Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Cinta Di Bawah Sower



Putra memiringkan kepalanya, "Membantumu?" Putra melipatkan tangannya diatas perut karena tidak takut dengan ancaman Sony.


"Apa yang Kau minta, uang? Ha! dasar manusia tidak mau bekerja keras! bisanya cuman memeras orang dari cara licik seperti ini! menjijikan!" umpat Putra kesal.


"Hey! sombong sekali! Aku akan menawarkan 3penawaran jika Kamu tidak bisa melakukannya, maka dia akan Aku berikan kepada yang layak!" tekan Sony, matanya beradu pandang dengan Putra, mereka saling menatap dengan tajam.


"Kakak gila! lepaskan Aku Kak!" Gina memberontak namun ikatannya tak kunjung terlepas dari tubuhnya, Gina menangis sambil berteriak memohon kepada Sony, namun Sony membalasny dengan senyuman sinis.


Putra melirik Gina lalu kembali menatap Sony, "Kamu ini Kakak macam apa! Ha!" kesabaran Putra telah habis dengan gerakan cepat Putra menendang perut Sony hingga Sony membungkuk dan meringis kesakitan.


Putra maju lalu mencengkram kerah kemeja Sony, "Apa otakmu ini tidak pernah dicuci hingga Kamu bisa berbuat menjijikan seperti ini! harusnya Kamu bisa menjadi pelindungnya bukan malah menyiksanya!" Putra ingin memukul wajah Sony, namun dengan gerakan cepat Sony menahan tangan Putra lalu memutar tangan Putra kebelakang punggung Putra.


"Kamu tidak tahu apa-apa! jadi diam lebih baik diam!" lengan tangan Sony berada dileher Putra.


Putra meringis kesakitan membuat Gina merasa kasihan melihatnya, "Kak! lepaskan Putra Kak! Gina mohon!" teriak Gina sambil menangis.


"A-pa yang Ka-mu ing-inkan?" lirih Putra, tangannya memegangi lengan Sony yang berada dilehernya.


Sony mengendorkan lengannya namun tetap berada dileher Putra, "Berikan Aku uang 1milyar, atau berikan separuh dari perusahaanmu jika dua-duanya tidak bisa Kamu penuhi, Kamu bisa mengambil permintaanku yang ketiga untuk membantuku menghancurkan HJ.GRUP." Putra dan Gina membelalakan matanya setelah mendengar permintaan Sony.


"Apa maksudmu? menghancurkan HJ.GRUP? justru Kamu yang cari mati jika melakukan itu!" ucap Putra, bibirnya mengulas senyum tipis.


"Aku tidak takut!" Sony mengeratkan kembali cengkramannya, Putra langsung berteriak kesakitan.



Melati menyiapkan sarapan untuk suami dan mertuanya, Melati begitu telaten memasak sayur brokoli dan udang dengan lauk ayam goreng untuk menu sarapannya, agak berat memang sarapan yang dibuat Melati kali ini tidak seperti biasanya, yang hanya nasi goreng atau roti selai, kali ini dirinya sedang sangat menginginkan apa yang sedang dia masak.


"Harum sekali? masak apa Dek?" Zaki sudah berdiri di belakang istrinya, Melati melirik sekilas sambil tersenyum.


"Brokoli dan ayam goreng." jawab Melati dengan rasa bangganya.


"Wah, tumben berat menunya, lagi ngidam ya anak Papah ini?" Zaki mengelus perut istrinya dan tersenyum senang karena Zaki bersyukur istrinya tidak merasakan mengidam yang membuat dirinya kalang kabut mencarinya.


Melati mengangguk, "Mas gak kekantor? kok jam segini belum mandi? nanti telat loh." Melati bertanya sambil menaruh masakan yang sudah matang kedalam piring sayur.


Zaki mengambil piring sayur itu lalu meletakkannya dimeja makan, Melati senang karena suaminya begitu peka kepadanya, "Mas ambil libur Dek, soalnya hari ini rencananya mau bertemu dengan Hasan dan Eyang Grissam, Mas sudah menghubunginya tadi, katanya bertemu dirumah saja siang ini." Melati membulatkan mulutnya sambil menaruh ayam goreng yang sudah ditaruh dipiring lauk diatas meja.


"Adek mau ikut?" tawar Zaki.


"Boleh?" Melati memiringkan kepalanya.


Zaki mengangguk, "Kenapa tidak." Zaki mencolek hidung istrinya sambil tersenyum manja.


"Ih...Mas nih, kebiasaan!" gerutu Melati sambil tersipu malu.


