Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Nadine



Jefry keluar dari mobil lalu menghadapi pria-pria yang berjumlah empat itu "Ada apa?" tanya Jefry dengan gaya coolnya, tangannya dia masukan kedalam saku celananya.


"Kami mau wanita tadi yang masuk kedalam mobil kamu! dia milik bos kami!" teriak salah satu pria yang bisa dibilang ketua dari pria-pria tersebut.


Jefry tertawa "Milik bosmu?" tanya Jefry meledek.


"Jangan basa-basi Tuan. kembalikan dia pada kami! atau kalau tidak? terpaksa kami akan menghukummu!" ancam mereka.


Jefry membenarkan rambut kepalanya yang sudah rapi dengan jari tangannya "Kalau berani majulah!" tantang Jefry.


"Katakan masalahmu!" tegas Hasan.


Wanita itu menunduk ketakutan, dia memainkan jari-jarinya sambil menangis. Hasan menghembuskan nafasnya kasar "Kamu ingin aku menolongmu kan? jadi katakan masalahmu." Hasan melunakan suaranya karena tidak tega melihat raut wajah wanita yang sedang ketakutan itu.


Wanita itu mendongakan kepalanya pelan "Aku...aku dijual sama ayahku Tuan." jujur wanita itu.


Pernyataan wanita itu membuat Hasan terkejut "Kamu bercanda?" tanya Hasan seakan tidak percaya bila seorang ayah tega menjual anaknya sendiri.


Wanita itu menggelengkan kepalanya sambil menangis "Tidak Tuan...aku tidak bercanda. Ayahku terlilit hutang dan aku akan dijadikan penebusnya." wanita itu menunduk sedih.


Hasan begitu terkejut dengan masalah yang menimpa wanita yang kini ada disampingnya, bagaimana mungkin seorang ayah tega menjadikan anaknya sebagai penebus hutang? tidak masuk akal! pikir Hasan.


"Tunggu sini!" ucap Hasan lalu turun dari mobil.


Para pria-pria bersiap siaga maju untuk berkelahi dengan Jefry namun suara Hasan mengundurkan mereka "Tunggu!" teriak Hasan lalu berjalan menghampiri pria-pria itu.


Wanita itu melihat pemandangan itu dari dalam mobil, wanita itu ketakutan bila terjadi apa-apa kepada pria yang akan menolongnya "Lindungi dia Ya Allah." doa wanita itu.


"Serahkan wanita itu kepada kami! dia milik bos kami Tuan!" teriak salah satu pria.


"Panggil ayah dan bos kalian kesini!" ucap Hasan dengan tenang.


Para pria-pria itu saling pandang mendengar permintaan Hasan "Kalau tidak. kami akan pergi dan bawa wanita itu dan dia tidak akan pernah kembali lagi!" ancam Hasan.


Ketua para pria itu langsung ketakutan mendengar ancaman Hasan, dia pun langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi bosnya dan ayah wanita itu.


Setelah menunggu beberapa puluh menit terlihat sebuah mobil hitam berhenti dibelakang mobil Hasan, penumpang mobil itu pun turun, terlihat dua orang pria paruh baya turun dari mobil.


Wanita itu semakin ketakutan didalam mobil karena melihat ayah dan orang yang menginginkan wanita itu turun dari mobil "Aduh gimana ini? ayah datang." gumam wanita itu ketakutan.


"Mana orangnya?" tanya pria paruh baya yang menjadi bos mereka.


Para pria-pria itu kompak menunjuk Hasan dan Jefry, sedangkan Hasan dan Jefry masih bersikap tenang menghadapi mereka.


Pria paruh baya itu tersenyum sinis "Anak ingusan dari mana kalian? berani menantangku!" teriak pria paruh baya itu yang bernama Prabu.


"Dimana anakku?" tanya pria paruh baya yang mengaku ayahnya yang bernama Lois.


"Anak? Bapak masih memanggilnya anak? setelah apa yang akan Bapak lakuakan terhadapnya?" tanya Hasan sedikit geram.


"Dia anakku! jadi terserah aku mau aku apakan dia! dan kamu tidak usah ikut campur urusan orang! mengerti!" teriak ayah wanita itu.


"Ayah macam apa kau ini? apa Bapak sedang hidup pada jaman jahiliyah? hingga tega menjual anaknya sendiri? apa Bapak tidak punya tanggung jawab sebagai seorang lelaki?" ucap Hasan masih berusaha tenang.


Ayah wanita itu geram dengan ucapan Hasan "Tidak usah menceramahiku anak muda!" geram Lois.


"Aku tidak sedang menceramahimu! tapi aku sedang bertanya rasa tanggung jawabmu sebagai seorang Ayah!" tekan Hasan.


Hasan membuang muka jengah dengan sikap mereka "Berapa hutang Bapak kepadanya?" Hasan menunjuk Prabu dengan tatapan tajam.


