
Semua melihat kearah pintu, "Mamah!" ucap Zaki dan Putra bersamaan.
"Ayu." ucap Panji semakin lesu, melihat istrinya berada diambang pintu.
"Ya Allah, Mas Zaki!" teriak Melati yang berada dibelakang mertuanya, Melati langsung berlari kearah Zaki, Ayu pun berlari kearah suaminya.
"Ada apa ini?" susul Rumi, Rumi memandang sekelilingnya, Rumi semakin bingung karena melihat besan dan menantunya berada dalam ikatan, Hasan, Grissam, Jefry juga berada didalam ruangan itu, anak buah Grissam yang lumayan banyak berada didalam ruangan menambah kebingungan Rumi.
"Om Grissam! ini semua ada apa? kenapa besan dan menantuku terikat seperti itu? Hasan! jelaskan kepada Bibi! Jefry!" teriak Rumi yang tidak tega melihat wajah besan dan menantunya.
Hasan masih berdiam diri, lidahnya kelu hatinya semakin ngilu dia rasakan, "Kenapa kalian diam saja!" teriak lagi Rumi.
"Mas kenapa kalian diikat begini?" tanya Melati yang langsung menangis melihat suaminya diikat dikursi seperti tawanan.
"Ada apa, Pah?" timpal Rumi kepada Panji.
"Putra?" Ayu berpindah menghampiri anak bungsunya sambil menangis.
Melati menoleh kebelakang dan melihat Hasan tengah bersimpuh, beralih melihat Grissam berpindah kepada Jefry dan berakhir melihat Nadine, Melati juga melihat orang-orang yang berbadan besar berada diruangan itu juga, Melati berdiri dan berteriak, "Kenapa kalian melakukan ini kepada mereka! Kak Hasan! jawab Melati! Jefry! kenapa kalian diam saja!" mendengar teriakan Melati Grissam dan Hasan langsung berdiri.
Ayu menghampiri keponakannya, "Jelaskan ini ada apa, San?" tanya Ayu dengan deraian airmata yang mengalir dari pelupuk matanya.
"Aku tidak menyangka Kak Hasan setega ini, Kak!" ucap Melati yang tidak tahu sebenarnya.
Mendengar Hasan dihina, Nadine langsung maju kedepan, "Jika Kamu tidak tahu apa-apa lebih baik diam!" Nadine menatap Melati, begitu pula Melati menatap Nadine pandangan mereka bertemu dan saling menatap dengan tajam.
"Paman! katakan kepada mereka apa yang sudah Paman lakukan!" ucap Hasan tegas.
Semua menatap Panji, "Apa maksud perkataan Hasan, Pah?" tanya Ayu.
Melati dan Rumi melihat kearah Panji dengan penuh tanda tanya, "Keponakan brengsek!" teriak Panji.
Mendengar Panji menghina Hasan, Grissam langsung mengambil pistolnya kembali, "Berani Kau menghina cucuku!" Grissam mengarahkan pistol kearah Panji.
"Mungkin setelah ini Aku akan menjadi brengsek Paman, dan itu Paman yang mengajarkannya." Hasan mendongak dan menatap Panji dengan geram.
Melati, Rumi dan Ayu semakin bingung dan takut, "Paman yang akan bicara! atau Aku!" Hasan membuat pilihan yang sulit, karena dua-duanya pasti akan membuat wajahnya tercoreng sudah dan sudah tidak ada harga dirinya lagi.
"Jangan jadi pengecut Pah!" teriak Zaki yang juga merasa malu karena perbuatan ayahnya.
"Jangan jadikan anak-anakmu sebagai tumbal!" timpal Putra.
"Lepaskan Kak Zaki dan Putra, mereka tidak bersalah." para anak buah memandang Grissam, Grissam menganggukan kepalanya.
Anak buah Grissam langsung berjalan kearah Zaki dan ada yang ke Putra untuk melepaskan ikatan mereka.
Panji tertawa, "Apa sekarang kalian akan mengkeroyokku! bedebah!" kesal Panji.
"Cukup Pah!" teriak Zaki.
Terdengar suara ketukan pintu, "Masuk!" teriak Jefry.
Masuklah anak buah Grissam membawa seorang yang waktu itu ingin menusuk Hasan, "Pandu!" teriak Ayu yang melihat adik iparnya ditangkap seperti penjahat.
"Ikat dia!" ucap Grissam.
Pandu langsung diikat disamping Panji, "Dasar bodoh kenapa bisa tertangkap!" ucap Panji kepada Pandu.
Pandu hanya menunduk malu, Hasan menatap Pandu, "Apa Bibi mengenalnya?" tanya Hasan tanpa memalingkan penglihatannya.
"Tentu San, dia adik ipar Bibi." jawab Ayu semakin heran dengan kondisi ini.
