Hasan Alfatar

Hasan Alfatar
Nadine...bertahanlah!



Pulang kampus Melati menunggu Zaki menjemputnya didepan gerbang kampus dan tak lama mobil Zaki pun sampai didepan Melati, Zaki keluar dari mobil dan menebar senyuman kepada Melati.


Melati membalas senyuman Zaki "Ayo Dek." Zaki membuka pintu mobil untuk Melati.


Saat Melati akan masuk kedalam mobil pandangan Melati menangkap pemandangan yang membuat hatinya sedikit sakit, Zaki mengikuti arah pandangan Melati.


Melati terdiam melihat Hasan dekat dengan wanita lain yang tak lain adalah Mahasiswa baru dikampus dan ternyata mereka cukup dekat, Hasan membukakan pintu mobil untuk Nadine.


Mata Melati berkaca-kaca melihat orang yang dicintainya bersama wanita lain "Ya Allah kenapa hatiku sakit melihat Kak Hasan dekat dengan wanita itu." batin Melati.


Panggilan Zaki membuat Melati tersadar dan beristigfhar "Iya Mas.." Melati menunduk dan masuk kedalam mobil.


Zaki menutup mobilnya dengan pelan, Zaki melihat mobil Hasan yang akan pergi dari kampus.


Didalam mobil Melati menangis namun dengan segera Melati menghapusnya karena tidak ingin terlihat oleh Zaki suaminya.


Selama perjalanan Zaki dan Melati saling diam dan Melati hanya memandang keluar jendela, Zaki sesekali melirik Melati. Zaki tahu kalau Melati masih mencintai Hasan dan apa yang dilihatnya tadi pasti membuat Melati sedih.


Melati melirik tangannya yang telah digenggam Zaki, Melati mendongak dan melihat suaminya, Zaki tersenyum "Mas mengerti perasaanmu." ucap Zaki tenang.


Melati beristighfar didalam hati, tidak pantas bagi dirinya yang sudah menikah masih menyimpan perasaan kepada orang lain "Maafkan Melati Mas.." Melati menunduk karena malu dengan suaminya.


"Mas tidak marah ko Dek, Mas paham apa yang kamu rasakan." Zaki mengusap kepala Melati sebentar lalu fokus menyetir kembali.


^


Jefry kelihatan gelisah, sebentar-bentar lihat spion mobil karena merasa ada yang mengikutinya, Hasan melihat kegelisahaan Jefry "Kamu kenapa Jef?" tanya Hasan, Nadine ikut melihat kearah Jefry.


"Sepertinya ada yang mengikuti kita Tuan Muda."


Hasan menengok kebelakang dan benar saja sepertinya mobil hitam sedang mengikutinya "Sepertinya benar katamu Jef! tapi siapa?" tanya Hasan kepada dirinya sendiri.


"Mengebut sedikit ya Tuan Muda? mumpung jalanan agak sepi." ijin Jefry.


"Jangan bahayakan orang lain!" cegah Hasan.


"baiklah Tuan Muda," Jefry menaikan kecepatan mobilnya dan mobil hitam itupun juga ikut menaikan kecepatannya untuk mengikuti mobil Hasan.


"Sial! masih ngikut juga?" gumam Jefry membuat Nadine merasa cemas.


"Jangan-jangan itu orang suruhan ayahku?" gumam Nadine merasa takut.


"Jika ayahmu berani menganggumu lagi, akan aku minta kembali uang yang sudah aku berikan kepadanya." timpal Hasan.


"Terus mobil siapa?" pertanyaan Nadine tidak mendapatkan jawaban karena Hasan dan Jefry pun tidak tahu.


Disaat memasuki jalanan sepi mobil itu menyalip mobil Hasan dan berhenti menyilang untuk menghadang mobil Hasan.


"Shit!" umpat Jefry.


"Tuan Muda jangan keluar! biar aku saja!" Jefry langsung keluar dari mobilnya dengan emosi.


Nadine ketakutan didalam mobil, wajahnya pucat dan keringat dinginpun keluar dari keningnya, Hasan memeperhatikan wanita yang ada disampingnya "Kamu kenapa?" tanya Hasan merasa khawatir.


Nadine menggelengkan kepalanya "Aku takut Tuan, lihat mereka banyak sekali!" Nadine menunjuk keluar mobil.


Hasan mengikuti arah tunjuk Nadine dan benar saja, jumlah mereka sangat banyak dan Jefry tidak akan sanggup untuk mengatasinya "Kamu tunggu sini!" perintah Hasan sebelum keluar dari mobil.


"Dimana Tuanmu yang bernama Hasan Alfatar itu!" seru ketua dari para lelaki yang berjas hitam, mereka ada 6orang dan badan mereka cukup besar-besar.


"Mau apa mencari Tuan Muda? dan siapa kalian berani menghalangi jalanku!" Jefry melipatkan tangannya diatas perutnya dan tidak merasa takut sedikitpun.


Para lelaki itu saling pandang "Tidak perlu tahu siapa kami, karena hidup kalian tinggal sebentar!" para lelaki itu tertawa.


"Kalian siapa?" suara Hasan menghentikan tawa mereka.


