Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Apa yang Tuan lakukan kepada papahku!



Sampai dirumah, Zaki dan Putra langsung dihadang oleh ibunya yang berharap anaknya membawa kabar baik.


"Bagaimana, Zaki, Putra? apa, Papah kalian sudah ditemukan?"


Zaki dan Putra saling pandang, Ayu pun mengerti jawaban atas pertanyaannya terlihat dari wajah Zaki dan Putra yang tidak ceria, "Sudahlah...besok kita cari lagi." ucap Ayu dengan sayu.


Zaki merasa kasihan melihat ibunya bersedih seperti itu, tapi Zaki juga tidak bisa jujur sebelum Zaki dan Putra melihat kondisi bapaknya besok malam, Zaki dan Putra bersepakat saat dalam perjalanan pulang agar tidak memberi tahu ibunya terlebih dulu sebelum besok malam bertemu dengan bapaknya.


"Pergilah kekamar, Zak. temani istrimu." perintah Ayu, dengan berat hati Zaki pergi kekamar dan meninggalkan ibunya bersama Putra.


"Besok, Zaki akan berusaha lebih giat lagi untuk mencari papah, Mah." ucap Zaki sebelum pergi.


Putra memeluk ibunya karena Putra tahu ibunya saat ini sedang butuh sandaran untuk menangis, "Sabar ya, Mah." dan benar saja, Ayu menagis dipundak anaknya.


Zaki masuk kedalam kamarnya dan dirinya melihat istrinya yang sudah tertidur sangat pulas, Zaki duduk disisi ranjang, matanya melihat wajah istrinya yang sangat meneduhkan matanya, entah mengapa Zaki begitu merasa sedih saat ini, mungkin karena kehilangan papahnya atau hal lain yang kini mengganjal dihati dan pikirannya.


Zaki menyibakkan rambut Melati yang menutupi sebagian wajahnya, Zaki tersenyum saat wajah istrinya terlihat sempurna, "Mas harap Papah segera ditemukan dan kita bisa melakukan liburan berdua, Dek." gumam Zaki yang belum merasakan nikmatnya pengantin pada umumnya.


Yang bisa Zaki lakukan adalah membuat Melati merasa nyaman dengannya, karena itu Zaki tidak pernah memaksa Melati untuk melakukan hubungan suami istri, karena Zsaki sadar bila pernikahannya adalah pernikahan tiba-tiba dan bukan karena saling mencintai, masih untung istrinya tidak marah ketika dirinya mencium dan memeluknya.


^


Didalam kamar Hasan, dia begitu tidak tenang mendengar menghilangnya pamannya, walaupun eyangnya sudah memerintahkan seseorang untuk mencarinya, namun entah mengapa hatinya masih tidak tenang, "Ya Allah lindungilah Paman Panji." doa Hasan, dia pun tertidur karena hari memang sudah larut malam.


Dibawah Grissam dan Jefry masih berada diruang tamu, Grissam duduk berpikir sedangkan Jefry setia berdiri disamping tempat duduk Grissam.


"Jef." panggil Grissam tanpa menoleh kearah Jefry.


"Iya, Tuan."


"Menurutmu? apa Aku harus menghabisinya?"


Jefry terdiam sebentar, ingin mengutarakan isi hatinya namun takut salah, "Jika Tuan menghabisinya Aku yakin Hasan akan terpukul hatinya nanti, Tuan." jawab Jefry sedikit ragu.


"Lalu apa yang harus Aku lakukan?"


"Aku serahkan semunya kepadamu, Tuan. Aku yakin jika Tuan dapat mengambil keputusannya dengan bijak.


"Akan Aku pikirkan, Jef. Sekarang istirahatlah!" perintah Grissam yang sudah mengantuk sekali.


^


Selasa pukul 20:10menit.


Zaki dan Putra bersiap-siap untuk pergi kealamat yang diberikan Jefry kepadanya.


