Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Pergi dari sini!



Melati memasangkan dasi suaminya, kehidupan rumah tanganya kini menjadi lebih baik, perlahan tapi pasti Melati bisa melupakan perasaannya kepada Hasan karena kesabaran dan tanggung jawab suaminya yang mambuat Melati jatuh hati.


Kini mereka hidup terpisah dengan orangtua dan mertuanya.


"Apa Kamu mau ikut ke kantor, Dek?" tanya Zaki, matanya tak berkedip memandang istrinya.


Selesai memasang dasi suaminya, Melati mendongak dan menatap suaminya, "Hem...nanti Mas bosan melihatku setiap saat." ucap Melati asal.


Zaki mencium bibir istrinya, "Mas tidak akan bosan melihatmu, justru Mas gelisah bila tidak melihatmu setiap saat." ucap Zaki, wajah Melati merah merona karena malu.


"Ih gombal." Melati memukul dada suaminya dengan gemas lalu berbalik badan lalu mengambil sepatu yang berada dilemari sepatu didekat lemari baju.


"Mas tidak pernah menggombal, Sayang." Zaki duduk diranjang lalu memakai sepatunya.


"Oh iya...Nanti malam ikut Mas keacara pernikahan anak klien Mas ya?" pinta Zaki.


"Jam berapa?" tanya Melati.


"Jam7." Zaki mengecup kening istrinya.


Melati menganggukan kepalanya, "Mas..." lirih Melati.


Zaki melihat istrinya, terlihat wajah istrinya terlihat sendu, "Kenapa, Dek?" jari telunjuk Zaki menyentuh pipi Melati.


"Kapan kita konsultasi kedokter? Melati ingin berkonsultasi soal kehamilan, sampai sekarang Melati belum juga hamil, Mas." Melati menunduk sambil memegang perutnya yang masih datar dengan sedih.


Zaki menggenggam tangan istrinya, "Dek, Mas tidak memaksa untuk segera memiliki anak walaupun Mas sangat mengingkan itu, bersabar ya, semoga Allah cepat memberikan kita amanah anak yang terbaik." ucap Zaki.


"Melati hanya takut bila Mamahmu tidak sabar dan mencarikan wanita lain untukmu, Mas." mata Melati berkaca-kaca, iya karena akhir-akhir ini, ibunya Zaki selalu mendesak agar Melati segera memiliki momongan karena dirinya tidak sabar ingin mempunyai cucu, dan sejak saat itu pikiran Melati selalu resah dan gelisah bila mertuanya sudah datang kerumah dan menanyakan tentang kehamilannya.


Tangan Zaki menangkup kedua pipi Melati, "Mas tidak akan pernah menerima wanita manapun dalam hidup Mas selain Kamu, jangan hiraukan omongan Mamah, Mas yakin Allah akan memberikan kita anak disaat waktu yang tepat." airmata Melati tidak tertahan lagi.


Melati memeluk suaminya dan menangis didada suaminya, Melati terharu karena Zaki begitu pengertian dan tak menuntut apapun darinya.


^


Jam 5sore Hasan keluar dari ruangannya dan pergi keruangan Mawar, "Assalamualaikum." salam Hasan saat masuk kedalam ruangan Mawar yang menjadi wakil direktur diperusaahan Hasan.


"Wa'alaikumsalam." jawab Mawar tanpa menoleh karena dirinya sedang merapikan berkas-berkas.


"Ayo kita pulang dan pergi kepesta bersama." ajak Hasan dirinya lalu duduk didepan Mawar.


"Aku tidak mau, lagian Kamu aja yang diundang bukan Aku." kata Mawar melihat Hasan sekilas.


"Nanti Aku diculik sama para wanita, apa Kamu mau itu?" goda Hasan.


Mawar menghembuskan nafasnya dan menatap Hasan sedikit tajam, Hasan terkekeh, "Menyebalkan!" seru Mawar.


"Aku ganteng Mawar dan tidak menyebalkan, Ayah dan Ibuku yang berbicara seperti itu." bangga Hasan.


"Iya aja biar Anda senang Tuan Hasan Alfatar!" seru Mawar lagi.


^


"Putra, Kamu gantiin Mamah buat pergi keacara pernikahan anak teman Mamah dan Papah ya?" tanya Ayu.


"Tidak mau! nanti mereka bertanya, Putra dimana Ayahmu? Putra harus jawab apa, Mah?" ucap Putra sedikit kesal karena teringat dengan ayahnya.


