
Hasan membaringkan dirinya dikasur dengan kedua tangannya menjadi tumpu kepalanya "Kenapa rasanya aku ingin segera pulang." gumam Hasan sambil menatap langit-langit kamarnya.
Hasan merasa hatinya masih tidak tenang seakan merasakan sesuatu yang sedang terjadi, Hasan menyentuh dadanya "Kenapa dengan hati ini, mengapa aku ingin segera pulang." gumam Hasan lagi.
Hasan bangun dan mengambil foto didalam tasnya yang dia bawa dari Indonesia, Hasan tersenyum memandang foto tersebut "Ayah..Ibu.." ucap Hasan.
"Terimakasih untuk kehidupan yang kalian berikan untukku, terimakasih Ayah...Ibu." Hasan berbaring dan memeluk foto kedua orangtuanya.
"Hasan merindukan kalian." ucap Hasan sebelum memejamkan matanya.
Hasan tertidur sambil memeluk foto kedua orangtuanya, saat Hasan terlelap Ellois masuk kedalam kamar Hasan. Ellois membiarkan pintu kamar Hasan terbuka, melihat cucunya yang sedang tertidur pulas membuat bibir Ellois tersenyum "Kau sangat tampan seperti anakku Jacson." gumam Ellois sambil menyelimuti Hasan.
Ellois melihat sebuah foto yang digenggam Hasan dia pun mengambilnya dan melihat foto itu, Ellois terduduk disisi ranjang Hasan airmatanya mengalir melihat foto yang kini dalam genggamannya "Anakku." ucap Ellois lirih.
Ellois memeluk foto itu dalam dadanya, rasa rindu dan bersalahnya menjadi satu, orangtua macam apa yang telah mengusir anaknya sendiri dari rumahnya hanya karena keegoisan dan perasaan yang selalu ingin benar, puluhan tahun menahan rindu ingin memghampiri dan bertemu namun lagi-lagi keegoisan menjadi alasannya untuk mengkesampingkan rasa rindunya.
Dan kini saat keegoisan itu mampu untuk dia hancurkan tinggal rasa bersalah yang sangat dalam menyelimuti perasaannya "Maafkan Mammy Son." Ellois mengusap wajah Jacson difoto itu.
Grissam yang melihat kamar cucunya terbuka menghampirinya "El?" ucap Grissam ketika melihat istrinya didalam kamar Hasan.
Ellois tidak menoleh kearah suaminya, dia tetap memandang anaknya yang kini hanya bisa melihatnya difoto saja.
Grissam mendekat dan melihat Ellois sedang memegang foto Jacson dan istrinya, Hasan mengusap pundak Ellois "Kita akan bertemu disurga nanti El," ucap Grissam.
Ellois memeluk pinggang suaminya dan menangis tanpa suara hanya airmata yang setia mengalir dari pelupuk matanya.
"Ayo kita kekamar, nanti Hasan terbangun kalau kau menangis disini," Grissam menuntun istrinya untuk pergi dari kamar Hasan.
^
Putra melempar tasnya diatas kasur begitu saja "Shit!" umpat Putra memukul angin.
Putra mendudukan dirinya dengan kasar dikursi belajarnya "Masa Melati mau nikah sama Kak Zaki? yang benar saja!" kesal Putra karena mendapat kabar jika Melati akan menikah dengan kakaknya.
"Ini gak bisa dibiarin!" geram Putra.
"Tapi apa yang harus aku lakukan!" Putra mengusap wajahnya kasar karena memikirkan Melati.
Putra mengetuk-ngetuk jari telunjuknya dimeja, Putra berusaha untuk berpikir agar pernikahan itu tidak terjadi.
Karena kesal dengan otaknya yang buntu, Putra bangkit dari duduknya lalu segera keluar dari kamarnya dan pergi dari rumahnya.
"Mau kemana?" tanya Ayu yang melihat Putra akan pergi dengan wajah yang terlihat kesal,
Putra tidak menjawab pertanyaan ibunya dia semakin mencepatkan langkah kakinya. Ayu menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak bungsunya tersebut.
Putra mengendarai motor untuk pergi keperusahaan ayahnya dimana Zaki bekerja. Putra tidak peduli dengan umpatan orang kepadanya karena mengebut dijalanan dia tetap mengendarai motornya dengan kencang.
Putra turun dari motor dan mencopot helmnya dengan buru-buru, dia berjalan dengan langkah yang cepat untuk menemui sang kakak.
