
Jangan lupa berdoa sebelum membaca 😄😄
Seperti itulah pemandangan persiapan pernikahan Hasan dan Mawar yang bertema bunga sakura bernuansa pink warna kesukaan Mawar sedangkan putih warna kesukaan Hasan, perpaduan warna yang sangat indah namun penuh makna, putih sendiri menurut Hasan kesucian yang bisa bersanding dengan warna apapun dan warna pink melambangkan sebuah keromantisan yang kalem menurut Mawar.
Jefry tersenyum bahagia melihat dekorasi yang sudah rapi itu, "Lihatlah ini Tuan Besar, Anakmu akan menikah hari ini." gumam Jefry seakan-akan Jacson berada didekatnya.
Jefry berkeliling memastikkan bahwa semuanya sudah siap dengan baik dan aman, Jefry tidak mau bila ada kesalahan dipesta pernikahan tuan mudanya.
^
Grissam dan Ellois terpukau dengan ketampanan cucunya yang menurun dari Jacson, "Cucu Eyang memang tampan sedunia." puji Ellois lalu memeluk Hasan dengan gemas.
"Eyang berlebihan." Hasan tersenyum dan kembali melihat cermin untuk membenarkan penampilannya.
"Selamat ya, Kamu akan menjadi pemimpin." tutur Grissam, Hasan menoleh kearah eyangnya.
"Doakan Hasan Eyang, agar Hasan bisa menjadi suami yang terbaik." Grissam dan Ellois meneteskan airmatanya mendengar perkataan Hasan, dalam hati mereka mengingat Jacson dan Fatimah dimana mereka tidak melihat momen bahagia saat pernikahan mereka.
"Jangan menangis Eyang, Hasan yakin ayah dan ibu sudah memaafkan kalian." Hasan seakan mengerti mengapa mereka menangis.
"Kamu tahu saja isi hati Eyang, San. Eyang menyesal tidak merayakan pernikahan anak Eyang sendiri." Hasan memeluk Ellois dan mengusap punggungnya untuk memberikan ketenangan pada eyangnya.
^
"Kamu cantik sekali, Hasan beruntung memiliki anak cantik Mamah ini." puji Rumi.
"Mamah yakin, Hasan tidak akan mengedipkan matanya saat melihatmu nanti." tambah Rumi.
Mawar tersenyum malu karena ibunya sedari tadi memujinya, "Sudah Mah, nanti Mawar bisa terbang kalau Mamah puji-puji terus." Rumi terkekeh, Rumi menggenggam tangan anaknya dan menatapnya dalam-dalam.
"Jadi istri yang terbaik untuk Hasan ya Sayang, jaga pernikahan kalian sebisa mungkin, karena rumah tangga itu akan selalu diterpa berbagai ujian, saling kuat dan saling mendoakan satu sama lain." tutur Rumi kepada Mawar.
"Insya Allah, Mah. Doakan Mawar." Mawar memeluk ibunya .
^
Dikantor FP.GRUP Putra memasuki ruangan setelah kesal dengan kejadian semalam yang sangat membuatnha emosi, apalagi kepada kedua temannya yang sengaja meninggalkannya dan malah menguncinya dari luar.
Putra duduk dikursinya dan memeriksa pekerjaannya, Putra harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum sore tiba, karena Putra harus menghadiri pernikahan Hasan dan Mawar, Putra tiba-tiba berhenti bekerja mengingat mereka, "Hasan itu beruntung banget hidupnya, tidak mendapatkan Melati dapet Mawar yang jauh lebih cantik." gumam Putra, seketika dirinya membayangkan sikapnya yang kurang baik dulu kepada Hasan, Putra sendiri merasa malu mengingat itu.
Pintu ruangan Putra diketuk oleh seseorang, Putra dengan cepat menyuruh orang itu masuk, "Permisi, Pak." ucap seorang wanita.
"Hem. Ada apa?" tanya Putra tanpa menoleh.
