
Mawar kecewa karena suara itu ternyata bukan suara suaminya tetapi Syam, "Mau apa Kamu?" acuh Mawar.
Syam tertawa dibalik telepon, "Kembalilah kepadaku Mawar, Aku tidak bisa hidup tanpamu." perkataan Syam membuat Mawar merasa jijik.
"Berhenti omong kosong dan perlu Kamu ingat sekarang Aku sudah memiliki Hasan yang jauh lebih baik."
Syam tersenyum sinis dibalik telepon, "Hasan tidak akan pernah kembali lagi Mawar sayang, kembalilah kepadaku, Aku berjanji akan membuatmu bahagia."
Mawar tersentak mendengar pernyatan Syam bahwa Hasan tidak akan pernah kembali, "Apa maksudmu!" teriak Mawar.
Syam terdiam membuat kesabaran Mawar habis, "Apa yang Kamu lakukan kepada Hasan, Syam!" marah Mawar.
"Aku melakukan apa yang seharusnya Aku lakukan dari dulu, Aku dulu pecundang tapi sekarang Aku berjanji akan memperjuangkan cintaku lagi Mawar." Mawar menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang tidak memegang telepon.
"Kamu sudah gila Syam! kita sama-sama sudah memiliki pasangan hidup. Harusnya Kamu sadar itu!" Syam hanya diam dibalik telepon.
"Dimana Hasan!" tekan Mawar.
"Kembali kepadaku, maka Aku akan membuat Hasan baik-baik saja." Syam langsung mematikkan teleponnya membuat Mawar berteriak memanggilnya.
Mawar menangis tersungkur ditempat tidur, "Kamu jahat Syam, Aku sudah mengikhlaskanmu tapi saat Aku sudah menemukan kebahagiaanku Kamu mengusikku lagi." umpat Mawar dalam tangisnya.
"Ya Allah dimana suamiku, lindungi Dia Ya Allah, Aku mohon." doa Mawar dalam tangisnya.
♡
Ellois mondar-mandir diruang keluarga karena sudah sore belum ada kabar dari suami atau cucunya, Jefry pun bagaikan ditelan bumi.
"Apa mereka belum juga ada kabarnya, tante?" tanya Rumi yang sekarang ikut khawatir dengan keadaan menantunya, Ellois menggelengkan kepalanya sambil memasang wajah memelas penuh kekhawatiran.
"Jangan-jangan firasat Mawar benar lagi tante kalau mereka dalam keadaan bahaya?" Ellois dan Rumi saling tatap, mereka bermain dengan pikiran masing-masing.
"Apa kita kerumah sakit saja? siapa tahu mereka disana sedang menjenguk Ayu." usul Ellois yang sudah diberitahu dari Grissam sebelum Grissam pergi.
Rumi menganggukan kepalanya, "Benar juga, Rumi panggil Mawar dulu ya, Tante." Ellois mengangguk, Rumi lalu segera keatas untuk menemui Mawar.
♡
Gina celingukan ketika Putra memberhentikan mobilnya didepan rumah sakit, "Kenapa kita kesini, Pak?" tanya Gina bingung.
"Ibuku sakit Aku mau menjenguknya." Putra membuka sabuk pengamannya lalu membuka pintu mobilnya.
Gina terbengong, "Lalu kenapa harus mengajakku? ha dasar bos komopleks." gumam Gina yang ternyata terdengar ditelinga Putra karena Putra sudah membuka pintu mobil Gina dan berdiri disamping Gina saat Gina sdang mengomel.
"Hey! mau jadi batu Kamu mengumpat bos mulu! turun!" Gina tersentak kaget lalu menoleh kesamping, Gina tersenyum kuda kepada Putra karena ketahuan dirinya sedang mengumpatnya, "Dia kira Aku malin kundang apa!" kesal batin Gina sambil turun dari mobil.
