Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Jangan melampiaskan kemarahanmu dengan orang yang sama sekali tidak bersalah.



Hasan menendang tangan Putra yang sedang memegang pistol yang dia rebut dari tangan Grissam, hingga arah tembakan itu tak mengenai Panji, semua orang bernafas lega karena tembakan itu meleset, Ayu sampai menutup telinganya dan berteriak saat suara tembakkan itu terdengar jelas, "Paman tetap ayahmu! jangan lakukan itu lagi!" Hasan menunjuk Putra yang sedang sangat emosi.


Putra menunduk tak berdaya, apa yang dia rasakan kini mungkin tidak akan ada yang bisa memahaminya.


"Apa yang Kamu lakukan Put?" badan Ayu sudah bergetar karena takut bila peluru tadi tepat mengenai suaminya, Zaki menjaga tubuh ibunya agar tidak jatuh.


"Rumi...pulanglah, Aku akan berusaha untuk mencari anakmu, jangan pedulikan kata-kata Panji." janji Grissam.


"Iya Mah,Melati dan Mas Zaki juga sudah pasang iklan kok Mah." Melati membantu ibunya berdiri.


"Jika terjadi apa-apa dengan anakku nanti, Aku pastikan akan menghukumu dengan hukuman yang berat, Panji!" ucap Rumi menatapnya dengan tatapan membunuh.


Mereka keluar dari ruangan penyekapan Panji, Grissam menyuruh anak buahnya untuk memenjarakan mereka dimarkasnya yang jaraknya dari situ lumayan jauh.


Saat berada diluar Melati terdiam disamping mobil Zaki, "Kak Hasan. apa Melati boleh pulang bersama Kakak?" hati Zaki merasa hancur saat istrinya memilih pulang dengan orang lain.


Hasan melihat Melati lalu beralih melihat Zaki, Hasan melihat kesedihan diwajah Zaki, Hasan maju selangkah agar lebih dekat dengan mereka, "Kamu itu sekarang sudah menjadi istri Dek, dan tetaplah berada dirumah jika dalam keadaan marah, jangan meninggalkan suamimu tanpa seijinnya." Zaki menatap Hasan, Zaki bersyukur memiliki keponakan seperti Hasan, mungkin jika orang lain ini akan menjadi kesempatan baginya tapi tidak untuk Hasan, walaupun Zaki tahu bahwa Hasan juga mencintai Melati.


Nadine semakin kagum dengan lelaki yang kini berdiri memunggunginya, Nadine tersenyum mendengar perkataan Hasan, "Kamu itu terlalu sempurna Tuan." batin Nadine.


"Masuklah kemobil suamimu, jangan melampiaskan kemarahanmu pada orang yang sama sekali tidak bersalah. Paman yang bersalah bukan Kak Zaki, Putra atau Bibi." Melati menunduk, tidak tahu harus menjawab apa, karena apa yang Hasan katakan itu benar adanya.


"Apa yang dikatakan Hasan benar Mel, Kamu tidak bisa marah kepada suamimu karena Zaki juga tidak tahu perbuatan ayahnya." Rumi mengusap pipi anaknya lalu memeluknya.


Melati, Rumi, Putra dan Ayu masuk kedalam mobil Zaki, perlahan mobil mereka menghilang dari pandangan Hasan. Hasan berbalik dan melihat Nadine masih berdiri disamping mobilnya, "Cucu Eyang dewasa sekali, Eyang bangga denganmu San, Jacson juga pasti bangga memiliki anak sepertimu." ucap Grissam yang tiba-tiba merangkul pundaknya.


"Mereka yang mengajariku, Eyang." Hasan tersenyum kepada Grissam


Hasan berjalan kearah mobil, "Kamu mau ngapain Jef?" tanya Hasan yang melihat Jefry membuka pintu mobilnya.


"Mau mengantar Tuan Muda pulang." ucap Jefry.


"Tidak usah, antar Eyang. Aku bisa pulang sendiri." Jefry menutup kembali pintu mobilnya.


"Baik Tuan Muda." Jefry berjalan kemobil Grissam dan masuk kedalam mobil Grissam.


"Ayo kita pulang." Nadine mengangguk dan tersenyum.


Didalam mobil Hasan, mereka saling diam dan tidak ada yang berbicara satu sama lain membuat kesunyian meliputi perjalanan mereka. Sesekali Nadine melirik Hasan yang sedang fokus menyetir, "Dia sepertinya masih muda sekali? tapi sikapanya? sangat luar biasa." batin Nadine merasa kagum dengan sikap Hasan.


Saat Hasan melirik Nadine, Hasan tersenyum melihar Nadine sedang melihat kearahnya, "Sudah Naksir?" perkataan Hasan membuyarkan lamunan Nadine.


"Ih..apaan sih!" Nadine langsung membenarkan duduknya dan menatap kearah jendela.


"Nad..." panggil Hasan.


"Hem." Nadine menjawabnya dengan gumaman.


