
Mamar duduk dikursi tunggu dengan perasaan cemas yang sangat, hatinya melantunkan doa-doa untuk ibunya, "Berikan Aku waktu lebih lama lagi untuk bersama dengan ibuku,Ya Allah." salah satu doa Mawar.
Hasan berjalan mondar mandir didepan ruangan dimana ibu Mawar dirawat, "Selamatkan Bibi, Ya Allah." Hasan mengusap wajanya, airmatanya tidak terbendung lagi? berharap jika semua ini adalah mimpi buruknya.
Pintu ruang perawatan Rumi terbuka, Mawar dan Hasan langsung menghampiri sang dokter, wajah sang dokter terlihat sedih membuat Mawar semakin merasa ketakutan, ketakutan bila harus ditinggal oleh sang ibu yang bertemu selama lima tahun lalu.
"Dokter..." sang dokter menoleh kearah Mawar, dokter memandang Mawar dengan iba, sedangkan airmata Mawar semakin deras mengalir melihat tatapan sang dokter.
"Kenapa bisa terjadi seperti ini?" tanya dokter Nisa yang sudah menjadi langganan dokter keluarga Arman.
Hasan menundukkan kepalanya entah apa yang harus dia jelaskan kepada dokter itu, "Rumi mengalami syok yang teramat berat, dia juga mengalami..." Hasan dan Mawar langsung mendongak menatap dokter Nisa dengan penuh tanda tanya.
"Mengalami apa, Dok?" tanya Mawar dengan suara takut.
"Pelecehan seksual yang bisa menimbulkan trauma." tubuh Mawar sedikit mundur karena terkejut mendengar penuturan dokter Nisa.
Hasan menghampiri Mawar dan langsung menggiring Mawar untuk duduk, dokter Nisa ikut duduk disamping Mawar, "Mungkin ibumu akan butuh waktu untuk sadar, karena apa yang di alami ibumu sekarang cukup parah." tutur dokter Nisa.
"Mamah..." gumam Mawar sambil menangis.
Hasan merasa ngilu melihat Mawar mengalami kesedihan seperti itu, hatinya ikut merasakan tajamnya penderitaan hidup yang sedang mereka jalani.
"Siapa yang melakukan ini semua?" tanya dokter Nisa kepada keduanya.
"Paman, tante?" dokter Nisa memandang Hasan dengan penuh tanda tanya, paman siapa yang dimaksud, karena Nisa tidak begitu paham.
"Paman Panji Atmawijaya." lirih Hasan.
"Apa! bercandamu ini gak lucu, Hasan." suara dokter Nisa cukup terkejut mendengar nama Panji.
"Hasan tidak bercanda." saut Mawar.
"Yang melakukan perbuatan keji itu memang Om Panji, tante." lanjut Mawar.
Dokter Nisa menggelengkan kepalanya, "Bukannya dia ada dipenjara?" sergah dokter Nisa.
"Ada yang membantunya keluar, tante. Hasan juga belum tahu siapa." ucap Hasan.
"Ya Allah..." lirih dokter Nisa.
"Tante, boleh Mawar melihat Mamah." dokter Nisa mengangguk lalu mempersilahkan Mawar dan Hasan untuk masuk kedalam.
Mawar duduk disisi ranjang ibunya sambil menggenggam erat tangan ibunya, Hasan memperhatikan bibinya disisi ranjang didepan Mawar sehingga Hasan dapat melihat jelas kesedihan diwajah Mawar.
"Mah..." lirih Mawar, airmatanya seakan tidak mau kering, padahal hari ini Mawar sudah banyak menangis.
"Jangan tinggalkan Mawar dan Melati, Mah. Mamah harus kuat, berjanji sama Mawar, Mah." Mawar tidak kuasa, diapun melingkarkan tangannya diperut ibunya, memeluknya sambil terduduk.
"Ayo bangun, Mah. Mawar baru merasakan bahagia bisa bertemu dengan Mamah dan Melati, walaupun Mawar tidak bisa bertemu dengan Papah." ucap Mawar dengan suara serak.
Hasan mendongakkan kepalanya, pilu rasanya melihat Mawar menangis seperti itu, tanpa berbicara kepada Mawar, Hasan pergi keluar dari ruangan bibinya. Entah apa yang ingin Hasan lakukan.
^
"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Zaki kepada dokter yang meriksa Melati.
Dokter itu tersenyum, "Selamat ya, Tuan. Istri Anda sedang hamil." ucap dokter dengan wajah sumringah.
"Tolong dijaga kandungannya ya, Tuan. Jangan membuat istri Anda mengalami stres, usahakan agar dalam masa kehamilannya dia merasakan nyaman, bahagia dan lakukan apapun yang membuatnya merasa senang." tutur sang dokter.
"Alahamdulillah, Ya Allah." Zaki mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, Zaki terharu karena penantiannya selama ini dikabulkan oleh Allah.