Putra menutup pintu mobilnya lalu mengunci tubuh Gina dengan cara tangan Putra berpegangan dibadan mobil, "Hey! Kamu itu sektretarisku, jadi kemanapun Aku pergi Kamu harus ikut jika masih dalam jam kerja! mengerti!" tekan Putra, Gina mengangguk terpaksa karena jantungnya saat ini kembali berlari maraton saat Putra berada didekatnya seperti ini.
♡
Hasan mengerjapkan matanya dirnya mulai sadar dan melihat kesamping kanannya dimana Jefry dan eyangnya sedang tersenyum kepadanya, "Eyang, Jefry." lirih Hasan.
"Alhamdulillah Nak Hasan sudah sadar." Hasan menoleh kekiri, Hasan menatap bingung seseorang yang ada disampingnya kini.
"Dia Pak Kyai, Tuan Muda. Yang sudah menolong kita." Jefry memperkenalkan Pak Kyai kepada Hasan.
"Dia juga yang mengobati kita." timpal Grissam.
Hasan berusaha bangkit untuk duduk, dengan sigap Jefry membantu Hasan, "Terimakasih Pak Kyai." Hasan tersenyum kepada Pak Kyai dengan ramah.
Hasan terpaku saat melihat kedepan karena banyak santri dan para guru pasantren, mereka ingin melihat tamu yang ternyata adalah anak dari orang yang paling berjasa dipesantren itu.
"Allah yang sudah membantumu Nak, lewat perantara mereka." Pak Kyai menunjuk para santri dengan ibu jarinya.
Hasan tersenyum kepada para santri dan Guru, "Terimakasih, semoga Allah membalas kebaikan kalian." tutur Hasan, para santri serentak mengucapkan "Aamiin".
"Kami juga terimakasih Tuan, karena kebaikan orangtua Tuan untuk pesantren ini." Hasan langsung tersenyum karena Hasan langsung mengerti arti perkataan mereka.
"Itu juga karena Allah, tolong jangan pernah berhenti untuk mendoakan ayah dan ibuku." seketika airmata santri dan guru jatuh karena mengingat kebaikan orangtua Hasan, walaupun para santri tidak melihat orangtua Hasan namun saat guru-guru menceritakan kebaikan mereka, mereka terharu mendengarnya, setelah melihat keadaan Hasan yang sudah sadar dan mengucapkan terimakasih kepadanya para santri dan guru pun pamit kembali untuk belajar dan mengajar.
"Nak, contohlah kedua orangtuamu, menggenggam dunia untuk menjadi sarana kebaikan agar kelak kita dikenal diakherat." tutur Pak Kyai.
Hasan tersenyum mendengar petuah Pak Kyai, "Insya Allah Pak Kyai." Pak Kyai terharu lalu mengusap kepala Hasan.
"Berikan kepada mereka dan satunya kepada Hasan, setelah itu duduklah sini sebelah Abah." wanita itu menurut akan perintah Pak Kyai yang tidak lain orangtuanya.
"Terimakasih." ucap Grissam dan Jefry bebarengan.
Wanita itu lalu duduk disamping Pak Kyai sambil memberikan teh terakhir untuk Hasan, "Terimakasih." ucap Hasan, wanita itu memandang Hasan sekilas sambil tersenyum.
Hasan melihat wanita yang sedang duduk disamping Pak Kyai, Pak Kyai melihat Hasan yang sedang memperhatikkan anaknya lalu tersenyum, " Apa Kamu ingat siapa wanita yang ada disebelah Abah ini?" Hasan menatap bingung Pak Kyai dan meminta jawaban.
Grissam dan Jefry juga bingung apa yang Pak Kyai bicarakan, "Dia Irma, wanita yang selalu Kamu ajak main saat orangtuamu datang kemari, apa sudah ingat?" Hasan berpikir sejenak sedangkan Irma anak Pak Kyai terlihat malu-malu hingga menundukkan kepalanya.