"Lihat sini, gak sopan kalau berbicara tidak melihat orangnya." Nadine menghembuskan nafasnya, lalu dengan berat hati menatap Hasan.


"Ada apa?" tanya Nadine.


"Hanya memanggil." jawab Hasan lalu tertawa, Nadine mengerucutkan bibirnya karena kesal sudah dikerjai oleh Hasan.


"Anda itu sepertinya senang sekali bila mengerjaiku, hem!" Nadine berkacak pinggang dan menatap Hasan dengan tajam.


Hasan semakin kencang tertawa, "Lihatlah! wajahmu itu sangat lucu sekali." ucap Hasan sambil berusaha menahan tawanya.


"Jangan marah, Aku hanya bercanda." ucap Hasan tulus.


"Hem." Nadine melipatkan tangannya diatas perut dan menoleh kearah jendela, sebenarnya jika hati Nadine akui, dirinya sangat senang bila melihat Hasan seceria itu, padahal masalah yang sedang dia hadapi adalah permasalahan yang sangat besar, namun dirinya bisa tersenyum dan menghibur hati orang lain seperti dirinya.


^


"Putra...Ayu, kalian istirahat dikamar ini ya, anggap rumah sendiri." ucap Rumi.


"Rum..." Rumi berbalik kearah Ayu.


"Maafkan Aku..." Ayu menangis meminta maaf kepada Rumi.


"Yu...Kamu tidak perlu meminta maaf karena Kamu tidak salah, benar kata Hasan, yang dihukum itu adalah orang yang salah, sudah istrihatlah. Aku juga mau istirahat." Rumi meninggalkan Ayu dan Putra dikamar tamu.


Saat Rumi masuk kedalam kamarnya, Rumi terkejut mendapati anaknya sedang duduk disisi ranjang miliknya, "Mel...Kamu kenapa disini Sayang." tanya Rumi.


"Melati tidur sini ya Mah?" ucap Melati.


Rumi berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya, "Kamu tidak ingat apa kata Hasan tadi? suamimu itu gak salah Nak, jadi jangan tinggalkan dia dalam keadaan terpuruk seperti ini." tutur Rumi.


"Yang terpuruk itu Melati dan Mamah bukan mereka Mah." ucap Melati masih belum bisa menerima kenyataan yang ada.


"Mel...justru merekalah yang paling terpuruk saat ini, mereka korban dari sikap kepalsuan, mereka sangat terpukul saat mengetahui semua ini adalah perbuatan orang yang sangat mereka cintai, kalau Kamu menjauhi suamimu dalam keadaan terpuruknya saat ini, bisa bayangkan bagaimana perasaannya? dia akan merasa dikucilkan Mel." tutur Rumi lagi.


"Hasan saja mampu dewasa dalam keadaan seperti ini, disini dia yang paling terluka Sayang, tapi coba Kamu lihat? dia tidak menghukum orang-orang yang memang tidak salah, belajar dewasa Sayang." Rumi mengelus kepala anaknya dengan kasih sayang.


"Lalu bagaimana dengan kita Mah, Papah? Kak Mawar? apa Mamah akan memaafkan mereka begitu saja?" tanya Melati dalam dekapan ibunya.


"Tuan Grissam sudah berjanji akan membantu Ibu, kalau Papah? dia sudah bahagia bersama sahabatnya Jacson." Melati mendongak dan menatap ibunya dengan haru.


^


Saat melihat istrinya masuk kedalam kamar, Zaki merasa senang juga sedih, senang karena Melati benar-benar istri solehah, sedih karena mengingat apa yang sudah ayahnya lakukan kepada keluarganya, "Dek..." Zaki bersimpuh didepan Melati.


Melati terkejut dan langsung membantu suaminya agar mau berdiri, "Maafkan Mas, Demi Allah, Mas tidak tahu apa-apa, tolong jangan marah dan mendiamkan Mas seperti ini, Dek." Zaki mengatupkan kedua tangannya didepan dadanya dan dihadapan istrinya.


Melati tersentuh dengan permohonan suaminya, "Mas...Mas tidak salah, Mas tidak perlu meminta maaf, Melati yang meminta maaf Mas karena belum dewasa menyikapi ini semua, maafkan Melati, Mas." Melati menangis sambil menunduk.


Zaki merasa senang karena istrinya mau berbicara dengannya lagi, Zaki memeluk Melati dengan perasaan haru, rasa kekhawatirannya kini menghilang begitu saja.


"Mas mencintaimu Dek, sangat mencintaimu." ucap Zaki lalu mencium pucuk kepala istrinya.


"Jangan pernah tinggalkan Mas, Mas tidak tahu apa jadinya hidup Mas, bila Kamu tidak ada disamping Mas, Dek." ucapan Zaki membuat Melati mengeratkan pelukannya.


^


*Kok sedikit Thor?? 😕😕😕😕


#biar kangen lagi 😄😄😄


*eh eleh 😑😑


#😚😚😚😚