Zaki berpamitan kepada ibunya, mertuanya dan juga istrinya, mertua Zaki pagi tadi datang kerumahnya setelah Melati mengabarinya lewat ponsel, Rumi begitu terkejut dengan kabar yang disampaikan anaknya, hingga dirinya langsung datang untuk menemani anak dan besannya dirumah itu.


Dilain tempat, Hasan merasa curiga dengan perilaku Jefry karena biasanya Jefry yang paling berada didepan ketika dirinya memerintahkan sesuatu dan cepat berhasil, namun kali ini jawaban Jefry membuat Hasan sedikit bingung, "Zaki dan Putra tidak akan mencari Tuan Panji lagi, Tuan Muda." jawab Jefry ketika Hasan bertanya tentang perkembangan pencarian pamannya.


Jawaban apa itu? mana mungkin anaknya berhenti mencari orangtuanya ketika orangtuanya belum ditemukan? konyol sekali jawaban Jefry, pikir Hasan.


Malam itu ketika Hasan sedang berdiri dibalkon, tidak sengaja Hasan melihat eyangnya dan Jefry pergi menggunakan mobil eyangnya.


Hasan terdiam sejenak, apakah dirinya harus mengikuti kemana eyang dan Jefry pergi atau dirinya harus tetap menunggu kabar tanpa mencarinya. Hasan langsung berlari masuk kedalam kamar dan mengambil jaket lalu dengan segera Hasan turun kebawah untuk mengikuti Jefry dan eyang, karena hatinya menyuruhnya untuk mengikuti mereka.


Saat berlari Hasan tidak melihat Nadine yang tengah duduk menikmati kopi yang baru saja Nadine buat.


Nadine melihat Hasan begitu terburu-buru pergi membuat Nadine penasaran, Nadine langsung mengikuti Hasan dan meninggalkan kopinya yang belum tersentuh sedikit pun.


Tokkk tokkkk suara jendela mobil Hasan.


"Ada apa?" tanya Hasan saat membuka jendela mobilnya.


"Tuan mau kemana? apa Aku boleh ikut?" Hasan menggerakan kepalanya agar Nadine segera masuk, Nadine pun mengerti dan segera membuka pintu mobil Hasan.


Hasan segera menjalankan mobilnya dan mengikuti mobil eyangnya, Hasan mengikuti mobil Grissam dengan jarak yang cukup jauh, agar mereka tidak curiga karena Hasan yakin jika Hasan mengikutinya dengan jarak yang dekat, pasti akan ketahuan oleh Jefry.


Nadine melihat wajah Hasan yang sedang serius menyetir, "Tuan?" Nadine mencoba memanggil.


Hasan menoleh sekilas kepada Nadine, "Ada apa?" tanya Hasan.


"Sepertinya Tuan sedang mengikuti mobil itu?" nadine menunjuk mobil milik Grissam.


"Iya Nad, itu mobil eyang."


Nadine mengerutkan keningnya, "Kenapa Tuan mengikuti eyang?" tanya Nadine yang penasaran.


"Kemarin Zaki dan Putra datang kerumah dan mengatakan bahwa paman menghilang, mereka sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak ketemu, dan entah mengapa Aku merasa perilaku Jefry mencurigakan." Hasan menjelaskan duduk perkaranya melihat Nadine kebingungan.


"Jadi Tuan, mencurigai Jefry begitu?" tanya Nadine antusias.


Hasan menoleh kearah Nadine sambil tersenyum, "Kamu itu bawel sekali!" goda Hasan.


Wajah Nadine langsung merah melihat senyum Hasan walaupun sekilas, Nadine jadi teringat akan wanita yang pernah dihati Hasan, siapa wanita itu dan kenapa meninggalkan lelaki yang sangat sempurna ini? pikir Nadine.


Hasan melihat Nadine sedang menatapnya tanpa berkedip, "Jangan dilihatin, nanti naksir." Nadine langsung salah tingkah mendengar teguran Hasan yang sudah memergokinya tadi.