Hasan tiba-tiba teringat dengan masa kecilnya yang baru berumur 8tahun dan Irma 5tahun, mereka selalu bermain bersama saat orangtua Hasa datang kepesantren sampai saat Hasan melupakan semuanya ketika hari dimana kedua orangtuanya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
"Ya Allah Irma? maaf Pak Kyai agak lupa karena itu sudah lama sekali dan itu juga saat Hasan masih kecil kan? Masya Allah sudah besar ya Pak Kyai." Irma menunduk malu walau sebenarnya sempat kecewa karena Hasan tidak ingat kepadanya.
"Kamu saja sudah besar, masa anak Abah kecil terus, padahal rasanya baru kemarin Abah melihat masa kecilmu saat bermain dengan anak Abah ini." Pak Kyai merangkul anaknya yang masih menunduk malu.
Hasan melihat Irma, "Bagaimana kabarmu?" pertanyaan Hasan membuat Irma memberanikan diri untuk melihat Hasan.
"Alhamdulillah baik, Mas." jawab Irma sambil tersenyum, Hasan membalas senyuman Irma, hati Irma tiba-tiba berdesir melihat senyuman teman masa kecilnya itu.
"Tuan Muda." suara Jefry membuyarkan lamunan Irma dan Hasan yang sejenak saling pandang.
"Kita belum menghubungi Nona Mawar, apa perlu Aku menjemputnya." mendengar nama Mawar hati Irma penasaran siapa gerangan dan apa hubungannya dengan Hasan? pikir Irma berkelana kemana-mana.
"Astagfirullah, kenapa Kamu baru bilang dan kenapa belum menghubunginya?" mendengar nada suara Hasan, Irma dapat melihat raut kekhawatiran, hati Irma semakin penasaran.
"Ponsel kita rusak Tuan Muda." jelas Jefry.
"Kalau begitu lebih baik kita pulang, Jef!" Hasan sedikit panik.
"Nak, istrihatlah dulu disini beberapa hari, lukamu masih belum sembuh, Nak." tutur Pak Kyai.
"Kamu bisa menghubungi keluargamu dengan ponsel anak Abah." sambung Pak Kyai yang diangguki oleh Jefry dan Grissam.
Irma menganggukkan kepalanya saat Hasan menatap kearahnya, Irma lalu memberikan ponselnya kepada Hasan, "Terimakasih." ucap Hasan ketika menerima ponsel Irma.
♡
Mawar, Rumi dan Ellois bersiap-siap akan pergi kerumah sakit. Saat Mawar sudah berada dibawah tiba-tiba ponselnya berbunyi, Mawar melihat layar ponselnya lalu kembali menaruhnya didalam tas karena lagi-lagi nomer tidak dikenal yang menghubunginya, Mawar takut jika yang menghubunginya adalah Syam lagi.
"Mawar kenapa tidak diangkat?" tanya Ellois yang melihat Mawar enggan mengangangkatnya.
"Nomer tidak dikenal Eyang." jawab Mawar malas.
"Tapi itu bunyi terus loh Nak, angkat siapa tahu penting." bujuk Rumi.
Karena bujukan eyang dan ibunya, Mawar akhirnya mengambil ponselnya kembali didalam tasnya, Mawar menarik nafasnya berharap jika itu bukan lah Syam lagi karena Mawar tidak ingin jika eyang dan ibunya khawatir, palan Mawar menggeser ikon hijau lalu mendekatkan ponselnya ditelinganya, "Sayang."
♡
#Kakak-kakak yang baik hati, apa kalian mau tahu kisah orangtua Hasan yaitu Jacson dan Fatimah?
*Mau thor! mau! 😉😉
#Benar mau? apa cuman mau doang 😂😂😂
*Ah elah thor gak percaya amat😡😡😡
#Hahaha oke kalau begitu kalian bisa mampir dikarya author yang baru yaitu "Bidadari Syurgaku" 😚😚😚
#Kalau tidak laku juga, author akan pindahkan kelapak sebelah wkwkwkwkwk
*Kita tipuk lu thor kalau sampai itu terjadi 😈😈😈😈
#🏃🏃🏃🏃🏃🏃
Nih covernya