"Tolong Mamah lah Put, Mamah sedang tidak enak badan, Mamah tidak enak bila tidak hadir disana." Ayu berusaha merayu Putra agar mau pergi.


"Suruh Kakak aja sih, Mah." usul Putra.


"Kakakmu juga ada undangan, Put." ucap Ayu.


"Ha! menyebalkan!" Putra bangkit dari duduknya dengan perasaan kesal.


"Mau ya!" teriak Ayu.


"Terserah Mamah lah!" seru Putra.


"Jam 7malam ya Sayang." ucap Ayu merendahkan suaranya.


"Hem." gumam Putra sebelum masuk kedalam kamarnya.


Ayu tersenyum senang karena berhasil membujuk anaknya untuk menggantikan dirinya keacara pernikahan temannya, karena Ayu sudah punya rencana yang lain.


^


Jam 6:30malam mobil Hasan sudah sampai didepan rumah Mawar untuk menjemput Mawar, dengan usaha kerasnya akhirnya Mawar mau ikut dengannya dan itu sukses membuat Hasan menggelengkan kepalanya karena tidak percaya dengan tingkahnya sendiri.


"Anda sudah tampan, Tuan Muda." ucap Jefry yang melihat Hasan bercermin dispion sambil tersenyum sendiri.


Hasan langsung menormalkan bibirnya, "Jef! biarkan Aku pergi sendiri, Kau istirahat saja." pinta Hasan.


Jefry menggelengkan kepalanya, "Nanti Aku dimarahi sama Tuan Besar." ucap Jefry.


"Ya Allah susah banget buat bernafas." gumam Hasan.


"Itu untuk kebaikanmu Tuan Muda." sergah Jefry.


Hasan tidak menghiraukan omongan Jefry, dia turun dari mobil lalu berjalan kearah pintu rumah Mawar. Belum Hasan mengetuk pintu bibinya sudah membukakan pintu untuknya.


"Assalamualaikum, Bibi." Hasan menyalimi tangan bibinya.


"Wa'alaikumsalam, Hasan. Mau jemput Mawar kan?" tanya Rumi dengan senyum penuh arti.


"Bibi tahu aja." Hasan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudah sana pergi, jangan berpandang-pandangan terus, nanti naksir loh." goda Rumi kepada keduanya.


"Itu kata-kata Hasan Bi, kenapa dipakai." Rumi tertawa mendengar ucapan Hasan.


^


Sampai didepan gedung acara, Mawar menatap nanar gedung itu, rasanya enggan sekali dirinya datang jika bukan karena Hasan merengek. Hasan memandang Mawar yang enggan turun dari mobil, menjadi kesempatan dirinya untuk memandangnya lagi.


Mawar menoleh karena tidak ada pergerakan orang turun dari mobil, sedangkan mobil sudah berhenti sejak tadi, Mawar melihat Hasan yang sedang memandanginya membuat wajah Mawar merah bak kepiting rebus.


"Kenapa memandangiku? sudah naksir?" Mawar membawa kata-kata yang selalu Hasan utarakan saat dirinya kepergok memandang Hasan.


Hasan tersenyum sambil melipatkan kedua tangannya diatas perut, "Pandai sekali Kau meniru perkataan orang." goda Hasan.


Hasan dan Mawar turun dari mobil dan berjalan beriringan menuju dalam gedung, "Ramai sekali." gumam Mawar sambil menengok kekanan atau kekiri karena takut bila ada yang mengenalinya, apa yang Mawar pikirkan?


Hasan mengeluarkan undangan, mata penjaga melihat kearah Mawar sedangkan Mawar bersembunyi dibalik punggung Hasan karena Mawar sangat mengenali penjaga itu.


"Silahkan masuk, Tuan." ucap Penjaga mempersilahkan Hasan Masuk, Mawar kembali berjalan beriringan dengan wajah yang dia palingkan dari penjaga itu.


"Mawar." panggil Hasan.


"Mau Aku ambilkan minum?" tawar Hasan, Mawar mengangguk karena dirinya sudah sangat gugup disini, melihat begitu banyak orang hadir, Mawar berharap tidak ada yang mengenalinya.


Sepasang suami-istri yang baru melaksankan ijab qabul berjalan keatas panggung, terlihat pasangan wanitanya begitu ceria dan bahagia namun pasangan lelakinya terlihat begitu murung.