Ketua dari para lelaki itu pun menyuruh mereka untuk menangkap Hasan, namun dengan sigap Jefry menghadang dan terjadilah perkelahian 2 lawan 6 orang.


Para lelaki itu terus menyerang Hasan yang menjadi sasaran dan Jefry selalu berusaha melindungi tuan mudanya.


Hasan yang sedang berkelahi dengan dua orang tidak begitu memperhatikan ketua par lelaki itu yang akan menyerang Hasan dari belakang, didalam mobil Nadine melihat ketua lelaki itu membawa pisau dan mengarah ke arah Hasan, Nadine khawatir dan langsung keluar dari mobil lalu berlari kearah Hasan.


Ketua lelaki itu semakin dekat dengan Hasan dan sudah siap menusukkan pisau ketubuh belakang Hasan "Tuannnn..." teriak Nadine saat pisau itu akan menusuk Hasan.


Mendengar teriakan Nadine Hasan menengok kebelakang dan "AAAHHH!" Nadine merintih kesakitan sambil memegangi perutnya yang tertusuk pisau.


"Nadine!" teriak Hasan.


Tubuh Nadine lama-kelamaan ambruk dan Hasan menopangnya "Nadine...," Hasan menepuk-nepuk pipi Nadine agar mau membuka matanya.


"Sial!" ucap ketua lelaki itu dan menyuruh anak buahnya untuk pergi.


Jefry berlari kearah Nadine dan Hasan "Bangun Nadine...aku mohon,"


"Tuan Muda...ayo bawa kerumah sakit!" dengan sigap Jefry membuka pintu belakang.


Hasan menggendong Nadine dengan cepat karena kecemasan Hasan terhadap kondisi Nadine, Hasan melihat darah yang terus mengalir dari perut Nadine.


Jefry segera menjalankan mobilnya kerumah sakit, Jefry juga sedikit panik karena Nadine yang terus menutup matanya apalagi melihat darah yang sudah sangat banyak keluar.


"Cepetan Jef!" ucap Hasan dalam kepanikan, Jefry menganggukan kepalanya tanda mengerti.


"Nadine...bertahan lah ako mohon." Hasan mengeluarkan airmatanya.


Hasan merasa bersalah karena Nadine seperti itu untuk menyelamatkan dirinya "Ya Allah...tolong kuatkan Nadine." doa Hasan, tangan Hasan menyentuh kepala Nadine yang berada dipangkuannya dan tangan satunya lagi menyetuh perut Nadine yang terus mengeluarkan darah.


Nadine mengerjapkan kedua matanya " Nadine..." panggil Hasan ketika melihat mata itu pelan-pelan terbuka.


"Bertahan lah aku mohon." ucap Hasan.


"Tu..an te..rima..kasih." Hasan menggelengkan kepalanya.


"Jangan banyak berkata! aku mohon bertahan." tangan Hasan menggenggam tangan Nadine.


Nadine tersenyum lalu menutupkan matanya kembali, Hasan semakin panik dan menyuruh Jefry agar segera sampai dirumah sakit.


Sampai dirumah sakit Jefry langsung keluar dan memanggil para suster untuk membawa Nadine. Hasan menggendong Nadine dan menaruhnya diranjang perawatan.


Para suster yang melihat perut Nadine mengeluarkan banyak darah dengan langkah cepat membawa Nadine keruang ICU.


Hasan dan Jefry mengikuti para suster dari belakang "Tuan..silahkan tunggu diluar!" perintah suster yang saat itu Hasan juga akan masuk kedalam ruang ICU.


Dengan berat hati Hasan menunggunya diluar dengan perasaan yang sangat sangat takut "Bagaimana kalau dia tidak selamat Jef?" Jefry melihat kearah Hasan dan merangkul pundak Hasan.


"Kenapa Tuan Muda berputus asa? kita berdoa Tuan Muda agar Nadine bisa diselamatkan," kata Jefry.


Jefry mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang "Bawakan baju Tuan Muda kerumah sakit. sekarang!" perintah Jefry kepada pelayang rumah.


Hasan memandang Jefry "Ada apa Tuan Muda melihatku seperti itu?" tanya Jefry yang merasa heran.


"Kamu bisa kan cari tahu siapa mereka?" tanya Hasan penuh harap.


Jefry menganggukan kepalanya "Aku akan mencari tahu Tuan Muda, Tuan Muda tenang saja." kata Jefry.


Hasan menunduk sedih memikirkan nyawa Nadine yang sekarang berada diujung tanduk "Harusnya aku yang terluka Jef." Hasan mengeluarkan airmatanya.


"Mereka mengincarku Jef...harusnya aku yang terluka." Hasan mendongak dan menyenderkan kepalanya didnding.


"Maksud Tuan Muda?" tanya Jefry.


"Orang yang menusuk Nadine itu sebenarnya mengincarku Jef, tapi Nadine...menolongku." airmata Hasan semakin deras keluaf dari tempatnya, merasa bersalah dan hutang nyawa kepada Nadine.


Jefry terdiam "Aku harus cari tahu siapa mereka, sepertinya mereka tidak akan berhenti menyerang kalau incaran mereka adalah Tuan Muda." batin Jefry.


(besok lagi 😂😂😂)


tolong bahagia agar mereka melihat hidup kita baik-baik saja 😄😄😄😄