Dokter itu pamit kepada Zaki dan Putra setelah mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam.
Putra berdiri disamping kakaknya, " Apa kali ini Kakak akan memaafkan Papah?" tanya Putra tiba-tiba.
Zaki tidak bergeming, tatapannya tidak berpaling dari melihat istrinya yang masih setia memejamkan matanya, entah apa yang harus Zaki katakan, pertanyaan Putra sungguh membuatnya begitu dilema bagaimana tidak? seburuk apapun perilaku ayahnya dia tetap ayahnya, tetapi apa yang sudah dia lakukan kepada ibu istrinya membuat darah kemarahan Zaki membuncah seketika.
"Putra pulang dulu, Kak. Putra mau melihat keadaan Mamah." Zaki menganggukan kepalanya tanpa melihat kearah adiknya. Putra tahu apa yang sedang kakaknya rasakan saat ini, sungguh berat memang harus menerima kenyataan bahwa orangtua kita seorang penjahat.
Sampai didepan pintu Putra bertabrakan dengan seorang wanita, "Ah!" teriak seorang wanita yang hendak jatuh namun tangan Putra berhasil menahan tubuhnya.
Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, karena berpikir jika dirinya akan jatuh kelantai, saat merasakan sebuah tangan melingkar dipinggangnya membuat wanita itu penasaran, "Bisa kan, kalau jalan itu pakai mata!" seru Putra sambil mengembalikkan posisinya dan wanita itu.
Wanita itu memperbaiki bajunya yang sedikit berantakan, "Maaf." ucap wanita itu.
"Gina?" Putra sedikit kaget melihat wanita yang baru saja menabraknya.
Gina mendongak mendengar namanya dipanggil, "Putra?" Gina tidak kalah terkejutnya.
"Sedang apa Kamu disini?" tanya Putra.
"Ibuku sedang sakit." lirih Gina.
"Sakit? sakit apa?" tanya Putra lagi.
"Sakit hati! banyak tanya kaya polisi!" Gina ingin pergi dari hadapan Putra namun tiba-tiba, "Ah!" tangan Putra menarik tangan Gina hingga Gina terpental mundur, tanpa perintah tangan Putra melingkar dipinggang Gina agar Gina tidak terjatuh.
Apa yang Putra lakukan sebenarnya tidak sengaja, tapi hasilnya kini membuat wajah mereka saling dekat dan saling pandang satu sama lain, Putra terdiam matanya menatap mata Gina begitu pula dengan Gina, jantungnya seakan lari maraton saat ini.
Setelah sadar apa yang mereka lakukan, mereka saling melepaskan pelukan, "Ih apaan sih! Kamu mencari kesempatan untuk memelukku ya!" seru Gina yang sebenarnya menutupi kegelisahan hatinya saat ini.
Jari Putra menjitak kening Gina, "Bukan seleraku!" ucap Putra lalu pergi meninggalkan Gina yang masih terbengong dengan sikap Putra.
"Ih! terus maksud tadi manarik tanganku apa coba?" kesal Gina.
^
Hasan masuk kedalam ruangan yang menjadi markas sekaligus penjara bagi Arman dan anak buahnya, "Tuan Muda." hormat Jefry.
"Dimana?" tanya Hasan yang bermaksud menanyakan keberadaan Panji.
"Akan Aku tunjukan, Tuan." Hasan mengikuti langkah kaki Jefry.
Sampai didepan penjara Hasan begitu terkejut melihat wanita yang sedang berada dipenjara, "Bibi?" Ayu menoleh kearah Hasan.
"Hasan...Tolong lepaskan Bibi, San." Hasan menoleh kepada Jefry karena ingin bertanya.
"Dia yang membantu Panji, Tuan. Aku sudah mengeceknya lewat cctv." Hasan begitu terpukul mendengar pernyataan Jefry, bagaimana tidak? orang-orang yang dia sayangi dan kasihi ternyata orang yang menghancurkan hidupnya dan hidup orang lain.
Hasan membuka lemari kecil disampingnya, Hasan melihat beberapa pistol milik kakeknya, Hasan mengambil salah satu pistol itu.
Ayu berteriak melihat Hasan memegang pistol, sedangkan Panji tertawa puas, " Ayo bunuh Aku! Aku sudah sangat puas!" Panji tertawa cukup keras.
Hasan sangat geram dengan perkataan Panji, Hasan mengarahkan pistol itu kearah Panji, Jefry terkejut melihat tuan mudanya memegang pistol dan mengarahkannya kepada Panji, "Tuan Muda." panggil lirih Jefry.
"Harusnya waktu itu Aku mengijinkan Eyang untuk membunuhnya, Jef!" ucap Hasan lalu mengarahkan pistol itu kepada Panji.
"Hasan...ini bukan tugasmu."
ยค
#Hayo loh tebak, suara siapa itu ๐๐๐๐๐
*Kurang asem lu thor ๐๐๐๐๐