
Diclub Sony duduk dengan teman-temannya sambil minum, mereka tertawa saat membicarakan hal-hal yang menurut mereka menyenangkan, Sony berhenti tertawa saat merasakan getaran ponselnya disaku celananya, Sony lalu mengambil ponsel miliknya dan melihat pesan yang masuk, "Temui Aku besok malam, kita selesaikan urusanmu denganku!" Sony tersenyum sinis lalu membalas pesan yang masuk yang ternyata dari Hasan.
"Aku akan menunggumu digedung tua dan bersiaplah untuk menyusul orangtuamu!" Sony pun mengirim pesan itu.
"Kita duel, satu lawan satu!" Sony kembali mengirim pesan kepada Hasan, Sony melihat jika pesan itu langsung dibaca namun tidak mendapatkan balasan dari Hasan.
Mata Sony begitu tajam melihat layar ponsel, hati Sony panas ketika pesannya tidak mendapatkan respon dari Hasan hingga jarinya kini mencoba bermain dilayar kembali, "Apa Kamu takut Tuan Hasan Alfatar?" Sony kembali mengirim pesan itu dan pesan itu pun kembali langsung dibaca oleh Hasan namun lagi-lagi Sony kesal karena pesannya tidak mendapatkan balasan.
***
Setelah mengirim pesan kepada Sony untuk bertemu besok malam, Hasan meletakkan ponselnya dimeja kecil dan dirinya pergi kekamar mandi.
Mawar masuk kedalam kamar sambil membawa susu putih permintaan Hasan, Mawar langsung menaruh susu itu diatas meja kecil karena Mawar tahu jika suaminya sedang ada didalam kamar mandi karena dirinya dapat mendengar suara percikan air dari dalam kamar mandi, mungkin suaminya sedang membersihkan wajahnya karena itu kebiasaan Hasan sebelum tidur.
Mawar mendengar ponsel Hasan berbunyi dengan rasa penasaran Mawar mengambil ponsel milik suaminya yang berada disebelah susu yang Mawar letakan, Mawar menghembuskan nafasnya sesak hatinya melihat pesan yang ternyata dari Sony, "Cinta." panggil Hasan ketika keluar dari kamar mandi, Hasan berjalan menghampiri istrinya yang masih memegang ponselnya.
"Ada apa?"
Mawar memperlihatkan pesan Sony kepada Hasan dengan wajah yang terlihat tidak rela, "Aku akan berusaha berbicara baik-baik kepada Sony, Cinta. Jadi tenanglah." ungkap Hasan berusaha membuat hati istrinya tenang.
Mawar berdiri dan menatap suaminya, "Jika dia bisa diajak berbicara baik-baik, dia tidak akan melakukan semua ini setelah apa yang dulu dia lakukan dan setelah kita membiarkannya begitu saja. Harusnya dia bisa berpikir untuk hidup lebih baik bukan malah membuat ulah lagi!" tegas Mawar.
"Maaf Cinta, Aku pikir memaafkan dan memberikan pelajaran kecil untuknya bisa membuatnya menjadi manusia yang lebih baik."
"Tapi nyatanya sekarang?"
Hasan menarik nafasnya dalam-dalam, "Aku akan berusaha lagi Cinta."
"Berusaha untuk apa? untuk membuatnya berubah menjadi manusia baik? dia tidak akan pernah bisa menjadi manusia baik." protes Mawar.
Hasan menarik tangan istrinya dan memeluknya, Mawar langsung menangis didada suaminya, "Aku melakukan ini semua agar dia berhenti untuk mengganggu kita dan berhenti mengharapkanmu." tutur Hasan.
"Tapi Aku takut jika dia berbuat macam-macam denganmu." lirih Mawar.
*****
Putra sedang berdiri dibalkon kamarnya, Gina melihat punggung Putra sambil memegang secangkir cokelat hangat untuknya, "Put." Putra menoleh kebelakang.
"Aku buatkan cokelat hangat untukmu." Gina memberikan cokelat itu kepada Putra.
"Ada maksud gak nih?" celoteh Putra.
"His Kau ini! Aku tidak punya maksud apa-apa!" wajah Gina langsung terlihat kesal.
Putra tertawa, "Terimakasih." Putra menghirup aroma cokelat yang terasa nikmat dihidungnya.
"Baunya wangi sekali, dapet resep darimana?" tanya Putra lalu meminum cokelat itu dengan perlahan.
"Mau tahu aja!" goda Gina sambil menahan senyumnya.
"Berani ya!" saat Putra ingin mencubit Gina tiba-tiba ponselnya berdering hingga membuat Putra mengumpat kesal.
Putra tambah kesal katika melihat layar ponselnya karena yang menghubunginya adalah Sony, Gina dapat melihat wajah Putra yang kesal, "Siapa?"
"Kakakmu!" kesal Putra.
Putra menggeser tombol hijau lalu menempelkannya ditelinga, "Ada apa!" ketus Putra.
"Yang sopan bicara dengan bosmu ini!" Putra membuang nafasnya jengah mendengar perkataan Sony.
"Besok kita kegedung tua." perintah Sony.
Putra mengernyitkan heran, sedangkan Gina bertanya tanpa suara kepada Putra, Putra membungkam mulut Gina dengan jari telunjuknya.
"Untuk apa?" tanya Putra penasaran.
"Tidak usah banyak tanya, ikut saja!" Sony langsung menutup teleponnya.
"Sial!" umpat Putra.