"Ada pekerjaan yang bisa Saya kerjakan, Pak." sopan wanita itu.
Putra mendongak, "Kamu!" teriak Putra dan Gina bersamaan.
Putra menutup berkasnya dan meletakkan bolpoin dengan keras dimejanya, "Kamu itu siluman apa! selalu mengikutiku!" Gina memelototkan matanya kepada Putra.
"He! harusnya Aku yang marah, ngapain Kamu disini! Aku bekerja untuk..."
"Untuk apa!" Putra menghampiri Gina dan berhenti tepat didepan Gina sambil melipatkam kedua tangannya diatas perut.
Pintu ruangan Putra terbuka dan masuklah Zaki, "Putra." panggil Zaki.
"Ada apa?" tanya Putra, matanya menatap tajam Gina begitupun Gina.
"Kakak sudah memilihkan sekretaris untukmu, dan mulai hari ini dia akan bekerja untukmu."
Putra menoleh kearah kakaknya, "Jangan bilang kalau sekretaris itu, ini." Putra menunjuk Gina.
Zaki menoleh kearah Gina, "Iya betul, dia yang akan menjadi sekretarismu, bagaimana? setuju kan?" Putra menghembuskan nafasnya jengah.
"Ya ampun Kakak, apa tidak ada yang lain apa? kenapa harus wanita sial ini!"
"Putra! bicara yang sopan!" Zaki membesarkan matanya kearah Putra.
"Putra selalu sial kalau bertemu dia! ganti lah! Putra tidak mau!" Putra beranjak duduk kembali.
"Tidak! dia harus tetap menjadi sekretarismu! jangan membantah, Kakak capek mencari sekretaris baru terus untukmu!" Zaki beranjak pergi dari ruangan Putra, sedangkan Putra mendengus kesal.
Gina mematung tidak tahu apa yang harus dia lakukan, Gina cukup terkejut karena Putra akan menjadi bosnya, Gina tidak pernah membayangkannya sama sekali dan berharap jika ini semua hanya mimpi belaka, Gina menepuk-nepuk pipinya cukup keras hingga keluar aduhan dari bibir mungilnya membuat Putra menoleh dan memperhatikan Gina.
"Apa yang Kamu lakukan? sini, banyak pekerjaan yang harus Kamu kerjakan." Putra tersenyum penuh artian.
Gina berbalik tanpa pamit, Putra menyandarkan tubuhnya dikursi sambil tersenyum kemenangan, "Tunggu!" sampai didepan pintu Gina berhenti dan berbalik badan.
"Buatkan Aku kopi, yang enak ya. Awas kalau tidak enak." perintah Putra, Gina mengangkat kedua alisnya tidak percaya dengan apa yang Putra minta, dia sekretaris atau ob sih! kesal pikiran Gina.
^
"Assalamualaikum." salam Zaki saat sampai dikamar rumahnya.
"Wa'alaikumsalam." Melati yang sedang bercermin menoleh kearah pintu sambil tersenyum.
Zaki menghampiri istrinya lalu mencium kening dan pucuk kepalanya, "Sudah siap nih? cantik sekali istriku ini, Mas jadi tidak ingin pergi, takut banyak yang naksir istri Mas ini." goda Zaki yang mensejajarkan kepalanya dengan Melati.
"Apaan sih Mas! sudah sana mandi." Melati mendorong suaminya agar segera mandi.
Zaki menunjuk bibirnya, Melati mengerti maksud suaminya dengan segera dia mencium bibir suaminya sekilas, "Sudah sana!" wajah Melati memerah seketika karena malu, Zaki tersenyum senang melihat istrinya yang terkadang masih malu-malu itu.
^
Grissam dan Ellois sampai digedung acara pernikahan Hasan dan Mawar bersama calon pengantin prianya, Hasan keluar dari mobil dan menghembuskan nafasnya karena dirinya saat itu sedang menutupi kegugupannya.