"Melati panggil Mamah dulu ya Mas?" Zaki mengangguk lalu duduk dikursi meja makan, Melati pergi kekamar mertuanya yang ada dibawah karena Ayu tidak ingin tudur dilantai atas dengan alasan tubuhnya yang lemah tidak mau merepotkan orang lain.



Pagi menjelang siang sepasang pengantin baru masih begitu damai dalam tidurnya, cuaca yang dingin membuat sepasang pengantin baru itu menginginkan kehangatan yang berbeda. Pelukan yang Hasan berikan untuk Mawar membuat kenyamanan tersendiri bagi Mawar hingga dirinya begitu tenang tertidur hingga matahari sudah ingin memancarkan kehangatan dibumi.


Hasan mengerjap mulai terbangun dari tidurnya, Hasan tersenyum lalu mendekatkan bibirnya kebibir istrinya yang masih tertidur pulas, "Terimakasih Sayang." lirih Hasan, tangannya menarik selimut agar lebih menutupi badan mereka yang sedang tidak memakai pakaiannya masing-masing.


Hasan tersenyum, wajah Mawar begitu ayu ketika sedang tidur menurut Hasan, "Ayo kita mandi Cinta." ajak Hasan, jarinya mengusap pipi istrinya dengan lembut.


"Emmm...masih capek." Mawar meringkuk, tangannya melingkar dipinggang suaminya.


Hasan terkekeh, "Baru 2kali, nanti kalau Aku minta 3, 4 bagaimana?" Mawar mencubit pinggang Hasan hingga Hasan teriak kesakitan.


"Sakit Cinta." Hasan mengusap-usap pinggangnya yang habis dicubit istrinya.


"Pagi-pagi dah mesum sih!" kesal Mawar yang langsung membuka matanya.


Hasan mencubit hidung Mawar, "Sama istri sendiri bukan mesum namanya tapi sudah kewajiban." Hasan tersenyum usil.


"Pandai sekali suamiku berbicara!" Mawar menggelitikki Hasan, Hasan tertawa kencang karena merasa geli.


"Udah...Cinta..." Mawar menghentikkan aksinya.


"Istriku ini nakal sekali." Hasan mencubit pipi istrinya dengan pelan, Mawar tertawa pelan.


"Ayo kita mandi." ajak Hasan kembali.


"Kamu dulu sana, kalau Aku lama."


"AA maunya berdua." tiba-tiba Mawar tertawa kencang, Hasan mengernyitkan keningnya sambil menatap istrinya yang sedang tertawa entah kenapa.


"Kamu pikir Aku orang sunda." Mawar kembali tertawa, Hasan langsung duduk dan tersenyum usil kepada istrinya.


"Kamu ini! suka sekali mengerjai suami sendiri, rasakan ini!" gantian Hasan menggelitiki Mawar, Mawar tertawa kencang sambil berucap ampun namun Hasan tidak peduli dengan permohonan Mawar.


"Sayang...udah, udah...maaf Sayang..." celoteh Mawar sambil tertawa.


Hasan berhenti namun tubuh Hasan malah menindih tubuh istrinya, "Berat..." Mawar memegangi dada Hasan sambil terkekeh.


"Mau mandi apa mau melakukannya lagi?" Hasan mengedipkan satu matanya, Mawar malah tertawa kencang.


"Lebih baik kita man..." belum selesai berbicara Hasan sudah membungkam bibir istrinya dengan bibirnya.


Hasan melepaskan ciumannya lalu menatap istrinya dengan penuh harap, "Tapi Aku berubah pikiran, Sayang. Ayo kita lakukan lagi." lirih Hasan, Mawar menutupi wajah Hasan dengan satu tangannya karena Mawar tidak sanggup menolak dengan kharisma wajah Hasan jika dalam keadaan seperti itu.


"Mandi...Aku sudah lapar Sayang, apa Kamu mau Aku mati kelaparan." alasan Mawar sukses membuat Hasan langsung turun dari ranjang lalu menggendong istrinya tanpa meminta persetujuannya.


Mawar tersenyum usil dibalik wajah yang sedang tenggelam didada suaminya, Hasan menurunkan mawar dibawah sower kemudian Hasan menyalakan sower, Hasan memandangi wajah istrinya yang sedang memejamkan matanya karena air sower yang jatuh membasahi tubuhnya, Hasan menangkup pipi Mawar seketika Mawar membuka matanya, mata mereka bertemu.


Hasan membelai kepala Mawar dengan penuh kasih sayang, "I love u." Mawar terharu dan langsung memeluk suaminya.


"I love u to."



#Sabar ya para jomblo 😂😂😂😂😂 maafkan daku jika membuat hati kalian meronta-ronta 😂😂😂😂 ketawa jahat Ay 😂😂😂😂😂