Hasan menahan senyumnya melihat Nadine salah tingkah, "Sudah naksir apa belum?" goda Hasan.


"Apaan sih, Tuan! enggak, Aku gak naksir sama Tuan, kepedean banget!" Nadine merasa jantungnya seakan mau copot dari tempanya karen gugup sekaligus malu.


Hasan tertawa kecil, "Kalau sudah naksir, bilang ya." ucap Hasan, entah mengapa Hasan begitu senang ketika melihat Nadine salah tingkah seperti itu.


"Ih apaan sih! kan jantungku jadi begini! apa juga maksudnya!" gerutu Nadine didalam hatinya.


Mobil Hasan tiba-tiba berhenti dan membuat kepala Nadine membentur kaca mobil disampingnya, "Aduhhhhh." mendengar suara rintihan Hasan menoleh kearah Nadine.


"Ya Allah...maaf..maaf Nad." ucap Hasan merasa bersalah.


Nadine mengerucutkan bibirnya, "Tuan sengaja ya?" gerutu Nadine.


Hasan tertawa karena melihat wajah Nadine yang terlihat sangat lucu dimata Hasan saat ini, "Malah ketawa!" kesal Nadine.


"Sudah ayo keluar." Hasan keluar dari mobil karena mobil Grissam berhenti digedung yang sudah tidak terpakai.


Hasan melihat sekeliling gedung itu dan pandangan Hasan menangkap sebuah mobil yang sangat dia kenal yaitu mobil Zaki.


"Mobil Kak Zaki disini juga?" gumam Hasan.


"Kenapa, Tuan?" tanya Nadine yang mendengar gumaman Hasan.


"Gak papa, ayo kita masuk!" seru Hasan.


"Tuan..." Hasan menoleh kearah Nadine.


"Kamu takut?" ucap Hasan melihat ekpresi wajah Nadine.


Nadine menganggukan kepalany, Hasan menghembuskan nafasnya, "Sudah ayo, ada Aku!" ucap Hasan membuat ketakutan Nadine berkurang.


^


"Papah!" teriak Zaki yang melihat ayahnya sedang diikat tangannya dikursi.


Panji mendongakkan kepalanya, "Zak! Putra!" seru Panji sedikit terkejut karena melihat anak-anaknya kini berada didepan matanya.


Zaki dan Putra mendekat kearah Panji, "Apa yang terjadi, Pah?" Zaki bersimpuh didepan ayahnya.


Panji menangis tidak mampu untuk menjawab pertanyaan anak sulungnya itu, "Pah? jawab Zaki, Pah! siapa yang melakukan ini sama Papah?" Zaki tak kuasa menahan airmatanya melihat keadaan ayahnya begitu pula dengan Putra yang diam mematung namun matanya mengeluarkan airmata yang jarang dia keluarkan.


"Itu karena perbuatan papahmu sendiri!" suara Grissam menggelegar diruangan tempat panji disandera.


Zaki berdiri dan menatap orang yang sangat dia kenal, "Tuan?" Zaki tidak percaya bila eyang Hasan lah yang telah menculik ayahnya.


"Apa yang Tuan lakukan kepada Papahku!" teriak Zaki yang tidak tahu alasan Grissam.


Grissam maju mendekat kearah Zaki, "Jika Kamu tahu kebenaran Papahmu! Aku yakin, Kamu tidak akan lagi memanggilnya Pa-pah!" Grissam berucap dengan tatapan membunuh.


*mau ngomong apa lu thor??😕😕


#gak ngomong apa-apa, cuman mau pesen aja. 😆😆


*pesen apa? like? komen? sudah semua kok 😉😉


#bukan....


*lah terus apa? 😴😴😴


#pesen author buat kalian adalah...Bahagia selalu 😁😁😁


*so banget lu thor 😑😑😑