Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
AA Suka Kok



Putra langsung memasang wajah tegang mendengar suara Gina yang sedang meminta tolong, "Gin! Kamu kenapa?" Putra mencoba bertanya.


"Tolong Put, Ak...Kak balikin ponsel Gina! Kak Sony!" Gina tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena ponselnya diambil oleh kakaknya.


"Gina! hallo! Ah sial!" Putra memukul setir mobilnya karena kesal teleponnya dimatikan.


Putra tambah cemas dengan keadaan Gina, Putra berpikir sejenak apa yang harus dia lakukan untuk menolong sekretarisnya itu, "Aku harus bagaimana ini?" Putra mengacak-acak rambutnya kesal.


Ponsel Putra berdering, Putra langsung menggeser tombol hijau karena yang menelponnya adalah Gina, "Hallo Gin! Kamu baik-baik saja kan?" tanya Putra terdengar cemas.


"Kalau mau adikku, bantu Aku! kalau tidak, Kamu tidak akan bertemu dengannya lagi!" Putra membulatkan matanya sambil memastikkan bahwa yang menelponnya adalah Gina dan benar tapi suaranya bukanlah Gina melainkan Sony kakak Gina.


"Apa maksudmu!" tekan Putra.


"Kita bertemu dihotel permata 1jam dari sekarang, dikamar 107. Kalau Kamu datang terlambat, jangan tanyakan Gina lagi!" setelah mengancam Sony langsung mematikkan ponselnya.


"Hallo! Akhhhhhh! ada apa sih dengan Gina ini! menyusahkan saja!" umpat Putra.


Putra menghubungi seseorang, "Ri, kita bertemu dihotel permata, sekarang! jangan lupa bilang Adi." setelah berbicara dengan Rio, Putra langsung mematikkan teleponnya tanpa mendengar jawaban Rio.


"Ha! kebiasaan nih anak!" umpat Rio yang sudah sampai dicafe tempat janji mereka bertemu.


"Kenapa?" tanya Adi.


"Kita disuruh kehotel Permata, ayo buruan!" Rio beranjak pergi dari cafe diikuti oleh Adi yang dengan cepat meminum sisa minumannya yang sudah dia pesan.



"Kenapa sih Kakak jadi kayak gini sama Gina? salah Gina apa Kak?" Gina menangis tidak tahu apa yang harus dia lakukan, Gina bingung dengan sikap kakaknya yang berubah setelah kedua orangtuanya meninggal, kakak yang harusnya bisa mengganti sosok orangtua tapi kini justru menjelma seperti musuh yang sangat kejam, Gina sudah berusaha bersembunyi dari kejaran kakaknya tapi sialnya saat kemarin sore saat dirinya berbelanja dimini market dia bertemu dengan kakaknya dan kini dirinya sudah tidak bisa bersembunyi lagi.


"Gina mohon Kak, lepasin Gina. Jika Kakak tidak sayang lagi sama Gina biarkan Gina hidup sendiri Kak, jika Kakak ingin warisan Daddy dan Mammy ambil saja Kak Gina tidak butuh! tapi tolong lepasin Gina Kak!" Gina memohon kepada Sony yang masih diam duduk mematung disisi ranjang, sedangkan Gina dalam keadaan terikat seluruh tubuhnya, Gina menangis meratapi nasipnya yang berubah setragis itu setelah kedua orantuanya meninggal.


"Jangan panggil Aku kakak! Aku bukan kakakmu!" tekan Sony, Gina terkejut dengan apa yang kakaknya bicarakan.


"Apa maksud Kakak?" tanya Gina, nafasnya sudah naik-turun karena penasaran maksud kakaknya.



Mawar mempersiapkan kepulangan Hasan, dengan telaten Mawar menggandeng tangan suaminya itu untuk membantunya berjalan, kepulangan Hasan disambut oleh para santri yang sudah berkumpul didepan gerbang pesantren, "Terimakasih Pak Kyai atas pertolongannya," ucap Ellois dan Grissam mewakili Hasan dan yang lain.


Pak Kyai mengangguk dan tersenyum, "Hasan sudah seperti putraku sendiri, dulu dia sering bermain bersama dengan anakku Irma, Aku tidak menyangka bisa bertemu dengannya lagi setelah tumbuh dewasa seperti ini." tutur Pak Kyai membayangkan masa kecil Hasan dan Irma.


Hasan mendekat kearah Pak Kyai lalu memeluknya, "Maafkan Hasan Pak Kyai." Pak Kyai mengusap punggung Hasan, Pak Kyai tahu kata maaf yang Hasan ucapkan mewakili semua yang sudah terjadi kepada anaknya yang mana sekarang belum bisa menerima jika Hasan sudah menikah, Pak Kyai hanya bisa bersabar dam berdoa agar anaknya bisa mengikhlaskan Hasan yang sudah beristri.


Irma melihat kepulangan Hasan dari kejauhan, rasanya tidak kuat hatinya melihatnya pulang apalagi menerima kenyataan jika seseorang yang selama ini dia tunggu-tunggu ternyata sudah memiliki cinta.


Mungkin memang benar penantian itu tidak selamanya berbuah manis namun terkadang penantian itu berakhir dengan pahit dan satu-satunya obat adalah sabar dan menerima, itu yang sedang Irma rasakan saat ini.


"Semoga lekas sembuh dan sering menjenguk kami disini." ucap salah seorang santri yang kini berdiri sejajar dengannya.