Putra membuka pintu ruangan Zaki dengan kasar tanpa salam atau sopan santun lainnya, Zaki menatap adiknya dengan tajam "Bisa sopan sedikit?" sindir Zaki.
Putra mendudukan dirinya didepan kakaknya, Putra melipatkan kedua tangannya didepan perutnya lalu menatap kakaknya dengan tatapan yang tajam.
Zaki menyandarkan tubuhnya dikursi kerjanya "Ada apa?" tanya Zaki tanpa rasa takut dengan tatapan tajam adiknya.
Zaki tersenyum simpul mendengar pertanyaan adiknya "Lihat saja nanti." ucap Zaki tidak kalah dinginnya.
"Ha! Kakak ini sungguh sangat menyebalkan! tidak mau mengalah kepada adiknya sendiri!" kesal Putra.
"Memang Melati menyukaimu?" tanya Zaki meledek Putra.
"Ha! Kakak pikir Melati juga menyukaimu!" timpal Putra tidak mau kalah.
Zaki terdiam sejenak karena perkataan Putra dibenarkan oleh hati Zaki "Tapi kenyataanya dia akan menikah dengan Kakak bukan?" ucap Zaki menutupi kesedihan hatinya didepan Putra.
Putra mendongak kesal "Shit!" Putra langsung berdiri dan meninggalkan kakaknya "Aku tidak akan menganggapmu Kakak lagi! kalau sampai itu terjadi!" ucap Putra sebelum pergi.
Zaki menghembuskan nafasnya kasar setelah Putra pergi "Ha!" Zaki mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
^
"Mel..." panggil Arman dengan suara yang lirih karena kondisinya yang semakin lemah.
Melati mendongak dan melihat ayahnya "Iya Pah...Melati disini." ucap Melati sambil menggenggam tangan ayahnya.
Arman berusaha menyentuh kepala anaknya namun tidak bisa karena tangannya terasa kaku untuk digerakan "Tu-ru-ti per-min-ta-an Pa-pah." ucap Arman terbata-bata.
Melati menangis mendengar permintaan ayahnya "Melati akan berusaha Pah." ucap Melati menundukkan kepalanya karena sedih.
"Pa-pah ha-nya ing-in ka-mu a-da yang men-ja-ga-mu se-te-lah pa-pah per-gi." tutur Arman.
Melati menangis sesenggukan mendengar perkataan ayahnya, Melati mendongak melihat ayahnya yang sangat dia sayangi "Papah pasti sembuh! Papah gak boleh pesimis Pah!" ucap Melati sambil menghapus airmatanya.
Arman menggenggam tangan anaknya dengan erat matanya menatap Melati dengan penuh harapan "Ha-san pas-ti a-kan me-nger-ti." ucap Arman seakan mengerti perasaan Melati.
Melati kembali menundukkan kepalanya karena menangis mendengar perkataan ayahnya, mendengar anaknya menangis hati Arman menjadi pilu, matanya pun mengeluarkan airmata yang tidak biasa dia keluarkan.
Melati mendongak dan melihat ayahnya yang menangis, Melati manghapus airmata ayahnya dengan ibu jarinya "Melati akan menuruti permintaan Papah, Papah jangang sedih lagi, Insya Allah Melati baik-baik saja." ucap Melati menghapus airmatanya sendiri lalu memamerkan senyuman kepada ayahnya.
Arman menatap anaknya dengan tatapan haru "Maafkan Papah sayang...Papah hanya ingin ada yang menjagamu setelah Papah pergi." tangis batin Arman.
^
"Astagfirullahaladzim!" Hasan beristigfhar ketika bangun dari tidurnya karena bermimpi buruk.
Hasan langsung turun dari tempat tidur dan masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya "Kenapa aku bermimpi buruk? ha!" gumam Hasan sambil bercermin setelah mencuci mukanya.
Hasan keluar dari kamar mandi dan duduk disisi ranjang, Hasan mengambil ponsel yang berada dimeja kecil yang berada disisi ranjang "Kekamarku sekarang!" perintah Hasan langsung mematikan teleponnya.
"Masuk." ucap Hasan ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar.
"Tuan Muda memerlukan sesuatu?" tanya Jefry ketika menghadap Hasan.
"Aku bermimpi buruk Jef!" ucap Hasan membuat jantung Jefry ingin lepas dari tempatnya.
(besok lagi 😂😂)
#jangan lupa bahagia dan Vot kakak 😂😂😂😂