"500juta. dan kamu tidak akan bisa membayarnya anak muda." jawab Prabu lalu tertawa mengejek.


Hasan melirik Jefry "Berikan 2× lipat dari hutangnya Jef!" perintah Hasan kepada Jefry.


Jefry langsung berjalan menuju mobil dan mengambil cek untuk diberikan kepada Prabu dan ayah dari wanita itu.


Prabu dan Lois tercengang dengan apa yang dikatakan Hasan "Ha! memang sudah berapa banyak uangmu? mau membayar kami 2× lipat hanya untuk wanita seperti itu? dasar bodoh!" Prabu tertawa diikuti oleh anak buahnya.


"Aku mempunyai Allah Yang Maha Kaya jadi tidak perlu takut uangku akan habis Tuan." ejekan Hasan membuat Prabu dan anak buanya berhenti tertawa.


Jefry kembali kesamping Hasan dan memberikan sebuah kertas cek beserta bolpoin "Ini Tuan Muda." Hasan mengambil cek itu dan menuliskan angkanya.


"Cukup kan?" ucap Hasan ketika memberikan cek itu kepada Prabu.


Prabu menerima cek itu dengan penasaran jumlahnya, Prabu memelototkan matanya melihat angka yang tertera dicek itu "Waw! ini sangat cukup! bawalah wanita itu. aku tidak membutuhkannya!" Prabu tertawa setelah selesai mengucapkan kata-katanya.


"Anakmu memang pembawa hoki Lois. lihat ini angka ini 1.000.000.000." Prabu menunjukan cek itu kepada Lois, Lois terkejut dengan angka yang tertera dicek itu.


"Kamu harus membagi 2 denganku, hutangku hanya 500juta prabu!" pinta Lois.


Prabu tertawa mendengar permintaan Lois "Kau minta saja pada pemuda itu. aku pergi dulu!" Prabu menunjuk Hasan dan berlalu pergi sambil tertawa kesenangan karena mendapatkan cek dari Hasan dengan jumlah yang tidak sedikit itu.


"Berikan aku uang dan bawalah anak itu pergi!" pinta Lois tanpa rasa malu kepada Hasan.


Hasan menggelengkan kepalanya "Apa uang itu jauh lebih berharga dari anak Bapak itu?" tanya Hasan yang sebenarnya sudah sangat geram dengannya.


"Anak itu tidak berarti sama sekali untukku! sekarang cepat berikan aku uang dan bawalah dia pergi jauh dariku! menyusahkan saja!" ucap Lois.


Wanita itu menangis didalam mobil mendengar ayahnya yang sangat dia sayangi berkata yang membuat hatinya hancur. Seorang anak yang selalu berkorban untuk ayahnya namun pengorbanan itu sama sekali tidak menjadikan dirinya berarti dalam hidupnya, wanita itu menangis sesenggukan didalam mobil. Perasaannya kini hancur tidak tersisa, hanya ayahnya yang dia punya didunia ini namun sekarang? wanita itu merasa tidak mempunyai siapa-siapa didunia ini.


Hasan menghembuskan nafasnya kasar, Hasan menulis angka dicek itu dan memberikannya kepada Lois "Pergilah! semoga setelah ini Allah memberikan hidayah untukmu Bapak." ucap Hasan lalu meninggalkan ayah wanita itu yang masih diam berdiri.


Hasan dan Jefry masuk kedalam mobil, Hasan terkejut melihat wanita itu menangis sesenggukan sambil memeluk lututnya "Tenanglah! mereka tidak akan mengganggumu lagi." ucap Hasan saat duduk disamping wanita itu.


"Jalan Jef!" perintah Hasan, Jefry segera menjalankan perintah tuan mudanya.


Wanita itu berusaha menenangkan dirinya sendiri lalu menghapus airmatanya "Terimakasih Tuan." ucap wanita itu dengan suara serak karena habis menangis.


Hasan melihat wanita itu dengan rasa iba karena tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah "Dimana ibumu?" tanya Hasan ingin tahu.


"Aku tidak tahu Tuan...dari kecil aku hanya hidup bersama ayah saja," jawab wanita itu.


Hasan semakin merasa kasihan dengan wanita disampingnya kini "Siapa namamu?" tanya Hasan lagi.


"Saya Nadine Tuan." jawab Nadine sambil memaksa untuk tersenyum.


Nadine melihat lehernya lalu menyentuh sebuah kalung liontin dan mencopotnya "Tuan...terimalah kalung ini sebagai penebus uang yang sudah Tuan berikan kepada irang itu dan ayahku," Nadine memperlihatkan kalung liontin itu kepada Hasan.


Jefry memperhatikan Hasan dan Nadine dari spion "Kalung itu tidak akan cukup untuk mengganti uang Tuan Muda Nona." Nadine melihat Jefry.


(besok lagi 😂😂😂)


Semangat....semangat kakak-kakak 😄😄😄