"Apa Mawar sudah datang, Eyang." tanya Hasan, entah apa yang ada didalam pikirannya hingga tiba-tiba dirinya menanyakan Mawar, mungkin karena menutupi kegugupannya.
"Sabar Sayang, dia akan muncul setelah mengucapkan akad nikah, Eyang tahu sebenarnya Kamu sedang gugup kan?" tebak Grissam, Hasan tersenyum simpul dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ellois menggandeng lengan Hasan, "Ayo, penghulunya sudah menunggu." bisik Ellois menambah kegugupan Hasan, Hasan mengucapkan doa dalam hati agar dirinya diberi kelancaran saat mengucapkan akad nanti.
Hasan masuk kedalam ruangan dimana sudah ada penghulu dan para saksi untuk menyaksikan akad nikah Hasan dan Mawar, sudah ada Jefry dan Zaki yang sedang tersenyum kearahnya, Hasan dituntun untuk duduk dihadapan penghulu.
"Saudara Hasan, apa Anda siap." tanya penghulu yang akan menikahkan Hasan dan Mawar.
Hasan mengangguk, "Insya Allah." jawab Hasan tegas.
Penghulu menghulurkan tangannya, sebelum itu mereka berdoa bersama-sama, "Saudara Hasan Alfatar bin Jacson Saya nikahkan Engkau dengan saudari Mawar Putri Wijaksana binti Arman Putra Wijaksana dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas 100gram dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Mawar Putri Wijaksana binti Arman Putra Wijaksana dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas 100gram dibayar tunai."
"Bagaimana saksi?"
"SAH!"
"Alhamdulillah." penghulu dan para saksi bersyukur dan berdoa bersama-sama, Grissam, Ellois dan Jefry meneteskan airmatanya karena bahagia.
Disebuah ruangan dimana Mawar berada Mawar meneteskan airmatanya begitu pula dengam Rumi dan Melati karena terharu melihat akad Hasan dari monitor yang terpasang diruangan itu.
Para perias pun ikut merasakan kebahagiaan mawar dan keluarganya, mereka mengucapkan selamat kepada Mawar.
Rumi dan Melati menggandeng tangan Mawar dan menuntunnya untuk keruang dimana Hasan berada yang sebenarnya dia ada disamping ruangannya hanya tertutup oleh tirai, saat tirai dibuka semua mata menoleh dan melihat kearah Rumi dan Melati yang sedang menggandeng tangan Mawar, Mawar menunduk sedangkan Hasan tak berkedip melihat Mawar yang kini sudah menjadi istrinya itu.
Mawar dituntun untuk duduk disamping Hasan, "Jaga anak Mamah baik-baik." ucap Rumi kepada Hasan.
"Insya Allah, Bi."
Rumi menatajamkan matanya, "Panggil Mamah."
Hasan terkekeh, "Iya Mamah."
Penghulu meminta Hasan untuk memakaikan cincinnya kepada Mawar, Hasan memakaikan cincinya, Mawar mencium tangan Hasan lalu mendongak melihat Hasan yang kini sudah menjadi suaminya.
Hasan mencium kening Mawar dengan perasaan bahagia, semua bertepuk tangan untuk mereka, Mawar meneteskan airmatanya, "Jangan menangis, berjanjilah untuk bahagia disampingku." sungguh jantung Mawar saat ini seperti sedang lari maraton melihat senyuman suaminya yang membuatnya hatinya berdegup kencang saat ini.
♡
#Dag dig dug gak 😄😄
*.......komentar kalian 😆😆
#Resepsinya besok, Ayo pada dateng jangan lupa bawa kado yang banyak biar author kecipretan 😂😂😂😂
#Pakai jaster yang bagus dan tidak bolong-bolong 😂😂😂
*Hahahhahahaja tahu aja lu thor kalau jaster kita bolong-bolong 😉😉😉
#Hahhaha kan author dukun 😂😂