"Ada apa? Kak Sony menyuruh apa?" tanya Gina.
"Dia menyuruhku untuk ikut bersamanya kegedung tua, gila emang kakakmu, mau apa coba."
Putra memiringkan matanya sambil melipatkan kedua tangannya diatas perut, "Mau cari mati! tunggu disini!" tegas Putra.
Wajah Gina langsung cemberut dan memonyongkan bibirnya lalu masuk kedalam meninggalkan Putra sendirian dibalkon.
Putra terkekeh melihat tingkah Gina, "Hey! awas nanti bibirmu itu lepas dari tempatnya!" teriak Putra lalu tertawa.
"Mau apa coba biang kerok ini!" Putra berpikir apa yang sedang Sony rencanakan hingga harus menyuruhnya pergi kegedung tua.
****
"Jef, siapkan kamera tersembunyi dan pastikan agar semua terpasang dengan baik, pastikan semua berjalan dengan baik dan kita bisa melihat dan mendengar apa yang dilakukan Sony dan Hasan nanti." tutur Grissam saat meting bersama Jefry.
"Siap Tuan."
"Jangan siap-siap aja! awas kalau gagal dan terjadi apa-apa sama cucuku, Kamu yang akan Aku gantung di tugu monas, Jef!" tegas Grissam.
Jefry menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum kuda.
****
Zaki bersiap-siap pergi ketempat Grissam dan Jefry "Mas yakin mau ikut?" tanya Melati saat mengantar suaminya kedepan.
Zaki mengangguk, "Yakin Dek." Zaki mencium pucuk kepala istrinya.
Wajah Melati terlihat sedih melihat kepergian suaminya, Zaki masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan rumah setelah melambaikan tangannya kepada istri dan ibunya yang kini sudah berada disamping Melati.
"Semoga semua baik-baik saja." gumam Ayu sambil menatap kepergian anaknya, Melati mengaminkan ucapan sang mertua.
****
"Sayang..." panggil Mawar saat memasang kancing kemeja suaminya.
"Aku akan baik-baik saja." Mawar menghembuskan nafasnya pelan mendengar jawaban suaminya.
"Janji." Mawar mengangkat jari kelingkingnya.
"Kau ini seperti anak kecil saja." ucap Hasan namun tetap melakukan apa yang istrinya pinta.
Dengan berat hati Mawar melepaskan kepergian Hasan, Mawar sengaja tidak mengantar Hasan sampai didepan, dirinya hanya melihat kepergian suaminya diatas balkon kamar yang sedang dia tempati dirumah Zaki, Hasan melambaikan tangannya sambil tersenyum, Mawar membalas lambaian tangan Hasan dengan senyum yang dipaksakan.
****
Hasan sampai didepan gedung tua, Hasan melihat sekeliling dan dirinya melihat sebuah mobil yang dia yakini adalah mobil Sony, dengan keyakinan Hasan berjalan masuk kedalam gedung tua itu.
Prok Prok Prok suara tangan menggema seiring kaki Hasan melangkah masuk, "Kamu datang juga Tuan Hasan Alfatar Aku pikir Kamu takut." sinis Sony.
Hasan maju hingga jarak antara dirinya dan Sony begitu dekat, "Aku yang menyuruhmu untuk bertemu bukan!" tegas Hasan.
Sony tersenyum sinis, "Persiapkan Mawar untukku!" ungkap Sony.
Hasan mengepalkan tangannya dengan rahang yang ikut mengeras, "Jangan berharap terlalu tinggi Sony karena jika tidak berhasil itu rasanya sakit!" tegas Hasan.
"Tapi..."
"Apa Kamu ingin pembelajaran yang lebih lagi!" Hasan sengaja memotong perkataan Sony.
Sony menundukkan kepalanya sambil tersenyum sinis, "Kita lihat siapa yang akan mendapat pelajaran kali ini!" angkuh Sony.
Sony mengangkat tanganya yang terkepal ingin memukul Hasan namun dengan gerakan cepat Hasan bisa menahan tangan Sony dan langsung memutar tangan Sony hingga Sony merintih kesakitan, "Aku memaafkanmu agar Kamu bisa berpikir dan berubah menjadi manusia yang lebih baik, tapi sepertinya cara halusku tidak bisa merubahmu!" ungkap Hasan.
Sony berusaha melepaskan cengkraman Hasan dengan memukulkan tangan kanannya keperut Hasan, Hasan terjatuh namun dengan segera dirinya bangkit, Sony berusaha untuk menendang Hasan namun Hasan dapat menangkisnya dengan tepat.
Nafas Sony memburu dengan wajah dan mata yang memerah karena marah dan kesal karena dirinya selalu gagal menyerang Hasan, justru kini dirinya yang penuh luka diwajahnya, Hasan mencengkram kerah Sony, "Aku bisa memaafkanmu untuk urusanku, tapi Aku tidak akan tinggal diam saat Kau meminta istriku! Kau mengerti!" Hasan menghempaskan tubuh Sony, Sony terjatuh duduk dilantai gedung tua.
"Keluar kalian!" teriak Sony.
*****
#Selamat membaca dan jangan lupa bahagia kakak-kakak seyeng 😚😚😚 maaf Ay hanya bisa Up 1 karena keadaan yang belum memungkinkan 😐😐😐 doakan saja kaka agar Ay bisa lancar lagi nulisnya 😊😊 sampai jumpa🙋🙋🙋🙋