Hasan semakin tidak menyangka bila Pamannya bekerja sama dengan adiknya untuk membunuh orang-orang yang sangat berarti dalam hidup Hasan.
"Jelaskan pada Bibi, Nak Hasan. sebenarnya ini ada apa?" Ayu menggoyang-goyangkan tangan Hasan meminta jawaban atas rasa penasarannya.
"Bahkan suamimu!" Grissam menatap Rumi.
Rumi menutup mulutnya dengan kedua tangannya, matanya membelalak tak percaya dengan ucapan Grissam, "Tidak mungkin." airmata Rumi tidak tertahankan lagi.
"Mas?" ucap Melati lirih, dirinya tidak percaya bila mertuanya yang sudah membunuh ayahnya.
"Demi Allah Dek, Mas tidak tahu apa-apa." Zaki menatap istrinya dengan memelas berharap istrinya tidak marah kepadanya.
Melati menghindar dari sentuhan Zaki, dirinya menghampiri ibunya lalu memeluknya, "Mah..." Melati dan Rumi menangis bersama.
Zaki menatap istrinya dengan perasaan pilu, "Ya Allah kuatkan hatiku." batin Zaki.
Ayu bersimpuh didepan Hasan, "San...tolong maafkan suami Bibi." Ayu memohon kepada Hasan.
"Mah..." Putra menyuruh ibunya agar mau berdiri namun Ayu tidak mau.
Zaki menghampiri ibunya, "Papah pantas untuk dihukum, Mah. karena apa yang Papah lakukan itu sangat berdosa." ucap Zaki.
"Zaki! dia itu Papahmu!" teriak Ayu sambil menatap tajam anak sulungnya itu.
"Iya dia memang Papah Zaki, Mah. Papah yang tidak punya akal!" teriak Zaki.
"Apa bibi tahu alasan kenapa Paman mencelakakan orangtua Hasan?" Hasan bersimpuh kembali dan menatap bibinya.
"San...Kamu anak yang baik, tolong maafkan Paman." mohon Ayu lagi tidak mau peduli dengan alasan suaminya yang akan dijelaskan Hasan, karena cintanya terhadap suaminya membuatnya rela melakukan apapun agar suaminya dibebaskan.
"Tidak! dia tidak bisa dimaafkan begitu saja!" teriak Rumi sambil menunjuk Panji.
"Kalau Bibi bisa hidupkan kembali kedua orangtuaku dan juga Paman Arman, maka Hasan akan memaafkan Paman Panji." permintaan Hasan membuat tubuh Ayu terasa lemas karena apa yang Hasan minta itu tidak bisa dia kabulkan.
Hasan berdiri lalu menoleh kebelakang, "Jangan bunuh Paman, Eyang. penjarakan saja seumur hidup." ucap Hasan dengan dada yang terasa sangat sesak dengan kenyataan yang harus dia ambil itu.
Hasan ingin melangkah pergi, dan semua pun ikut melangkangkan kakinya meninggalkan tempat itu, kecuali Ayu yang masih bersimpuh dilantai, apalagi mendengar perintah Hasan, namun belum keluar dari pintu suara Panji menghentikkan mereka, "Rumi! apa Kamu ingin tahu dimana anak sulungmu itu berada!" teriak Panji.
Rumi dan Melati menghentikkan langkahnya, begitu pula Zaki dan yang lain, Rumi berbalik badan diikuti Melati, "Apa maksudmu!" teriak Rumi.
Panji tertawa, "Mawar! anakmu yang menghilang saat berumur 2tahun dan sampai sekarang belum kembali kan?" Rumi dan Melati membelalakan matanya.
Rumi menghampir Panji, "Apa itu juga ulahmu!" tanya Rumi geram, Melati menghampiri ibunya untuk menenangkannya.
"Iya!" jawab Panji lalu tertawa.
PLAAAAAKKKKKK Rumi menampar Panji dengan sangat keras, "Katakan dimana dia!" teriak Rumi sambil menangis.
"Lepaskan Aku! maka akan Aku kembalikan dia kepadamu!" Rumi merosotkan dirinya kelantai mendengar permintaan Panji.
"Mah..." Melati memeluk ibunya.
Nadine mendekat kearah Rumi, entah mengapa hatinya ikut merasakan kesedihan saat melihat Rumi seperti itu, "Bibi..." tanpa terasa airmata Nadine jatuh dari pelupuk matanya, entah mengapa dadanya ikut merasakan sesak melihat semua ini.
DOOOOORRRRRRRR suara tembakan mengejutkan mereka, "Kamu tidak pantas untuk disebut Ayah!".
*Thoooooorrrrr 😠😠😠😠
#Ada apa sih kakak zeyeng 😆😆😆
*Kenapa dipotong 😈😈😈
#Apanya yang dipotong? kue? 😅😅😅
*Sial lu thor malah ngelawak 😡😡😡
#Hahahahahaha.......kaburrrrrrrrrrrrr 🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