena Kamu yang menjadi tujuannya melakukan ini semua." sambung Hasan.
"Aku tidak ingin ketika sedang menjalankan rencana dia menculikmu, turuti perintahku untuk tinggal bersama adikmu, itu tempat aman saat ini untukmu sampai Aku kembali." bujuk Hasan, Mawar mengeratkan pelukannya.
*****
Setelah makan bersama, Putra dan Gina masih duduk dimeja makan. Putra melihat lekat Gina yang sedang mengupas buah pir, "Gin." panggil Putra.
"Hem."
"Kamu tahu alasan Kakakmu dipecat dari HJ.GRUP?" Gina berhenti mengupas mendengar pertanyaan Putra.
Gina menatap sendu Putra karena itu yang juga Gina sesali, mengapa kakaknya bisa melakukan perbuatan yang membuat direktur perusahaan itu marah.
"Dia melakukan kesalahan fatal." ucap Gina kembali mengupas buah pir dengan hati yang ngilu mengingat kejadian itu.
"Apa?" tanya Putra yang ingin tahu, karena penjelasan kakaknya masih kurang pikir Putra.
Gina diam sejenak berpikir harus mulai darimana dirinya menjelaskannya kepada Putra, Gina tahu Putra sedang mencari permasalahan Sony karena negoisasinya untuk menolongnya waktu itu.
Gina memberikan buah pir yang sudah dikupas dan dipotong itu kepada Putra, Putra mengambil buah itu sambil menunggu Gina bercerita.
"Dia berniat untuk menghancurkan perusahaan itu dengan cara memberikan informasi penting kepada perusahaan lain."
"Dia juga..."
Putra melihat Gina dengan penasaran, "Juga apa?" tanya Putra karena Gina tak kunjung melanjutkannya.
"Dia juga ingin memerkosa Mawar."
Putra langsung tersedak mendengar penuturan Gina, "Apaan sih! pelan-pelan dong!" Gina menyodorkan airminum kepada Putra.
"Terimakasih!" ucap Putra setelah meminum air yang diberikan Gina kepadanya.
"Tadi apa? Sony mau memerkosa Mawar?" tanya Putra memastikkan.
Gina menganggukan kepalanya, "Dan itu membuat Hasan saat itu marah besar dan langsung memecat Kak Sony saat itu juga."
"Dan setelah kejadian itu Hasan juga mulai tahu kejahatan Kakak saya diperusahaannya. Itu juga yang membuat orangtuaku syok dan meninggal satu-persatu karena malu ketika tahu perilaku Kak Sony kepada perusahaan HJ.GRUP." wajah Gina terlihat sedih ketika bercerita awal mula kehidupannya berubah 180 derajat.
"Padahal perusahaan itu sudah banyak membantu keluargaku, Aku juga tidak mengerti apa yang sedang didalam pikiran kak Sony saat itu hingga membuat kesalahan yang akhirnya membaut kami menderita karena ulahnya. Warisan orangtuku pun tinggal seberapa karena ulahnya."
"Untung saja Hasan tidak menjadikan kami gembel, Hasan memang baik. Kata maaf dan ucapan terimakasih pun tidak cukup untuk dia yang sudah membiarkan Kami memiliki harta, rumah yang seharusnya dia ambil karena kesalahan kak Sony." pada akhirnya airmata Gina jatuh membasahi pipinya.
Mendengar penjelasan Gina dan melihat Gina menangis membuat hati Putra ikut Ngilu merasakan karena Putra pun pernah berada diposisi Gina, dan keberuntungan masih berpihak kepada Gina karena orangtuanya tidak ditembak mati oleh kakek Hasan seperti apa yang kakek Hasan lakukan, Putra tidak bisa protes akan kajadian itu karena apa yang mereka lakukan sudah sesuai dengan apa yang ayahnya lakukan selama ini kepada kedua orangtua Hasan.
"Jangan menangis." Putra mengusap airmata Gina dengan ibujarinya.
*****
"Assalamualaikum." salam Hasan saat pintu rumah Zaki terbuka.
"Wa'alaikumsalam." Ayu langsung memeluk Hasan.
"Bibi..." Hasan mengusap punggung Ayu yang sudah membukakan pintu rumah Zaki.
"Kak Hasan, Kak Mawar." panggil Melati, Zaki pun kini sudah berada dibelakang pintu.
"Bibi merindukanmu." Ayu menangis dalam pelukan Hasan.
"Hasan juga Bi." balas Hasan.
Hasan dan Ayu melepaskan pelukannya, Hasan menyapa Melati dan Zaki, Mawar hanya diam karena pikiran yang sedang berjalan kemana-mana saat ini. Mereka berjalan keruang tamu.
"Dek, titip istriku sebentar ya?" tutur Hasan saat sudah berada diruang tamu.
"Memang Kakak mau kemana? dan kenapa tidak tinggal bersama Mamah?" Melati begitu penasaran.
"Iya San, memang Kamu mau kemana?" tanya Zaki.
"Apa kalian bertengkar?" timpal Ayu.
"Kami tidak bertengkar Bi." jelas Hasan sambil tersenyum kepada Ayu.
Hasan pun bercerita tentang masalahnya dan rencanya yang disusun oleh kakeknya, Zaki, Melati dan Ayu begitu terkejut mendengar penjelasan Hasan.
"Kalau begitu Aku juga ikut!" Zaki menawarkan dirinya.
"Aku juga akan mengajak Putra, Aku yakin dia tidak akan sendiri San saat melawanmu nanti." sambung Zaki.
Hasan langsung mengiyakan tawaran Zaki namun sesuai dengan arahan Grissam, Zaki pun mengerti.
"Ya sudah, kalian istirahatlah agar besok bisa menghadapi orang gila itu!" perintah Zaki.
Hasan mengangguk dan menuntun Mawar untuk pergi kekamar yang sudah Zaki persiapkan.
Wajah Mawar masih terlihat begitu muram, Hasan begitu sedih melihatnya, "Cinta..." Hasan memeluk Mawar dari belakang.
"Aku takut." airmata Mawar kembali jatuh, Hasan menenggelamkan kepalanya dileher istrinya sambil memejamkan matanya, Hasan tahu kekhawatiran yanh sedang Mawar rasakan.
"Aku takut terjadi sesuatu denganmu."
******
#maaf ya kakak-kakak seyeng, Ay sebenarya mau Up 3 tapi mata Ay tidak kuat 😢😢😢
#Ay ngantuk sekali, ini Ay lembur loh 😢😢😢
#Maaf juga buat kakka-kakak yang belum sempet Ay mampirin dan balesin komennya, pekerjaan Ay diduninya nyata lagi Alhamdulillah rame 😄😄😄
#Lumayan lah buat beli paket data biar bisa tetep nulis 😂😂😂
#Nanti kalau Ay sudah sempet Ay akan kembali seperti biasanya 😉😉😉😉
#I love u kakak-kakak Cinta 😚😚😚😚