
Zaki terdiam dan menatap adiknya yang sedang menunggu jawaban darinya, Zaki bingung dengan Putra kenapa tiba-tiba bertanya soal Sony karena jejak Sony buruk sekarang.
"Kak! kenapa sekarang malah diam?" Putra menggoyang-goyang tangan kakaknya yang berada diatas meja.
Zaki menghembuskan nafasnya lalu menatap adiknya dengan tajam, "Apa Kamu berteman dengannya?" selidik Zaki, Putra langsung menggelengkan kepalanya.
Zaki memiringkan kepalanga, "Lalu kenapa Kamu bertanya tentang Sony?" Putra memperbaiki duduknya.
"Gini, Aku punya teman bernama Gina dan Sony itu adalah kakaknya Gina. Tetapi setelah orangtuanya meninggal sikapnya berubah kepadanya, dia jadi lebih kasar bahkan kemarin menculik Gina." Zaki mendengarkan cerita Putra dengan fokus.
"Dan waktu dia menculik Gina, dia bilang kalau dia bukan kakaknya." sambung Putra.
Zaki mengangguk-anggukan kepalanya membuat Putra sedikit heran, Putra bertanya-tanya apakah kakaknya itu tahu sesuatu? Putra berharap ada titik terang untuk permasalahannya, Putra sengaja hanya bercerita tentang permasalahan Gina dan tidak mau bercerita tentang masalah dirinya yang bernegoisasi dengan Sony, yang penting sekarang Putra tahu siapa Sony terlebih dahulu.
"Sony itu manager di perusahaan Hasan, sebelum Hasan memecatnya." Putra membelalakan matanya mendengar pernyataan kakaknya.
"Mantan manager HJ.GRUP?" Zaki menganggukan kepalanya.
Putra menyandarkan punggungnya dikursi kuasanya, "Lalu kenapa Hasan memecatnya? setahu Putra perusahaan itu tidak sembarang memecat seseorang Kak."
"Dia melakukan kesalahan besar." mendengar perkataan kakaknya, Putra kembali mendekatkan dirinya kepada Zaki.
"Dia mencoba membocorkan perihal perusahaan Hasan kepada...kepada...Kakak lupa nama perusahaannya."
Putra mengetuk kepala Zaki dengan bolpoin, "Ah! apaan sih!" umpat Zaki sambil memegang kepalanya yang habis dipukul Putra.
"Lagian Kakak, kenapa bisa lupa? menyebalkan!" Putra menggerak-gerakkan tangannya mengisyaratkan kakaknya itu untuk pergi dari ruangannya.
"Durhaka sekali Kau ini!" Zaki berdiri, "Pulang nanti mampir kerumah Kakak, Mamah ingin bertemu denganmu." sambung Zaki sebelum pergi.
"Hem." Putra hanya berdehem menjawab permintaan kakaknya.
Setelah Zaki pergi, Putra merenungkan pernyataan Zaki. Pantas saja dia bernegoisasi untuk menghancurkan perusahaan Hasan, apa ini hanya motif balas dendam atau ada motif lain? dan siapa pula perusahaan yang bekerja sama dengan Sony itu, dalam hati Putra berteriak memikirkan masalahnya hingga Putra mengacak-acak rambutnya karena kesal memikirkan Sony.
Putra mengambil ponselnya lalu mengetikkan sesuatu kepada Rio dan Adi, Putra meminta Rio dan Adi untuk bertemu dicafe yang biasa mereka datangi.
♡
Cuaca malam yang sejuk membuat Mawar betah berada dibalkon kamarnya sambil menunggu Hasan yang berada dikamar mandi, Mawar menghembuskan nafasnya dalam-dalam merasakan kesejukan malam yang kini sangat berbeda bagi Mawar. Sekarang dirinya bisa menghirup udara dengan kebahagiaan bukan lagi dengan kesedihan yang dulu dia rasakan saat masih bersama ayahnya, tetapi sekarang Mawar bahagia karena ayahnya pun sudah berubah menjadi orang yang baik.
Mawar melihat bintang yang sedang memberikan cahayanya kepada bumi, Mawar tersenyum melihat bintang-bintang yang sangat banyak yang seakan-akan ikut bahagia dengannya.
"Kenapa senyum-senyum seperti itu?" Mawar menoleh kesamping dimana suaminya sudah berada disampingnya sambil mengusap-usap rambutnya dengan handuk, Mawar menggelengkan kepalanya karena suaminya tidak memakai baju hanya memakai celana pendek.
Mawar mengambil alih handuk itu, "Melihat bintang."
"Bintangmu ada dihadapanmu ini." Mawar terkekeh lalu mencubit perut Hasan pelan.
Hasan tertawa karena ulah sang istri, "Pakai bajumu!" perintah Mawar saat Hasan berhenti tertawa.
"Tidak mau!" tolak Hasan.
"Malu tahu!"
"Malu sama siapa?" Hasan menoleh kekiri dan kekanan.
"Tidak ada siapa-siapa?" Mawar berkacak pinggang.
"Memang Aku ini Kau anggap apa? hantu?" Hasan terkekeh lalu melingkarkan tangannya dipinggang istrinya dan menuntun tangan Mawar untuk melingkar dilehernya.
"Kenapa harus malu kepada istri sendiri, bahkan Aku maunya tidak memakai baju bila dihadapanmu." Hasan mengedipkan satu matanya untuk menggoda sang istri yang sekarang wajahnya merah merona karena ucapannya.
Mawar mengigit bibir bawahnya karena kata-kata suaminya berhasil membuat jantungnya berdetak lebih cepat sekarang, dan Mawar akui bila pesona Hasan sekarang jauh lebih membuat hatinya tak karuan.