Mata lelaki itu menelusuri gedung itu yang sudah sangat ramai dengan tamu undangan, mata lelaki itu menelusuri setiap orang-orang yang sedang menikmati pesta, entah apa yang dia cari.


Mata Syam pengantin pria yang bersanding dengan Hany anak dari pemilik perusahaan AT.GRUP tak berkedip ketika melihat seseorang yang sedang berdiri dengan balutan gaun dan hijab yang begitu anggun dia kenakan, "Nadine?" gumam Syam.


Mendengar nama Nadine, Hany yang sedang berbicara dengan teman-temannya menoleh kearah Syam dan mengikuti arah mata Syam. Hany membelalakan matanya tidak percaya bila melihat Nadine disini karena dirinya sama sekali tidak mengundangnya, Hany mengepalkan tangannya lalu berjalan kearah Mawar.


"Ngapain Kamu disini!" Mawar mendongak mendengar teriakan yang sepertinya ditujukan kepada dirinya karena Mawar sangat tahu suara siapa itu.


Mawar menatap Hany begitu pula Hany yang menatap Mawar dengan tatapan membunuh, Syam tiba disamping Hany dan menatap rindu Mawar yang dia kenal sebagai Nadine.


"Nadine." panggil Syam yang sangat terpukau dengan penampilan Mawar sekarang.


Mawar menoleh kearah Syam, matanya berkaca-kaca melihat orang yang ada dihadapannya kini.


"Nad..." Syam ingin berbicara namun teriakan Hany membuyarkan semuanya.


"Penjaga!" teriak Hany, membuat para tamu menoleh kepadanya.


Dua penjaga berlari menghadap Hanya, "Iya Nona." para penjaga membungkukkan setengan badannya.


"Siapa yang menyuruh dia masuk! Aku tidak mengundangnya." teriak Hany dengan kesal.


"Dia datang ber..." para penjaga tidak bisa melanjutkan bicaranya karena sudah dipotong oleh Hany.


"Kalian bisa kan kerja dengan benar!" Hany menunjuk penjaga dengan kesal.


"Cukup Han!" serga Syam kepada Hany yang sudah menjadi istrinya.


"Memang kenapa kalau dia datang!" ucap Syam dengan serius.


"Aku tidak suka." Hany mendelikan matanya kepada Syam.


"Ada apa sih, Han?" tanya Laila dan Gio orangtua Hany, mereka langsung berlari karena mendengar teriakan anaknya.


"Ini Mom, Dad. Wanita udik ini datang kesini! tidak tahu malu!" Laila dan Gio melihat kearah Mawar.


"Wanita udik Nadine maksudmu, Han?" ucap Alin ibu dari Syam yang tiba-tiba muncul entah darimana.


"Iya Mah! coba lihat, padahal kita tidak mengundangnya tapi dengan tidak tahu malunya dia datang kesini!" ketus Hany.


"Hany, sudah!" teriak Syam.


"Kamu membela mantan tidak miskinmu ini, ha!" ucap Hany.


Alin maju untuk lebih dekat dengan Nadine alias Mawar, "Untuk apa Kamu datang kesini? Aku tidak mengundangmu! dan apa ini? kamu pinjam gaun ini dimana?" hina Alin, Hany tersenyum senang karena mertuanya menghina Mawar.


Mawar hanya diam, dirinya memandang orang-orang yang sudah menonton dirinya yang sedang menjadi bahan bullyan, mata Mawar berkaca-kaca, dirinya ingin sekali pergi dari tempat itu.


"Mah, sudah Mah." Syam menarik tangan ibunya agar menjauh dari Mawar.


"Lepaskan Mamah!" Alin melihat Mawar kembali, "Kamu pergi dari sini!" jari telunjuk Alin mengarahkan kearah pintu keluar gedung itu.


"Siapa yang Anda suruh pergi!"



#Eng ing eng.....bersambung lagi wkwkwwkkwwk


*Rese lu thor 😡😡😡


#Rese itu enak tahu dimakan 😂😂😂😂


*Ngomong apa sih lu thor 😯😯😯


#Hhahaah lupakan saja karena kalian tidak akan mengerti wkwkwkw


*Kurang asem lu.....cepet lanjutin!" 😈😈😈😈


#Besok lagi kkaka-kakak zeyeng biar kangennnnnya banyak 😂😂