Hasan tersenyum, "Terimakasih, Insya Allah Aku akan sering-sering datang." janji Hasan membuat para santri serentak mengucapakan "Aamiin."


Hasan dan yang lain melambaikan tangannya kepada para santri dan guru termasuk Pak Kyai, "Assalamualaikum." salam Hasan dan yang lain sebelum pergi.


"Walalaikumsalam wr.wb." jawab para santri dan guru bersamaan.


Hasan membuka pintu mobilnya lalu tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada mereka, mereka dengan semangat membalas lambaian Hasan sambil berteriak, "Jangan lupakan kami Tuan!" Hasan mengangguk mendengar teriakan mereka.



"Mas..." panggil Melati saat membuka pintu kamarnya.


"Iya Dek, Mamah sudah tidur?" tanya Zaki yang baru keluar dari kamar mandi.


Melati langsung mengambilkan baju ganti untuk suaminya, "Sudah Mas." jawab Melati sambil memakaikan baju santai kepada suaminya.


"Terimakasih." ucap Zaki lalu mencium bibir istrinya, Melati tersenyum dan senyuman itu sukses membuat Zaki tambah bersemangat untuk mengulangi ciuman itu.


"Kenapa?" tanya Zaki yang menggerakkan tangannya melingkar dipinggang istrinya.


"Nanti khilaf." Zaki mengangkat satu alisnya dan menatap istrinya dengan penuh tanda tanya.


"Masa sama istri sendiri khilaf? kewajiban itu." Zaki menyentil hidung istrinya.


Melati terkekeh sambil memegangi hidungnya, Zaki merangkul istrinya yang semakin tertawa kencang karena Zaki menggelitik istrinya.


"Ampun Mas..." mohon Melati sambil tertawa.


Zaki berhenti lalu menatap istrinya dengan intens, Zaki membenarkan rambut Melati yang sedikit berantakan, "Terimakasih sudah mau menerima mamah lagi, Dek." tangan Zaki menangkup kedua pipi istrinya dengan lembut.


Melati menggenggam tangan suaminya, "Melati yakin kali ini mamah pasti menyesal dan mau memperbaiki semua kesalahannya Mas." Zaki memeluk istrinya dengan kasih sayang.



"Sayang..." panggil Hasan lalu menyenderkan kepalanya dipundak istrinya.


"Sekarang manja sekali." lirih Mawar, Hasan mendongak lalu menyentil bibir Mawar pelan.


"Ih..." Mawar tersenyum malu dengan ulah Hasan, Hasan terkekeh.


"Malu dilihatin sama asisten jomblomu itu." Mawar menangkis tangan Hasan yang kembali ingin menyentuh bibirnya sambil tersenyum jail.


"Dia tidak akan melihat kita, iya kan Jef!" Hasan berbicara tanpa memandang kearah Jefry.


"Iya Tuan Muda, Aku tidak melihatnya." ucap Jefry berbohong, "Ha! setelah menikah Tuan Muda kelihatan seperti bukan Tuan Muda lagi." Jefry fokus menatap jalan yang sedang dia lalui namun pikirannya tertawa melihat kelakuan tuan mudanya saat bersama istrinya, menggelikan pikir Jefry.


"Pantas saja jomblo terus, mungkin karena Kamu terlalu lempeng Jef! tidak bisa melihat wanita." Hasan tertawa mendengar istrinya yang kembali menyindir Jefry.


"Aku menunggu Tuan Mudaku bahagia Nona." jacwab Jefry.


"Hey! memang Kau pikir Aku bukan alasan bahagianya!" perkataan Mawar sedikit kesal.


"Bukan itu Nona...mak.."


"Diem! Aku masih sangat membencimu Jef! ingat itu!" Jefry langsung bungkam dan menghela nafasnya dengan berat.


"Kamu juga diem A!" Hasan berhenti tertawa namun tangannya malah melingkar dipinggang istrinya.


"Apa Kamu akan memanggilku AA bukan Mas, Sayang." Jefry semakin merasa frustasi melihat kelakuan tuan mudanya.


"Kenapa gak mau? oh iya dedek Irma kan memanggilmu Mas ya?" sindir Mawar dengan gaya kesalnya.


"Apa sih, sudah cemburunya. AA suka kok." Hasan mengedipkan satu matanya sambil tersenyum.


"Apaan sih! jelek tahu!" Mawar membuang wajahnya namun bibirnya mengulas senyuman, Hasan tertawa melihat ekpresi istrinya.



Sampai dihotel Putra langsung turun dari mobilnya dan berlari kedalam hotel, setelah bertanya kamar 107 kepada resepsionis, Putra segera menuju kamar 107 karena waktunya akan berakhir.


Putra berhenti tepat didepan kamar 107, Putra berpikir sejenak heran dengan apa yang dia lakukan, mengapa dirinya harus kewalahan seperti ini jika Gina dalam masalah.


Putra memencet bel yang ada dikamar itu, "Mana Gina!" teriak Putra saat Sony membuka pintunya.


"Putra!" mendengar teriakan Gina, Putra langsung mendorong Sony, Putra membulatkan matanya ketika melihat keadaan Gina yang terikat diatas ranjang.


Saat Putra ingin mendekat kearah Gina tiba-tiba Sony menarik tangan Putra dengan kasar, "Kamu pikir bisa melepaskannya dengan mudah!"



Salam sayang dari author receh 😚😚😚😚😚