Hasan ingin mencium Mawar namun tertahan oleh tangan Mawar yang berada didadanya, "Malu nanti dilihat orang-orang dibawah." Mawar melirik kebawah.
"Hanya penjaga dan tidak melihat kearah kita."
"Tap..." mulut Mawar lebih dulu dibungkam oleh bibir Hasan sebelum Mawar menyelesaikan perkataannya.
Dibawah, tepatnya dibelakang pagar mansion Hasan, ada sepasang mata yang sedang memandang benci apa yang mereka lakukan, seseorang itu mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras karena menahan marah. Ingin rasanya seseorang itu menghampiri mereka dan menghabisi Hasan dengan tangannya namun dia sadar banyak penjaga dimansion itu, dia juga beruntung karena penjaga sekarang berada didalam pagar bukan diluar pagar hingga dia bisa memata-matai mansion itu dan sialnya justru dia melihat adegan yang membuat hatinya panas.
"Aku tidak sanggup lagi bila harus melihat ini lebih lama lagi." Dia pergi karena melihat Hasan dan Mawar yang sedang berciuman.
Seseorang itu pergi menuju mobilnya yang dia parkirkan jauh dari mansion agar tidak ada yang curiga, saat berjalan dia sering menoleh kebelakang karena takur ada yang mengikutinya, sampai dimobilnya seseorang itu masuk kedalam mobil dan membuka masker yang dia pakai, nafas seseorang itu terengah-engah karena lelah berjalan dari mansion Hasan ketempat mobilnya.
"Bagaimana? kapan rencana itu akan kita mulai?" tanya seseorang wanita yang sudah berada dimobil.
"Tunggu sampai mereka lengah!"
Wanita itu menghembuskan nafasnya lalu menyenderkan kepalanya dijok mobil, "Bersabar Hany, kita hanya perlu waktu Sayang."
Hany menoleh, "Sampai kapan Son? Aku sudah ingin Mawar itu lenyap dari muka bumi ini!" tegas Hany.
Sony menggenggam tangan Hany, "Sabar Sayang, Kamu tahukan supir itu juga bukan sekedar supir biasa? kalau bukan karena dia sudah Aku lenyapkan sejak kemarin Sayang." ucap Sony berusaha menenangkan Hany.
Hany mendekatkan wajahnya kepada Sony, "Jangan lama dan jangan gagal, ingat itu." Sony mengangguk tersenyum lalu mengecup bibir Hany.
Tanpa disuruh tangan Hany melingkar dileher Sony yang semakin rakus mencumbunya, "Ayo kita kehotel." serak Hany yang sudah terangsang dengan perlakuan Sony.
Sony menatap Hany, "Apa Kamu tidak pulang Beby?" Tanya Sony sambil membenarkan rambut Hany yang berantakan karena ulahnya tadi.
"Tidak mau! percuma saja Aku pulang, Syam tidak akan pernah melihatku!" kesal Hany, Sony tersenyum penuh kemenangan. Dirinya langsung melajukan mobilnya menuju hotel sesuai permintaan Hany kekasih gelapnya.
"Bukan Mawar yang ingin Aku lenyapkan tetapi Hasan Alfatar! dan setelah itu Mawar akan menjadi milikku." Sony tersenyum tipis penuh arti saat melihat jalanan yang dia lalui.
Sony melihat wanita yang ada disampingnya, "Kamu bukan levelku Nona Hany yang malang, karena lewat Kamu juga Aku bisa menuntaskan dendamku."
"Lihat Syam! hampir setiap malam Aku menikmati tubuh istrimu yang bodoh ini!" batin Sony tertawa kencang.
♡
Dirumah Syam, Alin sedang mengoceh kepada Syam karena lagi-lagi menantunya itu pergi tanpa pamit dan tambah pusing ketika melihat anaknya yang sama sekali tidak peduli dengan kepergian istrinya.
"Syam!" panggil Alin dengan suara keras.
"Apa sih Mah!"
"Cari istrimu kemana!" teriaknya lagi.
"Syam tidak mau! dia sudah dewasa Mah, kalau dia dewasa dia pasti mengerti akan title nya sebagai istri!" Syam bangkit dari duduknya dan meninggalkan ibunya yang sedang marah kepadanya.
"Lalu apa bedanya dengan Kamu Syam!" Syam berhenti lalu menoleh kebelakang menatap ibunya.
"Syam tidak pernah mau menikah dengannya, ingat itu Mah! tidak selamanya perjodohan itu berakhir bahagia Mah! itu yang Syam rasakan sekarang! apa Mamah mengerti!" Alin tidak berucap sepatah katapun mendengar perkataan anaknya yang menusuk hatinya saat ini.
Alin melihat kepergian anaknya hingga hilang saat masuk kedalam kamarnya, perkataan anaknya itu dibenarkan oleh hati Alin, Alin sebenarnya merasa bersalah sudah memaksa anaknya untuk menikah demi kemajuan perusahaan tetapi justru dia kehilangan senyum anaknya yang dulu selalu terpancar ketika bersama Mawar.
Mengingat nama Mawar, Alin menyesal karena telat mengetahui bila dia adalah anak Arman yang merupakan kuasa hukum dan tangan kanan Jacson pemilik perusahaan HJ.GRUP yang sekarang menjadi milik Hasan.
"PYARRRRRRRRR"
♡
#Hayo suara apa itu 😂😂😂😂
*Sue lu thor, udah kemarin gak up sekarang main tebak-tebakkan pula 😈😈
#wwkwkkw kan Ay sengaja 😜😜😜😜